Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Luapan hati Cahaya


__ADS_3

"Ada apa, Oma?" tanya Gilang tanpa basa-basi, setelah mereka sudah berada di sebuah ruangan tertutup.


"Kamu duduk dulu! tidak enak kan kalau bicara sambil berdiri?" ucap Melinda sembari menyilangkan kakinya.


Gilang menghela napasnya terlebih dulu, kemudian mendaratkan tubuhnya duduk di depan Melinda.


"Aku sudah duduk Oma. Sekarang Oma mau bilang apa?" tanya Gilang kembali, yang memang tidak terlalu suka berbasa-basi.


"Gilang, sekarang Oma mau tanya,apa kamu jatuh cinta pada Cahaya?" Melinda menatap tajam ke arah Gilang, meminta penjelasan.


Gilang mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa Omanya bertanya seperti itu.


"Kenapa Oma bisa berpikir kalau aku jatuh cinta dengan Cahaya?" Gilang balik bertanya.


"Kamu jawab dulu pertanyaan Oma! kenapa kamu malah balik bertanya," Melinda mulai terlihat kesal.


"Apa yang harus aku jawab Oma? justru Oma yang seharusnya menjawab pertanyaanku, kenapa Oma bisa sampai mempunyai pikiran seperti itu?"


Melinda menghela napasnya, karena dia sudah hapal dengan karakter Gilang cucunya.


"Oma tadi melihat kamu berbicara sangat lembut pada Cahaya, hal yang sangat jarang kamu lakukan pada orang yang baru kamu kenal karena itu Oma jadi curiga, kalau kamu sudah jatuh cinta dengan gadis itu," jelas Melinda, lugas.

__ADS_1


Gilang tersenyum tipis, "Apa aku salah kalau berbicara dengan lembut? jadi, Kalau dalam situasi seperti tadi, apa aku harus tetap bersikap dingin padanya?" tanya Gilang dengan mata yang memicing.


"Tentu saja tidak. Cuma yang tadi menurut Oma, kelembutan yang kamu suguhkan terlalu berlebihan. Oma tidak mau, kalau Cahaya sampai salah paham dan justru mengira kalau kamu memiliki perasaan padanya. Aku rasa dengan sikap kamu pada Dania tadi, dia cukup mengerti kalau kamu tidak mencintai Dania. Oma takut, kalau dia memanfaatkan situasi ini dengan berusaha menarik perhatianmu," tutur Melinda dengan raut wajah serius.


"Oma, aku bersikap lembut seperti tadi bukan karena jatuh cinta padanya, tapi karena dia adalah anak dari laki-laki yang sudah mengorbankan nyawanya untuk menolong aku dari kobaran api, waktu aku kecil dulu. Entah _"


"Apa? dia itu ...." pekik Melinda, memotong ucapan Gilang, dengan mata yang membesar karena terkesiap kaget.


"Iya, Oma. Apa papa dan mama belum mengabari Oma?" Melinda menggelengkan kepalanya.


"Jadi, dia adalah anak itu?" gumam Melinda, lirih dan bingung mau mengatakan apa lagi.


"Itu bukan salah kamu, Lang. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Mungkin ini sudah takdir, kalau papanya harus meninggal ketika melaksanakan tugas," hibur Melinda, menenangkan Gilang.


Gilang tidak merespon ucapan Omanya sama sekali. Pria itu justru terlihat menyenderkan tubuhnya, dan memejamkan matanya untuk sejenak.


"Jadi, apa langkah kamu selanjutnya? apa yang akan kamu lakukan pada Cahaya setelah ini? apa dia tahu, kalau kamu adalah anak yang diselamatkan oleh papanya?" tanya Melinda kembali, memecah keheningan yang sempat terjadi.


"Aku juga bingung, Oma. Mama bilang jangan memberitahukan dia apa-apa dulu untuk sementara ini, karena dia masih menyalahkan anak kecil yang diselamatkan papanya itu. Dia menganggap kalau anak kecil itu, menjadi penyebab papanya meninggal," jelas Gilang sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar terlihat frustasi.


"Seperti itu ya?" Melinda menghela napasnya dengan berat, karena sekarang wanita tua itu juga bingung.

__ADS_1


"Sekarang aku benar-benar bingung, Oma dengan apa yang harus kita lakukan sekarang. Kalau seandainya kita tiba-tiba sangat baik mengatakan padanya untuk tidak jadi pembantu lagi, dan memberikan sesuatu padanya untuk diusahakan atau hal baik lainnya tanpa sebab apapun, dia pasti curiga dan bertanya-tanya kenapa kita melakukan hal itu,pada orang yang baru dikenal,".


Melinda kembali menghela napasnya, tidak memberikan tanggapan apapun karena menurutnya apa yang dikatakan oleh Gilang benar adanya.


"Hmm, sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu. Biarlah nanti kita pikirkan jalan keluarnya," pungkas Melinda akhirnya, karena pikirannya juga sekarang tengah buntu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Cahaya sedang duduk merenung di ayunan taman belakang. Tatapan gadis itu tampak kosong, dan berkilat-kilat karena sudah penuh dengan cairan bening.


Gadis itu terlihat murung saat mengingat hinaan demi hinaan yang dia dapat, khususnya yang dia dapat hari ini dari Dania.


"Ma, Pa, Aku kangen! apa kabar kalian di surga sana? pasti bahagia kan? tentu saja bahagia, tidak mungkin tidak. Kalian berdua enak ya, sudah bisa bersama sekarang. Kalian memang egois! Kalian hanya mementingkan kebahagiaan kalian berdua dengan tega meninggalkan aku sendirian dia dunia ini. Kalian tidak mau repot ya mengurus aku, makanya kalian cepat pergi? padahal, aku sama sekali tidak nakal lho ma, pa. Aku sudah berusaha jadi anak yang baik selama ini. Ma, Pa aku sudah berjuang sampai sampai sejauh ini, aku kuat kan? tapi, jujur saja, aku sudah mulai capek, Mah, Pah. Aku capek berpura-pura kalau aku baik-baik saja. Kalau seandainya bunuh diri tidak dosa, aku ingin melakukannya agar aku bisa cepat menyusul kalian berdua ke surga sana. Apa daya, kalau aku bunuh diri, yang ada aku tidak akan bisa bertemu dengan kalian berdua, karena sudah dipastikan aku akan berada di neraka, tempat yang berbeda dengan tempat kalian berada. Tapi, sampai kapan aku harus mengahadapi hinaan orang-orang Ma, Pa? Aku benar-benar sudah capek. Bibirku tersenyum tapi hatiku menangis, aku benar-benar hebat kan, bisa seperti itu?" ucap Cahaya panjang lebar, menumpahkan segala isi hatinya. Bahkan air mata yang berusaha dia bendung, sudah berhasil lolos keluar dari matanya.


"Ma, Pa. Lihatlah aku menangis sekarang! aku tidak salahkan kalau aku menangis? kali ini izinkan aku menangis ya? kaliiii ini aja. Kalian berdua tenang saja, nanti aku akan kembali tersenyum lagi kok." sambung Cahaya kembali, sembari menyeka air matanya.


Tanpa disadarinya, Gilang yang awalnya ingin memenangkan diri ke taman belakang juga, mendengar semua luapan hati Cahaya yang benar-benar menyentuh hati. Tanpa disadari pria itu, setitik cairan bening menetes dari sudut matanya, dan buru-buru dia seka menggunakan jarinya.


Tbc


Mohon dukungan dong! jangan lupa like, vote dan komen, biar aku semakin semangat. Terima kasih, guys.

__ADS_1


__ADS_2