Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Perhatian kecil Cahaya.


__ADS_3

Keluarga Maheswara kini sudah duduk mengelilingi meja makan, tak terkecuali Cahaya yang diminta oleh Jelita duduk di samping Gilang. Walaupun masih terasa canggung, mau tidak mau, Cahaya tidak membantah apa yang diminta oleh Jelita.


Dengan sudut matanya, Cahaya melirik ke arah Gilang yang ternyata memakai pakaian yang sudah disiapkannya tadi. Entah kenapa, wanita itu merasa dihargai oleh suaminya itu.


"Selamat pagi semua!" sapa Bayu yang baru saja muncul karena diminta oleh Gilang untuk menjemputnya.


"Pagi, Nak Bayu!" sahut Jelita membalas sapaan Bayu. "ayo duduk, kita sarapan dulu. Kamu pasti belum sarapan kan?" sambungnya kembali sembari menunjuk ke arah kursi Grizelle yang kosong.


Grizelle sontak mengulum senyumnya merasa senang, kalau Bayu pria yang dia suka dari dulu, duduk di sampingnya.


"Wah, Tante tahu aja nih kalau aku belum sarapan. Bagaimana mau sarapan Tante, Gilang udah kirim pesan dari tadi, nyuruh ke sini," ucap Bayu sembari mendaratkan tidak duduk di samping Grizelle yang sontak langsung mengatur gaya makanan menjadi terlihat semakin feminim.


"Udah, jangan banyak bicara! kamu langsung ambil aja, makanan dan langsung makan!" Gilang buka suara dengan wajah datarnya.


"Mau aku ambilkan makanannya Kak Bayu?" Grizelle buka suara, dengan nada yang sangat lembut ditambah dengan sikap yang sangat manis. Hal ini tentu saja membuat orang-orang yang mengenal karakter Grizelle saling silang pandang, dengan tatapan penuh tanya atas sikap Grizelle.


Bayu yang ditanyain pun bingung sama halnya dengan orang-orang yang ada di ruangan itu.


"Kak Bayu kok bengong? princess kerajaan Maheswara sedang bertanya nih. Mau diambilkan makanan gak?"


"Weeee, princes. Princess apaan kaya gitu, suka manjat pohon," celetuk Gilang yang tentu saja langsung mendapat pelototan dari orang yang dikatain.


"Emm, maaf princess. Hamba sebaiknya ambil sendiri, karena tidak pantas seorang princess mengambilkan makanan buat pengawal seperti saya," tolak Bayu yang menyelipkan sedikit candaan.


Ucapan Bayu sontak membuat tawa semua orang pecah, kecuali Grizelle yang tersenyum kecut.


"Selamat pagi semua!" Semua mata yang ada di ruangan itu sontak menoleh ke arah datangnya suara. Siapa lagi yang datang kalau bukan Dania.


Dania memicingkan matanya,merasa bingung sekaligus tidak suka melihat Cahaya yang duduk di dekat Gilang. Sementara itu, jantung Cahaya langsung berdetak dengan cepat, karena dia tahu arti dari tatapan Dania.


"Cahaya, kenapa kamu bisa duduk di situ? bukannya kamu seharusnya ada di belakang bergabung dengan yang lain?" tanya Dania dengan tatapan sinis.


"Oh, itu tante yang memintanya untuk duduk dengan kita, di sini," jawab Jelita cepat, yakin kalau Cahaya pasti bingung untuk menjawab Dania.


"Tapi, kenapa harus duduk di samping Gilang? bukannya bisa duduk di tempat lain?" kali ini alis Dania bertaut tajam, curiga.


"Itu,aku yang memintanya duduk di samping Gilang. Emangnya ada masalah?" kali ini Melinda yang buka suara, dengan nada yang sangat sinis.

__ADS_1


"Ti-tidak ada yang salah,Oma." sahut Dania dengan cepat dan gugup. "Cuma kan heran kalau pembantu bisa duduk dengan majikan, kenapa hanya Cahaya dan bik Narti yang gabung di sini? kenapa yang lainnya tidak?" lanjut Dania kembali,masih tetap curiga.


"Aku rasa kamu bukan orang bodoh. Kalau semuanya bergabung, apa menurutmu meja makan ini akan cukup menampung semuanya? tidak kan?" lagi-lagi Melinda yang menjawab dengan ketus.


Dania terdiam, tidak mampu lagi untuk membantah ucapan Melinda.


"Dasar tua Bangka tidak tahu diri! kapan sih kamu matinya?" Dania hanya bisa mengumpat dalam hati.


Dania memutuskan untuk tidak menjawab ucapan Melinda lagi. Wanita itu, melangkah menghampiri kursi di mana Cahaya duduk.


"Cahaya,kamu bisa minggir tidak? aku mau duduk di dekat calon suamiku," ucap Dania dengan menekan ucapan 'calon suamiku'.


"Eh, i-iya. Tentu saja bisa,Non." Cahaya berdiri dari kursinya dan mempersilakan Dania untuk duduk.


Baru saja Dania hendak duduk, Gilang sontak meletakkan sendok dan garpunya begitu saja.


"Aku sudah kenyang, aku berangkat dulu!" ucap Gilang.


"Lho,Nak makanan kamu belum habis. Bahkan kamu masih makan sedikit," Jelita buka suara.


"Selera makanku sudah hilang, Ma. Bay, ayo kita berangkat!" ajak Gilang sembari beranjak meninggalkan meja makan.


"Sudah, Bayu. Kamu sarapan di luar saja. Nanti Gilang bisa marah kalau kamu tidak langsung pergi ikut dia,"ucap Melinda. "Ini semua karena kedatangan orang yang sangat tidak diinginkan," lanjutnya kembali, dengan ekor mata yang melirik ke arah Dania.


"Tahu tuh, Oma. Selera makanku juga jadi hilang," Grizelle menimpali ucapan omanya.


Dania tersenyum kecut, karena dia tahu kalau ucapan Omanya Gilang itu ditujukan padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Lang, Gilang!" panggil Bayu sembari berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Gilang.


"Ada apa? ayo kita berangkat!" ucap Gilang sembari membuka pintu mobil.


"Kenapa sih harus terburu-buru? makanan tadi sayang sekali. Itu masakan istrimu ya? sumpah rasanya sangat enak," ucap Bayu, memuji masakan Cahaya. Sepertinya pria itu sangat berat hati meninggalkan makanannya tadi.


"Aku kan sudah bilang kalau selera makanku benar-benar hilang karena wanita culas itu datang. Udah jangan banyak tanya, ayo berangkat!" ujar Gilang dengan raut wajah kesalnya.

__ADS_1


"Kita kembali masuk ya, kamu anggap saja tidak ada Dania di sana. Kan beres. Aku benar-benar lapar, Lang," Bayu mengelus-elus perutnya, berharap Gilang kasihan dan akhirnya membatalkan niatnya untuk langsung pergi.


"Kamu kirain aku sudah kenyang. Aku juga merasa sayang dengan makananku tadi," ucap Gilang yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Tidak ada lagi masuk ke dalam. Kita berangkat sekarang!" tegas Gilang, membuat Bayu menghela napas, pasrah.


"Mas, Gilang!" tiba-tiba terdengar suara Cahaya memanggil. Wanita itu muncul dari samping rumah. Ya, Cahaya sudah mengubah panggilannya karena permintaan Gilang sendiri.


Gilang sontak mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Pria itu melihat Cahaya berjalan menghampirinya dengan membawa dua kotak makanan di tangannya.


"Cahaya, kenapa kamu bisa ada di sini? apa itu yang kamu bawa?" Gilang menunjuk ke arah kotak yang ada di tangan Cahaya.


"Aku tahu kalau mas Gilang belum kenyang, makanya aku membawakan makanan ini untuk, Mas Gilang. Nanti Mas Gilang bisa memakannya di kantor," ucap Cahaya sembari memberikan makanan itu, ke tangan Gilang.


"Wah, kamu memang istri idaman, Cahaya. Udah cantik, pintar masak, perhatian lagi. Masih ada gak stok wanita yang seperti kamu?" celetuk Bayu, memuji Cahaya.


"Terima kasih,Tuan Bayu pujiannya. Anda terlalu berlebihan memuji saya," ucap Cahaya dengan wajah yang memerah.


"Ehm,sudah bicaranya? apa kita bisa berangkat sekarang?" celetuk Gilang, menatap tajam ke arah Bayu.


"Oh ya, terima kasih, Cahaya!" sambungnya kembali.


"Emm, apa untukku tidak ada, Cahaya? aku juga masih lapar soalnya. Kasihanilah aku yang selalu teraniaya ini." Bayu memasang wajah memelasnya.


"Aku juga membawakan untuk Tuan Bayu. Ini untuk Tuan," Cahaya menyerahkan kotak makanan ke arah Bayu, yang tentu saja langsung disambut dengan wajah berbinar oleh Bayu.


"Aduh, terima kasih banyak, Cahaya! kamu benar-benar pe__"


"Sudah belum? ayo kita berangkat sekarang!" Gilang langsung menyela ucapan Bayu.Pria itu benar-benar jengah dengan sikap Bayu.


"Haish, iya, iya kita berangkat sekarang. Tidak sabaran amat sih," Bayu berjalan mengitari mobil dan langsung duduk di kursi belakang kemudi.


"Aku berangkat dulu, Cahaya!" Gilang nyaris masuk ke dalam mobil, tapi dia urungkan ketika Cahaya kembali memanggilnya. Pria itu mengreyitkan keningnya melihat tangan Cahaya yang terulur padanya. Namun, walaupun dia bingung, Gilang tetap menyambut uluran tangan Cahaya. Pria itu langsung tertegun begitu Cahaya mencium punggung tangannya.


"Hati-hati, Mas!" ucap Cahaya yang membuat Gilang seketika tersadar.


"I-iya. Terima kasih!" ucap Gilang yang seketika langsung gugup.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dari dalam mobil dan sudah basah melihat interaksi antara Gilang dan Cahaya. Siapa lagi pemilik mata itu, kalau bukan Reyna.


Tbc


__ADS_2