
Reyna bergeming mendengar kata-kata Randi yang cukup bijaksana.
"Ya, kamu benar. Cinta itu tidak harus saling memiliki. Ada saatnya kita harus merelakan seseorang yang kita cintai, yang penting orang yang kita cintai itu bisa hidup bahagia," raut wajah Reyna kembali berbinar.
"Nah itu kamu tahu," jawab Randi, senang melihat Reyna kembali tersenyum. "Oh ya, pria itu pasti suatu saat akan menyesal tidak memilihmu," sambung Randi kembali.
"Aku rasa tidak akan. Karena wanita yang sekarang ada bersamanya adalah wanita baik, dan tidak sulit untuk membuat pria jatuh cinta padanya," jawab Reyna tersenyum tipis.
"Aku dulu memang pernah saling mencintai dengan pria itu, tapi karena suatu hal aku harus merelakan dia dengan wanita lain. Namun, ternyata dia tidak menikah dengan wanita yang awalnya aku berkorban untuknya, tapi justru dengan wanita lain lagi, karena suatu alasan. Lagi-lagi aku harus berusaha ikhlas. Tapi, entah kenapa aku tadi merasakan sakit saat melihatnya memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Tapi, sumpah aku tidak pernah punya niat untuk merebut kembali pria itu dari istrinya, karena bagaimanapun pernikahan itu bukan suatu permainan, betul kan?" papar Reyna dengan wajah sendu dan senyum miris.
Randi tidak menyahut. Pria itu justru tiba-tiba merasa kagum dengan wanita di sampingnya itu. "Sungguh jarang sekarang ditemukan wanita yang bisa seiklas dia,"puji Randi yang sayangnya hanya berani di dalam hati saja
Keheningan tercipta untuk beberapa saat, sampai kemudian wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tunggu dulu! tadi kamu bilang apa? kamu tidak jadi makan siang dengan Cahaya?" tanya Reyna lagi, dan Randi menganggukkan kepala, mengiyakan.
Tawa Reyna seketika pecah. "Kasihan sekali kamu. Itu berarti kamu ada di taman ini,sama seperti aku yang ingin menenangkan diri?" lagi-lagi Randi menganggukkan kepala,membenarkan dugaan Reyna.
"Cih, ternyata kamu tidak jauh beda denganku, padahal tadi sok menasehati," sindir Reyna.
"Setidaknya aku tidak tersenyum kemudian menangis seperti seorang wanita yang duduk di sampingku," Randi kembali meledek.
"Ah, udahlah, kamu memang tidak mau kalah dalam adu argumen. Oh ya, satu hal yang harus kamu akui, ketampananmu kali ini tidak berarti sama sekali pada Cahaya." ledek Reyna, merasa puas.
"Kan masih ada waktu lain?" ucap Randi percaya diri.
"Aku yakin, kalau tidak akan waktu lain, karena ...." Reyna menggantung ucapannya, tiba-tiba tersadar karena bukan ranahnya untuk memberitahukan kenyataan yang Cahaya sudah menikah dengan Gilang
"Karena apa? kenapa kamu berhenti bicara?" Randi mengerenyitkan keningnya, penasaran.
"Karena kamu bukan tipenya," jawab Reyna, asal.
"Emangnya tipe Cahaya bagaimana? kasih tahu dong! biar aku mencoba untuk menjadi seorang pria yang dia suka," Randi menganggap serius ucapan Reyna, hingga membuat wanita itu seketika gelagapan dan bingung mau menjawab apa.
"Aduh, aku sudah cukup lama sepertinya berada di sini, aku harus pulang sekarang, karena mama dan papa pasti sangat khawatir sekarang," Reyna berdiri dari tempat duduknya dan langsung beranjak pergi, sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Reyna tunggu dulu! kamu belum menjelaskan bagaimana tipe pria yang disukai Cahaya!" teriak Randi, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Reyna.
"Kamu cari aja sendiri!" sahut Reyna masih tetap mempercepat langkahnya.
Randi tidak mau menyerah. Pria itu langsung melompat ke depan Reyna dan berusaha menghalangi jalan wanita itu.
__ADS_1
"Aku nggak bakal kasih kamu jalan, sebelum kamu kasih tahu seperti apa tipe laki-laki yang disukai Cahaya!" ancam Randi dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.
"Minggir nggak? aku mau lewat!" ucap Reyna dengan tatapan tajam.
"Nggak mau! kamu kasih tahu dulu, baru aku kasih lewat," Randi tidak mau mengalah.
"Minggir Randi!" suara Reyna kembali meninggi
"Tidak mau!" Randi masih bertahan berdiri di tempatnya.
Reyna mendengus kesal dan mencoba bergerak ke arah samping kiri Randi yang kosong. Namun lagi-lagi pria itu berpindah ke arah yang dituju Reyna.
Reyna menghentakkan kakinya den berbalik seperti ingin kembali ke tempat semula dia duduk. Randi tidak mau tinggal diam, pria itu dengan cepat juga langsung berdiri di samping Reyna. Melihat Randi sudah berdiri di sampingnya, Reyna dengan sigap, berbalik lagi dan langsung berlari meninggalkan Randi.
"Sial! aku dikadalin sama dia," umpat Randi sembari mengejar Reyna.
Begitu dekat dengan tubuh Reyna, Randi menarik tangan wanita itu, dan di saat bersamaan kaki pria itu tersandung, sehingga tubuhnya jatuh di atas tubuh Reyna.
Tatapan mereka berdua terkunci beberapa saat, dengan jantung yang berdetak kencang. Reyna yang lebih dulu tersadar langsung mendorong tubuh Randi, tapi tubuh pria itu sama sekali tidak berpindah.
"Mi-minggir! kamu berat." ucap Reyna, gugup.
"Eh, i-iya! maaf!" Randi seketika menyingkir dari atas tubuh Reyna dan langsung berdiri.
"A-aku mau pulang. Mama dan papa pasti sudah khawatir, karena aku belum pulang-pulang," Reyna buka suara untuk menghentikan suasana awkward yang sempat tercipta.
"Aku antarkan kamu pulang," ucap Randi yang seketika lupa alasan kenapa dia menarik tubuh Reyna tadi, seakan untuk mengetahui tipe laki-laki yang disukai Cahaya tidak perlu lagi.
"Tidak perlu, Ran. Aku kan bawa mobil sendiri," tolak Reyna sembari tersenyum kaku.
"Eh, iya ya?" sahut Randi, sembari menggaruk-garuk kepalanya dan cengengesan.
"Sial, kenapa jadi canggung begini sih?" Randi menggerutu dalam hati.
"Kalau begitu aku jalan duluan ya?"
"Silakan!" Randi menganggukkan kepalanya.
Reyna mengayunkan kakinya melangkah meninggalkan Randi. Sementara itu Randi masih memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bayangan dada Reyna yang tadi menempel di dadanya seketika mengotori pikirannya.
"Sial! kenapa aku bisa berpikir mesum begini?" bisiknya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang juga," Randi melangkah ke arah Reyna melangkah tadi.
"Ini lagi yang lebih bodoh, kenapa kami nggak jalan sama aja tadi, kan mobil kami di arah yang sama? haish, bodoh, bodoh," Randi menggerutu, merutuki kebodohannya.
Langkah Randi yang lumayan lebar, akhirnya hampir bisa mengejar Reyna. Wanita itu kini tidak terlalu jauh lagi di depannya. Namun, entah kenapa rasa canggung masih tersisa, hingga pria itu sungkan untuk mendekat. Dia bahkan sampai memperlambat langkahnya agar tidak berjalan sejajar dengan Reyna.
Reyna kini sudah sampai di tempat mobilnya diparkir. Sebelum masuk, Reyna menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah Randi yang seketika merasa kikuk.
"Aku duluan ya,bye!" Reyna masuk ke dalam mobil, setelah Randi mengangguk kecil. Setelah Reyna melajukan mobilnya,Randi pun berjalan ke arah mobilnya dan masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reyna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kejadian Ketika Randi ada di atas tubuhnya seketika berkelebat di kepalanya, hingga wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menepis bayangan itu.
Wanita itu sekilas menatap ke arah kaca spion,dan sontak mengerenyitkan keningnya begitu melihat mobil yang sangat dia kenal berada tepat di belakangnya. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Randi.
"Kenapa dia ada di belakangku? bukannya arah rumahnya gak searah dengan rumahku? atau dia sengaja membuntutiku? kalau iya, maksudnya apa coba?" batin Reyna sembari bergantian menatap ke depan dan ke kaca spion.
"Aih, aku nggak boleh su'udjon dulu. Bisa aja kan dia ada kepentingan di arah yang sama denganku," Reyna menepis kecurigaannya.
Rumah Reyna semakin dekat, tapi mobil Randi masih saja setia di belakangnya, hingga membuat kening Reyna semakin berkerut.
Reyna menghela napasnya dan langsung menepikan mobilnya di depan pagar rumahnya. Wanita itu dengan sengaja tidak langsung masuk, dan memutuskan untuk turun menghampiri mobil Randi yang berhenti juga.
Reyna baru saja ingin mengetuk jendela kaca mobil Randi, tapi dia urungkan karena Randi sudah menurunkan kaca mobil itu.
"Kenapa kamu membuntutiku? apa kamu masih ingin__"
"Jangan berpikir yang aneh-aneh! aku hanya mengawal kamu dari belakang, memastikan kamu sampai di rumah, dengan selamat." Randi langsung memotong ucapan Reyna. "Kamu tidak mau diantar pulang karena bawa mobil sendiri, ya udah beginilah caraku mengantarkanmu," sambungnya kembali, hingga membuat kata-kata yang belum terucap dari mulut Reyna tertelan kembali.
"Oh, begitu? kalau begitu terima kasih ya! maaf kalau aku sempat ingin menuduhmu yang tidak-tidak.
"Ah, tidak masalah!" ucap Randi santai. "Kalau begitu aku pulang ya," Randi memutar balik mobilnya dan langsung melambaikan tangan seiring melajunya mobilnya..
Tanpa sadar seulas senyuman seketika bertengger indah di bibir wanita itu, sembari menatap mobil Randi sampai menghilang dari tatapannya.
Di depan pintu pagar, tampak Reynaldi yang awalnya tidak sabar menunggu Reyna di teras. Pria setengah baya itu juga ikut tersenyum melihat pemandangan di depannya.
Pria itu sontak berlari masuk ke dalam rumah, ketika melihat Reyna yang bergerak memutar tubuhnya. Pria itu sama sekali tidak ingin putrinya itu tahu kalau dia mengintainya dengan Randi tadi.
Tbc
__ADS_1
Harusnya ini aku up tadi malam, tapi tiba-tiba tempatku hujan badai, berpetir dan angin kencang . Banyak pohon yang tumbang di depan rumah tetangga dan seng rumah beterbangan. Alhasil Handphone, WiFi harus dinonaktifkan. Ini baru sempat up karena harus isi paket dulu, berhubung karena akibat hujan tadi malam, WiFi benar-benar putus 😭😭