Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Randi tahu yang sebenarnya.


__ADS_3

"Dia bukan pembantuku maupun simpananku, tapi dia itu istriku," tegas Gilang, tidak mengindahkan permintaan Cahaya.


Randi bergeming dan mulutnya seperti terkunci untuk beberapa saat.


"Istri?" gumam Randi, susah untuk percaya.


"Iya! dia istriku!" tegas Gilang, mantap.


Randi sontak menatap ke arah Cahaya, seperti menuntut penjelasan.


"Kenapa kamu berbohong, Cahaya? setiap aku tanya siapa yang mengantarkanmu kuliah, kamu selalu jawab 'majikanku'. Apa ini alasan kamu juga, menolak makan siang denganku saat itu?"


"Jadi, kamu dosen yang mengajak istriku makan siang?" pekik Gilang, tiba-tiba dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Iya, itu aku! Aku suka pada Cahaya, tapi itu karena aku tidak tahu sama sekali kalau dia itu istrimu," ucap Randi dengan melirik sinis ke arah Cahaya.


"Maaf, Pak Randi. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk berbohong, tapi aku punya alasan kenapa aku tidak berterus terang," jawab Cahaya sembari menundukkan kepalanya.


"Alasan? apa alasannya karena kamu tidak ingin dihina dan dicap pelakor oleh orang-orang? karena setahu aku dan orang-orang juga tahu, kalau Gilang sudah bertunangan," ucap Randi, sinis.


"Jangan sembarangan ngomong!" Gilang marah, karena melihat Cahaya mulai terpojok.


"Jadi apa dong alasannya?" tanya Randi, tidak merasa gentar melihat raut wajah Gilang.


"Kamu tidak perlu tahu alasannya,karena ini bukan untuk konsumsi publik," jawab Gilang, tegas dan lugas.


Randi mendengus dan menatap ke arah Cahaya dengan tatapan merendahkan. "Aku kasihan padamu, Cahaya. Sudah menikah tapi dirahasiakan. Itu sama saja kalau kamu tidak dianggap istri di depan umum. Apa karena Gilang kaya, makanya kamu mau menikah dengannya? kalau iya, berarti kamu sama aja dengan wanita- wanita materialistik di luar sana," lagi-lagi Randi berucap dengan raut wajah sinis.


"Pak Randi, dari tadi anda sepertinya sudah keterlaluan,menghina Cahaya. Kamu itu tidak tahu apa-apa, jadi jangan menuduh sembarangan!" Gilang terlihat masih berusaha untuk berbicara tanpa suara yang tinggi, karena dia yakin kalau itu sempat terjadi, pasti akan jadi bahan tontonan pengunjung di restoran itu


"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!" Gilang mengangkat tangannya, begitu melihat kalau Randi hendak buka suara lagi.


"Untuk masalah pernikahan kami yang sampai sekarang masih ditutupi, itu karena suatu hal yang sepertinya, kamu tidak perlu tah. Asal kamu tahu, aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkannya. Untuk masalah pertunanganku dengan Dania, itu bukan karena aku dan dia saling mencintai, tapi karena sesuatu hal juga. Apa menurutmu, aku harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai?" sambung Gilang kembali dengan raut wajah dingin.


"Walaupun kamu tidak mencintai, Dania setidaknya kamu harus membatalkan pertunangan dulu, sebelum kamu menikah. Apa dengan begini kamu tidak termasuk telah mempermainkan seorang wanita?" sahut Randi.


"Seperti yang aku katakan tadi, Pak Randi,aku punya alasan kenapa tidak membatalkan pertunangan lebih dulu. Dan sekali lagi aku tekankan, apapun alasannya, kamu tidak berhak tahu.Ayo, Cahaya!" Gilang meraih tangan Cahaya dan hendak beranjak dari tempat duduknya.


Tanpa mereka sadari, Reyna yang ingin makan siang juga di tempat itu, ternyata sudah berdiri di dekat meja mereka dan mendengar apa yang sedang mereka debatkan.


"Kak Reyna!" gumam Cahaya dengan sangat lirih.

__ADS_1


"Reyna, kami pergi dulu!" Gilang yang sudah dikuasai amarah, kembali meraih tangan Cahaya dan mengajaknya keluar.


Sementara itu, Bayu menggaruk-garuk kepalanya, bingung mau ngelakuin apa.


"Kalau begitu, aku juga pamit pergi, Pak Randi, Reyna!" Bayu berdiri dari kursinya dan menuju kasir untuk membayar pesanannya, Gilang dan juga Cahaya, walaupun belum dimakan sama sekali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Boleh aku duduk di sini?" Reyna buka suara,minta izin dulu pada pria yang wajahnya sedang suntuk itu.


"Silakan!" jawab Randi, malas.


Reyna menghela napasnya dengan cukup berat, kemudian duduk di samping Randi.


"Inilah alasan kenapa aku kemarin mengatakan kalau kamu mustahil bisa mendapatkan Cahaya, karena aku tahu kalau dia sudah menikah," ucap Reyna, setelah diam beberapa saat.


"Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku? kenapa kamu biarkan aku menaruh harapan tinggi, padanya?" ujar Randi dengan tatapan tajam menuntut penjelasan.


"Karena seperti yang dikatakan Gilang tadi, kalau pernikahan mereka masih dirahasiakan. Jadi aku merasa kalau bukan ranahku untuk memberitahukan ke kamu. Aku hanya ingin kamu tahu sendiri, bukan karena aku kasih tahu. Maaf kalau kamu sudah sempat menaruh harapan pada Cahaya," jawab Reyna dengan raut wajah, bersalah.


Randi, tidak menyahut lagi. Hati pria itu benar-benar sakit, seperti diserbu oleh ribuan jarum.


"Bu-bukan!"bantah Reyna, gugup.


Randi memicingkan matanya, berusaha membaca kejujuran Reyna lewat raut wajah wanita itu. Sementara itu, Reyna merasa sangat risih dan sontak mengalihkan tatapannya ke arah lain.


"Aku sudah menemukan jawabannya! ucap Randi dengan tersenyum smirk.


"Ja-jawaban apa?" tanya Reyna masih dengan suara yang bergetar.


"Aku sudah tahu, kalau pria yang membuat kamu patah hati dan menangis ,itu benar-benar Gilang. Kamu tidak usah menyangkal lagi!"


"Jangan sok tahu!" Reyna masih berusaha untuk menyangkal.


"Aku tidak sok tahu, tapi aku sangat yakin kalau dugaanku benar, dan kamu tidak bisa mengelak lagi," Randi tetap kekeuh dengan pendapatnya.


"Kalau memang dia kenapa?" Reyna sontak menutup mulutnya, karena tanpa sadar sudah mengakui kalau pria yang masih menjadi pemilik hatinya itu adalah Gilang.


"Akhirnya kamu mengakuinya," ucap Randi, menyeringai sinis.


"Ok,aku sudah mengakuinya, tapi seperti yang aku katakan tadi malam, kalau aku sudah ikhlas karena aku tahu apa alasan di balik pernikahan mereka,"

__ADS_1


"Tadi malam kamu mengatakan kalau kalian dulu saling mencintai, tapi kamu rela melepaskan dia dengan gadis lain, karena sebuah alasan. Gadis itu pasti Dania kan?" tukas Randi dengan sangat yakin.


"Iya," jawab Reyna, lirih. "Itu karena dia sudah mencintai Gilang dari kecil,tapi tidak dengan Gilang. Dia murka begitu tahu kalau aku dan Gilang ada hubungan, lalu dia berniat bunuh diri. Aku tidak mau itu sampai terjadi, karena kami sudah bersahabat sejak kecil. Karena itulah aku meminta Gilang untuk menerima cinta Dania. Jadi, itulah alasan kenapa Gilang bisa bertunangan dengan Dania," sambung Reyna, lagi dengan raut wajah yang sendu.


"Jadi kenapa Gilang menikah dengan Cahaya? kenapa kamu tidak marah? bukannya dengan begini, pengorbananmu dulu itu sia-sia?" Randi berusaha mengorek informasi dari Reyna untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Tidak ada yang sia-sia! sebelum Gilang menikah,dia lebih dulu izin padaku, dan mengatakan alasan kenapa dia harus menikah dengan Cahaya, dan kenapa pernikahan mereka harus dirahasiakan. Itu semua dia lakukan demi melindungi Cahaya dari murka Dania. Kamu pasti sudah tahu, bagaimana karakter Dania yang sebenarnya kan?"


Randi tidak menjawab sama sekali. Ingatan tentang cara Dania yang memaki Cahaya dan tentang wanita itu yang hampir menjerumuskan Reyna, kembali berkelebat di pikirannya.


"Dia itu orang yang paling egois yang pernah aku kenal, Rand. Apapun yang dia inginkan harus bisa dia dapatkan, bagaimanapun caranya, termasuk ingin memiliki Gilang seutuhnya. Aku sendiri sahabatnya mau dikorbankan hanya demi keuntungan dia pribadi. Jadi, sebenarnya kalau boleh memilih, Gilang juga tidak ingin pernikahannya dengan Cahaya ditutupi. Banyak hal yang akan terjadi kalau pernikahan mereka diumumkan, yang pastinya akan menimbulkan spekulasi-spekulasi negatif dari orang-orang, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi perusahaan. Aku rasa kamu yang berkecimpung di dalamnya pasti tahu apa yang akan terjadi," jelas Reyna kembali dengan panjang lebar.


"Tadi malam kamu mengatakan kalau Gilang menikahi Cahaya, karena ada alasannya. Apa aku boleh tahu?"


"Maaf, aku tidak bisa memberitahukanmu, karena aku tidak punya hak untuk itu," jawab Reyna dengan tegas.


"Kalau begitu, aku bisa menyimpulkan kalau pernikahan mereka bukan karena saling mencintai. Cahaya pasti terpaksa menikah dengan Gilang, agar dia bisa hidup mewah, dan tentu saja bisa kuliah. Kalau begitu, itu berarti aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan Cahaya, karena aku yakin kalau Gilang tidak mencintai Cahaya,"


"Apa kamu lupa, kenapa aku bisa menangis tadi malam? itu karena aku melihat bagaimana khawatirnya Gilang pada Cahaya. Gilang memeluk Cahaya dengan erat dan benar-benar takut kalau Cahaya dilukai oleh Dania. Karena sebelumnya Dania menjambangi Cahaya. Dari situ aku sudah yakin kalau Cahaya sudah berhasil menempati hati Gilang. Dan bagaimana menurutmu tadi? apa yang kamu lihat? apa kamu melihat kalau tidak ada cinta di antara mereka?"


Randi kembali terdiam, karena memang apa yang dilihatnya tadi, Gilang benar-benar melindungi Cahaya dan sangat marah karena dirinya sudah berani menghina istrinya itu


"Satu lagi, untuk masalah dia menikah dengan Gilang karena ingin hidup mewah dan bisa kuliah, kamu salah. Cahaya bukan orang seperti itu," tegas Reyna.


"Reyna, aku sebenarnya sangat ingin tahu apa alasan Gilang menikah dengan Cahaya, dan kenapa Cahaya mau menikah. Aku janji kalau aku tahu apa alasan sebenarnya, aku tidak akan mengusik Cahaya lagi. Dan seperti kamu,aku akan mengiklaskannya." kali ini terlihat wajah Randi benar-benar memelas, karena sumpah demi apapun,pria itu benar-benar sangat penasaran.


"Apa kamu bisa dipercaya?" tanya Reyna memastikan.


"Iya! kamu bisa pegang kata-kataku!" tegas Randi dengan sangat yakin.


Reyna menatap intens ke mata Randi untuk memastikan kesungguhan pria itu. Wanita itu kemudian mengembuskan napas, setelah melihat dari mata pria itu ada kesungguhan.


Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya Reyna pun menceritakan alasan Gilang menikahi Cahaya karena ingin balas budi, sekaligus untuk bisa menghindari pernikahan dengan Dania. Kemudian, Reyna juga menceritakan alasan Reyna menerima pernikahan demi anak-anak panti, dan mendapatkan kembali rumah orangtuanya.


"Begitulah yang sebenarnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, mereka berdua yang dulunya tidak memiliki perasaan apa-apa, sekarang cinta itu sepertinya sudah mulai tumbuh. Karena memang dari awal Gilang sudah menekankan tidak akan menceraikan Cahaya dan belajar mencintanya. Cahaya adalah wanita yang memiliki aura positif, sehingga mudah membuat pria jatuh cinta padanya, sama seperti kamu yang dengan cepat jatuh cinta padanya," pungkas Reyna mengakhiri ceritanya.


Randi menghela napasnya, dan tiba-tiba perasaan bersalah timbul di hatinya karena tadi sempat berpikir negatif pada Cahaya.


Tbc


Maaf ya, kalau hari ini telat upnya. Karena hari ini aku membantu membuat tugas prakarya anakku, yang ribetnya minta ampun. 😁😁Harap dimaklumi.

__ADS_1


__ADS_2