Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Dua kabar bahagia


__ADS_3

Waktu berjalan dengan begitu cepat, tidak terasa waktu melahirkan buat Cahaya tinggal menunggu hari saja. Beberapa hari ini, Cahaya bahkan sudah mengalami beberapa kali kontraksi, tapi tidak lama.


Hari ini, kediaman Maheswara terlihat ramai didatangi para tamu, karena keluarga itu mengadakan acara pertunangan Grizelle dan Bayu. Bayu tampak tampan dengan tuxedo hijaunya, demikian juga Grizelle tampak cantik dan anggun dengan gaun berwarna cream yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Rambut wanita itu dibuat tergerai dan bergelombang, dengan sebuah jepitan kupu-kupu.



"Bay, coba lihat ke sini!" ucap Gilang, sembari mengarahkan kamera untuk mengambil photo sahabat yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu.


Bayu menoleh dan langsung mengangkat jarinya membentuk huruf V.



Acara tukar cincin akhirnya berjalan dengan lancar dan acara pernikahan akan dilaksanakan dua bulan setelah acara pertunangan ini.


Para tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara. Wajah mereka terlihat puas dengan jamuan yang disediakan oleh tuan rumah. Satu-satunya orang yang terlihat muram di acara itu adalah Darell. Pria itu merasa kalau harapan untuk bisa memiliki Grizelle sudah sepenuhnya tidak ada lagi, karena dia bukan tipe laki-laki yang ingin memaksakan sesuatu yang bukan untuknya.


"Kamu yang sabar ya! suatu saat kamu pasti akan bisa menemukan seorang wanita yang memang ditakdirkan untukmu," ucap Sandi, yang paham betul dengan apa yang dirasakan oleh adik iparnya itu.


Darell tidak menjawab sama sekali, tapi pria itu hanya menerbitkan sebuah senyuman untuk kakak iparnya itu.


Sementara itu, di depan sana tampak Bayu menyikut pelan tubuh Grizelle dan mendekatkan bibirnya ke telinga gadis yang sudah menjadi tunangannya itu.


"Kamu benar-benar seperti princess hari ini, Sayang!" bisik Bayu, membuat semburat merah muncul di pipi Grizelle.


"Kamu juga tampan, seperti pangeran!" balas Grizelle dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Pangeran kodok maksudnya," celetuk Gilang yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka dan mendengar bisik-bisik dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.


"Cih, bilang aja kamu iri!" Bayu memasang wajah kesalnya.


"Buat apa aku iri? aku tampan, kaya, calon hot daddy, ngapain aku iri pada kamu yang titik titik, kamu sambung aja sendiri dalam hati," ucap Gilang, dengan gaya angkuhnya. Seandainya mereka baru kenal, mungkin Bayu akan sakit hati pada ucapan Gilang, tapi karena sudah terbiasa, Bayu justru hanya menyeringai sinis.


Gilang tiba-tiba tersentak kaget, begitu mendapat cengkraman kuat di lengannya dari Cahaya. Pria itu sontak menoleh ke arah Cahaya dan melihat wajah istrinya itu sudah pucat dan seperti menahan sakit.


Kamu kenapa sayang? wajah kamu kok pucat?" tanya Gilang panik dan suara yang sedikit tinggi.


Pertanyaan Gilang, seketika membuat Semua mata menoleh ke arah sepasang calon orang tua itu


"Perutku s-sakit,Mas!" sahut Cahaya dengan wajah yang terlihat seperti ingin menangis, sembari memegangi bawah perutnya.


"Sakit? kok bisa? kamu makan apa tadi?" tanya Gilang dengan alis bertaut


Plakk ... tangan Jelita tiba-tiba melayang,ke kepala Gilang, hingga membuat pria itu meringis kesakitan sembari mengelus-elus kepala, bekas pukulan Jelita mamanya.


"Apaan sih, Mah? kenapa Mama memukulku?"


"Dasar gendeng, masih sempat-sempatnya kamu bertanya istrimu makan apa. Cahaya mau melahirkan itu!"

__ADS_1


Apaaaa?!"pekik Gilang dan langsung kalang kabut tidak tahu berbuat apa-apa. Sedangkan Cahaya terlihat semakin meringis kesakitan.


Dari kaki Cahaya tiba-tiba merembes air, bercampur sedikit darah.


"Gilang, buruan bawa istrimu ke rumah sakit, air ketubannya sudah pecah!" teriak Reyna.


"Cara bawanya gimana?"Entah kenapa Gilang tiba-tiba seperti orang bodoh.


Melihat Gilang yang sepertinya bingung, Bayu sontak bergerak dan berinisiatif menggendong Cahaya. Akan tetapi, di saat Bayu hendak menggendongnya, Gilang langsung tersadar, dan sontak memukul tangan Bayu.


"Jauhkan tanganmu! biar aku yang menggendongnya!" Gilang mengambil alih Cahaya dari tangan Bayu. Kemudian pria itu berlari keluar, disusul oleh Reyna dan Randi dari belakang. Karena yang akan menolong persalinan Cahaya adalah Reyna sendiri.


"Lang, biar aku yang menyetir mobilnya. Kamu di belakang aja buat nenangin Cahaya," ucap Randi setelah mereka ada di dalam mobil.


Sementara itu, Jelita juga tidak mau tinggal diam. Wanita itu dengan sigap langsung pergi ke kamar bayi yang sudah disiapkan sebelumnya untuk mengambil perlengkapan melahirkan Cahaya.


Setelah itu, semuanya bergerak menyusul Gilang ke rumah sakit.


30 menit kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Gilang langsung menggendong Cahaya keluar dari dalam mobil, dan membaringkannya di atas brankar yang sebelumnya sudah tersedia di depan rumah sakit. Para perawat, lalu bergerak cepat membawa Cahaya ke ruang bersalin.


"Tolong istriku, Reyna! Aku sekarang mempercayakan Cahaya padamu!" ucap Gilang dengan raut wajah khawatir.


"Tentu saja! aku akan melakukan yang terbaik untuk Cahaya," sahut Reyna tegas. Padahal, kalau boleh jujur, ingin rasanya dia memberikan penanganan persalinan Cahaya pada dokter lain, karena wanita itu tiba-tiba merasa pusing. Namun, dia merasa tidak enak untuk mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh Gilang padanya.


"Sabar ya Gilang, berhubung Cahaya sudah pecah ketuban, aku akan periksa dulu persediaan air ketubannya, apakah masih memungkinkan untuk, melahirkan normal atau kita harus melakukan operasi cesar." ucap Reyna lagi.


Reyna pun mulai melakukan USG terlebih dahulu untuk melihat persediaan air ketuban Cahaya.


"Ok, stok air ketuban masih cukup dan kondisinya tidak keruh. Jadi, masih bisa untuk melahirkan normal. Kita tinggal memantau pembukaannya saja sampai, nanti pembukaannya sempurna." tutur Reyna, seraya meletakkan kembali probe ke tempat semula.


"Sakit,Mas ... sakit!" Cahaya merintih sembari mencengkram kuat lengan Gilang.


"Iya, Sayang. Kamu itu wanita kuat, aku yakin itu. Ayo tarik dulu napasmu dan jangan buang kembali," ucap Gilang memberikan semangat.


Sakit, Mas!" Cahaya tidak berhenti merintih, hingga membuat kedua mata Gilang berkaca-kaca, dan kalau boleh, dia ingin menggantikan Cahaya untuk merasakan sakitnya.


"Sabar, Sayang! kamu pasti kuat! Ingat saja kalau sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak-anak kita." Gilang menggenggam erat tangan Cahaya dan mengecup kening istrinya itu berkali-kali untuk memberikan semangat.


"Reyna, apakah masih lama? kenapa kamu belum memulai persalinannya?"


"Sabar, Lang! pembukaan Cahaya masih di pembukaan 4 menuju ke 5. Tunggu sampai pembukaannya sepuluh baru bisa dikatakan sempurna, dan bayi siap untuk dilahirkan," jelas Reyna,sabar dan lembut.


"Jadi, harus menunggu berapa lama lagi, Reyna? aku sudah tidak kuat melihat dia kesakitan seperti ini," ucap Gilang frustasi.


"Gilang, please jangan berisik! seharusnya dari awal sebelum melakukan proses pembuatan bayi, kamu harusnya berpikir akibatnya. Ya ini, akibat perbuatanmu,Lang. Jangan pas melakukan prosesnya kamu keenakan, giliran ada hasilnya, kamu tidak kuat melihatnya," sindir Reyna yang merasa jengah melihat sikap Gilang dari tadi.


Gilang terdiam, tidak berani untuk berkata-kata lagi. "Beginilah nasib jika yang menolong persalinan, orang yang kita kenal. Sesuka hatinya aja mau ngomong apa," gumam Gilang yang membuat Reyna terkekeh.

__ADS_1


Cahaya meraup oksigen di sekitarnya dengan dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali dengan cukup panjang. Wanita itu melakukan aktifitas itu berkali-kali, dengan tangan yang menekan-nekan perutnya. Peluh dari tadi, udah mengalir deras dari pelipis wanita itu.


Gilang, berdiri dengan kaki gemetar, tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan. Lengan pria itu kini sudah memerah, karena remasan kuat dari tangan istrinya itu. Akan tetapi, Gilang sama sekali tidak memperdulikan rasa perih di lengannya, karena rasa sakit yang dia rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit yang sekarang dirasakan oleh Cahaya


"Sakit!" terdengar kembali suara rintihan dari mulut Cahaya, membuat Gilang kembali panik.


"Reyna, please cari jalan lain, agar Cahaya tidak kesakitan lagi!" mohon Gilang yang tanpa sadar menangis melihat kesakitan yang dialami oleh istrinya itu.


"Lang, please jangan panik. Rasa sakit ini mau tidak mau memang harus dirasakan. Justru dalam melahirkan itu, rasa sakit ini yang dicari," Reyna berusaha menenangkan Gilang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Lang, pembukaannya sepertinya sudah sempurna. Bayi-bayimu siap untuk dilahirkan.Tolong berikan dukungan buat Cahaya ya!" Gilang, menganggukan kepalanya mengiyakan.


"Ayo, Cahaya. Kamu pasti bisa!" Reyna memberikan semangat dengan tersenyum lebar, menahan rasa pusing yang semakin menjadi.


Cahaya mengejan berkali-kali dengan peluh yang sudah banjir di keningnya.


"Ayo, Cahaya, semangat! kepalanya sudah terlihat. Jangan lama-lama, Cahaya, kasihan bayinya." Reyna kembali memberikan semangat.


"Ayo, Sayang kamu pasti bisa. Ingat sebentar lagi, kita akan bertemu dengan anak-anak kita. I Love You!" Gilang juga tidak mau tinggal diam. Pria itu ikut memberikan semangat, dengan tangan yang menggenggam erat tangan sang istri serta mengecup puncak kepala istrinya itu dengan penuh perasaan.


Ucapan cinta Gilang, seakan menjadi kekuatan baru buat Cahaya. Dengan mengerahkan semua tenaganya akhirnya ruangan itu dipenuhi suara tangisan bayi berjenis kelamin laki-laki. Putra mereka lahir dengan selamat, tidak kurang satu apapun. Selang beberapa menit, suara tangisan bayi berjenis kelamin perempuan juga terdengar. Gilang tidak bisa menahan lagi air matanya. Pria itu kini terlihat menangis, melihat dan mendengar tangisan putra dan putrinya.


Reyna menyerahkan bayi-bayi itu ke tangan dua orang perawat untuk segera dibersihkan. Setelah kedua bayi itu sudah ada di tangan dua perawat itu, Reyna sudah tidak bisa lagi menahan rasa pusingnya, hingga wanita itu tiba-tiba jatuh pingsan. Beruntungnya sebelum tubuh Reyna jatuh ke lantai, Gilang sudah lebih dulu menangkap tubuh wanita itu.


Rasa haru seketika berubah menjadi kepanikan. Gilang seketika memanggil Randi untuk masuk ke dalam dan meminta pria itu untuk membawa Reyna ke dokter lain.


Randi seketika panik dan tanpa berpikir panjang langsung membawa Reyna keluar dari ruangan Cahaya.


"Tolong periksa istriku! dia tiba-tiba pingsan setelah menolong persalinan Istrinya Gilang," pinta Randi dengan napas memburu dan panik.


"Tenang dulu, Pak! kami akan memeriksa dokter Reyna dulu!" ucap dokter itu menenangkan Randi.


Dokter itu kemudian mulai melakukan pemeriksaan dan tersenyum simpul. Lalu sang dokter berbalik menoleh ke arah Randi yang masih panik.


"Pak Randi, dokter Reyna tidak apa-apa! ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil muda," terang dokter itu sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.


"Maksudnya?" Randi masih belum peka,mencerna ucapan sang dokter.


"Pak Randi, dokter Reyna sedang hamil," dokter itu mengulangi ucapannya.


Randi tercenung seperti orang bodoh, merasa yakin tidak yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. Setelah dia merasa kalau apa yang baru saja dia dengar adalah nyata, mata Randi seketika langsung berembun. Pria itu merasa semuanya terasa indah sekarang.


"Istriku Hamil,Dok?" Randi kembali memastikan. Randi akhirnya melompat kegirangan setelah melihat dokter itu kembali menganggukkan kepalanya.


Tbc

__ADS_1


Tbc


__ADS_2