
"Pa, Ma, Kenapa kalian tega membuat video dukungan atas video Reyna itu? harusnya kalian berdua marah padanya karena secara tidak langsung dia sudah menjatuhkan harga diri kalian di depan publik!" ucap Dania dengan suara tinggi sembari menyelonong begitu saja masuk ke rumah.
"Apa kamu sama sekali tidak punya sopan santun? datang-datang langsung marah-marah," ucap Bella, santai sembari tetap membolak-balikkan buku yang sedang dia baca.
Dania mengepalkan tangannya, dengan napas yang memburu. Dia merasa seperti tidak dianggap oleh kedua orangtuanya itu sekarang. Lihatlah, bahkan Denis papanya yang biasa selalu membela dan ada untuknya sekarang bahkan terlihat fokus menonton acara televisi.
"Pa, Ma, kalian dengar aku nggak sih!" suara Dania semakin meninggi.
Brak
Denis sontak meletakkan remote TV yang ada di tangannya ke atas meja dengan kasar, hingga membuat Dania terjengkit kaget. Kemudian pria setengah baya itu,menoleh ke arah Dania dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kenapa Papa melihatku seperti itu?" tanya Dania dengan suara sedikit gemetar, karena seumur-umur baru kali ini dia melihat tatapan tajam yang ditunjukkan oleh papanya.
"Apa tadi kamu katakan? kamu mengatakan kalau Reyna sudah merendahkan harga diri kami? apa kamu tidak sadar, kamu lah sebenarnya yang membuat kami tidak punya harga diri. Kami bahkan merasa malu untuk menunjukkan muka kami di depan umum khususnya di depan keluarga Gilang," ucap Denis dengan rahang yang mengeras berusaha untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan suara yang tinggi.
"Tapi, itu semua karena__"
"Karena apa? karena keluarga mereka mempermainkanmu? bukan, Dania! sama sekali bukan. Itu semua hanya karena ambisimu untuk mendapatkan apa yang kamu, mau dan papa mengakuinya kalau ini semua salah papa yang selalu memberikan apapun yang kamu mau. Papa benar-benar menyesal sekarang,"tutur Denis dengan suara bergetar.
Dania tercenung.Dia tidak menyangka kalau papanya bisa berkata seperti itu.
"Apa yang sudah terjadi pada Papa? kenapa Papa bisa berkata seperti itu pada Dania? Dimana Papa yang dulu yang selalu ada untuk Dania? Papa benar-benar sudah berhasil dipengaruhi oleh mama dan Darell," ucap Dania sembari meneteskan air mata.
__ADS_1
"Hentikan, Dania! stop menyalahkan mama dan adikmu! Mereka tidak salah sama sekali. Sekarang papa mohon, Nak, instrospeksi diri dan tolong berubah!" mohon Denis dengan wajah memelas.
"Yang butuh instrospeksi diri itu Papa, bukan aku. Sekarang aku benar-benar mau pergi dari sini, karena sepertinya aku tidak punya tempat lagi di dalam keluarga ini," Dania berbalik dan berlari keluar, tidak mengindahkan panggilan papanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi kini datang kembali. Wajah Gilang hari ini tampak berbinar dan juga bersemangat. Bagaimana tidak, subuh tadi dia memberikan serangan fajar pada Cahaya yang kebetulan serangannya disambut baik oleh Istrinya itu.
"Aku berangkat dulu ya! hari ini kamu nggak usah kuliah dulu," ucap Gilang sembari meraih tas kerjanya.
"Tapi, Mas. Kemarin aku juga udah nggak masuk, masa hari ini juga nggak masuk?" protes Cahaya.
Gilang menghela napasnya. Sebenarnya ada alasan kenapa dia belum memberikan izin untuk Cahaya masuk kuliah.
"Cahaya, bukannya masalah ini sudah kita bicarakan tadi? keadaan belum sepenuhnya kondusif. Aku sudah mengenal bagaimana karakter Dania, memang yang dia lakukan sudah gagal, tapi bukan berarti kamu sudah aman. Kamu tolong nurut ya!" pinta Gilang dengan nada lembut. Sebenarnya pria itu sudah meminta Bayu untuk mencarikan bodyguard untuk menjaga Cahaya, di saat dirinya tidak berada di sekitar wanita itu, tapi semua bodyguard yang photonya ditunjukkan oleh Bayu ditolak oleh Gilang. Alasannya karena semua bodyguard itu berwajah tampan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang dan Bayu nyaris saja hendak mencapai pintu masuk. Namun, tiba-tiba langkahnya dicegat oleh seorang wanita yang sangat tidak ingin dilihat oleh Gilang saat ini. Siapa lagi dia kalau bukan Dania.
"Mau ngapain kamu datang ke sini? apa kamu sudah tidak punya malu?" suara Gilang terdengar sangat dingin disertai dengan tatapan sinis.
"Gilang, kenapa kamu melakukan ini semua? aku masih belum habis pikir kenapa kamu tidak bisa mencintaiku? apa sebenarnya yang kurang dariku? Kamu tahu sendiri kalau cintaku sangat besar padamu," ucap Dania sembari berlinang air mata.
__ADS_1
"Aku rasa aku tidak harus menjawab pertanyaan yang tidak penting ini, karena aku yakin kalau kamu sudah tahu jawabannya," ucap Gilang sembari ingin melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi langkah pria itu dihadang oleh Dania.
"Aku benar-benar tidak tahu, Gilang. Sekarang kamu jelaskan apa yang kamu ingin aku lakukan. Kalau kamu menginginkan aku berubah, ok aku akan berubah, tapi aku mohon agar kamu meninggalkan Cahaya," mohon Dania dengan wajah memelas.
Sudut bibir Gilang sontak naik ke atas, tersenyum sinis. "Kamu tidak akan bisa berubah. Kamu tahu kenapa aku bisa seyakin itu?"Dania menggelengkan kepalanya.
"Karena kamu baru saja membuktikannya dengan ucapan kamu barusan," ucap Gilang, ambigu.
"Maksudnya? aku sama sekali tidak mengerti," Dania mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Egois! ya, ucapanmu yang mengatakan kalau kamu akan berubah asal aku meninggalkan Cahaya, itu sikap yang hanya mementingkan diri sendiri. Kamu tahu kan, apa sebutan untuk orang yang hanya mementingkan diri sendiri itu apa? egois, itulah sebutannya, jika kamu lupa. Dan sikap itulah yang membuat aku tidak bisa mencintaimu, dan aku yakin kalau kamu tidak akan bisa merubahnya," ucap Gilang dengan tatapan dingin.
"Yang egois itu kamu. Kamu sama sekali tidak pernah berusaha untuk mencintaiku, padahal aku sudah berusaha untuk membuatmu jatuh cinta, tapi kamu sama sekali tidak pernah menghargai usahaku," suara Dania mulai meninggi.
Gilang memejamkan matanya sekilas sembari menghela napas dengan cukup berat. Kalau boleh jujur, pria itu memang mengakui kalau sebenarnya dia memang sama sekali tidak pernah berusaha untuk belajar mencintai dan menghargai usaha wanita mantan tunangannya itu.
"Baiklah, aku tidak menampik hal itu! tapi apa kamu tahu kenapa aku tidak pernah punya niat untuk belajar mencintamu? itu karena caramu sudah salah dari awal untuk mendapatkanku. Kamu sampai rela melakukan hal yang tidak terpuji untuk mendapatkanku, bahkan sampai meminta sahabatmu sendiri untuk berkorban untukmu. Sudah begitu, kamu bahkan membatasi ruang gerak Reyna dengan memata-matai dia. Apa menurutmu aku bisa belajar mencintai orang sepertimu yang jelas-jelas sudah egois dari awal?"
Dania terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Untuk membantah saja dia tidak bisa karena yang dikatakan oleh pria di depannya itu, benar adanya.
"Sekarang, cukup Dania! aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi," Gilang melanjutkan langkahnya meninggalkan Dania. Tiba-tiba pria itu kembali memutar tubuhnya, menatap Dania.
"Dania, aku peringatkan padamu, setelah ini, jangan sampai kamu berniat mencelakai istriku! kalau kamu melakukanya aku tidak akan pernah tinggal diam!" ancam Gilang sembari kembali memutar tubuhnya. Namun sebelum pria itu kembali mengayunkan kakinya, dia kembali berputar melihat ke arah Dania.
__ADS_1
"Oh, ya aku juga mau mengucapkan terima kasih padamu, karena secara tidak langsung kamu sudah membantuku mengumumkan pernikahanku dan Cahaya, dengan video yang kamu buat." pungkas Gilang sembari berlalu pergi. Kali ini, pria itu benar-benar pergi dan tidak menoleh lagi.
Tbc