
Dania dari tadi sama sekali tidak beranjak dari dalam mobilnya yang kini sudah terparkir di parkiran rumah sakit. Wanita itu masih memantau situasi apakah dirinya aman atau tidak untuk masuk.
"Aku harus memikirkan cara bagaimana bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan. Karena aku yakin, pasti om Gavin sudah memerintahkan pada petugas keamanan dan pada semua yang bekerja di dalam untuk tidak membiarkan aku masuk." batin Dania dengan sembari berpikir keras, hal itu terlihat dari kening wanita itu yang dari tadi terlihat berkerut.
"Hmm,aku tahu!" Dania menjentikkan jarinya ketika melihat ada petugas kebersihan yang lewat.
Wanita itu kemudian menarik wanita petugas kebersihan itu masuk ke dalam mobil dan membuka paksa seragam petugas kebersihan itu.
"Ish, seumur-umur aku bersumpah kalau ini pertama dan terakhir kali aku memakai pakaian seperti ini. Mana berkeringat lagi," umpat Dania sembari mengenakan pakaian itu.
"Kamu diam di sini! tunggu aku keluar. Kamu tidak mau kan keluar hanya memakai pakaian dalam seperti itu?" ucap Dania pada petugas kebersihan itu yang mulutnya sudah disumpal dengan kain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dania berjalan dengan santai masuk ke dalam rumah sakit dengan kepala yang sudah mengenakan topi. Wanita itu tersenyum licik karena merasa tidak ada yang menyadari kehadirannya.
Tanpa bertanya dimana ruangan Gilang dan Cahaya, Dania berjalan masuk ke dalam lift dan menekan lantai di mana ruangan VVIP berada, Karena dia yakin kalau kedua orang itu pasti di tempatkan di ruangan itu.
Dania berjalan keluar dari dalam lift dan langsung melangkah menuju ruangan Gilang dan Cahaya. Namun wanita itu tiba-tiba berhenti dan berbalik karena melihat ada dua pria berbadan besar yang berjaga-jaga di depan ruangan itu.
"Sial! bagaimana caranya aku masuk? ruangan itu benar-benar sudah dijaga ketat. Kenapa aku tidak memikirkan hal ini sih?" Dania merutuki kebodohannya.
Dania kembali dikagetkan dengan suara tiga orang wanita yang sangat dia kenal. Siapa lagi kalau bukan Oma Melinda, Jelita dan Grizelle. Ketiga wanita berbeda usia itu tampak keluar dari dalam ruangan dengan wajah yang berbinar bahagia. Hal itu terlihat dari adanya sisa tawa di bibir masing-masing.
"Sial, mereka menuju ke sini. Apa yang harus aku lakukan?" Dania seketika panik.
Wanita licik itupun sontak menundukkan kepalanya dan menggerakkan kain pel yang sedang dia pegang, seakan-akan dia sedang mengepel lantai.
"Bayu memang ada-ada saja. Perutku sakit dibuatnya," ucap Melinda sembari melewati Dania.
"Makanya aku menyukainya, Oma. Dia itu udah tampan, lucu lagi." kini Grizelle yang buka suara.
__ADS_1
"Dasar kamu! walaupun kamu suka,. harus tetap jaga harga diri," Jelita terdengar memberikan nasehat.
"Itu pasti, Ma," sahut Grizelle sembari menekan tombol lift. Begitu lift terbuka ketiga wanita itu langsung melangkah masuk.
"Sialan, di dalam ruangan Gilang dan Cahaya sepertinya masih ada Bayu. Apa pria itu tidak makan malam? ini kan sudah jam makan malam. Atau mereka bergantian?" batin Dania, sembari mengusap wajahnya dengan kesal.
"Kalian berdua tolong jaga ruangan ini dengan baik-baik. Jangan sampai lengah!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang tidak lain adalah Bayu. Pria itu sepertinya juga akan keluar. Hal itu membuat sudut bibir Dania sedikit tertarik ke atas, tersenyum licik.
"Baik, Tuan!" jawab dua orang pria berbadan besar itu dengan tegas
"Ya udah, aku pergi dulu. Nanti aku akan membawakan makan malam untuk kalian berdua!" Bayu mengayunkan kakinya melangkah setelah dua bodyguard itu menganggukkan kepala.
Dania kembali menundukkan kepalanya ketika Bayu melewatinya. Setelah tubuh Bayu sudah hilang di balik pintu lift,Dania kini merasa sudah nyaman. Wanita itu kemudian kembali mengayunkan kakinya melangkah mendekat ke arah pintu. Satu tangan wanita itu, masuk ke dalam saku, di mana di tangan itu ada pisau yang sudah dia siapkan lebih dulu.
Dania berencana, begitu berhasil masuk ke dalam ruangan, dia akan bergerak cepat menusukkan pisau ke perut Cahaya, sampai Cahaya tidak sempat menghindar dan Gilang tidak sempat melindungi. Wanita itu tidak peduli kalau dirinya akan mati juga nanti di dalam sana. Yang jelas dia merasa akan mati bahagia bila Cahaya mati juga.
"Maaf, Tuan. Aku mau masuk untuk mengambil sampah yang ada di dalam," ucap Dania dengan kepala tertunduk.
"Terima kasih, Tuan!" Dania memutar handle pintu dan masuk ke dalam ruangan.
Namun alangkah kagetnya dia melihat ruangan itu yang tampak kosong.
"Dimana Cahaya dan Gilang? kenapa ruangan ini kosong?" batin Dania sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Kamu mencari Gilang dan Cahaya ya?" tiba-tiba terdengar suara bariton yang muncul dari belakangnya.
Dania sontak berbalik untuk melihat siapa pemilik suara itu. Di saat wanita itu berbalik, pemilik suara itu langsung mencengkram erat tangan Dania dan memelintirnya, sehingga pisau yang ada di tangannya terjatuh ke lantai dan dengan cepat juga kaki pemilik suara itu menendang jauh pisau itu.
"O-Om Gavin!" desis Dania dengan mata yang membesar. Di samping Gavin juga berdiri Reynaldi yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kenapa? kamu kaget?" ucap Gavin, sinis.
__ADS_1
Dania tidak menjawab. Wajah wanita itu kini benar-benar sudah berubah pucat.
Ya, setelah Dania kabur dari rumah, Denis langsung menghubungi Gavin, meminta pria itu untuk waspada. Makanya Gavin segera bertindak, memindahkan Gilang dan Cahaya ke ruangan lain. Sedangkan dia dan Reynaldi berencana bersembunyi menunggu Dania masuk ke dalam ruangan.
Sebenarnya mulai dari mobil Dania masuk ke area rumah sakit, pergerakan wanita itu sudah dipantau oleh anak buah Gavin. Bahkan wanita petugas kebersihan itu juga kini sudah ditolong. Melinda, Jelita dan Grizelle serta Bayu juga sudah tahu tentang rencana ini, demikian juga dengan kedua bodyguard yang berjaga di depan. Makanya mereka dengan mudahnya membiarkan Dania masuk.
Semua rencana Gavin dan Reynaldi berjalan lancar. Dania kini sudah masuk ke dalam perangkap mereka.
"Om tidak menyangka kalau kamu bisa sejahat ini. Kamu benar-benar tidak pantas disebut manusia. Kami itu seorang iblis yang berbentuk manusia," ucap Gavin dengan sarkas. Tangannya dari tadi sudah terkepal dengan kencang, berusaha menahan diri agar tidak memukul Dania. Kalau menuruti kata hati, sebenarnya dia ingin sekali memberikan pukulan pada wanita muda di depannya, tapi mengingat kalau yang berdiri di depannya adalah putri dari sahabatnya, dia mengurungkan niatnya, dan berusaha mati-matian menahan keinginannya.
"Ini semua karena Gilang dan kalian semua Om. Kalian sudah mempermainkannya perasaanku. Kalian semua sudah membohongiku," jawab Dania dengan mata yang berkilat-kilat marah.
"Untuk hal itu Om minta maaf, tapi, apa harus begini cara kamu ? Kamu tahu sendiri kalau Gilang sama sekali tidak pernah mencintaimu. Kamu yang selalu memaksakan kehendak kamu. Dulu Om masih bisa menahan diri karena om masih merasa bersalah, tapi untuk perbuatanmu kali ini, Om sama sekali tidak bisa memaafkan lagi, karena yang kamu lakukan itu sudah melewati batas seorang manusia. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!" tutur Gavin dengan tegas.
"Tidak Om! aku tidak mau! kali ini tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatanku dan benar-benar akan berubah." Dania memasang raut wajah memelas, berharap belas kasihan.
"Maaf! om tidak akan percaya lagi. Kamu juga datang ke sini, jelas-jelas ingin melenyapkan Cahaya. Pisau itu buktinya. Kalau om kembali memaafkanmu, itu sama saja om memberikan kesempatan pada kamu untuk melakukan kejahatan lagi," ucap Gavin dengan tegas. Kemudian pria itu menoleh ke arah Reynaldi.
"Rey, kamu hubungi polisi sekarang!" Reynaldi menganggukkan kepala dan merogoh ponsel dari sakunya. Namun dia urungkan begitu pintu tiba-tiba terbuka. Tampak 3 orang pria berseragam polisi muncul.
"Maaf, kami dari kepolisian, diperintahkan untuk menangkap saudari Dania," ucap salah satu dari polisi itu sembari menyerahkan surat perintah penangkapan. Sementara itu, wajah Dania kini sudah benar-benar pucat dan ketakutan.
"Siapa yang melaporkan? kami bahkan baru saja mau menghubungi polisi," Gavin mengrenyitkan keningnya bingung. Demikian juga dengan Reynaldi.
" Aku yang sudah melaporkannya!" terdengar suara yang muncul tiba-tiba di belakang ketiga polisi itu.
"Denis?" gumam Gavin dan Reynaldi bersamaan.
"Papa!" Dania terkesiap kaget.
Tbc
__ADS_1