Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Kedatangan Denis


__ADS_3

Denis menepikan mobilnya di Pekarangan kediaman Gavin. Walaupun jauh di lubuk hatinya dia membenarkan perkataan Bella,. entah kenapa hati seorang ayah yang ingin melihat anak perempuannya tetap masih mendominasi, sehingga dia memutuskan untuk mencoba meminta pada Gavin agar segera menikahkan Gilang dengan Dania.


"Eh, Denis tumben kamu datang. Apa ada hal yang sangat penting?" tanya Gavin begitu melihat kemunculan Denis.


"Apa aku tidak boleh datang ke sini? apa harus ada yang penting dulu baru bisa datang?" sahut Denis sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


Gavin terkekeh dan segera menekan tombol off pada remote TV.


"Nggak juga sih, cuma kan tumben aja," ucap Gavin sembari memperhatikan wajah Denis.


"Tapi, dilihat dari wajahmu, sepertinya ada yang ingin kamu bicarakan. Apa dugaanku benar?"


"Kamu memang sahabat yang pengertian. Kamu benar, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Denis membalas tatapan Gavin.


"Apa itu?" Gavin membenarkan posisi duduknya, siap untuk mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh sahabat itu.


"Apa ini tentang Dania? kalau iya, apa yang harus aku katakan?" batin Denis dengan perasaan was-was.


Denis tidak langsung buka suara. Pria itu terlihat masih sedikit ragu dan malu untuk mengungkapkan tujuannya datang menemuinya Gavin.


"Ada apa, Denis? kenapa kamu masih diam?" Gavin kembali bertanya.


"Emm, begin Vin. Aku cuma mau menanyakan kapan Gilang dan Dania akan menikah? mengingat kalau mereka sudah bertunangan sangat lama," Denis akhirnya membulatkan tekad untuk segera mengungkapkan tujuannya.


Gavin bergeming. Benar dugaannya, sahabatnya itu datang menemuinya untu membahas pernikahan Gilang dan Dania.


"Ya Tuhan, aku harus jawab apa?"Gilang terlihat mulai panik,.karena dia sama sekali belum menyiapkan jawaban yang hendak berikan pad Denis. Bagaimanapun seandainya dia ada di posisi Denis, pastilah tidak mau anak perempuan tidak diberi kejelasan.

__ADS_1


"Denis, untuk masalah pernikahan, sekarang aku serahkan semuanya pada Gilang, karena dia yang akan menjalaninya. Aku sebagai orang tua hanya bisa mendukung," jawab Gavin akhirnya, setelah terdiam beberapa saat.


"Tapi, tidak ada salahnya kan kita sebagai orang tua, menanyakannya? karena aku yakin, banyak orang juga yang pasti mempertahankan kelanjutan hubungan Dania dan Gavin, karena pertunangan mereka yang sudah lama,"


Gavin kembali terdiam karena apa yang dikatakan oleh Denis benar adanya.


"Benar yang kamu katakan, dan aku sebenarnya sudah berulangkali menanyakannya pada Gilang, tapi dia sama sekali tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Jadi, aku memutuskan untuk menunggu keputusan dia saja. Aku tidak mau mendesak dia, sehingga nantinya dia terpaksa. Kamu tahu sendiri kalau apapun yang dilakukan terpaksa tidak akan baik." sahut Gavin diplomatis.


"Apa kamu tidak bisa membujuknya untuk segera menikah dengan Dania? umur mereka semakin bertambah, Vin. Untuk usia Dania dan Gavin, mereka sudah pantas untuk menikah," Denis masih saja berusaha untuk membujuk Gavin.


"Denis, sebagai seorang ayah, aku tahu kamu memikirkan kebahagiaan Dania, tapi aku juga seorang ayah, yang juga menginginkan kebahagiaan Gilang. Kalau dulu aku sudah bersedia membuat mereka bertunangan, kali ini, aku tidak mau egois untuk meminta dia menikahi Dania secepatnya, karena aku tidak ingin anakku kelak menyalahkanku kalau dia tidak bahagia. Aku juga tidak ingin hidup dalam rasa bersalah jika melihat anakku, tidak bahagia dengan pernikahannya," tutur Gavin panjang lebar tanpa jeda.


"Apa menurutmu, Gilang tidak akan bahagia menikahi dengan Dania? sepertinya kamu sangat meragukanku anakku," emosi Denis mulai terpancing.


"Bukan seperti itu maksudku. Kamu jangan langsung terbawa emosi dulu! aku justru meragukan Gilang, tidak bisa memberikan kebahagiaan pada Dania, mengingat kalau selama ini, sikap Gilang selalu dingin pada Dania,"


"Tapi, belum tentu hal yang kita takutkan itu terjadi kan? bisa saja yang akan terjadi sebaliknya. Menurutku, sangat kurang bijaksana kalau kita sudah berpikir terlalu jauh, tentang hal yang belum tentu terjadi, " ucap Denis dengan


"Yang jelas, cucu saya tidak akan menikah kalau bukan karena dia yang menginginkannya." tiba-tiba Melinda sudah berdiri di belakang kedua pria itu.


.


"Ta-tante! sejak kapan berdiri di situ?" tanya Denis dengan gugup


"Aku sudah berdiri di sini sejak tadi, dan sudah mendengar pembicaraan kalian berdua," ujar Melinda dengan wajah yang kurang bersahabat.


"Emm, begini Tante, aku memang berharapnya seperti itu, Gilang sendiri yang ingin segera menikah. Tapi, ada baiknya juga kita sebagai orang tua mengingatkan anak kita, supaya memikirkan pernikahan. Takutnya karena terlalu sibuk bekerja, Gilang lupa dengan pernikahan," ucap Denis dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Cucu saya tidak mungkin lupa dengan yang namanya pernikahan kalau dia benar-benar mencintai pasangannya. Kalau dia belum ada niat untuk menikah, aku rasa kamu sudah bisa menarik kesimpulan kenapa dia belum ingin menikah. Itu berarti ...." Melinda sengaja menggantung ucapannya, membiarkan Denis menyimpulkan sendiri.


Wajah Denis sontak berubah memerah. Ingin rasanya dia marah, tapi marah untuk apa dia tidak tahu, karena siapapun bisa melihat kalau Gilang memang tidak pernah menginginkan Dania untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Emm, seperti itu ya, Tante? baiklah aku cukup paham. Kalau begitu aku menunggu kabar dari kalian saja. Aku pamit pulang dulu, karena ada hal yang ingin aku kerjakan," Denis berdiri dari tempat dia duduk dan beranjak pergi setelah Gavin dan Melinda mempersilakannya.


"Mah, apa kata-kata Mama tidak terlalu kasar tadi?" tanya Gavin setelah tubuh Denis hilang dari pandangan mereka.


"Sekali-kali kita harus tegas seperti itu, Vin. Jangan selalu? merasa tidak enak, walaupun itu sahabat kita sendiri. Yang kamu katakan tadi sangat benar,"


"Perkataan yang mana, Ma?" Gavin mengrenyitkan keningnya.


"Yang kamu mengatakan kalau kamu juga seorang ayah, yang memikirkan kebahagiaan anak sama seperti dia," sahut Melinda.


Keheningan terjeda untuk sepersekian detik di antara Gavin dan Melinda mamanya. Wajah pria itu masih terlihat kusut karena masih merasa tidak enak dengan Denis.


"Bagaimana dengan urusan pernikahan Gilang dengan Cahaya? kapan bisa dilaksanakan?" celetuk Melinda tiba-tiba, mengehentikan keheningan yang sempat tercipta.


"Cahaya sudah menyerahkan surat-surat yang dibutuhkan untuk pernikahan. Karena dilakukan diam-diam, dan tanpa mengadakan pesta, Pernikahan mereka akan dilaksanakan dua hari lagi," jawab Gavin.


"Baiklah kalau begitu. Mudah-mudahan lancar tidak ada halangan. Sebaiknya dilakukan di siang hari saja, karena Dania biasanya datang di pagi hari," usul Melinda.


"Iya, Ma. Hal itu juga sudah aku dan Jelita pikirkan,"


"Bagus! kalau begitu mama pergi dulu, mama mau menemui Cahaya, agar mama semakin dekat dengan calon cucu menantuku itu," pungkas Melinda, sembari berlalu pergi.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2