Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
An*jing lebih berguna dari kamu


__ADS_3

Dania mengerjab-erjabkan matanya dan memijat kepalanya yang terasa pusing. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat kalau sekarang dia sudah berada di kamar sendiri dan yang membuat dia semakin bingung,dia sudah berganti pakaian.


"Kenapa aku bisa ada di sini? bukannya tadi malam aku ada di bar dan minum?" gumamnya sembari berusaha mengingat kejadian tadi malam.


"Ah, sudahlah! apapun yang terjadi tadi malam aku tidak peduli yang penting aku sudah di rumah sekarang," batin Dania sembari turun dari atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah memakan waktu sekitar 30 menit, wanita itu tampak sudah segar. Wanita itu memakai pakaian rumahnya dan langsung turun ke bawah karena cacing di perutnya sudah mulai berontak.


Wanita itu mengedarkan pandangannya, menyoroti setiap sudut ruangan, yang terlihat sangat lengang.


"Kemana mereka semua? apa mereka sudah pergi? apa ini yang disebut keluarga? mereka sama sekali tidak ada yang peduli padaku. Mereka pergi tanpa menunggu aku bangun, dan bertanya apa yang aku rasakan, dasar brengsek!" umpatnya sembari melangkah menuju ruang makan.


Wanita itu membuka penutup makanan dan melihat makanan yang tampak sudah dingin.


"Bibi! bibi!" teriaknya memanggil pembantu rumah tangganya.


Seorang wanita yang sudah lumayan tua, seketika berlari tergopoh-gopoh untuk menghampiri Dania.


"Iya, Non. Ada apa?" tanya wanita itu dengan sedikit takut.


"Aku belum sarapan, dan aku lihat makanannya sudan dingin, panaskan dulu, biar aku bisa makan," titah Dania sembari duduk.


"Baik, Non." sahut wanita tua itu dengan sopan.


"Kamu sudah bangun ya?" tiba-tiba Bella sudah berdiri di ambang pintu, disusul oleh Denis dibelakangnya.


"Sudah!" jawab Dania singkat padat dan jelas dan ketus.


"Baguslah! oh ya, kenapa bukan kamu yang memanaskan makanan itu? kenapa harus panggil Bibi untuk melakukannya? tanya Bella sembari duduk di dekat Dania.


"Buat apa punya pembantu kalau kita lagi yang harus turun tangan? itu kan tugas dia," sahut Dania, ketus.

__ADS_1


"Dania! dia yang kamu katakan itu sudah tua, kamu harus sopan. Biasakan sopan sama orang yang lebih tua dari kamu, Nak." tegur Denis.


"Dia memang sudah tua, tapi aku tetap majikannya kan? jadi sudah sepantasnya dia mengerjakan itu,"


"Dania! yang membayar gaji bibi mama dan papa, bukan uang kamu, jadi yang majikan bibi itu kami bukan kamu. Jadi kamu jangan semena-mena," Bella sudah mulai meninggikan. suaranya.


"Kalian berdua siapaku? orang tuaku bukan? kalau iya, uang kalian juga uangku kan?" Dania tidak mau kalah..


"Tidak sama sekali! kalau kamu masih kecil dan masih di usia sekolah, memang sudah kewajiban mama dan papa untuk menafkahimu, tapi sekarang kamu sudah dewasa, sudah sepatutnya kamu bekerja untuk hidup diri sendiri," bukan Bella maupun Denis yang berbicara melainkan Darell yang ternyata hari ini tidak berangkat bekerja.


"Diam kamu! ini bukan urusanmu dan kamu sama sekali tidak pantas menasehatiku," ucap Dania ketus sembari menatap tajam ke arah adik laki-lakinya itu.


Di saat bersamaan, wanita tua yang dipanggil bibi itu sudah selesai melakukan perintah Dania. Wanita itu meletakkan makanan di depan Dania.


"Sendok makanannya ke dalam piring dong! masa aku mau makan langsung dari tempat nasi itu? setelah itu kamu tuangkan air minum untukku!" titah Dania tanpa melihat ke arah pembantu itu.


"Stop, Bi. Jangan patuhi perintahnya. Bibi sekarang ke tempat lain aja." wanita tua itu seketika mengurungkan niatnya untuk melakukan perintah Dania. Wajah wanita itu terlihat bingung mau melakukan perintah siapa.


"Mama!" pekik Dania protes.


"Bibi,aku bilang jangan ya jangan. Ingat, yang membayar gajimu kami, bukan dia. Mulai sekarang kalau dia mau makan, biarkan dia melakukan sendiri!" ucap Bella dengan tegas.


Dania sontak berdiri dengan wajah kesal, dan ingin beranjak meninggalkan meja makan.


"Kamu mau kemana? sekarang kamu harus jelaskan kenapa kamu bisa berada di bar? sejak kapan kamu mengenal tempat itu?" cegah Bella, dengan tatapan menuntut penjelasan.


Dania mendengus dan balik menatap mamanya dengan wajah bengis.


"Apa urusanmu menanyakan hal itu? mau aku pergi kemana dan apa yang aku lakukan, itu sama sekali bukan urusanmu!" jawab Dania dengan tidak sopan, seperti tidak menganggap kalau Bella bukan mamanya.


"DANIA! sopan kamu berbicara, dia itu mama kamu!" bentak Denis dengan rahang mengeras marah.

__ADS_1


"Cih, dia memang wanita yang melahirkanku, tapi aku malas memanggilnya mama. Kalau dia memang mamaku, seharusnya dia mendukungku bukan malah memojokkanku," jawab Dania dengan ketus.


"DANIA! hentikan omong kosongmu!" kembali Denis membentak.


"See! papa saja sekarang sudah lebih membela Istrimu itu! papa sudah dipengaruhi olehnya, sehingga papa juga ikut-ikutan memojokkanku. Bagaimana mungkin aku menghormati dia yang sudah membuat papa berubah?" kata- kata Dania semakin pedas dan menyakitkan, hingga membuat mata Bella berembun menahan tangis.


"Itu semua mama lakukan demi kebaikanmu, Kak. Mama ingin mengubahmu menjadi pribadi yang baik," Darell buka suara.


"Aku tidak butuh dirubah, aku butuh dukungan. Dan kamu , jangan ikut campur urusanku!" cetus Dania.


"Dania,kamu benar-benar sudah kelewatan. Sekarang minta maaf ke mama kamu!" bentak Denis dengan tatapan yang semakin menghujam tajam.


"Aku tidak mau! kenapa sih papa tidak menceraikan dia saat dia pergi dari rumah ini? kenapa dia harus kembali coba? bikin kacau semuanya,"


Plak ...


Bunyi tamparan terdengar nyaring. Bukan dari Denis maupun Bella melainkan dari Darell.


"Kamu benar-benar orang yang tidak tahu diuntung. Benar-benar manusia tidak berguna. Kamu bisa menghina siapapun, tapi tidak dengan mamaku. Tadi, aku masih menganggapmu kakak, tapi begitu kamu tidak menganggap mama, mamamu lagi, itu berarti kamu bukan kakakku lagi. Kalau di depanmu mama tidak berharga, bagiku dia tetap berharga. Sekali lagi aku mendengar kamu tidak menghormati mama, aku tidak akan sungkan lagi, melakukan lebih dari tamparan," ancam Darell dengan wajah yang memerah.


"Berani sekali kamu mengancamku? apa kamu kira aku takut? tidak sama sekali,"


"Oh, begitu? aku mau lihat apa kamu bisa hidup tanpa uang dari mama dan papa? asal kamu tahu, kamu adalah manusia yang paling miris yang pernah aku kenal. Kalau di usia kamu, sekarang orang pada sibuk meniti karir, kalau kamu sibuk merendahkan harga diri kamu dengan mengejar-ngejar pria yang sama sekali tidak mencintaimu. Kamu lihat, kak Reyna, dia menjadi seorang dokter, nah kamu apa? seharusnya mama sekarang sudah bisa tenang di rumah dan kamu menggantinya mengelola hotel dan aku mengelola cafe dan perusahaan papa, tapi apa yang kamu lakukan, hah? Kamu benar-benar manusia tidak berguna. Asal kamu tahu, anjing di depan rumah kita itu masih lebih berguna dari pada kamu. An*jing itu masih bekerja menjaga rumah ini. Nah kamu apa?" Darell meluapkan amarahnya dengan panjang lebar tanpa jeda.


Tangan Dania terayun hendak menampar Darell karena sudah berani membandingkannya dengan seekor an*jing, tapi tangannya kalah cepat dengan tangan Darrel yang langsung menangkap tangannya dan menghempaskannya dengan begitu kasar.


"Pantas saja, Kak Gilang sama sekali tidak bisa mencintaimu, dan lebih memilih menikah dengan wanita lain yang kamu anggap lebih rendah dari kamu," Darell kembali berucap dengan sudut bibir yang menyeringai sinis.


"Asal kamu tahu, derajat wanita yang kamu anggap rendah itu, sekarang sudah terangkat dan bahkan lebih tinggi dibandingkan kamu. Kamu itu sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan dia, bahkan untuk dibandingkan dengan ujung kukunya saja kamu tidak layak," sambung Darell kembali dengan sarkas.


"Sudah cukup! Darell kamu tidak boleh seperti itu pada kakakmu sendiri!$ pekik Bella menghentikan perdebatan Darell dan Dania.

__ADS_1


"Cih, aku nggak butuh kamu bela. Dasar munafik!" ucap Dania sembari berlalu pergi meninggalkan ruang makan.


Tbc


__ADS_2