
Sorot mata Gilang sangat tajam seperti pisau belati yang siap menghujam jantung saat menatap ke arah Dania. Wajah pria itu terlihat memerah dan rahangnya mengeras pertanda kalau dia tengah dirasuki amarah yang amat sangat.
"Gi-Gilang kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Dania dengan suara yang bergetar ketakutan.
"Kenapa? Kenapa kamu berbicara seperti itu pada Cahaya?" bukannya menjawab pertanyaan Dania, justru Gilang bertanya dengan napas yang memburu.
"A-aku hanya ingin menyadarkan siapa dia dan mengingatkan posisi dia di rumah ini," sahut Dania sembari menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Gilang.
"Yang perlu disadarkan itu kamu. Pikiran kamu sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Semua yang kotor sudah terlalu banyak menumpuk di sana," ucap Gilang dengan sarkas.
Dania sontak mengangkat wajahnya, menatap wajah Gilang. Wanita itu tidak menyangka kalau pria itu sanggup mempermalukan dirinya untuk ke sekian kalinya dan yang paling sialnya, dikatain di depan Cahaya yang dia anggap hanya seorang pembantu. Dia tidak akan pernah bisa terima.
"Gilang, Kenapa kamu tega mengatakan kata-kata kasar seperti itu pada tunangan kamu sendiri?" tanya Dania dengan suara yang bergetar menahan tangis dan amarah.
"Karena kamu memang pantas mendapatkannya," celetuk Melinda buka suara.
"Oma juga, kenapa Oma tidak menyukaiku? padahal selama ini aku sudah berusaha untuk bersikap baik pada, Oma. Aku tidak pernah membalas kata-kata Oma, walaupun aku tahu kalau Oma sedang menyindirku. Kenapa Oma!" pekik Dania yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekesalannya selama ini.
"Dania! turunkan nada bicaramu di depan Oma!" bentak Gilang. Jangan lupakan Cahaya yang benar-benar bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Mereka berdua sudah bertunangan, tapi kenapa seperti tidak memiliki hubungan apa-apa? kenapa Tuan Gilang tidak berbicara lembut padanya? Oma Melinda juga sepertinya tidak menyukainya non Dania, tapi kenapa mereka bisa bertunangan?" Cahaya mengajak hatinya untuk berbicara, walaupun dia tahu kalau hatinya tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan untuknya.
"Kenapa? kenapa aku harus menurunkan nada bicaraku? apa hanya kalian yang pantas berbicara dengan nada tinggi padaku? aku tidak pantas begitu?" emosi Dania mulai tidak terkontrol.
"Itu semua karena kamu pantas menerimanya. Kamu itu__"
__ADS_1
"Aku kenapa, Oma? apa Oma mau bilang kalau aku tidak seperti Reyna, iya? Oma mau bilang, kalau Reyna lebih baik dari aku, begitu?" sambar Dania, memotong ucapan Melinda.
"Itu kamu tahu jawabannya. Aku sangat menyayangkan karena Reyna bisa mengalah demi orang egois seperti kamu. Dia berusaha untuk memahami perasaanmu, tapi kamu justru berusaha menghancurkan perasaannya,"
Dania bergeming tidak membalas ucapan Omanya Gilang. Namun dada wanita itu terlihat turun naik, pertanda kalau dia tengah sangat marah. Seandainya, tidak ada Gilang di tempat itu, ingin rasanya dia memaki wanita tua itu, dan meminta wanita itu untuk mati saja.
"Reyna bukan mengalah,tapi memang seharusnya dia seperti itu, karena dia tahu kalau aku lebih dulu, menyukai Gilang. Aku dari kecil, sedangkan dia, setelah duduk di bangku kuliah saja. Bukannya itu termasuk menusukku dari belakang? jadi, seperti yang aku katakan tadi, kalau dia memang pantas melakukan hal seperti itu padaku. Oma tidak tahu apa-apa, jadi lebih baik diam saja,"
"Dania! jaga bicaramu!" bentak Gilang yang amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Daripada aku khilaf, dan menyeretmu keluar dari sini, lebih baik kamu meninggalkan rumah ini segera! aku tidak mau ada keributan di rumah ini," Gilang akhirnya dengan tegas mengusir Dania yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.
"Kamu mengusirku?" ucap Dania tidak percaya. "Kamu tega mengusirku?" ulangnya kembali.
Dania tercenung untuk beberapa saat, tidak percaya kalau Gilang sanggup mengusirnya. Dengan bersimbah air mata, wanita itu menoleh ke arah Cahaya, dan menatap tajam wanita itu.
"Puas kamu aku dimarahi dan diusirkan? asal kamu tahu pembantu sialan. Asal kamu tahu, bagaimanapun usahamu untuk menggoda Gilang, dia tidak akan pernah tertarik dengan wanita rendahan seperti kamu," lagi-lagi Dania menyalahkan Cahaya.
"KELUAR!" suara Gilang kembali menggelegar, memenuhi ruangan itu.
Dania menghentakkan kakinya dan berlari menuju pintu keluar.
Setelah tubuh Dania sudah tidak terlihat lagi, Melinda melangkah mendekati Cahaya yang masih terlihat shock dengan tuduhan Dania.
"Cahaya, maaf ya kamu baru saja bekerja di rumah ini, tapi sudah mengalami hal seperti ini. Dania memang seperti itu, terlihat cemburuan dan posesif," hibur Melinda dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Tapi, Oma kenapa malah cemburu padaku? bukannya dia katakan kalau dia jauh lebih baik dalam hal segalanya dibandingkan aku? jadi, kalau begitu kenapa dia harus takut kalau aku menggoda Tuan Gavin? apa aku terlihat seperti menggoda Tuan Gilang?" tanya Cahaya beruntun.
"Kamu tahu kenapa?" Cahaya menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tahu alasannya apa.
"Itu karena kamu cantik. Dia merasa takut kali Gilang akan jatuh hati padamu," jawab Melinda dengan menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
"Ehem, ehem," Gilang berdehem, karena merasa seperti dianggap tidak ada.
Kedua wanita berbeda usia itu sontak menatap ke arah Gilang. "Kenapa kamu sudah pulang, Lang? bukannya seharusnya kamu masih ada di kantor jam segini?" ucap Melinda dengan kening yang berkerut, karena memang wanita itu, belum diberitahu tentang siapa Cahaya.
"Emm, aku merasa tubuhku sedikit sakit,Oma. Makanya aku memutuskan untuk pulang lebih awal," jawab Gilang yang seketika merasa gengsi mengatakan kalau dia ingin melihat Cahaya. Setelah dipikir-pikir, dia sendiri bingung, kenapa dia bisa terburu-buru untuk pulang. Padahal kalau bertemu dengan Cahaya pun, dia sendiri juga tidak tahu mau mengatakan apa, karena tidak mungkin dia berterus terang kalau anak yang diselamatkan papanya Cahaya dulu, sehingga sampai meninggal dunia adalah, dirinya.
"Oh, seperti itu?" ucap Melinda sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Mungkin kamu kecapean karena terlalu banyak bekerja. Jadi, sebaiknya kamu istirahat dulu!" sambung Melinda kembali.
"Iya, Oma." Kemudian pria itu menoleh ke arah Cahaya yang kini juga terlihat sedang menatapnya. Namun begitu mata mereka bertemu, Cahaya sontak menundukkan kepalanya, tidak berani melihat mata Gilang.
"Oh ya, Cahaya, maaf ya, karena aku Dania jadi menuduhmu yang tidak-tidak. Tolong kamu jangan ambil hati ucapannya," ucap Gilang dengan nada suara yang lembut, hingga membuat Melinda mengrenyitkan keningnya, curiga. Bagaimana tidak, cucunya itu sangat jarang bisa berbicara dengan nada yang lembut pada wanita yang tidak dekat dengannya.
"Apakah Gilang, sudah jatuh cinta pada Cahaya?" batin wanita tua itu khawatir. Jujur Melinda, masih sangat berharap jika Gilang suatu saat menikah dengan Reyna.
"I-iya, Tuan! Terima kasih karena sudah membelaku tadi," sahut Cahaya, masih dengan kepala yang tertunduk.
"Gilang, kamu ikut oma sekarang, karena oma mau bicara sama kamu!" Melinda beranjak dari tempat dia duduk, dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Gilang.
Tbc
__ADS_1