Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Rencana Gilang 1


__ADS_3

Gilang memutuskan untuk meninggalkan taman belakang dan berjalan menuju kamarnya. Pria itu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang miliknya.


Matanya menerawang menatap langit-langit, berusaha mencari cara bagaimana caranya bisa menembus rasa bersalahnya atas kematian ayahnya Cahaya. Namun pikiran pria itu masih saja buntu.


Gilang kemudian duduk, dan mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah menghela napas dengan sekali hentakan, pria itu berdiri dan beranjak menuju balkon kamarnya. Pria itu berencana untuk melihat pemandangan dari balkon kamarnya, untuk menyegarkan pikirannya yang kusut. Namun bukannya mendapatkan ketenangan dan pikiran yang segar, pria malah terlihat semakin suntuk, karena isi kepalanya tetap saja memikirkan cara membuat Cahaya bahagia tanpa membuat wanita itu merasa curiga sedikitpun.


"Hmm, sepertinya aku sudah menemukan caranya, dan menurutku hanya ini cara satu-satunya yang membuat dia tidak curiga," Gilang bermonolog, setelah menemukan sebuah ide.


"Ya, hanya ini caranya, tidak ada lagu cara lain," batin Gilang, semakin yakin dengan ide yang dia dapat.


Di saat bersamaan, Gilang melihat mobil yang dikemudikan oleh papanya memasuki pekarangan.


"Itu, papa dan mama sudah datang. Sepertinya aku harus membicarakan ini sekarang juga," Gilang berbalik, dan langsung melangkah keluar dengan sedikit berlari.


"Ma, Pa kalian sudah pulang?" sapa Gilang, begitu papa dan mamanya masuk ke dalam rumah.


"Belum!" sahut Gavin santai. "Kalau kami sudah ada di sini, itu berarti kami sudah pulang, jadi kenapa kamu menanyakan lagi?" sambungnya kembali begitu melihat kening Gilang yang berkerut menatapnya.


Gilang terkekeh dan sontak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, mendengar jawaban yang diberikan oleh sang papa


" Dimana Cahaya? apa kamu sudah menemuinya? kamu belum mengatakan apapun padanya kan?" Jelita buka suara dan bertanya beruntun.


"Terakhir kali, aku melihatnya di taman belakang, nggak tahu kalau sekarang. Untuk masalah itu, mama tenang saja, aku belum mengatakan apapun padanya," sahut Gilang,yang membuat Jelita mengembuskan napas lega.


"Syukurlah! ucap wanita setengah baya itu seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ma,Pa boleh kita bicara? ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan,"


Jelita dan Gavin tidak langsung menjawab. Mereka berdua saling silang pandang , dengan tatapan penuh tanya, mengenai apa yang hendak dibicarakan oleh putra mereka.


"Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Gavin, dengan tampang serius.


"Sebaiknya kita tidak bicara di sini. Takutnya ada orang yang mendengar pembicaraan kita," ucap Gilang, tidak kalah serius dari Gavin papanya.


"Kalau begitu kita ke ruang kerja papa saja," Gavin melangkahkan kakinya, menuju ruang kerja disusul oleh Jelita dan Gilang dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Gavin tanpa basa-basi setelah pria setengah baya itu, sudah duduk di atas sofa.


"Ma,Pa aku ingin menikahi Cahaya," ucap Gilang, lugas dan tanpa beban sama sekali.


"Menikah dengan Cahaya? apa kamu sudah gila?" pekik Jelita, dengan nada yang sedikit meninggi.


"Aku tidak gila, Ma," jawab Gilang tegas.


"Kalau kamu tidak gila, tapi Kenapa kamu mau menikah dengan Cahaya? apa karena dia putri dari laki-laki yang menyelamatkanmu? kita bisa saja membalas budi almarhum papanya Cahaya, tapi tidak harus menikahi Cahaya, Gilang," ujar Jelita dengan sedikit emosinya, tidak habis pikir kenapa putranya itu bisa sampai punya niat untuk menikahi Cahaya.


"Ma, kenapa aku bisa sampai berpikir seperti itu? karena hanya dengan caranya ini yang bisa membuat Cahaya tidak curiga dengan kebaikan yang akan kita berikan padanya. Coba mama bayangkan, kalau kita tiba-tiba saja menyekolahkan dia, lalu kita kasih dia sebuah usaha, rumah dan sebagainya. Apa menurut, Mama dia tidak akan curiga?"


"Jadi menurut kamu, kalau kamu tiba-tiba mengajak dia menikah, dia juga tidak akan curiga? apalagi dia tahu kalau kamu sudah bertunangan dengan Dania, apa kamu kira dia akan mau menikah denganmu? Gilang, Gilang, coba deh kamu berpikir waras," Jelita berdecak, menganggap putranya asal bicara saja tanpa berpikir terlebih dulu.

__ADS_1


"Ma, aku sudah memikirkan ini dengan matang-matang. Aku sudah punya cara untuk membuat dia bersedia menikah denganku, walaupun memang terkesan seperti pemaksaan dan sedikit kejam. Tapi, hanya ini cara satu-satunya, Ma." jelas Gilang dengan raut wajah yang sangat yakin.


"Cara seperti apa yang kamu maksud? kenapa kamu sangat yakin dengan caramu itu bisa membuat Cahaya bersedia menikah denganmu?" Gavin buka suara.


Gilang akhirnya menjelaskan semua rencananya dan alasan kenapa dia sangat yakin kalau Cahaya akan bersedia menikah dengannya.


"Kalau kamu menikah dengan Cahaya, jadi bagaimana dengan Dania? apa kamu tidak berpikir sampai ke sana? tolong jangan karena hanya ingin membalas kebaikan papanya Cahaya, kamu sampai menyakiti perasaan Dania. Bagaimanapun Dania itu tunangan kamu, Lang,"


Gilang bergeming mendengar ucapan mamanya. Kemudian, pria itu mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Ma, jujur saja aku tidak pernah punya niat untuk menikah dengan Dania. Aku sama sekali tidak pernah mencintainya. Alasan kenapa aku ingin menikahi Cahaya, selain ingin membalas budi, aku ingin menghindari pernikahan dengan Dania. Menurutku lebih baik aku menikah dengan Cahaya daripada harus menikah dengan seorang wanita yang sangat egois seperti Dania. Aku bisa cepat mati karena stress, jika menikah dengannya," Gilang mulai mengungkapkan isi hatinya selama ini.


"Oma setuju dengan Gilang," celetuk Melinda yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu. Karena terlalu serius berbicara, ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu, tidak menyadari kalau Melinda membuka pintu, dan mendengar


apa yang mereka bicarakan


"Mama! sejak kapan, Mama berdiri di sana?" tanya Gavin dengan ekspresi kaget.


"Sebenarnya sudah sejak tadi. Mama penasaran kenapa kalian bertiga masuk ke dalam ruangan ini, makanya mama ikutin kalian," sahut Melinda santai seraya melangkah mendekat.


"Kenapa Mama mengatakan setuju kalau Gilang menikah dengan Cahaya. Apa, Mama tahu kalau Gilang menikah dengan Cahaya, akan menimbulkan masalah yang sangat rumit? Denis dan Bella pasti akan merasa putri mereka dipermainkan, dan kemungkinan buruk lainnya, akan menimbulkan permusuhan di antara mas Gavin dan Denis," tanya Jelita.


"Kenapa kalian hanya memikirkan perasaan mereka? apa kalian pernah memikirkan perasaan putra kalian sendiri? apa kalian tidak memikirkan kebahagiaan putra kalian sendiri? asal kalian tahu, sudah bertahun-tahun Gilang, merasa tertekan dengan pertunangan yang sama sekali tidak dia inginkan ini," ucap Melinda dengan nada yang berapi-api.


"Tertekan? Gilang tertekan?" Gavin mengrenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Kpalau tidak percaya, tanya sendiri pada anaknya. Bukannya tadi dia sudah bilang kalau dia tidak pernah menginginkan untuk menikah degan Dania? apalagi coba itu namanya kalau bukan tertekan?" Melinda memasang wajah sinis.


Tbc


__ADS_2