Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Tekad Dania


__ADS_3

Kening Dania kembali berkerut, karena dari tadi dia sama sekali tidak melihat batang hidung Cahaya, bahkan ketika majikannya sedang sarapan, wanita yang dicarinya itu, sama sekali tidak muncul.


Sementara itu, semua orang yang duduk mengelilingi meja makan, seperti menanggap Dania tidak ada duduk bersama dengan mereka. Semuanya serius menyantap sarapan pagi yang ada di piring masing-masing.


"Tante, sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melihat Cahaya lagi, dia dimana ya? Dania buka suara.


Jelita seketika tersedak mendengar pertanyaan Dania. Dengan sigap Gavin sang suami langsung memberikan segelas air pada istrinya itu.


"Oh, dia ada kok.. Mungkin sedang sibuk di taman belakang," sahut Jelita setelah meneguk habis air di dalam gelasnya.


"Oh, seperti itu!" ujar Dania yang sebenarnya belum merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh Jelita.


"Tan, beberapa hari yang lalu,aku melihat Cahaya datang ke kantor Gilang,dan aku merasa penampilannya sangat beda, bukan terlihat seperti seorang pembantu,"


"Emangnya bagaimana seharusnya penampilan seorang pembantu? apa menurutmu seorang pembantu tidak pantas berpenampilan cantik? Setiap wanita itu punya hak untuk tampil cantik," Gavin buka suara, membantu istrinya menjawab Dania. Karena dia melihat Jelita sepertinya mengalami kesulitan untuk menjawab


"Ma-maksudku tidak merendahkan seorang pembantu, Om. Aku hanya curiga saja, kenapa dia harus datang ke kantor Gilang dengan penampilan seperti itu? aku curiga dia punya maksud untuk menggoda Gilang, Om. Aku merasa dia sangat ingin menjadi bagian dari keluarga ini dengan memanfaatkan wajah dan sikap polosnya. Aku yakin, kalau dia itu licik dan tidak sepolos yang keluarga ini pikirkan," Dania mulai memprovokasi.


Gavin menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya kembali ke udara. Pria setengah baya itu, mulai kehilangan selera makannya.


"Dania, mulai sekarang tolong berhenti berpikiran negatif terhadap orang lain, agar kamu bisa menjalani hidupmu dengan tenang. Dengan kamu selalu berpikir positif, om yakin kalau kamu pasti akan merasa tenang. Kalau kamu tidak percaya, coba mulai dari sekarang. Om yakin kamu akan merasakan perbedaannya," tutur Gavin panjang lebar.


"Aku tidak berpikir negatif, Om. Aku yakin dengan kebenaran yang aku pikirkan itu,"


"Baiklah,biar Om kasih tahu kamu, sebenarnya Cahaya itu sudah kuliah. Ketika kamu melihatnya datang ke kantor Gilang dengan penampilan yang berbeda, itu karena dia diminta Gilang untuk membelikan makanan dan mengantarkan ke kantor. Jadi, sekarang stop berpikir yang tidak-tidak!"


"Kuliah? bagaimana bisa dia kuliah?" Dania terkesiap kaget. "Om dan Tante benar-benar terlalu baik padanya. Apa Om dan Tante tidak takut kalau dia nanti bakal ngelunjak dan memanfaatkan kebaikan Om dan Tante? Aku rasa keluarga Om dan Tante terlalu baik pada pembantu yang satu itu, padahal dia masih dikategorikan pembantu baru. Apa Om dan Tante tidak takut dianggap pilih kasih oleh pembantu lainnya?" lanjutnya kembali berharap kedua orang tua Gilang dan yang lainnya terpengaruh dengan ucapannya.


"Dania! hentikan bicaramu! apa hak kamu membatasi apa yang Keluarga kami lakukan? semua pembantu di sini yang sudah kami anggap keluarga sendiri sama sekali tidak ada yang keberatan. Kenapa kamu yang orang luar, protes?" Melinda yang dari tadi berusaha menahan amarahnya, kini buka suara. Wanita tua itu bahkan memberi penekanan pada kata 'orang luar' supaya Dania sadar kalau dia sama sekali tidak dianggap bagian dari keluarga besar Maheswara.

__ADS_1


Dania seketika terdiam dengan ucapan Melinda yang kali ini benar-benar menyakitkan.


"Tahu tuh, benar-benar tidak punya sopan santun. Orang lagi makan dari tadi ngoceh saja ocehannya pun mengandung provokasi," celetuk Grizelle, menyindir.


"Emm, maaf!" ucap Dania dengan lirih. "Kalau begitu,aku keluar dulu!" Dania berdiri dari duduknya dan langsung keluar dari ruang makan. Namun wanita itu tidak langsung pulang, dia memutuskan untuk pergi ke belakang, apalagi tujuannya kalau tidak memastikan apakah Cahaya benar ada di belakang atau tidak.


Mata wanita itu mengedar mencari keberadaan Cahaya, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu.


"Katanya dia sedang ada kerjaan di belakang, tapi kenapa dia tidak ada?" batin Dania. Kecurigaan wanita benar-benar semakin besar sekarang.


Sementara itu, di dalam kamar, Gilang dan Cahaya benar-benar bingung bagaimana caranya bisa keluar tanpa Dania tahu. Tadi, pria itu ke balkon dam melihat kalau mobil Dania masih ada, pertanda kalau wanita itu belum meninggalkan rumahnya.


"Mas, kalau begini sebaiknya kita tidak usah pergi aja deh. Kita di rumah aja," Cahaya buka suara, karena jengah melihat Gilang yang bolak balik keluar ke balkon dan masuk lagi hanya untuk memastikan apakah Dania sudah pergi atau tidak.


"Tidak! kita harus pergi bagaimanapun caranya. Karena ini cukup penting,"sahut Gilang tegas.


"Cahaya, apa kamu punya nomor mbak Rini?"


"Lebih baik kamu hubungi mbak Rini dulu, nanti aku yang akan bicara," titah Gilang.


Cahaya melakukan seperti yang diminta oleh Gilang. Tidak perlu menunggu lama, telepon darinya langsung dijawab oleh Rini.


"Iya, ada apa Aya?"


"Mbak ini aku Gilang,"


"Eh,maaf Tuan. Aku pikir Cahaya yang meneleponku. Ada apa ya,Tuan?"


"Mbak, di mana posisi Dania sekarang?"

__ADS_1


" Dia ada di taman belakang, Tuan."


"Tolong kamu berpura-pura ajak dia bicara sampai aku dan Cahaya pergi. Bisa kan, mbak?"


"Bisa, Tuan!" sahut Rini.


"Terima kasih, Mbak!" Gilang memutuskan panggilan setelah Rini mengiyakan dari ujung sana.


"Sudah beres! sekarang ayo kita berangkat!" Gilang beranjak menuju pintu disusul oleh Cahaya.


"Sekarang, kita berdua benar-benar sudah seperti pencuri," gumam Cahaya lirih, dan masih bisa didengar oleh telinga Gilang. Namun Gilang memilih diam karena apa yang dikatakan oleh Cahaya benar adanya.


Di taman belakang, Rini mengayunkan kaki hendak menghampiri Dania. Namun sebelum dia benar-benar dekat, Dania sudah lebih dulu memanggilnya.


"Mbak Rini!" panggilnya ketika Rini kembali lewat.


"Iya, Non?" sahut Rini,sopan.


"Cahaya ada di mana? kenapa dia tidak ada di dalam dan di sini?"


"Emm, Ca-Cahaya sudah pergi kuliah,Non," jawab Rini dengan gugup.


"Kuliah di weekend?" Cahaya mengerenyitkan keningnya.


"Ada apa ini sebenarnya? tadi aku tanya Tante Jelita bilang di taman belakang dan bukannya mbak Rini juga mengatakan tadi kalau Cahaya bekerja di belakang?" batin Dania yang semakin merasa curiga.


"Sepertinya keluarga ini sedang menyembunyikan sesuatu. Aku harus menyelidikinya, mulai sekarang," tekad Dania dalam hati.


"Kalau memang benar mereka menyembunyikan sesuatu, aku tidak akan pernah tinggal diam. Bahkan aku tidak akan sungkan membuat kejayaan keluarga Maheswara, hancur," ucapnya lagi seraya menyeringai sinis.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2