
Cahaya menggaruk-garuk kepalanya tidak tahu mau melakukan apa. Mau bersih-bersih tapi dilarang sama asisten rumah tangga yang sedang bersih-bersih. Mau menyetrika juga demikian.
"Jadi, aku ngapain dong. Masa aku duduk-duduk santai saja," batin Cahaya sembari berjalan mondar-mandir.
Tiba-tiba ponsel bututnya berbunyi pertanda kalau ada telepon yang masuk. Senyum wanita itu seketika terbit, melihat nama ibu Sukma yang sedang menghubunginya.
"Halo, Bu!" sapanya dengan nada yang sangat riang.
"Halo,Nak. Bagaimana kabarmu di sana? apa suamimu baik padamu?" tanya Ibu Sukma.
"Aku sehat, Bu. Suami dan keluarganya juga baik padaku. Jadi, ibu tenang aja ya!" sahut Cahaya, jujur. "Oh ya, ibu apa kabar?" sambungnya kembali
"Ibu dan adik-adik panti semuanya baik. Bahkan sangat baik. Oh ya, tolong sampaikan sama suami kamu, rasa terima kasihku ya. Soalnya donasi yang dia kirimkan sudah ibu terima. Baik itu, uang maupun bahan-bahan makanan serta jajanan buat adik-adik panti,"
"Donasi? cepat banget dia merealisasikan janjinya," batin Cahaya.
"Kamu masih di sana, Nak? apa kamu dengar apa yang ibu katakan?" Ibu Sukma kembali bersuara karena tidak mendapat respon dari Cahaya.
"I-iya, Bu. Nanti aku Sampaikan pada Mas Gilang," sahut Cahaya dengan cepat.
Keheningan terjeda sepersekian detik di antara Cahaya dan ibu Surti. Sampai akhirnya Cahaya tersentak kaget mendengar pertanyaan Ibu Sukma.
"Cahaya, kenapa kamu bisa menikah secepat ini dengan nak Gilang? apa kamu terpaksa menikah demi panti, Nak?" dari nada bicara ibu Sukma, dapat dirasakan kalau wanita itu curiga dengan pernikahan Cahaya yang tiba-tiba. Walaupun sebenarnya dia tahu alasan Gilang menikahi Cahaya hanya karena balas budi. Namun wanita itu benar-benar penasaran kenapa Cahaya bisa secepat itu bersedia menikah dengan Gilang.
"Emm, tidak kok, Bu. Aku rasa mas Gilang orang yang baik, karena dikelilingi dengan orang-orang yang baik. Karena itulah aku bersedia menikah dengannya," jawab Cahaya, berbohong.
"Hmm, baguslah kalau begitu. Ibu tidak mau kamu menikah hanya demi panti. Ibu harap kamu bisa bahagia dengan pernikahanmu ya,Nak."
"Terima kasih ya, Bu!" sahut Cahaya sembari tersenyum walaupun senyumnya tidak bisa dilihat oleh lawan bicaranya yang berada di tempat lain.
Mereka terlibat obrolan lagi untuk beberapa saat. Setelah itu panggilan benar-benar terputus dan Cahaya kembali merasa bingung mau melakukan apa.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di panti, ibu Sukma mengembuskan napasnya, merasa bersalah pada Cahaya.
__ADS_1
"Maafkan Ibu,Nak. Ibu tidak kuasa untuk memberitahukan kamu, kalau Nak Gilang sebenarnya adalah anak yang diselamatkan papamu dulu, hingga membuat papamu meninggal," batin ibu Sukma dengan wajah yang memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit kini sudah berwarna jingga. Mentari kini sudah kembali ke peraduannya karena tugas untuk menyinari bumi Indonesia sudah selesai. Sebentar lagi mentari akan berganti dengan rembulan dan bintang-bintang untuk menerangi malam.
Reyna keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai tidak bersemangat.
Dia nyaris saja naik ke atas menuju kamarnya, tapi langkahnya langsung terhenti ketika mendengar suara Nayla mamanya yang memanggilnya.
"Iya, Mah,ada apa?" tanya Reyna dengan wajah lesu.
"Kamu duduk dulu sebentar, ada hal yang ingin mama tanyakan," Reyna mengrenyitkan keningnya, dan melangkah ke arah sofa dimana ada Kedua orangtuanya di situ. Kemudian, Reyna duduk sembari meletakkan jas dokternya di sampingnya.
"Ada apa,Ma? sepertinya ada sesuatu yang penting?"
Nayla tidak langsung buka suara. Dia menatap ke arah Reynaldi lebih dulu, seakan ingin bertanya siapa yang akan bertanya pada Reyna, dia atau sang suami. Reynaldi seakan mengerti maksud tatapan Nayla, dan dia pun memberikan isyarat agar Nayla yang bertanya lebih dulu.
"Tidak ada apa-apa kok, Ma. Aku hanya__"
"Kamu jangan bohong, Nak. Mama tahu kalau kamu itu sedang punya masalah," potong Nayla dengan cepat. "Tapi, walaupun kamu punya masalah, tolong agar kamu tetap profesional dalam bekerja. Jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, karena akibatnya bisa fatal. Kamu bekerja di bagian medis, menyangkut hidup orang banyak. Jangan hanya karena kamu tidak fokus, kamu melakukan kesalahan yang merugikan pasien." Sambung Nayla kembali, berbicara panjang lebar.
"Maaf, Ma!" ucap Reyna sembari menundukkan kepalanya.
"Mama juga tidak mau kamu menyalahkan gunakan jabatan mama di rumah sakit. Walaupun mama ini dokter kepala di rumah sakit itu, mama akan tetap memberikan sanksi pada siapapun yang membuat kesalahan walaupun itu anak mama sendiri," ucap Nayla lagi dengan tegas.
"Sekarang kamu jelaskan, sama papa dan mama, kamu ada masalah apa?" kali ini Reynaldi yang buka suara.
"Aku benar-benar tidak punya masalah apapun, Pa," Sahut Reyna yang masih berusaha untuk berbohong.
"Kamu jangan bohong, Reyna! Papa dan mama bisa lihat dari raut wajahmu kalau kamu punya masalah. Apa ini ada kaitannya dengan pernikahan Gilang?"
Reyna tersentak kaget mendengar tebakan papanya yang tepat sasaran.
__ADS_1
"Kenapa kamu diam? apa tebakan papa benar?" desak Reynaldi.
"Ti-tidak sama sekali, Pa. Aku tidak berpikir ke arah sana. Buat apa aku memikirkannya? aku kan sama Gilang tidak punya hubungan,". Reyna masih berusaha untuk menyangkal.
"Reyna, bukannya papa sudah bilang kalau kamu jangan bohong lagi. Papa dan mama sudah tahu semuanya. Kamu dan Gilang dulu ada hubungan kan? tapi kamu mengiklaskannya demi kebahagiaan Dania. Apa sekarang kamu merasa menyesal karena Gilang menikah dengan Cahaya?"
Reyna terdiam tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh papanya itu.
"Nak, Sekarang Gilang sudah menikah dengan Cahaya, dan kamu tahu alasan di balik pernikahan mereka. Mama dan papa benar-benar berharap supaya kamu ikhlas. Kamu mungkin tidak ditakdirkan berjodoh dengan Gilang," Nayla menimpali ucapan suaminya.
"Tapi, Ma. Kenapa hatiku sangat sakit ya? aku seperti ketakutan kalau Cahaya bisa menggantikan posisiku di hati Gilang. Aku merasa kalau tidak susah untuk membuat seorang pria jatuh cinta padanya," ucap Reyna dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.
"Lho kenapa kamu harus takut? bukannya seharusnya kamu mendoakannya? karena bagaimanapun mereka sudah menikah. Kalau kamu takut perasaan Gilang berubah mencintai Cahaya, itu berarti kamu belum sepenuhnya ikhlas. Asal kamu tahu, Nak cinta itu tidak egois dan level tertinggi dari mencintai, itu adalah bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia walaupun tidak bersamanya," terang Nayla dengan sangat lembut.
"Benar kata mama kamu. Kamu harus belajar ikhlas dan doakan kebahagiaan mereka. Mengikhlaskan sesuatu itu, harus penuh jangan tanggung," Reynaldi menimpali ucapan Nayla istrinya.
Reyna tercenung mendengar ucapan papa dan mamanya. Seketika dia mengembuskan napasnya dengan cukup panjang.
"Ya Tuhan ampuni aku, tadi aku sudah sempat bersikap egois," ucap Reyna dengan lirih.
"Mama dan papa benar, aku tidak boleh egois dan benar-benar harus mengikhlaskan Gilang bahagia dengan Cahaya. Cahaya tidak bersalah, dia tidak pernah ada niat untuk merebut Gilang dari siapapun. Mungkin dia memang sudah ditakdirkan berjodoh dengan Gilang," pungkas Reyna, menyadari kesalahannya.
"Nah, ini baru anak papa. Papa bangga padamu. Mulai sekarang kamu harus bisa move on dan membuka hatimu untuk pria lain, walaupun papa tahu kalau itu hal yang sulit, tapi tidak ada salahnya dicoba,"
Reyna menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Raut wajah wanita itu kini terlihat lebih berbinar dibanding dengan wajah sebenarnya. Reyna bersyukur punya orang tua yang sangat bijaksana.
"Pa, Ma aku ke kamar dulu ya! aku mau mandi," Reyna bangkit berdiri dan melangkah naik ke atas menuju kamarnya.
Selepas kepergian Reyna, handphone Reynaldi berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Reynaldi mengrenyitkan keningnya, begitu melihat nama yang sedang menghubunginya.
"Denis? ngapain dia meneleponku?" batin Reynaldi sembari menekan tombol jawab.
Tbc
__ADS_1