Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Denis mulai menyesal


__ADS_3

Bella menekan bel berkali-kali, tidak sabar untuk meluapkan amarahnya pada Dania.


"Kemana sih mereka? kenapa pintunya belum dibuka juga?" Bella menggerutu, kesal.


"Sabar dulu, Ma. Mungkin papa ada di atas. Kan kalau ke bawah butuh waktu. Kita baru aja nyampe lho," ujar Darrell menenangkan mamanya. Dia tahu kalau mamanya sekarang sudah sangat marah.


Dari arah dalam terdengar suara seperti ada yang sedang membuka pintu. Benar saja, pintu rumah akhirnya terbuka, memunculkan sosok Denis.


"Sayang? syukurlah akhirnya kamu pulang!". ucap Denis yang mengira kalau Bella akan pulang ke rumah mereka.


"Aku ke sini bukan untuk pulang. Aku ke sini mau bertemu dengan Dania, dimana dia?" ucap Bella dengan ketus.


"Ada masalah apa lagi? kenapa kamu mencarinya?" alis Denis bertaut, curiga.


"Nanti kamu akan tahu. Dia di kamarnya kan? aku akan menemuinya sendiri," Bella mendorong pelan tubuh Denis dan langsung berlalu dari depan Denis.


"Ada apa dengan mamamu?" tanya Denis pada Darrell.


"Papa sebaiknya ikut saja, dan papa nanti akan tahu sendiri," jawab Darrell, santai.


Denis yang merasa penasaran sekaligus khawatir, langsung pergi menyusul Bella dengan sedikit berlari.


Sementara itu Bella kini sudah berdiri di depan pintu kamar Dania. Dia mencoba memutar knop pintu, dan ternyata Dania tidak menguncinya dari dalam sehingga pintu langsung terbuka.


"Dania!" teriak Bella dari ambang pintu, hingga membuat Dania yang sedang asik mendengarkan lagu di handphonenya tersentak kaget.


"Mama? kenapa mama bisa ada di sini? mama udah pulang ya? apa aku bilang, dari awal baku sudah yakin kalau mama tidak akan betah tinggal di apartemen Darell," ujar Dania yang dengan tersenyum sinis. Wanita itu sama sekali tidak menyadari raut wajah marah yang tercetak jelas di wajah Bella.


"Jangan bahas ke situ. Mama ke sini justru ingin menanyakan kenapa kamu mengenalkan Danar pada Reyna?" tanya Bella dengan tatapan yang sangat tajam, seperti pisau belati yang siap untuk menghujam jantung.


"Lho, dari mana Mama bisa tahu akan hal itu? dan lagian apa salah kalau aku mengenalkannya dengan Danar? Reyna itu perlu dikenalkan dengan seorang laki-laki, biar nggak sendiri terus," sahut Dania santai.


"Ini apa sebenarnya? Dania mengenalkan Reyna pada Danar?" celetuk Denis yang terlihat semakin bingung.


Bella sama sekali tidak peduli dengan kebingungan suaminya. Wanita setengah baya itu, justru semakin terlihat marah dengan sikap santai Dania.


"Kalau kamu mengenalkan dengan pria baik-baik, tidak masalah. Tapi ini kamu mengenalkannya dengan Danar, Daniaaa! Kamu kan tahu kalau Danar itu suka main perempuan dan mabuk-mabukan. Kenapa kamu tega mengenalkan Reyna dengan laki-laki seperti itu, Hah?"


"Reyna kan perfect, baik hati. Jadi, aku merasa kalau Reyna bisa merubah Danar. Emang aku salah ya?" Dania masih saja bersikap santai.

__ADS_1


Plakk


Tangan Bella kembali melayang menampar pipi Dania.


"Ahh, Mama sakit!" pekik Dania sembari meringis kesakitan.


"Stop!" Bella mengangkat tangan tepat ke wajah Denis, tanpa melihat ke arah pria itu, ketika pria itu hendak buka mulut ingin menegurnya.


"Kali ini kamu jangan bela dia lagi. Apa yang dilakukannya kali ini benar-benar sudah keterlaluan," ucap Bella dengan tegas.


Bella melangkah semakin mendekat ke arah Dania.


"Dania, apa kamu tahu dengan kamu mengenalkan Reyna pada Danar, kamu sama saja menjerumuskan sahabat kamu sendiri ke jurang. Apa kamu tahu akibat dari perbuatanmu? Reyna hampir saja menjadi korban Danar. Dia hampir saja ingin menodai Reyna," ucap Bella dengan penuh penekanan.


"Apa!" bukan Dania yang berteriak, melainkan Denis yang benar-benar kaget.


"Dania, bagaimana bisa begitu?" suara Denis meninggi.


"Bagaimana aku bisa tahu, Pa. Aku sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku hanya ingin mendekatkan mereka saja," jawab Dania sembari mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit.


"Apa kamu kira mama bodoh, Dania. Aku tahu kalau kamu sengaja mengenalkan Danar pada Reyna karena kamu punya maksud tertentu. Kamu sudah yakin kalau Danar pasti tidak akan kuat kalau tidak menyentuh Reyna. Kamu berharap jika Danar menodai Reyna, otomatis om Rey dan tante Nayla akan memaksa Danar untuk menikahi Reyna kan? dengan begitu kamu merasa kalau posisimu aman. Kamu yakin kalau lambat laun Gilang akan bisa menerima kamu, iya kan?" tutur Bella sembari menyeringai sinis.


"Sial! kenapa mama bisa tahu sih tujuanku. Tunggu dulu,mama tadi bilang 'hampir', berarti Danar tidak berhasil dong, menodai Reyna. Kok bisa sih? bodoh banget sih dia, " Dania merutuki kebodohan Danar dalam hati. Wanita itu benar-benar kesal sekarang.


"Dania, kenapa kamu diam? apa yang mama katakan benar? selain itu kamu juga punya maksud lain. Kamu ingin Reyna kalah dari kamu mengenai masalah jodoh kan? kamu merasa kalau selama ini Reyna selalu menang dalam bidang apapun, jadi kamu berharap kalau dalam hal jodoh dan masa depan, dia kalah, iya kan?" Bella kembali berbicara dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Apaan sih, Ma? kenapa mama bisa berkata seperti itu? lagian kenapa mama dari tadi selalu membela Reyna? toh dia tidak jadikan dinodai sama Danar. Jadi tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan," ucap Dania dengan ketus


"Bukan jawaban seperti itu yang mama minta, Dania.Harusnya kami jawab, apa dugaan mama tadi, benar atau tidak?" desak Bella.


"Iya, mama benar! aku kesal dengan Reyna. Semua orang menyukainya sampai Gilang juga. Dia juga menjadi bintang kelas, dan selalu mendapat pujian dari guru dan teman-teman, sedangkan aku? tidak ada yang menyukaiku. Orang-orang yang dekat padaku tidak ada yang tulus. Mereka dekat hanya karena tahu kalau aku tunangan Gilang. Lihat, sekarang Reyna juga bisa lepas dari Danar. Kenapa dia selalu beruntung kenapa aku tidak, Hah!" tanpa sadar Dania meluapkan apa yang dia rasakan, hingga membuat Denis terdiam tidak menyangka kalau putri yang dia bela selama ini bisa punya pikiran seperti itu.


"Itu karena dia orang baik. Jadi Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya," jawab Bella. "Sekarang mama mau tanya, apa seandainya Danar berhasil tadi, dan akhirnya Reyna menikah dengannya, apa menurutmu itu bisa menjamin kalau kamu akan dinikahi oleh Gilang?" tanya Bella. "Entah kenapa, mama merasa tidak yakin akan hal itu, karena yang aku lihat, Gilang tidak pernah bisa mencintaimu," sambung Bella kembali dengan sudut bibir yang terangkat sedikit ke atas.


"Kenapa sih Mama bisa berkata seperti itu pada anak sendiri? Aku jadi ragu kalau kamu ini mama kandungku. Karena kalau kamu mama kandungku, pasti kamu mendukungku bukan sebaliknya. Aku benar-benar menyesal lahir dari rahim wanita seperti kamu,"


Plakkk


Kali ini bukan Bella yang menampar melainkan Denis hingga membuat mata Dania membesar, terkesiap kaget karena tidak menyangka kalau papa yang selalu ada untuknya itu sanggup menamparnya. Bukan hanya Dania yang kaget, Bella dan Darell juga kaget dengan reaksi Denis.

__ADS_1


"Papa kenapa kamu memukulku?" Dania mulai menangis.


"Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu pada mama kamu sendiri! asal kamu tahu, aku adalah saksi melihat perjuangan mamamu saat melahirkanmu." bentak Denis dengan mata yang berapi-api terbakar amarah.


"Mama kamu ternyata benar selama ini. Aku sudah salah dalam memperlakukanmu. Kamu terlalu aku manja selama ini sehingga kamu tumbuh menjadi pribadi yang egois," ucap Denis penuh penyesalan.


"Tidak, Pa jangan berkata seperti itu!" ucap Dania sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Seketika dia merasa takut tidak mendapat dukungan lagi dari Denis.


"Papa juga sekarang sadar kalau sebenarnya kamu sama sekali tidak mencintai Gilang. Kamu hanya terobsesi dengannya," ucap Denis kembali.


"Tidak! rasa yang aku punya ini cinta, Pa. Karena aku terlalu mencintainya lah makanya aku ingin memilikinya seutuhnya," sangkal Dania.


"Benar kata papamu, rasa itu hanya obsesi bukan cinta. Mama tahu, kenapa kamu bisa terobsesi pada Gilang, itu karena kamu selama ini selalu mendapatkan apa yang kamu mau. Jadi, ketika kamu mengetahui kalau kamu tidak bisa mendapatkan Gilang, kamu merasa tidak terima dan penasaran. Mama yakin seandainya Gilang sudah berhasil kamu dapatkan, rasa yang kamu bilang cinta itu pasti akan hilang dengan sendirinya," Bella kembali buka suara.


"Tidak! itu tidak benar! Aku mencintainya, sangat mencintainya. Kalau tidak, tidak mungkin aku bisa bertahan sampai sejauh ini!". Dania histeris berusaha menyangkal opini mamanya.


Bella menghela napasnya, dengan cukup berat. Dia merasa kalau Dania sangat sulit untuk diingatkan.


"Darell kita pergi saja dari sini. Mama capek mengingatkan kakakmu," Bella memutar tubuhnya hendak melangkah. Namun tangan Denis dengan sigap menahannya.


"Sayang jangan pergi lagi! aku benar-benar minta maaf karena tidak mengindahkan ucapanmu. Aku benar-benar sudah menyadari kesalahanku sekarang," mohon Denis dengan wajah memelas.


Bella tercenung, dia sebenarnya merasa iba melihat wajah suaminya yang memelas. Wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Darell putranya seperti ingin meminta pendapat. Darell yang mengerti makna tatapan sang mama, tersenyum dan mengangguk kecil.


"Baiklah, aku tidak akan pergi lagi," pungkas Bella akhirnya.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Denis sembari memeluk istrinya itu. Kemudian dia melerai pelukannya dan seperti terlihat memikirkan sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa? apa yang kamu pikirkan?" Bella mengerenyitkan keningnya.


"Aku berpikir kalau aku mau ke rumah Rey sekarang. Aku ingin minta maaf padanya," ucap Denis, lirih.


"Jangan sekarang! di samping sudah malam,Rey sedang sangat marah sekarang. Sebaiknya besok saja kamu ke sana," ucap Bella


Sementara itu, Dania tidak terlalu mempedulikan interaksi mama dan papanya yang sudah berbaikan. Wanita itu sibuk memikirkan sesuatu.


"Sekarang Reyna pasti sangat marah padaku karena kejadian ini. Gawat! aku harus minta maaf padanya. Aku tidak mau karena kejadian ini, Reyna akhirnya memutuskan untuk mengambil Gilang kembali dariku," Dania terlihat mulai over thinking.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2