Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bab 66


__ADS_3

Brak ....


"DANIA!" di depan pintu terlihat sosok Bella dan Denis berdiri dengan wajah penuh amarah.


"Apaan sih? aku nggak budek, jadi nggak usah teriak-teriak!" sahut Dania yang terkesan santai tidak merasa takut dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh kedua orangtuanya.


"Kenapa kamu melakukan itu semua? Kenapa kamu bisa setega itu, Dania!" kali ini Denis yang buka suara.


Dania sontak menatap ke arah papanya dan menyeringai sinis. "Kenapa aku nggak bisa tega? mereka juga kan sudah tega padaku, jadi aku rasa ini impas," jawab Dania, sembari kembali asik membalas komentar-komentar orang yang mendukungnya.


Bella Menggeram melihat sikap Dania yang terkesan santai seperti tidak menganggap keberadaannya dan Denis. Wanita setengah baya itu melangkah menghampiri Dania dan merampas benda pipih itu dari tangan putrinya itu.


"Apaan sih? kembalikan handphoneku!" suara Dania meninggi dan tatapannya begitu tajam.


"Kamu masih punya sopan santun nggak? Aku dan papamu di sini, sedang meminta penjelasan padamu, tapi kamu seperti tidak melihat kamu, dan lebih mementingkan handphone kamu!" suara Bella tidak kalah tingginya.


"Tentu saja aku masih punya sopan santun,tapi aku pastikan bukan buat kalian yang sama sekali tidak mendukungku! Kenapa aku lebih mementingkan handphone,karena di situ banyak orang yang mendukungku. Tentu saja mereka lebih penting kan dari pada kalian," Dania merampas kembali handphonenya dari tangan Bella.


"Oh, begitu ya! kalau begitu kalau mereka memang lebih penting, kamu lebih baik minta dari mereka untuk biaya hidupmu. Apa kamu yakin mereka akan mau? aku jamin mereka akan pergi satu persatu," ucap Bella dengan sinis.


Dania tidak menjawab sama sekali, tapi bukan berarti karena merasa kalau ucapan mamanya itu benar. Justru wanita itu merasa kalau mamanya itu hanya menggertak saja, karena dia yakin papanya pasti tidak akan tega tidak memberikan uang lagi padanya.


"Dania, apa kamu masih dengarkan mama!" Bella terlihat sudah mulai kehabisan kesabaran.


Dania mendengus dan sama sekali tidak menjawab. Wanita itu justru meraih earphonenya dan memasukkan ke kedua telinganya.


Denis merasa kesal dengan sikap putri yang dia manjakan selama ini. Pria dengan kasar mencabut earphone dari telinga putrinya itu dan melemparkannya ke tembok.


"Papa! kenapa earphoneku papa lempar? kan rusak jadinya," protes Dania, dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


"Sekali lagi kamu tidak bersikap sopan sama mama kamu, bukan earphone itu saja yang aku lempar, handphone kamu itu juga akan aku hancurkan, paham kamu!" bentak Denis yang membuat Dania, terkesiap kaget.


"Papa kenapa sih makin ke sini makin suka memarahi Dania? Papa benar-benar sudah tidak sayang aku lagi," Dania seketika mulai mengeluarkan air matanya, berharap papanya itu tidak tega dan kembali membujuknya seperti biasanya.


"Jangan terpengaruh lagi dengan air matanya, Pa! itu hanya pura-pura!"tiba-tiba Darell muncul dan sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu langsung pulang begitu melihat kekacauan yang disebabkan oleh kakaknya itu.


Dania sontak menoleh ke arah pintu dan memberikan tatapan yang sangat tajam pada adik laki-lakinya yang dia anggap selalu mencampuri urusannya.


"Kamu jangan ikut campur, karena kamu tidak punya hak sama sekali!" ucap Dania dengan nada sinis.


"Siapa bilang aku tidak punya hak untuk ikut campur? asal kamu tahu, mereka berdua papa dan mamaku juga. Aku akan tetap mengingatkan papa untuk tidak kembali terlalu memanjakan kamu lagi!" jawab Darell tidak kalah sinis.


"Kamu keluar dari kamarku!" usir Dania yang tidak bisa membalas ucapan yang baru saja terlontar dari mulut adiknya itu.


"Kalau aku tidak mau! aku justru datang ke sini, untuk meminta penjelasanmu, kenapa kamu bisa melakukan hal itu? Apa kamu tidak sadar kalau apa yang kamu lakukan itu bisa membuat keluarga Om Gavin hancur?"


Sudut bibir Dania tertarik sedikit ke atas, tersenyum sinis. "Justru kehancuran mereka yang aku inginkan. Kalau Gilang menceraikan Cahaya dan kembali padaku,aku akan memberikan klarifikasi agar perusahaan mereka tidak hancur. Gampang saja, aku tinggal bilang, kalau pelet yang dibuat oleh Cahaya pada Gilang sudah bisa aku buang, makanya sudah kembali padaku. Jadi, sekarang pilihan ada di tangan mereka," tutur Dania tersenyum bangga dengan idenya.


"Kamu pikir aku peduli? tidak sama sekali,". sahut Dania santai.


"Kamu ya ...." Darell mengepalkan tangannya dengan kencang,dan menggigit giginya sendiri. Pria itu benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya mengingatkan kakaknya itu.


"Apa? kamu mau memukulku? pukul saja kalau berani!" tantang Dania yang melihat kepalan tangan Darell. "Aku tahu, kenapa kamu tidak mau aku bersatu kembali dengan Gilang. Itu karena kamu juga menyukai Grizelle kan? kamu dari dulu berharap agar aku dan Gilang tidak jadi menikah, supaya kamu bisa mendekati Grizelle,"


Darell terkesiap kaget mendengar ucapan Dania yang tepat sasaran. Ya, pria itu memang menaruh hati pada Grizelle, dan alasan dia tidak mendekatinya karena kalau dia mendekati adik perempuan Gilang itu, orang-orang pasti akan merasa kalau keluarganya gila harta. Namun, sumpah demi apapun, Darell sama sekali tidak ingin mengambil kesempatan di saat dia tahu kalau Gilang sudah menikah dengan wanita lain, bukan kakaknya.


"Kenapa kamu diam? yang aku katakan benar kan? dasar munafik!"umpat Dania sembari menyeringai sinis.


"Ok,aku akui itu! tapi aku sama sekali tidak pernah punya niat untuk mengambil kesempatan karena kak Gilang sudah menikahi wanita lain,"

__ADS_1


"Cih, munafik! kamu kira aku akan percaya? tidak sama sekali. Tapi sayangnya, cintamu juga bertepuk sebelah tangan, karena Grizelle menyukai Bayu,"


Darell bergeming. Hatinya sakit bak teriris pisau mendengar ucapan Dania. Namun, diamnya dia hanya sebentar saja. Detik berikutnya pria itu sudah kembali menyunggingkan senyumnya.


"Kalau dia menyukai kak Bayu,dan kak Bayu juga demikian, tidak masalah bagiku. Karena cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi, selama cintanya tidak dibalas oleh kak Bayu, tidak ada salahnya kan kalau aku menaruh harapan padanya?"


Dania, menggeram merasa kalau dia tidak bisa memprovokasi Darrel.


"Sudah, sudah. Sekarang aku mau, kamu mau menghapus video itu, meminta maaf dan memberikan klarifikasi!" Bella kembali buka suara.


"Kalau aku tidak mau?" tantang Dania.


"Kalau kamu tidak mau, kamu harus keluar dari rumah ini, dan mama akan menarik segala fasilitas untukmu. Mama tidak akan memberikan apapun padamu," tegas Bella, serius.


"Papa! lihat apa yang akan dilakukan mama? apa papa tega, putrimu ini diperlakukan tidak adil?" Dania mulai merengek.


"Untuk kali ini, papa sangat setuju dengan apa yang dikatakan sama mama kamu. Kamu memang harus dikerasin mulai sekarang!"


"Papa jahat!" teriak Dania dengan sengit.


"Tidak! papa sama sekali tidak jahat. Sekarang kamu pikiran apa yang papa dan mama katakan,dan kali ini kami berdua tidak akan terpengaruh lagi dengan rengekan kamu," Denis terlihat semakin tegas. Kemudian, pria setengah baya itu, kembali menoleh ke arah Bella.


" Ayo Sayang, kita keluar dari sini sekarang," Denis mengayunkan kakinya, melangkah ke luar, disusul oleh Bella dan Darell dari belakang. Sementara itu, Dania masih memekik memanggil Papanya.


"Arghhh!" Dania memekik kesal karena papanya tidak mau menoleh sama sekali.


"Kalian kira aku akan takut dengan ancaman kalian? tidak akan. Aku bisa hidup di luar sana tanpa kalian, lihat saja nanti!" Dania meraih ponselnya dan langsung mengirim semua uang yang ada di rekeningnya ke rekening yang baru, rekening yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh kedua orangtuanya itu. Dania melakukannya dengan cepat sebelum rekeningnya yang biasa diblokir oleh kedua orang tuanya.


Kemudian wanita itu mengeluarkan koper besarnya, dan memasukkan barang yang hendak dia bawa, keluar dari rumah. Namun Dania tidak memasukkan banyak pakaian, justru yang dia masukkan me dalam koper itu adalah tas, tas brandednya, karena dia tahu kalau tas-tas mahal itu masih bisa dijual dengan harga yang mahal. Kemudian, wanita itu menarik laci dan mengeluarkan sebuah kotak, yang berisi perhiasan-perhiasan mahal. Dania juga memasukkan kotak berisi perhiasan-perhiasan itu ke dalam koper.

__ADS_1


"Dengan ini semua, aku akan bisa bertahan hidup tanpa bantuan kalian semua," batin Dania sembari melangkah keluar sembari menyeret kopernya.


Tbc


__ADS_2