Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Sayangi diri sendiri


__ADS_3

"Bay, aku mau pulang dulu!tolong batalin pertemuan dengan Randi hari ini!" ucap Gilang sembari berdiri dari kursinya. Wajah pria itu terlihat panik.


"Lho kenapa?"Bayu mengrenyitkan keningnya.


"Apa kamu kira gampang membatalkan pertemuan di waktu yang sudah mepet begini?" sambungnya kembali.


"Kali ini tolong kamu cari alasan yang tidak membuatnya kecewa. Tadi papa mengabari kalau Dania ke rumah dan hampir mencelakai Cahaya. Kata Papa, Dania sudah tahu kalau aku sudah menikah dengan Cahaya," ucap Gilang dengan tatapan memohon, dan ini merupakan hal yang pertama kali dilihat oleh Bayu, karena seumur-umur Gilang belum pernah sekhawatir itu, bahkan ketika waktu masih berhubungan dengan Reyna dulu.


"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan usahakan dan aku harap Randi mau mengerti," pungkas Bayu akhirnya mengalah.


"Kalau begitu aku perginya dulu ya, Bay. Terima kasih!" Gilang berjalan keluar dengan langkah lebar.


"Sepertinya, Gilang memang sudah benar-benar mencintai Cahaya, tapi dia belum menyadarinya," bisik Bayu pada hatinya sendiri. Kemudian pria itu langsung menghubungi Randi, dan meminta maaf karena dengan terpaksa harus membatalkan pertemuan mereka hari ini. Beruntungnya Randi mengatakan tidak masalah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gilang keluar dari dalam mobil dan langsung berlari ke dalam rumah. Tanpa dia sadari sebuah mobil milik Reyna memasuki pekarangan. Wanita itu mengrenyitkan keningnya, melihat Gilang yang terburu-buru masuk.


"Kenapa Gilang terburu-buru? apa terjadi sesuatu pada Cahaya?" batin Reyna yang seketika ikut panik. Ya, setelah kepergian Dania,Reyna memutuskan untuk mengunjungi rumah Gilang, karena wanita itu juga khawatir dengan Cahaya.


"Aku harus melihatnya sekarang?" Reyna membuka pintu mobilnya dan langsung turun.


Sementara itu di dalam sana, Gilang berpapasan dengan Gavin papanya,


"Dimana Cahaya, Pa?" tanya Gilang dengan wajah yang masih panik.


"Dia ada di kamar?" jawab Gavin.


"Aku langsung ke kamar ya, Pa!" tanpa menunggu jawaban dari Gavin, Gilang langsung berlari naik ke atas.


Melihat kepanikan anaknya, Gavin tersenyum penuh makna seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Gilang masuk ke dalam kamar dan karena tidak sabar ingin melihat kondisi Cahaya, pria itu lupa menutup pintu.


Gilang mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Cahaya. Namun dia sama sekali tidak menemukannya.


"Mas,kamu sudah pulang?" tiba-tiba Cahaya sudah berdiri di belakangnya. Sepertinya wanita itu baru keluar dari dalam kamar mandi.


Gilang tidak menjawab sama sekali, justru pria itu menghambur ke arah Cahaya dan mencengkram pundak istrinya itu dengan lembut.


"Cahaya, bagaimana keadaanmu? kamu diapain aja sama Dania?" tanya pria itu dengan tatapan yang penuh khawatir.


"Mas kenapa sih? aku nggak pa-pa,Mas!" jawab Cahaya dengan alis yang bertaut.


"Kamu jangan bohong? coba aku lihat!" Gilang memutar-mutar tubuh Cahaya untuk memastikan kebenaran ucapan Cahaya.


"Tuh kan, apa aku bilang? aku benar-benar nggak pa-pa kan?" Cahaya tersenyum manis.


Gilang menghela napas lega dan tanpa sadar menarik tubuh Cahaya ke dalam pelukannya, hingga membuat mata wanita itu membesar. karena terkesiap kaget.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Tapi, ini hanya permulaan, aku takut kalau nantinya Dania akan bertekad untuk mencelakaimu," ucap Gilang yang masih belum melepaskan pelukannya, dan justru malah mempererat pelukannya.


"Sepertinya, si pemilik hatimu sudah berganti Lang,bukan aku lagi. Segitu khawatirnya kamu pada Cahaya." ucap Reyna dalam hati, dengan perasaan yang benar-benar terasa sakit.


Reyna menyeka air matanya dan memutuskan untuk tidak jadi masuk. Wanita itu berbalik dan beranjak pergi meninggalkan kamar Gilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Langit kini sudah berganti warna menjadi jingga yang berarti malam akan segera menyapa. Reyna menepikan mobilnya di dekat sebuah taman. Wanita itu tidak bisa memungkiri kalau hatinya terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum Ketika melihat Gilang yang dengan inisiatif sendiri memeluk Cahaya.


"Kenapa rasanya masih sangat sakit Tuhan?" ucap Reyna sembari mere*mas dadanya.


Wanita itu, memutuskan untuk tetap berada di dalam mobil, sampai langit yang tadinya berwarna jingga berganti menjadi hitam. Setelah warna langit sudah menjadi hitam, wanita itu turun dari dalam mobil dan berjalan menuju taman, tempat dia biasanya menenangkan diri.


Reyna mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi besi dengan tatapan kosong. Bayangan ketika dia masih bersama Gilang, berkelebat memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Reyna tersenyum mengingat semuanya itu, tapi ketika dia kembali mengingat kalau Gilang bukan lagi miliknya,air mata kembali menetes membasahi pipinya.


"Hei, tidak baik seorang wanita melamun seorang diri. Kalau kata orang tua dulu, ntar kamu kesambet setan," tiba-tiba seorang pria sudah duduk di samping Reyna, hingga membuat wanita itu tersentak kaget dan sontak menatap ke arah pria itu.


"Randi? kenapa kamu bisa ada di sini?" Reyna mengerenyitkan keningnya.


"Lah kamu kenapa bisa ada di sini?" bukannya menjawab, Randi malah bertanya balik.


"Kalau orang lain tuh bertanya ya dijawab bukan malah tanya balik," Reyna mengerucutkan bibirnya.


Randi terkekeh geli melihat raut wajah Reyna yang kesal padanya.


"Oh ya, aku tadi duduk di sana dan kamu melewatiku begitu saja, padahal sudah aku sapa. Aku perhatikan tadi,kamu sempat tersenyum dan tiba-tiba menangis. Aku kirain kamu sudah mulai keluar jalur satu garis, tapi setelah aku pikir-pikir nggak mungkin," ucap Randi panjang lebar, tanpa jeda sembari menyelipkan ledekan pada ucapannya.


"Maksudmu aku gila?"


"Lho, aku nggak bilang begitu lho. Kamu sendiri yang bilang," ucap Randi. Entah kenapa dia merasa terhibur melihat raut wajah kesal Reyna. Kekecewaannya hari ini karena tidak jadi makan siang dengan Cahaya, seperti terobati dengan raut wajah kesal yang terlukis di wajah Reyna."


"Randi,bisa nggak kamu nggak meledekku? kalau kamu mau meledekku sebaiknya kamu pergi dari sini!" suara Reyna mulai meninggi.


"Sorry, Sorry! aku cuma bercanda kok. Oh ya,kamu lagi patah hati ya?" tebak Randi.


"Bukan urusanmu!" jawab Reyna ketus.


"Iya sih,cuma tanpa kamu jawabpun aku sudah berani jamin kalau tebakanku benar," ucap Randi dengan sangat yakin.


"Jangan sok tahu!" Reyna belum mengurangi kadar kekesalannya.


"Aku tahu! itu terlihat jelas di wajahmu." Randi tetap kekeuh pada dugaannya. "Menurutku patah hati itu normal, karena rasa cinta kita begitu besar, tapi kalau boleh jangan sampai berlarut-larut," tutur Randi yang kini terlihat sudah mulai serius.


"Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya hatiku sekarang, Ran. Aku mencintainya, tapi aku tidak bisa memilikinya karena dia sudah jadi milik wanita lain," ucap Reyna yang mulai melunak.


"Aku tahu, kalau itu rasanya pasti sakit sekali. Rasa sakit memang tidak bisa dihindarkan, tapi penderitaan dan bahagia adalah pilihan. Tergantung kamu,mau memilih penderitaan dengan tetap hanyut dalam rasa sakit itu, atau memilih untuk berserah sehingga bahagia menghampiri. Hanya kamu yang bisa menolong dirimu sendiri, Hanya kamu yang bisa membuatmu bangkit kembali," kata-kata yang dilontarkan oleh Randi, begitu diplomatis, membuat Reyna bergeming.

__ADS_1


"Aku juga merasakan sakit dan kecewa ketika ditolak, padahal hanya makan siang bersama, tapi tidak mungkin kan kita kalah sama perasaan sakit dan kecewa itu? hidup harus tetap berjalan. Yang perlu diperjuangkan ya perjuangkan, tapi kalau sudah menemukan jalan buntu dan menuntut kita untuk berhenti, ya kita harus berhenti, karena kalau kita memaksa untuk menerobosnya, justru kita yang akan merasakan sakitnya. Kita itu harus menyayangi diri kita sendiri, kalau tidak, setidaknya ingat ada orang tua maupun saudara yang pastinya menyayangi Kita," sambung Randi kembali, panjang lebar tanpa jeda.


Tbc


__ADS_2