
"Ya udah, sekarang kamu turun, kita sudah sampai di kampus kamu," ucap Gilang sembari menunjuk kampus tempat Cahaya akan menimba ilmu.
"Aku gugup," ucap Cahaya dengan lirih
"Kenapa harus gugup? tidak ada yang perlu ditakutkan," ucap Gilang. " Oh ya, ingat, kamu harus pintar-pintar memilih teman, karena aku yakin, begitu melihat kamu turun dari mobil ini, akan banyak yang sok bersikap baik di depanmu. Satu hal lagi, kalau sudah mengajak kamu ke hal yang tidak-tidak, itu berarti tidak pantas kamu temani," sambung Gilang kembali, memberikan nasehat.
"Iya,Mas. Kalau untuk masalah itu, kamu tidak perlu kasih tahu aku,"
"Baiklah Kalau kamu sudah mengerti. Sekarang kamu bisa turun,"
Cahaya meraih tangan Gilang dan kembali mencium punggung tangan pria itu. Lagi-lagi Gilang tertegun dengan apa yang dilakukan boleh Cahaya.
"Beginikah rasanya punya istri?" batin Gilang.
"Lang, kenapa kamu bengong? kita langsung jalan nggak nih?" celetuk Bayu membuat Gilang segara tersadar dari lamunannya.
"Kita tunggu sebentar. Kita lihat sampai dia masuk dulu," ujar Gilang.
"Sepertinya, Cahaya punya potensi kuat nih, membuat Gilang melupakan perasaannya pada Reyna," bisik Bayu pada dirinya sendiri.
Kedatangan Cahaya langsung mendapat perhatian dari banyak orang karena wanita turun dari mobil mewah. Selain karena turun dari mobil mewah, parasnya yang cantik juga menjadi banyak pria dan wanita yang kagum, bahkan tidak sedikit yang juga merasa iri.
"Sepertinya istrimu akan jadi bunga kampus, Lang. Lihat tuh tatapan para mahasiswa-mahasiswa itu. Kamu harus jaga ketat istrimu," Bayu dengan sengaja memprovokasi Gilang.
"Kamu bisa diam nggak? Itu semua tergantung dia, walaupun banyak pria yang mendekatinya, kalau dia masih ingat statusnya yang sudah menjadi istri, tidak ada hal yang perlu ditakutkan. Ayo jalan!" Gilang sama sekali tidak menampakkan kalau dia terpengaruh dengan ucapan sahabatnya itu. Padahal tanpa dia sadari, hatinya sudah mulai was-was.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya berjalan dengan wajah yang berbinar menuju ruang kelasnya yang sudah dia tanyakan sebelumnya pada mahasiswa/mahasiswi yang berpapasan dengannya.
Ketika wanita itu hendak berbelok, tiba-tiba dia membentur sebuah dada bidang dan keras hingga membuatnya hampir terjatuh. Beruntungnya orang yang dia tubruk itu, dengan cekatan langsung menarik tangan Cahaya, sehingga dia tidak jadi terjatuh.
"Ma-maaf, Pak!" ucap Cahaya sembari menepis tangan pria yang menolongku dengan sopan. Dari pakaian yang digunakan oleh pria itu,dia yakin kalau pria itu bukan seorang mahasiswa, walaupun pria itu masih terlihat sangat muda, seperti seusia Gilang.
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab sama sekali. Justru pria itu terlihat tertegun karena terpesona dengan paras Cahaya yang cantik.
"Pak, Halo! apa, Bapak mendengarku?" Cahaya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah pria yang belum dia tahu namanya itu.
"Eh, i-iya? kamu bilang apa tadi?" pria itu seketika tersadar karena tangan Cahaya.
"Aku bilang maaf, Pak. Tadi aku tidak sengaja menabrak, Bapak." Cahaya mengulangi permintaan maafnya.
"Eh, tidak apa-apa! kamu mahasiswi baru ya? sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanya pria itu.
"Iya, Pak. Karena aku bukan baru lulus SMA, aku tidak diharuskan untuk ikut MOS," jelas Cahaya.
"Kamu jurusan apa?"
"Aku jurusan management bisnis, Pak," sahut Cahaya yang memang dari dulu ingin mengambil jurusan management bisnis karena dia mempunyai impian ingin memiliki bisnis sendiri.
"Wah management bisnis ya? berarti aku akan jadi dosenmu. Perkenalkan namaku Randi, salah satu dosen yang mengajar management bisnis di kampus ini," Pria yang ternyata bernama Randi itu mengulurkan tangannya ke arah Cahaya.
"Nama yang sangat bagus, sesuai dengan wajah kamu yang bercahaya," puji Randi, dengan tatapan yang berbinar.
Melihat tatapan Randi, Cahaya seketika merasa risih.
"Pak, maaf ya! aku mau ke ruangan kelas dulu!" Cahaya membungkukkan badannya dan berlalu pergi setelah Randi menganggukkan kepalanya.
"Hmm, sepertinya aku harus tetap mengajar di sini," Randi mengulum senyumnya sembari menatap Cahaya sampai tubuh wanita itu menghilang dari pandangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Aku meminta surat resign yang aku ajukan tadi, Pak," ucap Randi pada seorang pria yang dia berikan surat resignnya tadi.
"Kenapa diminta kembali, Pak Randi?"
"Karena setelah aku pikir-pikir, passion saya memang jadi seorang dosen, Pak. Aku masih bisa kan memberikan kuliah di kampus ini?" tanya Randi penuh harap.
__ADS_1
"Tentu saja, Pak Randi. Justru ketika Bapak mengatakan mau berhenti jadi dosen, aku sangat menyayangkan keputusan yang Bapak ambil, karena Pak Randi adalah salah satu dosen terbaik yang dimiliki kampus ini. Tapi, sekarang aku sudah lega karena Pak Randi tidak jadi resign," pria lawan bicara Randi itu, tersenyum lebar ke arah Randi.
"Kalau begitu, terima kasih banyak, Pak! Aku pamit ke luar dulu."
"Silakan, Pak Randi!" Randi langsung berlalu pergi setelah diizinkan untuk pergi.
Setelah pria itu sudah di luar, handphonenya tiba-tiba berbunyi, dan dia melihat papanya sedang menghubunginya.
"Halo, Pa!" sapa Randi dengan semangat.
"Bagaimana, Nak. Apa kamu sudah mengajukan surat resignmu?" tanya suara yang dipanggil papa oleh Randi.
"Tadinya sudah, Pa, tapi aku urungkan,"
"Kenapa kamu urungkan? bukannya papa sudah bilang kalau papa sangat membutuhkan kamu untuk menggantikan papa memimpin perusahaan? papa sudah benar-benar capek, Randi," pria itu memprotes keputusan Randi.
"Iya aku tahu, Pa. Tapi aku berjanji kalau aku akan tetap mengurus perusahaan seperti yang papa mau. Tapi kali ini biarkan aku tetap menjadi dosen,"
"Sebenarnya apa alasanmu untuk tetap mengajar di sana? tidak mungkin kan kamu tiba-tiba berubah begitu saja?" ujar pria di sebrang sana, menyelidik.
"Tadi aku ketemu bidadari, Pa dan kebetulan dia akan menjadi Mahasiswiku," ucap Randi jujur karena dia memang selalu terbuka pada kedua orangtuanya.
"Hmm, sepertinya kamu sedang jatuh cinta. Baiklah kalau begitu, lanjutkan perjuanganmu. Papa dan mama juga pengen cepat-cepat dapat menantu,"
"Siap, Pa!" ucap Randi dengan semangat.
"Oh ya,Randi. Bukannya sekarang seharusnya kamu mengadakan pertemuan dengan Gilang dari The Sky group untuk membicarakan kerja sama?" papanya Randi kembali bertanya
"Itu jam tiga sore, Pa. Papa tenang saja, aku akan tetap menemuinya nanti," sahut Randi, lugas.
"Baiklah kalau begitu. Ya udah kamu lanjut aja memberikan kuliahnya. Papa ada pekerjaan,". panggilan seketika terputus dan Randi memasukkan kembali handphonenya ke dalam sakunya. Kemudian pria itu mengayunkan kakinya melangkah menuju ruangan di mana Cahaya berada. Pria itu terlihat semangat dan bahkan tersenyum ke arah mahasiswa/mahasiswi yang berpapasan dengannya. Benar-benar hal yang hampir tidak pernah dia lakukan.
Tbc
__ADS_1