
"Ingat, nanti sepulang kuliah kamu harus datang ke kantor!" Gilang kembali mengingatkan Cahaya sebelum Istrinya itu keluar dari dalam mobil.
"Iya, aku tahu!" jawab Cahaya dengan wajah masam. "Kalau gitu aku keluar ya!" Seperti biasa Cahaya meraih tangan Gilang dan mencium punggung tangan pria itu.
"Kak Bayu, hati-hati bawa mobilnya!" ucap Cahaya sebelum dia benar-benar turun.
Bayu tidak menjawab, dia hanya mengangkat jempolnya, untuk menanggapi ucapan Cahay
"Sudah, ayo jalan lagi!" titah Gilang setelah pria itu pindah duduk di depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelas yang diikuti Cahaya akhirnya selesai. Wanita itu langsung bergegas dengan cepat untuk merapikan buku-bukunya dan langsung keluar.
Cahaya menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan agar dia tidak bertemu dengan Randi. Dia berharap tidak bertemu dengan pria itu, agar punya alasan untuk tidak jadi makan siang. Cahaya seketika menarik napas lega ketika tidak melihat keberadaan pria itu.
"Syukurlah, Pak Randi tidak ada. Sepertinya dia sedang sibuk hari ini," batin Cahaya sembari mengayunkan kakinya melangkah menuju pintu masuk kampus. Ya, hari ini Randi memang tidak terlihat, bahkan dia meminta seseorang yang dia angkat menjadi asistennya atau sering disebut asisten dosen untuk menggantikan dia memberikan kuliah.
"Hai, Cahaya! hari ini jadikan?" Cahaya terkesiap kaget karena tiba-tiba Randi sudah berdiri di depannya.
"Pa-Pak Randi! Bapak kenapa bisa ada di sini? bukannya Bapak punya urusan penting?" tanya Cahaya dengan gugup.
"Iya, memang aku ada urusan yang sangat penting, tapi semuanya sudah selesai dengan sempurna," jawab Randi yang disertai dengan senyuman manisnya.
"Hal yang sangat penting itu adalah persiapan makan siang dengan mu," lanjut Randi kembali yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Ya udah, sekarang bagaimana? jadi kan?"
__ADS_1
"Ja-jadi apa ya, Pak?" Cahaya pura-pura lupa.
"Aku rasa kamu belum terlalu tua untuk melupakan janji kamu kemarin. Bukannya kamu sudah setuju untuk makan siang denganku hari ini?"
"Astaga, aku lupa, Pak!" jawab Cahaya sembari cengengesan.
"Ya udah sekarang aku ingatkan kembali. Kamu sudah nggak ada kelas lagi kan? jadi sekarang ayo kita pergi untuk makan siang," ucap Randi sembari berjalan lebih dulu.
"Haish, bagaimana ini? bagaimana cara menolaknya?" Cahaya berusaha memikirkan alasan yang sesuai untuk membatalkan makan siangnya dengan Randi.
Sementara itu, mereka berdua kini sudah sampai di tempat di mana mobil Randi diparkir.
Pria itu dengan sigap membukakan pintu untuk Cahaya.
"Ayo masuk, Aya!" titah Randi.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana?" tegur Randi.
"Pak Randi,maaf banget kalau aku sudah mengecewakan anda, tapi hari ini aku benar-benar lupa kalau aku sudah janji akan makan siang dengan, Bapak. Tapi, Pak hari ini aku memiliki banyak pekerjaan di rumah majikanku. Kebetulan aku juga sudah berjanji pada majikanku, kalau aku akan langsung pulang setelah selesai kuliah. Aku harap Bapak bisa maklum dengan statusku di rumah itu," Cahaya mulai mengemukakan alasannya,dan dia berharap Randi percaya.
" Apa ini berarti,kalau hari ini tidak ada namanya makan siang bersama antara kamu dan aku?" dari nada suara Randi,bisa ditarik kesimpulan kalau wajah itu terlihat kecewa.
"Bisa dikatakan seperti itu, Pak," sahut Cahaya, membenarkan. "Bapak Randi harusnya bisa mengerti dan maklum kalau seorang pembantu tidak sebebas orang lain," lanjutnya kembali.
"Kalau begitu, baiklah! aku tidak akan memaksamu, walaupun sebenarnya aku sangat kecewa, karena aku sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Aku memang harus mengerti dengan kondisi kamu. Namun, entah kenapa aku merasa kalau yang kamu ucapkan tadi hanya alibi untuk menolak makan siang denganku. Apa aku benar?" alis Randi bertaut, menatap Cahaya penuh selidik.
Sementara itu, Cahaya merasa tenggorokannya tercekat sehingga kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Pak Randi, terserah anda mau percaya atau tidak. Yang jelas apa yang __"
"Apa kamu dilarang oleh Gilang untuk makan siang denganku?" Randi seketika menyela Cahaya, sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.
Cahaya semakin tersentak kaget mendengar dugaan Randi yang tepat sasaran.
"Jangan sok tahu,Pak Randi! ini semua tidak ada hubungannya dengan Tuan Gilang," sangkal Cahaya dengan cepat.
"Oh ya? aku harap sih apa yang kamu katakan itu benar, Aya. Tapi, sebagai orang yang mengenalmu, aku hanya ingin mengingatkanmu supaya jangan pernah bermain api dengan Gilang, karena bagaimanapun dia itu pria yang sudah memiliki tunangan. Aku rasa kamu pasti tahu konsekuensi jika menjalin hubungan dengan pria yang berstatus begitu. Kamu pasti akan dianggap orang ketiga dan wanita perebut,"
"Bukannya tadi aku sudah bilang kalau ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tuan Gilang? tanpa Bapak ingatkan, aku juga sudah tahu akan hal itu," jawab Cahaya dengan ketus.
"Baguslah kalau kamu sudah mengerti. Sekarang masuk aja ke dalam mobilku, biar aku mengantarkan kamu pulang ke rumah Gilang," ucap Randi lagi yang seketika membuat wajah Cahaya pucat.
"Tidak perlu,Pak Randi! aku bisa pulang sendiri naik taksi." tolak Cahaya dengan halus.
"Makan siang tidak jadi,apa kamu masih tega menolak untuk aku antarkan pulang?" ucap Randi dengan wajah memelas.
"Aduh, bagaimana ini? aku kan harus ke kantor mas Gilang. Kalau aku tolak,aku benar-benar tidak tega, tapi kalau aku memintanya untuk mengantarkan aku ke kantor mas Gilang juga sangat tidak mungkin. Aku harus bagaimana sekarang?" Cahaya benar-benar merasa dilema .
"Bagaimana, Cahaya? kamu tidak mungkin menolak tawaranku kan?"tanya Randi lagi.
"Baiklah, Pak!" pungkas Cahaya, akhirnya menerima tawaran Randi.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? ayo masuk, Cahaya!" Randi mempersilahkan Cahaya untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Mudah-mudahan Mas Gilang tidak marah nanti kalau aku jelaskan dengan baik-baik," harap Cahaya dalam hati sembari masuk ke dalam mobil Randi.
__ADS_1
Tbc