
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sekarang kandungan Cahaya sudah berusia 7 bulan. Di kediaman keluarga besar Maheswara, tampak terlihat ramai, karena hari ini keluarga Maheswara mengadakan acara 7 bulanan Cahaya.
Di antara para tamu tampak ada Reyna dan Randi, demikian juga Dania dan Sandi. Perut Reyna masih terlihat rata, dan belum ada tanda-tanda kalau wanita itu sedang mengandung, walaupun pernikahan mereka sudah 4 bulan berlangsung. Bagaimana dengan Dania? wanita itu juga sama seperti Reyna. Beruntungnya Randi dan Sandi tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Bagi mereka keturunan itu adalah anugerah kalau belum diberi, berarti kesabaran mereka sedang diuji.
Bagi Randi, setiap pasangan memang menginginkan yang namanya keturunan, tapi tujuan menikah bukan melulu hanya untuk memiliki anak saja. Tujuan utama menikah adalah ingin bahagia, dan anak adalah pelengkap kebahagiaan itu. Satu hal yang paling ditanamkan Randi dan Reyna di dalam hati, adalah 'jika Tuhan belum memberikan mereka anak, bukan berarti Tuhan tidak sayang, tapi mungkin belum saatnya. Menurut kita, mungkin kita sudah siap memiliki anak, tapi belum tentu dengan menurut Tuhan. Jika Tuhan sudah melihat dan memastikan kita benar-benar siap, Tuhan pasti akan memberikannya tepat pada waktunya'.
"Kak Reyna, Kak Dania!" pekik Cahaya dengan gembira sembari menghambur ke arah kedua wanita itu.
"Sayang, pelan-pelan jalannya!" pekik Gilang dengan panik melihat perut Cahaya yang terlihat sudah sangat besar seperti sudah hamil 9 bulan.
"Bumil jangan lari! bayi kamu belum waktunya lahir," bukan hanya Gilang yang panik, tapi juga Reyna.
"Tahu nih! girang amat. Kita nggak bakal kemana-mana kok, jadi nggak perlu pakai lari segala," Dania menimpali ucapan Reyna. Kehadiran wanita itu sepertinya sudah bisa diterima dengan baik oleh Gilang. Walaupun pria itu masih terlihat dingin padanya, setidaknya pria itu tidak pernah melontarkan kata-kata yang menyakitkan lagi pada Dania.
"Iya, Maaf!" sahut Cahaya sembari nyengir kuda.
"Cahaya, kenapa pipi kamu makin bulat kaya bakpao? bukan hanya pipimu, tapi badanmu juga udah kaya donat," Randi memulai keusilannya. Hal itu sontak membuat Gilang menghunuskan tatapan sangat tajam padanya.
Cahaya mengerucutkan bibirnya dan matanya langsung berkaca-kaca menahan tangis.
"Tuh kan Mas, Kak Randi bilang aku gendut," rajuk Cahaya.
"Sayang,jangan dengarkan dia! bagiku, bagaimanapun bentuk tubuhmu, kamu tetap yang tercantik bagiku," ucap Gilang, menenangkan istrinya itu.
" Berarti Mas membenarkan ucapan kak Randi kalau aku benar-benar gendut," bibir Cahaya semakin mengerucut, hingga membuat Gilang menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sementara itu, Randi tertawa karena merasa sudah berhasil membuat Gilang kebingungan menghadapi mood Cahaya, istrinya.
"Ini semua gara-gara kamu! bisa nggak sekali saja, membuat hidupku damai?" ucap Gilang, kesal.
"Sayangnya tidak bisa! melihat wajah kesalmu, adalah kebahagiaan buatku," sahut Randi santai.
__ADS_1
"Cahaya,kamu jangan dengarkan mas Randi,. karena dia hanya bercanda. Setiap wanita yang hamil memang harus mengalami perubahan bentuk tubuh, apalagi kamu mengandung anak kembar. Untuk sekarang kamu jangan terlalu mementingkan perubahan tubuhmu, yang terpenting kedua bayimu sehat," Reyna buka suara membantu Gilang menenangkan Cahaya.
"Iya Sayang,benar kata Reyna," Gilang menimpali ucapan Reyna.
Mendengar ucapan Reyna dan semangat dari Gilang, raut wajah Cahaya yang tadinya masam, seketika berbinar kembali. Wanita hamil itupun tersenyum dan mengelus-elus perutnya .
Gilang, menarik napas lega karena melihat Cahaya yang sudah kembali ceria. Kemudian pria itu menoleh ke arah Reyna dan tersenyum manis ke arah wanita itu.
"Hei jangan tebar pesona di depan istriku! mau kamu tersenyum selebar apapun, Reyna tidak akan berpaling padamu," cetus Randi yang merasa tidak suka melihat senyuman Gilang yang ditujukan pada Reyna.
"Cih, kamu yakin kalau Reyna tidak akan berpaling? kalau aku mau, Reyna pasti akan kembali jatuh cinta padaku. Kamu mau, aku mencoba merayunya kembali?" tantang Gilang, yang kini menemukan cara membuat Randi kesal.
"Awas saja kalau kamu lakukan itu! langkahi dulu mayatku!" jawab Randi yang mulai terpancing.
"Emm, baiklah. Sekarang kamu pilih dulu, mau aku kasih racun atau ditusuk pisau?" tanya Gilang santai.
"Maksudmu apa bicara seperti itu? kamu menginginkan aku mati sekarang?"
"Brengsek kamu!" pungkas Randi, kehabisan kata-kata. "Kamu kenapa sih selalu bisa membalikkan keadaan? kesal aku!" Randi menggerutu tidak jelas.
Seketika tawa langsung pecah dari semua orang yang melihat ekspresi kesal Randi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Bayu terlihat sedang sibuk memilih-milih makanan yang hendak dia santap. Pria itu terlihat bingung untuk memilih menu apa, karena semuanya terlihat enak baginya.
"Emm, sebaiknya aku makan yang ini dulu,nanti kalau yang ini sudah habis,aku akan kembali untuk ambil makanan yang lainnya," batin Bayu sembari berbalik ingin mencari keberadaan Gilang dan yang lainnya.
"Astaga, kamu bikin aku kaget saja! untung makanannya tidak jatuh," ucap Bayu yang benar-benar kaget melihat keberadaan Grizelle yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Hehehe, kok kaget sih? harusnya Kak Bayu terpaku karena melihat gadis cantik sepertiku," ucap Grizelle penuh percaya diri sembari cengengesan.
"Sayangnya telapak sepatuku tidak dipasangin paku. Jadi nggak bisa terpaku. Besok-besok aku pasangin paku ya, sekalian aku kantongi palu, biar pas ngelihat kamu aku buru-buru mengetuk pakunya agar bisa terpaku ke lantai," ucap Bayu sembari menyelipkan sebuah candaan.
"Ihh, Kan Bayu. Bukan terpaku seperti itu maksudnya. Maksudku itu terpesona gitu," Grizelle mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Oh begitu, kalau kita reka adegan lagi ya. Aku putar badanku dulu, dan kamu berdiri di belakangku. Nah pas aku berbalik, aku akan terpesona melihatmu," ucap Bayu.
"Tidak perlu! sudah telat!" bibir Grizelle masih setia maju ke depan.
Melihat ekspresi Grizelle, seketika membuat Bayu terkekeh. "Udah dulu ya! aku lapar mau makan dulu. Nanti kita bicara lagi," Bayu mengayunkan kaki melangkah meninggalkan Grizelle.
Wajah Grizelle yang tadinya berbinar, seketika berubah sendu karena lagi-lagi melihat reaksi Bayu yang biasa saja padanya.
"Sepertinya,aku harus mulai berhenti berharap pada Kak Bayu. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku," batin Grizelle sembari menatap ke atas, guna menghindari agar air matanya tidak jatuh.
"Hai, Grizelle. Kamu kenapa?" tiba-tiba suara seorang pria mengangetkan Grizelle.
Gadis itu sontak menurunkan kepalanya dan menatap ke arah pria yang menyapanya, yang ternyata adalah Darell. Sementara itu,Bayu yang masih belum terlalu jauh melangkah, seketika menyurutkan langkahnya, begitu mendengar suara seorang pria yang menyapa Grizelle. Entah kenapa, pria itu seketika merasa tertarik ingin mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Darell dan Grizelle.
"Eh,kamu Rell. Aku tidak apa-apa kok. Kamu sudah makan? kalau belum silakan nikmati makanannya! tuh lihat, makanannya masih sangat banyak," ucap Grizelle, sembari menyunggingkan senyum manis yang membuat Darell terpukau.
"Eh, I- Iya. Nanti aku akan makan. Melihatmu saja sudah membuat aku kenyang," sahut Darell gugup.
"Hehehe kamu bisa aja," sahut Grizelle yang sama sekali tidak tersanjung. Beda cerita mungkin kalau Bayu yang mengatakannya. Bisa dipastikan kalau ucapan itu keluar dari mulut Bayu,dia pasti akan melompat-lompat kegirangan.
"Emm, Zell, apa kamu ada acara besok? bagaimana kalau kita jalan?" Darell mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya.
Grizell tidak menjawab sama sekali. Dia bingung mau menolak atau tidak. Kalau menolak dia merasa tidak enak, tapi kalau dia mengiyakan,dia takut Darell akan salah paham dan menganggap kalau dia memberikan harapan pada pria itu.
__ADS_1
"Dia tidak bisa pergi jalan denganmu, karena dia sudah ada janji denganku!" celetuk Bayu yang sudah kembali berdiri di samping Grizelle.
Tbc