
Dania mengayunkan Kakinya dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit di mana Reyna Bekerja. Wajahnya benar-benar tidak bersalah, dan terlihat sekali kalau sedang dirasuki oleh amarah.
Wanita itu, langsung melangkah ke ruangan poly kandungan tempat Reyna, tanpa harus ke resepsionis terlebih dulu.
"Maaf, Nona! anda mau ke mana?" tanya seorang perawat yang melihat Dania ingin membuka pintu ruangan Reyna begitu saja.
"Aku mau bertemu dengan dokter Reyna. Dia ada di dalam kan?" jawab Dania ketus.
"Ada, Nona! tapi di dalam sana sedang ada pasien. Tunggu pasien itu keluar dulu, baru anda masuk," ucap perawat itu sopan.
"Aku mau masuk sekarang! pasien itu kan bisa diusir dulu," ucap Dania sambil kembali ingin membuka pintu. Namun sang perawat langsung menahan tangan wanita itu.
"Maaf, Nona! tolong bersikap sopan. Di rumah sakit ini tidak ada yang namanya pengusiran, kecuali pada orang yang sengaja berbuat onar," perawat itu masih berusaha untuk tersenyum,. walaupun sebenarnya dia sudah sangat jengkel dengan sikap Dania.
"Apa hak kamu memerintahkan saya? apa kamu tidak mengenalku?" perawat itu menatap intens wajah Dania,. untuk mengingat siapa sosok wanita sombong di tiba-tiba wanita perawat itu membesarkan matanya ketika. mengingat siapa wanita yang ada di depannya.
"Oh aku baru ingat! bukannya Nona Ini, tunangannya Tuan Gilang?
"Tuh itu kamu tahu. Rumah sakit ini adalah milik keluarga Gilang calon suamiku, jadi aku bebas mau masuk kemana dan kapan saja," jawab Dania dengan sombongnya.
"Maaf, walaupun anda ini calon istri dari Tuan Gilang, anda tetap tidak boleh masuk, dan harus sesuai aturan," perawat itu tidak merasa terintimidasi oleh Dania.
Klik ....
pintu dibuka dari dalam dan sepasang suami istri langsung keluar.
"Sekarang pasiennya sudah keluar,. sekarang giliran anda," tanpa menyahut ucapan perawat itu, Dania langsung masuk ke dalam ruangan Reyna dan menutup keras pintu itu tepat di depan wajah perawat itu.
"Ck, bisa-bisanya Tuan Gilang punya calon istri seperti dia," perawat itu berdecak sembari melangkah kembali ke posnya.
"Dania, kenapa kamu ribut-ribut di luar? kenapa kamu datang ke sini," tegur Reyna dengan raut wajah kesal.
"Jangan basa- basi! Reyna bagaimana mungkin kamu merahasiakan pernikahan Gilang dengan Cahaya? hah! kalau aku tidak ke sana dan memergoki Cahaya ada di kamar Gilang,aku pasti tidak akan tahu tentang pernikahan mereka," napas Dania terlihat memburu.
Reyna seketika tersentak kaget, untuk sepersekian detik. Namun kekagetannya hanya sebentar saja. Detik berikutnya sudah bibiw wanita itu, tertarik sedikit ke atas, tersenyum sinis.
__ADS_1
"Oh, kamu sudah tahu ternyata. Bagus deh," ucap Reyna santai, sembari merapikan mejanya.
"Apanya yang bagus? mereka termasuk kamu, secara tidak langsung sudah mempermainkanku Reyna!" Reyna tidak menjawab dan menoleh sekilas ke arah Dania. Kemudian wanita itu terlihat kembali fokus membuka lembar demi lembar daftar pasiennya hari ini.
Sikap Reyna yang cuek, membuat Dania merasa geram.
"Reyna kenapa kamu bisa seperti ini? kenapa kamu bisa-bisanya ikut menutupi masalah ini dariku," cerocos Dania dengan wajah yang memerah, marah.
"Dania, pelankan suaramu! ini rumah sakit," tegur Reyna, dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak peduli!" pekik Dania. Gadis itu benar-benar sudah dikuasai oleh api amarah yang amat sangat.
"Kalau begitu, kamu keluar sekarang! kalau tidak aku akan telepon security dan menarikmu keluar," ucap Reyna tegas.
"Kamu kira aku akan takut? aku yakin mereka tidak akan berani menyeretku keluar," tolak Dania tidak kalah tegas.
"Kamu yakin mereka tidak berani?" tantang Reyna sembari menyeringai sinis.
Dania terdiam, tidak berani untuk menyahut lagi, karena dia tahu keluarga Maheswara adalah keluarga yang sangat tegas, bagi siapa yang membuat keributan tidak akan dibela walaupun itu keluarga sendiri. Nah, bagaimana dengan dirinya? dia sudah dipastikan tidak akan mendapat pembelaan dari keluarga Maheswara.
"Aku tetap Reyna yang dulu.Tapi, sekarang aku tidak ingin mendukung orang egois seperti kamu lagi. Sudah cukup selama ini aku mengalah padamu,tapi sekalipun tidak kamu hargai. Mataku sudah benar-benar terbuka, kalau ternyata kamu bukan orang yang tepat untuk dijadikan sahabat, semenjak kamu dengan teganya mengenalkan aku dengan pria bejat," jawab Reyna dengan mata yang berkilat-kilat menahan tangis.
"Kenapa kamu masih saja mengingatnya? bukannya aku sudah bilang kalau aku hanya berniat agar kamu __"
"Agar aku tidak sendiri lagi, begitu? sebenarnya tujuanmu bukan karena benar-benar karena perhatian padaku. Tujuannya itu tetap untuk dirimu sendiri. Kamu ingin aku punya kekasih sehingga tidak mengganggu Gilang lagi, bukan? tapi Dania, kenapa kamu tega mengenalkan pria seperti itu padaku? padahal kamu tahu jelas kalau dia itu suka main perempuan," ucap Reyna panjang lebar tanpa jeda.
"Itu karena aku rasa kamu__"
"Ah sudahlah! kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Sekarang tolong kamu keluar, karena aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu," sela Reyna sebelum Dania menyelesaikan ucapannya.
"Kamu mengusirku?" raut wajah Dania terlihat tidak terima atas sikap Reyna.
"Ya!" jawab Reyna singkat padat dan jelas.
"Reyna please jangan seperti ini! aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu," ucap Dania dengan wajah yang dibuat semelas mungkin, berharap Reyna kembali simpati padanya. "Tolong kamu jangan menjauhiku. Walaupun kamu ikut merahasiakan pernikahan Gilang dan perempuan murahan itu,aku akan memaafkanmu," sambung Dania kembali dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Terima kasih! tapi sejujurnya aku tidak merasa bersalah sama sekali. Apa aku ada meminta maaf makanya kamu mengatakan memafkanku? tidak kan?" ucap Reyna tanpa melihat sedikitpun ke arah Dania.
Dania mengepalkan tangannya, dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan amarah. Bagaimanapun sekarang dia harus berdamai dengan Reyna karena merasa kalau wanita itu yang bisa membantunya untuk mendapatkan Gilang kembali.
"Baiklah, kalau kamu tidak merasa bersalah tidak apa-apa! aku yang bersalah," ucap Dania dengan lirih. Reyna mengerenyitkan keningnya, dengan perubahan sikap Dania yang tiba-tiba berubah.
"Aku tidak boleh terlalu percaya kalau dia berubah. Tidak mungkin kan dia secepat ini bisa berubah? pasti ada sesuatu yang dia rencanakan," batin Reyna, waspada.
"Reyna,aku tahu kalau kamu masih memiliki perasaan pada Gilang. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk memisahkan mereka berdua? kamu pura-pura aja mendekati Gilang lagi, dan seakan-akan berharap kalau kamu masih mengharapkannya untuk kembali. Nah aku yakin kalau Gilang akan merasa tersentuh dan menceraikan Cahaya demi kamu. Setelah mereka berdua cerai, kamu tiba-tiba langsung berubah dan mengatakan padanya kalau apa yang kamu lakukan selama ini hanya pura-pura, karena kamu sakit hati padanya. Nah, dia kan jadi kalut, di saat itu pula aku akan muncul untuk menghibur dia dan akan selalu ada untuknya. Aku yakin dia akan sadar kalau hanya aku yang benar-benar mencintainya dengan tulus, bagaimana menurutmu rencanaku?
Prok prok prok
Reyna bertepuk tangan.
"Wah, rencana yang sangat briliant!" Dania tersenyum bangga merasa kalau Reyna sudah kembali baik padanya.
Brakk ...
Dania terjengkit kaget karena Reyna tiba-tiba menggebrak meja.
"Apa kamu kira aku bodoh? lagi-lagi rencanamu hanya bertujuan untuk dirimu sendiri. Kamu akan mendapatkan Gilang, dan Gilang membenciku, begitu kan maksudmu?" Reyna menatap tajam ke arah Dania yang tiba-tiba merasa takut melihat aura marah di mata Reyna.
"Bu-bukan begitu maksudku, Reyna! kamu salah paham. Maksudku __"
"Pergi! apapun yang akan kamu lakukan, jangan harap aku mau bekerja sama denganmu, karena aku dan kamu berbeda.
"Tapi Reyna, coba kamu pikirkan sekali lagi, demi sahabatmu ini," .
"Apa telingamu sudah tuli? PERGI!" Reyna terlihat sudah tidak bis menahan amarahnya lagi.
Dania berdiri dari tempat dia duduk dan langsung pergi keluar dengan perasaan yang sangat kesal.
"Sial! sepertinya aku harus melakukan rencana B dan harus aku lakukan sendiri," umpat Dania.
Tbc
__ADS_1
Tahan napas dulu ya guys. Seperti kakak pice, yang komentar di bab sebelumnya, setiap Dania muncul, kakak itu selalu minum jus timun.,🤣🤣🤔🤔