
Wajah Gilang terlihat masam kalut seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, sembari mengetuk -ngetuk meja dengan jarinya. Itu terjadi ketika dia mendapat pesan dari Reyna yang mengatakan kalau ada pria yang sedang mendekati Cahaya istrinya.
"Wajahmu kenapa, Lang? kusut kaya kain yang belum disetrika," ledek Bayu.
"Bukan urusanmu! sekarang kamu kerjakan aja pekerjaanmu," sahut Gilang dengan ketus.
"Eits eits,ada apa ini sebenarnya? kenapa kamu jadi ketus padaku?" alis Bayu sedikit naik, menatap Gilang penuh selidik.
"Tadi Reyna kirim pesan, ngasih tahu kalau ada dosen muda mendekati Cahaya. Dan yang paling membuat aku kepikiran, katanya tadi Cahaya didatangi Dania ke kampus," jelas Gilang jujur.
"Wah, sepertinya kamu mendapatkan saingan berat. Pasti dosennya itu masih muda dan tampan. Bisa-bisa Cahaya akan merasa nyaman dengannya dan ujung-ujungnya jadi suka," goda Bayu, berusaha memprovokasi Gilang.
"Diam kamu! kalau kamu tidak bisa membantu setidaknya jaga bicaramu!" ucap Gilang dengan kesal.
"Santai, Sob! jangan marah-marah begitu. Apa kamu tidak capek marah-marah terus? lagian kenapa kamu jadi panik dan galau begitu? bukannya kamu tidak mencintai Cahaya?" Bayu mulai memancing kejujuran Gilang.
Gilang tercenung, mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Bayu.
"Iya ya, kenapa aku bisa jadi sepanik ini? apa aku sudah mulai mencintainya?" batin Gilang, gundah.
"Lang kenapa kamu diam?" Bayu kembali bersuara, menyadarkan Gila dari lamunannya.
"Aku begitu karena bagaimanapun Cahaya adalah istriku. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan adanya perasaan cinta," ucap Gilang, yang entah kenapa terasa berat untuk dia ucapkan.
"Sepertinya ucapanmu bukan dari hati. Aku yakin kalau sebenarnya kamu sudah mulai mencintainya,"
"Jangan asal bicara!" Gilang masih berusaha untuk menyangkal.
"Aku tidak asal bicara, Lang. Aku sudah mengenal karaktermu. Kamu itu pribadi yang cuek, untuk hal yang sama sekali tidak begitu penting bagimu. Aku yakin kalau sekarang Cahaya sudah menempati posisi yang sangat penting di hatimu makanya kamu bisa sepanik itu. Kamu takut kalau Cahaya diambil laki-laki lain," tutur Bayu dengan sangat yakin.
"Jangan sok tahu kamu!
"Bukan sok tahu, tapi memang__"
"Ahh, sudahlah! sekarang aku mau pergi!" Gilang berdiri dai kursinya dan hendak melangkah keluar.
"Kamu mau kemana?" cegah Bayu.
"Mau pulang!" jawab Gilang singkat, padat dan jelas.
"Pulang? ini masih banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan,"
"Kamu kerjakan aja sendiri. Pokoknya aku mau pulang!" Gilang tetap tidak merubah niatnya.
"Gila kamu! bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan kerjaan sebanyak ini sendirian," protes Bayu, panik.
"Bodo amat! aku pulang dan selamat bekerja!". Gilang melangkah keluar dari ruangannya, meninggalkan Bayu yang kesal.
"Sialan kamu Gilang! dasar orang gila! ngaku belum cinta tapi bisa segalau itu, karena dapat saingan," Bayu menggerutu tidak jelas sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, kenapa kamu sudah pulang jam segini?" Cahaya mengrenyitkan keningnya begitu melihat Gilang masuk ke dalam kamar.
"Emangnya kenapa? aku ini bosnya jadi suka-sukaku mau cepat pulang atau tidak," sahut Gilang dengan ketus, hingga membuat cahaya mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Mas, aku kan hanya bertanya. Kenapa kamu menjawab seketus itu?" ucap Cahaya, lirih.
Gilang seketika merasa bersalah melihat wajah sendu Cahaya.
"Astaga,kenapa aku bisa sekesal ini? harusnya aku bertanya apa yang dilakukan Dania tadi pagi padanya, bukannya marah-marah tidak jelas seperti ini," Gilang membantin,meras menyesal.
"Maaf! mungkin karena aku merasa capek aja," ucap Gilang kembali lembut.
"Kamu capek ya? kalau begitu,Mas istirahat aja dulu," ucap Cahaya sembari menepuk-nepuk ranjang di sampingnya.
"Emm,badanku pegal-pegal, apa kamu bisa memijat?" Gilang mendekat naik ke atas ranjang.
"Heh, memijat?" Cahaya benar-benar terlihat bingung.
"Iya, memijat? kamu tahu arti memijat kan?"
" Tau-tau,Mas," jawab Cahaya, gugup.
"Hmm, kalau begitu apa kamu tahu juga caranya?"
"Tidak apa-apa! yang penting kamu pijat dulu. Kamu mau kan?" Cahaya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Cahaya beranjak turun dari atas ranjang dan hendak berlalu pergi.
"Aya, kamu mau kemana? bukannya aku memintamu untuk memijatku?"
"Iya, Mas."jawab Cahaya dengan wajah polosnya.
"Itu kamu tahu. Tapi kenapa kamu malah pergi?"
"Aku mau ngambil minyak urutnya, Mas. Karena tanpa itu, di samping kita nggak nyaman mijatnya, nggak ada gunanya juga dipijat," jelas Cahaya.
"Oh begitu ya? hmm kenapa kamu tidak telepon ke bawah aja?minta mbak Rini mengantarkannya," Gilang mengerenyitkan keningnya merasa bingung dengan sikap Cahaya yang suka menyusahkan diri sendiri.
"Aku nggak mau nyusahin Mbak Rini nya ,Mas. Lagian aku segan. Nanti aku dikirain sudah belagak jadi nyonya," jelas Cahaya.
"Ya udah kalau begitu, kamu tetap di sini saja,biar aku yang telepon ke bawah,"
Cahaya kembali naik ke ranjang dan Gilang menelepon ke bawah.
"Aya, sembari kita nunggu Mbak Rini, aku dengar kamu didatangi sama Dania, apa itu benar?"
Cahaya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak kasih tahu ke aku? kamu diapain aja sama dia? apa kamu baik-baik saja?" tanya Gilang sembari membolak-balikkan tubuh Cahaya.
"Aku nggak, pa-pa,Mas. Akumasih bisa mengatasinya, makanya aku pikir nggak perlu harus kasih tahu kamu," jawab Cahaya, lugas.
"Bukan masalah kamu bisa mengatasinya, tapi ini masalahnya Dania itu sudah mulai curiga. Yang secara tidak langsung, dia akan mengawasi kamu terus," ucap Gilang dengan lembut.
Di saat bersamaan pintu di ketuk dari luar dan Cahaya langsung beranjak untuk membukakan pintu, siapa lagi yang datang kalau bukan Rini.
"Maaf ya,Mbak! Mbak jadi capek naik ke atas," ucap Cahaya merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, Aya! aku turun lagi ya!" Cahaya menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Mas, ka-kamu buka dulu bajunya," ucap Cahaya dengan gugup.
"Buka baju? kamu tidak akan ngapa-ngapain aku kan?" tanya Gilang, yang tiba-tiba ingin sekali menggoda Cahaya.
"Te-tentu saja tidak, Mas. Kan Mas yang sendiri yang minta dipijat," semburat merah seketika menghiasi pipi putih Cahaya.
Gilang mengulum senyumnya. Entah kenapa dia merasa suka melihat pipi Cahaya yang memerah.
"Selain baju, apa aku juga harus buka celana?" goda Gilang kembali.
Pipi Cahaya semakin memerah, mendengar ucapan Gilang.
"Kamu pakai pemerah pipi brand apa sih? kenapa pipi kamu merah sekali," ledek Gilang tersenyum tipis, hampir tidak terlihat.
"Mas Gilang! kamu benar-benar mau dipijat atau mau terus meledek aku? kalau mau terus meledek, aku sebaiknya pergi," Cahaya mulai tampak kesal, sehingga tanpa sadar dia meninggikan suaranya di depan Gilang.
"Wah, kamu sudah berani ya, meninggikan suara di depanku," Gilang berpura-pura memasang wajah dingin.
"Ma-maaf,Mas, aku tidak sengaja," Cahaya seketika menundukkan kepalanya, sembari menggigit bibir bawahnya.
"Hmm, aku maafkan! sekarang kamu sudah bisa memijatku," Gilang duduk membelakangi Cahaya dengan tubuh atas yang sudah polos.
"Mas, apa kamu pulang diantar sama Kak Bayu? dimana dia sekarang?" tanya Cahaya di sela-sela kegiatan memijatnya.
Gilang sontak menjauhkan tubuhnya dari Cahaya dengan wajah masam, hingga membuat kening Cahaya berkerut.
"Beraninya dia menanyakan laki-laki lain di depanku," Gilang menggerutu di dalam hati.
"Mas, kenapa? apa pijatanku nggak enak?" tanya Cahaya, was-was.
"Tidak apa-apa!" jawab Gilang,ketus, sembari turun dari atas ranjang.
"Oh ya, besok sepulang kuliah kamu langsung ke kantorku. Tidak ada namanya makan siang dengan laki-laki lain,camkan itu! Gilang beranjak masuk ke dalam kamar mandi.
"Heh, kok mas Gilang bisa tahu?" gumam Cahaya dengan kening berkerut.
"
__ADS_1