Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bab 86


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dua bulan lamanya semenjak kejadian kebakaran yang hampir saja membuat Cahaya kehilangan nyawanya. Rumah peninggalan orang tuanya yang pada saat itu habis terbakar, kini sudah dibangun kembali, tanpa mengubah bentuk.


Bagaimana dengan Dania? wanita itu sudah sidang putusan sebulan yang lalu dan divonis lima tahun penjara, hukuman yang jauh lebih ringan dari tuntutan hukuman seumur hidup, dan ini memang karena permintaan keluarga Maheswara yang masih berbaik hati tidak membiarkan Dania menghabiskan hidupnya di penjara.


Wanita itu memang diputuskan lima tahun penjara, tapi wanita itu tidak ditempatkan di penjara melainkan si sebuah rumah sakit jiwa. Bukan karena wanita itu gila, tapi karena sepertinya wanita itu mengalami depresi yang cukup berat. Dania sudah berulang kali mencoba melakukan pencobaan bunuh diri, tapi selalu berhasil digagalkan. Jadi, Denis merasa kalau putrinya itu butuh bantuan seorang psikiater untuk menyembuhkan depresi putrinya itu. Dan psikiater yang menjadi pilihan Denis adalah seorang pria muda yang memang sudah dikenal banyak menyembuhkan orang-orang yang mengalami depresi baik ringan maupun berat. Dania tidak ditempatkan bersama dengan orang-orang gila, tapi wanita itu memiliki ruangan sendiri, karena memang dia tidak gila.


"Bagaimana kabar kamu hari, Dania?" tanya psikiater itu dengan menyelipkan senyuman manis yang selalu setia menemani pria itu.


"Aku sudah jauh lebih baik, Dok," jawab Dania membalas senyum dokter jiwa atau psikiater itu. Senyum yang hampir sebulan ini jarang atau hampir tidak pernah terlihat di bibir wanita itu. Nada ucapan Dania juga sudah lembut tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu ketus.


"Syukurlah! itu artinya kamu sudah mengalami banyak perkembangan," sahut psikiater yang bernama Sandi itu.


"Dan ini semua berkat anda," sahut Dania tanpa menanggalkan senyumannya.


"Bukan karena aku,tapi karena niat kamu juga," ucap Sandi.


"Dokter Sandi, apa menurutmu aku ini menyebalkan dan jahat?" tanya Dania dengan raut wajah kembali sendu.


Sandi tidak langsung menjawab, tapi cukup hanya tersenyum.


"Awal-awalnya sih iya. Tapi, seorang psikiater kan memang harus dituntut untuk selalu sabar, makanya bagaimanapun sikap kamu, aku anggap sebagai tantangan," jawab Sandi dengan nada lembut. Sandi paham, untuk mengatasi sikap keras dan egois Dania harus dengan kelembutan.


"Emmm ... seperti itu ya? apa menurutmu perbuatanku masih pantas untuk dimaafkan?"


"Tentu saja! semua orang masih pantas untuk mendapatkan kesempatan, termasuk kamu. Semua itu tergantung dari kamu, apa benar-benar masih mau berubah semakin baik atau memilih terjebak dengan rasa benci yang kamu miliki di hatimu," Sandi diam sejenak untuk mengambil jeda sekaligus menghirup udara untuk mengisi rongga paru-parunya yang stok oksigennya mulai menipis.


"Dania, mungkin di awal-awal perubahan kamu, akan sulit diterima atau dipercaya oleh orang-orang yang pernah kamu sakiti karena kamu pernah membohongi mereka, tapi aku sarankan agar kamu tidak terlalu sedih akan hal itu, tapi cobalah untuk tetap menunjukkan perubahanmu dalam tindakan nyata. Aku yakin seiring berjalannya waktu, mereka akan bisa memaafkanmu," lanjut Sandi kembali.

__ADS_1


"Amin! terima kasih ya!" ucap Dania dengan tersenyum tulus. Senyum yang lagi-lagi bisa mengalihkan ingatan Sandi pada almarhum istrinya.


Ya, Sandi adalah seorang duda yang memiliki seorang anak perempuan berusia 4 tahun. istrinya meninggal saat melahirkan putri pertama mereka karena hipertensi. Selama empat tahun menduda, Sandi sama sekali tidak memiliki niat untuk menggantikan posisi Istrinya itu dengan wanita lain, karena dia sangat mencintai almarhum istrinya. Namun, dua minggu belakangan ini, ada perasaan aneh yang sukar untuk pria itu jelaskan, begitu melihat Dania. Apalagi ketika dia pernah melihat perlakuan lembut Dania ketika membawa putrinya itu bertemu dengan wanita itu. Sandi melihat, dengan jelas kalau ternyata putrinya itu begitu merindukan sosok ibu di hidupnya. Akan tetapi,Sandi tidak mau gegabah karena dia merasa kalau perasaannya masih abu-abu dan di lain sisi, pria itu juga tahu alasan kenapa Dania bisa seperti ini, yaitu hanya karena cinta wanita itu bertepuk sebelah tangan.


"Dokter Sandi, sepertinya aku sudah tidak perlu berada di RSJ ini lagi. Aku harus kembali ke penjara, untuk menyelesaikan sisa hukumanku," celetuk Dania tiba-tiba, membuat ada perasaan pria itu seperti tercubit,merasa tidak siap untuk berpisah dengan wanita di depannya itu.


"Apa kamu tidak bisa tetap berada di sini? atau apa kamu tidak bisa meminta pada keluarga Maheswara untuk meringankan hukumanmu?" tanya Sandi penuh harap.


"Tidak bisa seperti itu,Dok. Bagaimanapun aku harus menjalani hukumanku sampai selesai. Sekarang, aku sudah lebih siap dan ikhlas menjalaninya," jawab Dania, tersenyum tulus.


Sandi tercenung tidak tahu mau berkata apa lagi. Kalau dia tetap ingin menahan wanita itu, agar tetap berada di RSJ ini, dia bingung memberikan alasan apa jika wanita itu nantinya menanyakan alasannya.


"Mbak, Dania ada yang bertemu denganmu," tiba-tiba seorang perawat muncul dan langsung membungkukkan badan di depan dokter Sandi.


"Siapa,Sus?" Dania mengrenyitkan keningnya.


"Kami berdua,Kak Dania!" bukannya suster itu menjawab tapi justru wajah Cahaya yang muncul bersama dengan Gilang. Cahaya dengan senyum manisnya, Gilang dengan wajah masamnya. Karena sejujurnya pria itu sangat berat untuk mengunjungi Dania, tapi demi Cahaya yang terus-menerus merengek untuk menemui Dania, dengan terpaksa Gilang akhirnya setuju.


"Dania, sepertinya aku harus keluar dulu, karena masih ada pekerjaan yang menungguku. Ingat,kamu harus berusaha menetralkan emosi jiwamu!" Dania menganggukkan kepala, mengiyakan. Sebelum Sandi benar-benar keluar dari ruangan itu,pria itu juga tidak lupa meminta izin juga pada Cahaya dan Gilang.


"Kenapa kalian berdua datang ke sini? apa kalian mau menertawakanku?" tanya Dania dengan alis bertaut.


"Tentu saja tidak, Kak. Aku memang hanya ingin melihat kondisi kakak," sahut Cahaya tanpa menanggalkan senyumannya.


Dania menghela napasnya. Rasa penyesalan semakin besar melihat Cahaya yang masih tetap baik padanya, padahal apa yang dia lakukan dulu, benar-benar sangat jahat. Ekor mata wanita itu kemudian melirik ke arah Gilang. Lagi-lagi terdengar embusan napas dari mulut wanita itu, melihat raut wajah Gilang yang datar. Dari ekpresi yang ditunjukkan Gilang itu,Dania bisa menyimpulkan kalau pria itu masih membencinya.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, Cahaya," jawab Dania sembari melirik ke arah perut Cahaya yang sudah terlihat membuncit.

__ADS_1


"Bagaimana, kandunganmu? apa baik-baik saja?" tanya Dania dengan tangan yang hendak menyentuh perut Cahaya. Namun sebelum dia berhasil menyentuh perut wanita itu, Gilang dengan cepat menarik tubuh Cahaya ke arahnya.


"Mas Gilang!" tegur Cahaya dengan mata yang mendelik tajam.


"Tidak apa-apa, Cahaya! aku sama sekali tidak sakit hati. Mungkin dia masih takut kalau aku mencoba mencelakai kamu dan bayi kalian lagi," tutur Dania tersenyum walaupun sebenarnya ada rasa sakit yang dia rasakan di hatinya.


"Tentu saja! siapa yang tahu, kalau sikap kamu ini asli atau palsu seperti dulu," Gilang buka suara dengan nada yang sangat sinis.


"Mas Gilang! bukannya tadi kamu sudah berjanji tidak mau membahas hal ini lagi? cobalah untuk berpikir positif," tegur Cahaya dengan tatapan tidak suka.


"Udahlah, Cahaya. Kamu jangan memaksanya." Dania menyela ucapan Cahaya. "Oh ya, mumpung kamu ke sini, dari hati yang paling dalam, aku benar-benar minta maaf padamu. Mungkin kesalahanku sudah sangat besar dan susah untuk dimaafkan, tapi tidak ada salahnya kan kalau aku masih berharap maaf dari kalian?" ucap Dania yang terdengar sangat tulus.


"Kak, sebelum kakak minta maaf, aku sudah memaafkanmu. Aku berharap, suatu saat nanti Kakak bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi,"


"Apakah sudah selesai bicaranya? kalau sudah selesai kita pulang sekarang!" Gilang buka suara tanpa melihat ke arah Dania.


"Tunggu sebentar lagi,Mas!" pinta Cahaya.


"Kak Dania, ini ada makanan buat Kakak. Dimakan ya!" Cahaya menyerahkan sebuah bungkusan makanan ke tangan Dania.


"Terima kasih ya! oh ya, bagaimana dengan Reyna? apa dia baik-baik saja?" tanya Dania yang sekarang merasa merindukan sahabat kecilnya itu.


"Ka Reyna baik-baik saja. Sabtu ini, dia akan menikah dengan Kak Randi. Mungkin kalau dia sudah tidak sibuk lagi, dia akan mengunjungi Kakak,"


Dania menggigit bibirnya merasa sedih kembali, ketika dia dipastikan tidak akan bisa menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Namun, lagi-lagi wanita itu berusaha menepis rasa sedihnya itu.


"Syukurlah kalau dia akan menikah. Sampaikan salamku padanya. Aku harap semuanya berjalan dengan lancar,"

__ADS_1


Tbc


Sekedar info, mana tahu ada yang bertanya-tanya kenapa seorang psikiater dipanggil dokter. Psikiater dan psikolog itu berbeda, walaupun memang sama-sama ahli dalam ilmu jiwa. Secara garis besar, psikiater adalah dokter, sedangkan psikolog bukan dokter. Psikiatri adalah ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan jiwa, sedangkan psikologi adalah ilmu non-kedokteran yang mempelajari perilaku dan perasaan seseorang. Meski berbeda latar belakang, keduanya saling melengkapi. Satu lagi, mungkin akan ada yang bertanya kenapa Dania dimasukkan ke RSJ padahal dia tidak gila? banyak yang menyimpulkan kalau Rumah sakit jiwa hanya dikhususkan buat orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau gila. Sebenarnya tidak! Fungsi RSJ itu bukan hanya berpatokan di situ saja. Di sini tidak hanya untuk orang gangguan jiwa berat tapi juga untuk pengobatan  lainnya yang berkaitan de­ngan psikologi dan men­tal. Terima kasih 🙏🏻


__ADS_2