Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Dania mulai curiga


__ADS_3

Dania sudah berdiri di depan pintu kamar Gilang. Wanita itu tidak berniat untuk mengetuk pintu sama sekali. Dia langsung memutar knop pintu untuk membuka pintu kamar.


"Kebiasaan deh,kamar nggak pernah dikunci," gumam Dania sembari masuk ke dalam kamar.


Wanita itu melangkah berjalan dengan perlahan dan langsung memeluk Gilang dari belakang.


"Mau kemana sih, kok sudah rapi begini?" tanya Dania dengan suara yang manja.


Gilang tersentak kaget dan langsung menepis tangan Dania. Pria itu langsung berbalik dan wajahnya langsung berubah pucat.


"Kenapa kamu bisa ada di sini? kenapa kamu tidak pernah sopan masuk ke kamar orang?" bentak Gilang dengan ekor mata yang melirik ke arah ruangan walk in closet, di mana ada Cahaya di dalamnya.Jantung pria itu benar-benar seperti sedang habis lari maraton sekarang. Hanya satu yang sangat dia harapkan sekarang, 'mudah-mudahan Cahaya menyadari kehadiran Dania dan tidak keluar'.


"Aku kira kamu masih tidur, dan aku sama sekali tidak mau mengganggu tidurmu makanya aku tidak mengetuk pintu." Jawab Dania masih dengan nada manja.


"Tetap saja kamu tidak sopan," ujar Gilang masih tetap melirik ke arah walk in closet.


"Kamu kenapa sih? kenapa wajahmu terlihat panik?" Dania menarik sudut matanya ke atas,curiga.


"Siapa yang panik? aku tidak panik sama sekali," sangkal Gilang berusaha untuk bersikap biasa lagi. "Sekarang kamu keluar dari sini, karena moodku benar-benar hancur kalau melihatmu!" usir Gilang dengan tatapan bengis.


Dania sontak memasang wajah sedihnya.


"Apa kamu masih marah atas apa yang menimpa Reyna? aku benar-benar tidak tahu kalau hal itu akan terjadi,"


"Bukan hanya karena itu. Segala yang menyangkut dirimu benar- benar membuatku muak," ucap Gilang dengan sarkas.


"Kenapa sih kamu sekali aja nggak bisa bersikap lembut padaku?" tanya Dania dengan wajah sendu.


"Karena kamu tidak layak untuk dilembutin," sahut Gilang dingin.


Mata Dania mulai berembun, berusaha menahan agar air matanya tidak keluar. Walaupun dia sudah terbiasa dengan sikap dingin dan ucapan kasar dari Gilang, tapi tetap saja dia selalu merasa sedih.


Rasa sedih yang sempat menghampirinya seketika berganti dengan kecurigaan melihat mata Gilang yang berkali-kali melirik ke arah walk in closet.

__ADS_1


"Kamu kenapa dari tadi melihat ke arah sana, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"Mata Dania memicing.


"Tidak ada sama sekali!" sahut Gilang gugup, hingga membuat Dania semakin curiga


"Aku tidak percaya sama sekali!" ucap Dania sembari melangkah ke arah walk ini closet.


"Berhenti! kamu jangan sembarangan masuk ke ruang manapun di kamar ini! karena kamu tidak punya hak untuk itu! sekarang kamu keluar dari ruangan ini sebelum aku menyeretmu!"


Sementara itu, Cahaya yang masih tetap berbalut handuk sedang bingung untuk memakai pakaian apa.


"Haish,aku sudah 15 menit berdiri di sini, tapi masih saja bingung mau pakai apa, " batin Cahaya sembari melihat deretan gaun yang berjejer rapi di dalam lemari.


"Sebenarnya mas Gilang mau mengajakku ke mana sih? kenapa dia nggak mau kasih tahu aku? kalau tahu kan aku bisa menyesuaikan pakaian yang mau aku pakai," kembali Cahaya bermonolog pada dirinya sendiri. Ya, inilah yang membuat wanita itu lama berdiri di depan lemari. Dia bingung untuk memakai pakaian jenis apa, karena dia sama sekali tidak tahu akan pergi kemana. Wanita itu takut salah kostum. Namun, mau bertanya kondisinya hanya memakai handuk.


"Eh, tunggu dulu! pernikahan kami kan tidak ada yang tahu? Dan yang orang-orang tahu kan, tunangan mas Gilang itu non Dania. Jadi, tidak mungkin mas Gilang mengajakku ke acara resmi. Bodoh banget sih kamu Aya! bagaimana bisa kamu melupakan itu?" Cahaya merutuki kebodohannya sendiri sembari mengetuk-ngetuk dahinya.


Wanita itu kemudian akhirnya meraih sebuah short gown selutut berwarna kuning gading, yang benar-benar kontras dengan warna kulitnya. Setelah itu, wanita itu bergerak ke arah rak sepatu dan meraih sepasang sepatu kets berwarna putih.


"Gawat! kenapa bisa ada Non Dania." batin Cahaya dengan panik.


"Aku tidak mau keluar dari sini! kalau kamu tidak mengizinkanku untuk masuk ke ruangan itu, berarti ada yang kami sembunyikan!" Dania ternyata masih bersikeras untuk tetap berada di dalam ruangan itu.


"Tidak akan! karena sekali kami menginjakkan kakimu ke dalam sana, aku yakin aku akan merasa sial. Jadi, kamu harus segera keluar dari sini!"


"Baiklah, aku tidak akan masuk ke dalam sana, tapi kamu mengajakku pergi jalan bersamamu ya. Kamu mau pergi kan?" ucap Dania dengan tatapan penuh harap.


Gilang benar tidak habis pikir dengan Dania yang menurutnya sudah putus urat malu. Padat dari dulu,dia selalu bersikap kasar pada wanita itu, tapi wanita itu sama sekali tidak peduli.


"Tidak akan! sekarang kamu keluar dari sini!" Dengan terpaksa akhirnya Gilang menarik paksa tangan Dania, menyeret wanita itu keluar.


Brakk ...


Gilang menutup pintu dengan keras dan langsung menguncinya, tidak peduli dengan Dania yang berteriak sembari menggedor-gedor pintu.

__ADS_1


Sementara itu, dari arah lain, terlihat seluruh anggota keluarga Maheswara, dan Rini datang dengan terburu-buru dan dengan wajah yang panik.


"Kenapa kalian semua datang ke sini? dan kenapa wajah kalian semua terlihat panik?" tanya Dania dengan mata yang memicing curiga.


"Kami mendengar kamu berteriak-teriak makanya kami datang," jawab Jelita berusaha untuk bersikap biasa.


"Aku kan baru berteriak, Tante, tapi kenapa kalian sangat cepat sudah berada di sini?"


"Oh, itu ... emm tadi kami mau turun untuk sarapan, eh mendengar kamu berteriak sembari menggedor-gedor pintu kamar Gilang, kami langsung ke sini," Jelita masih berusaha untuk mencari alasan yang tepat, kenapa mereka bisa datang dengan cepat, ke kamar Gilang. Padahal sebenarnya, mereka semua datang karena takut terjadi apa-apa pada Cahaya.


Dania bergeming, masih sulit untuk percaya dengan alasan yang Jelita utarakan. Namun, wanita itu memilih untuk diam.


"Lagian, kamu ngapain pagi-pagi sekali sudah ada di sini? kamu kurang kerjaan ya? kalau iya, tuh kamu bersihkan saja selokan yang di depan rumah," celetuk Grizelle dengan ketus sembari beranjak pergi disusul oleh yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mas, Non Dania sudah benar-benar pergi?" tanya Cahaya begitu keluar dari dalam walk in closet.


"Sudah! hampir saja ketahuan. Untung kamu, tadi tidak ada di ruangan ini," jawab Gilang, menghela napas lega.


"Aku tadi kebingungan mau pakai baju apa, makanya bisa lama," ungkap Cahaya tidak menunggu Gilang bertanya.


"Syukurlah kamu bingung. Kebingunganmu menyelamatkan kita," ucap Gilang.


"Mas, apa ku tidak masalah memakai pakaian seperti ini? soalnya aku tidak tahu kita mau pergi kemana,"


"Tidak masalah sama sekali. Kita tidak menghadiri acara resmi, jadi kamu tidak perlu__"


"Aku tahu! kamu tidak mungkin mengajakku ke acara resmi karena kamu tidak ingin ada yang mengetahui pernikahan kita," Cahaya dengan cepat menyela ucapan Gilang.


"Kamu sabar ya! Aku hanya tidak ingin Dania nekad mencelakaimu, karena dia itu sangat egois orangnya. Sebenarnya aku juga sedang memikirkan cara untuk memberitahukan dia tentang pernikahan kita, tapi otakku tetap saja buntu," Gilang mengusap wajahnya dengan kasar. Selain karena ingin melindungi Cahaya dari amarah Dania, Gilang juga sebenarnya memikirkan tentang reputasi keluarganya yang pasti akan dipandang jelek oleh orang banyak karena dianggap mempermainkan wanita yang merupakan tunangannya. Orang banyak pasti akan tidak respect lagi, dan memandang buruk citra keluarganya yang terkenal baik.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2