Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Telat bangun


__ADS_3

Sementara itu di sebuah club malam tampak seorang wanita yang sudah sangat mabuk. Siapa lagi dia kalau bukan Dania. Wanita I terlihat sangat frustasi, mengingat segala hal yang menimpanya. Mulai dari kenyataan yang Gilang sudah menikah dengan Cahaya, Reyna yang sudah tidak peduli padanya dan yang paling membuat dia hancur,di saat dia mengetahui kenyataan yang kedua orangtuanya juga ternyata sudah tahu, pernikahan Gilang dan Cahaya.


Ya, setelah Dania gagal membujuk Reyna untuk bekerja sama, dia kembali ke rumah untuk menemui Denis. Namun bukan pembelaan yang didapat malah nasehat yang memintanya untuk menerimanya kenyataan.


"Brengsek! kenapa semuanya bermain di belakangku? Kenapa semuanya tidak ada yang mendukungku," umpat Dania dengan wajah yang sudah teler. Wanita itu bahkan sampai meletakkan kepalanya di atas meja dan mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya.


"Wah, wah ternyata kamu ada di sini, Dania. Aku cari kemana-mana seminggu ini tapi nggak ketemu juga," seorang pria yang tidak lain adalah Danar, mendaratkan tubuhnya duduk di samping Dania.


"Jangan ganggu aku, brengsek! pergi sana! hush hush," Dania mengibas-ngibaskan tangannya di depan Danar.


Danar tidak mengindahkan perintah Dania. pria itu justru menyeringai sinis dan tersenyum licik.


"Wah, sepertinya dia sedang frustasi. Ini kesempatanku untuk bisa menikah tubuhnya. Aku yakin kalau dia masih perawan," rencana licik segera memenuhi pikiran Danar


"Dania,kamu lagi ada masalah ya?" tanya Danar dengan lembut.


"Emm,kok kamu tahu? semuanya yang aku harapkan sudah hancur. Semuanya menghianatiku," ucap Dania sembari meraih gelas di depannya dan meneguk alkohol itu sampai tandas.


Danar tersenyum miring dan licik.


"Emm, apa kamu mau kamu merasa tenang?" tanyanya dan Dania menganggukkan kepala.


"Kalau begitu kamu ikut aku, karena aku akan menunjukkan hidup bahagia dan aku yakin kamu pasti akan menikmatinya," ucap Danar sembari berdiri dari tempat dia duduk dan mengangkat tubuh wanita itu.


"Turunkan wanita itu!" bentak seseorang, membuat Danar tersentak kaget. Pria itu sontak menoleh ke arah dai suara dan melihat sosok Darell adik laki-laki Dania. Mata Darell terlihat memerah, rahangnya mengeras pertanda kalau pria itu sangat marah.


Danar sontak meletakkan kembali tubuh Dania ke tempat semula.


"Maaf, aku sebenarnya ingin membawa dia pulang, karena di sini sangat berbahaya buat seorang perempuan mabuk," Darell berusaha untuk mencari alasan agar tidak terkena pukulan Darell.


"Dan kamu kira aku percaya? Aku sudah sangat tahu siapa kamu. Awas minggir!" Darell mendorong tubuh Danar dengan sedikit keras, dan mengangkat tubuh Dania.


"Hei, siapa kamu? lepaskan aku! kalian semua jahat, tahu nggak!"Dania meracau tidak jelas


"Diam kamu! Kamu itu selalu aja cari masalah dan buat orang susah!" bentak Darell sembari mengayunkan kakinya melangkah keluar dari dalam bar itu.


Darrel memasukkan Dania ke dalam mobil dan langsung menghubungi papanya untuk menginformasikan kalau dia sudah menemukan Dania.


Sebenarnya, bila melihat keadaan Dania yang begini, pria itu ingin marah pada keluarga Maheswara, karena bagaimanapun Dania adalah kakak perempuannya. Namun mengingat kalau ini murni bukan kesalahan keluarga itu, membuat Darell berusaha meredam kemarahannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sang surya mulai naik dan menyapa, pertanda pagi sudah datang kembali. Cahayanya membias masuk ke dalam kamar di mana dua sejoli sedang tidur sembari berpelukan. Siapa lagi mereka kalau bukan Gilang dan Cahaya.


Cahaya mentari menyoroti mata Gilang, sehingga membuat tidur pria itu terganggu. Gavin membuka matanya secara perlahan dan seketika tersenyum melihat wajah polos Cahaya yang sepertinya masih tidur pulas. Mungkin wanita itu masih lelah, akibat dirinya yang menghujami wanita itu berkali-kali, hingga mereka tertidur pukul 3 pagi. Gilang seakan menemukan hobby baru dan yang pasti akan menjadi yang paling favorit baginya.


Gilang kemudian mengangkat kepala Cahaya dari atas lengannya dan memindahkan kepala istrinya itu ke atas bantal. Kemudian dia membenarkan selimut di tubuh Cahaya.


"Waduh, ternyata sudah jam 8 pagi, aku harus mandi sekarang," Gilang beranjak dari atas tempat tidurnya dan meraih handphone yang dia letakkan di atas nakas. Pria itu melihat banyak panggilan yang berasal dari Bayu. Gilang yakin kalau pria itu pasti merutukinya dari tadi. Tanpa menunggu lama, Gilang pun langsung menghubungi asistennya itu.


"Hallo, kamu kemana aja sih? asal kamu tahu aku menunggumu sangat lama di bawah. Kamu tidur apa mati? bahkan Tante Jelita sudah berkali-kali mengetuk pintu kamarmu," terdengar suara Bayu yang langsung mencerocos tanpa jeda, hingga membuat Gilang menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Udah ngomelnya?" tanya Gilang dengan nada seperti tidak bersalah.


"Sebenarnya belum, tapi aku sudah capek sepanjang jalan tadi ngomel-ngomel, sampai aku lapar lagi," sahut Bayu yang membuat tawa Gilang pecah.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Gilang setelah tawanya mereda.


"Ya, pertemuan dengan Randi yang tertunda kemarinlah," jawab Bayu yang sisa-sisa kekesalannya masih ada.


"Dimana?" Gilang sama sekali tidak peduli dengan kekesalannya Bayu.


"Katanya dia yang akan datang sendiri ke kantor kita setelah makan siang," nada suara Bayu sudah mulai kembali ke intonasi biasa.


"Ada apa lagi, Bay?"


"Kamu kenapa bisa bangun telat dan bahkan tidak mengangkat telepon? apa kamu dan Cahaya tadi malam __" belum selesai Bayu berbicara, Gilang sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Bisa dipastikan kalau Bayu di ujung sana pasti sedang memaki-maki dirinya.


Gilang meletakkan handphonenya kembali ke atas nakas. Namun ada pemandangan aneh, dimana dia melihat selimut sudah menutupi seluruh tubuh Cahaya sampai ke kepala.


"Apa kamu sudah bangun?" tanya Gilang dengan lembut, dan terlihat anggukan kepala dari balik selimut.


"Jadi kenapa kamu masih di situ? apa kamu tidak mau mandi?" tanya Gilang kembali.


"Mas duluan aja," sahut Cahaya yang kini sudah menurunkan selimut tapi hanya sebatas memperlihatkan matanya saja.


"Kenapa kamu sembunyi di selimut itu? ayo bangun sekarang!" Gilang menarik selimut dari tubuh Cahaya, tapi Cahaya berusaha untuk menahannya.


"Hmm, baiklah sepertinya kamu masih ingin aku menerkammu makanya kamu nggak mau turun dari ranjang, " goda Gilang sembari mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Ng-Nggak, Mas. Aku hanya malu," desis Cahaya dengan suara yang sangat pelan.


"Kenapa harus malu? kita kan sudah suami istri. Ayo turun dari sana!" titah Gilang dengan tatapan tajam.


"I-iya Mas!" Cahaya berusaha untuk menurunkan kakinya, tapi tiba-tiba dia menjerit karena bagian intinya terasa perih.


"Kenapa?" tanya Gilang dengan panik.


Cahaya tidak menjawab, karena dia merasa malu untuk mengatakan kalau intinya sakit.


"Masih sakit ya?" tebak Gilang,dan Cahaya mengangguk pelan.


"Ya udah, mari aku gendong," Gilang nyaris mengangkat Cahaya, tapi dia tersentak kaget begitu mendengar Cahaya yang kembali berteriak.


"Ada apa lagi?" tanya Gilang, di sela-sela rasa kagetnya.


"Mas, itu benar sekarang sudah jam segitu?" tanya Cahaya sembari menunjuk jam. Ternyata yang membuat wanita itu memekik karena jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih.


"Iya, emangnya kenapa?" Gilang mengrenyitkan keningnya.


"Kok kamu tanya kenapa sih? aku sudah telat kuliah, dan aku tidak membantu mbak Rini menyiapkan sarapan, dan satu lagi sampai jam segini kita belum turun ke bawah, aku malu,Mas." Cahaya terlihat sangat kesal melihat wajah suaminya yang biasa saja, seperti hal ini bukan masalah besar, padahal baginya hal ini sangat memalukan.


"Haish aku kira gara-gara apa, kamu sampai sepanik itu. Sudahlah, kamu tidak perlu malu, karena mereka semua pasti maklum," Gilang berusaha menenangkan Cahaya.


"Tapi, Mas aku ...."


"Sudah,aku bilang nggak pa-pa ya gak pa-pa. Sini aku gendong kamu ke kamar mandi," Gilang kembali hendak mengangkat tubuh Cahaya, namun lagi-lagi ditahan oleh wanita itu.


"Mas,hari ini aku sudah dipastikan tidak masuk kuliah, tapi kalau di rumah aku bingung mau ngapain dan aku malu lihat mam,papa,Oma dan Opa. Kalau aku ikut ke kantormu,aku juga tidak mau jadi bahan pembicaraan karyawanmu,aku harus bagaimana ya, Mas?" tanya Cahaya lagi.


Gilang tidak langsung menjawab,. seperti memikirkan sesuatu.


"Hmm begini saja, hari ini setelah makan siang aku ada pertemuan dengan rekan kerja di kantorku. Aku akan memintanya untuk tidak jadi datang ke kantor, tapi ke restoran. Kita makan siang di sana sembari menunggu dia datang, bagaimana?"


"Tapi,apa tidak menggangu?" tanya Cahaya memastikan.


"Aku rasa rekan kerjaku itu tidak akan keberatan, karena dia juga masih muda seperti kita. Sekalian kamu juga bisa belajar caranya berbisnis kan?"


"Baiklah kalau begitu," ucap Cahaya dengan wajah yang berbinar.

__ADS_1


"Ayo, sekarang kita mandi bersama, biar cepat." Gilang mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya ke dalam kamar mandi. Jika mengikuti naf*su ingin rasanya dia menerkam Cahaya kembali, tapi mengingat pekerjaan yang sudah menanti, Gilang memutuskan untuk menahan diri.


Tbc


__ADS_2