
Denis kembali ke kediamannya dengan perasaan hati yang campur aduk. Dia tidak bisa memungkiri kalau sebenarnya perasaannya sekarang sedangkan kalut memikirkan apa yang akan terjadi pada putrinya, jika tahu kenyataan kalau Gilang sudah menikah. Apalagi nanti kalau Dania tahu Gilang menikah dengan seorang pembantu. Denis yakin kalau nantinya Dania akan merasa terhina, karena bisa dikalahkan dengan seorang wanita yang dianggapnya sangat jauh di bawahnya.
Bella berdiri di teras rumah, untuk menyambut suaminya itu. Keningnya seketika berkerut begitu melihat raut wajah Denis.
"Kamu kenapa, Sayang? apa Reynaldi sama sekali tidak mau memaafkanmu?" tanya Bella.
"Bukan! Rey sudah memaafkanku," jawab Denis,lesu.
"Jadi,kamu kenapa?" desak Bella, penasaran.
Denis tidak langsung menjawab, pria itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Sementara itu,Bella yang sangat penasaran menyusul sang suami ke dalam dan duduk di samping pria itu.
"Gilang ternyata sudah menikah," Denis buka suara, dengan kalimat yang membuat Bella tersentak kaget.
"Sudah menikah? dengan siapa? apa dengan Reyna?" tanya Bella beruntun dengan wajah yang memerah. Jujur saja, walaupun dia tidak terlalu menginginkan pernikahan Dania dan Gilang, tapi sebagai seorang ibu, tentu saja akan merasa sakit. Apalagi keluarga Maheswara tidak mengabari mereka dan membatalkan pertunangan lebih dulu.
"Bukan!" jawab Denis singkat.
"Kalau bukan dengan Reyna, dengan siapa lagi? dan kenapa mereka tega seperti itu pada keluarga kita?" suara Bella mulai meninggi.
Denis menghela napas terlebih dulu dan akhirnya menceritakan tentang semua yang terjadi dengan jelas,tanpa menambahi ataupun mengurangi
Bella bergeming, rasa amarah yang sempat singgah di hatinya tiba-tiba menguap entah kemana.
"Sepertinya, memang harus seperti ini,Sayang. Aku juga tidak menjamin kalau Gilang bisa mencintai Dania nantinya,"
"Yang aku bingungkan sekarang, bagaimana caranya memberitahukan Dania tentang hal ini? kamu tahu sendiri bagaimana dia, Sayang," Denis menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
"Sepertinya, apa yang dikatakan oleh Gavin ada benarnya.Kita harus merahasiakan hal ini dulu dari Dania untuk sementara. Tugas kita sekarang berusaha untuk mengingatkan dia secara perlahan. Kita juga harus bisa merubah sikap dia yang egois, walaupun aku tahu, ini bukan hal yang mudah. Setelah terlihat ada perubahan baru kita memberitahukanku dia," ucap Bella, diplomatis.
"Ini semua gara-gara aku yang terlalu memanjakannya. Maafkan aku ya, Sayang! selama ini, aku sama sekali tidak pernah mendengar kata-katamu," di wajah Denis terlukis wajah penuh penyesalan.
"Sudah! kamu jangan mengingat hal yang lalu lagi. Sekarang sebaiknya kita fokus memikirkan cara merubah sikap,Dania." pungkas Bella.
"Hai, Ma, Pa!" tiba-tiba Dania sudah berdiri di ambang pintu, hingga membuat Denis dan Bella tersentak kaget. Wajah keduanya juga seketika berubah pucat. Mereka khawatir kalau Dania sudah mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.
"Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu? apa Mama dan Papa melihat, seakan-akan aku ini setan?" ucap Dania dengan wajah kesal.
"Ti-tidak! papa dan mama hanya kaget saja, karena kamu tiba-tiba muncul," Denis buka suara, memberikan alasan.
"Kenapa harus sekaget itu? kan biasanya juga nggak kaget," mata Dania memicing, curiga. Jangan lupakan Bella yang menghela napas lega, karena dari sikap dan reaksi Dania, wanita itu yakin kalau putrinya itu tidak mendengar pembicaraannya dengan Denis.
"Itu kan biasanya, yang ini luar biasa," celetuk Bella, ambigu.
Tenggorokan Denis tiba-tiba tercekat sehingga terasa sulit untuk menelan ludahnya sendiri. Pria itu tidak menyangka kalau putrinya itu sudah mulai curiga. Bella menoleh ke arah Denis dan sadar kalau suaminya itu sekarang sedang panik.
"Kamu jangan su-udjon dulu. Hal yang kamu curiga itu belum tentu kebenarannya," Bella akhirnya memutuskan untuk membantu Denis yang susah untuk menjawab.
Dania tersenyum kecut karena tidak mendapat tanggapan yang memuaskan dari orang tuanya.
"Kenapa jadi Mama yang menjawab? aku butuh respon dari papa bukan,Mama," ucap Dania ketus.
"Dania! yang sopan sama mama kamu!" tegur Denis dengan sorot mata tajam.
"Apaan sih, Pa? kan yang aku katakan itu benar. Mama kan selama ini memang tidak peduli dengan kebahagiaanku. Dia sama sekali tidak suka aku sama Gilang," Dania melirik sinis ke arah Bella.
__ADS_1
"Tapi kali ini papa setuju dengan apa yang mama kamu katakan. Kamu jangan pernah su-udjon. Lagian menurut papa sebaiknya sekarang kamu berhenti aja mengejar Gilang, karena dia tidak pernah mencintaimu,"
Mata Dania membesar, terkesiap kaget tidak menyangka kalau papanya akan berucap seperti itu.
"Ini benaran Papa kan, bukan orang lain?"
"Jadi kamu kira ini siapa? ya ini papalah!" tegas Denis meyakinkan Dania.
"Jadi, kenapa papa berkata seperti itu? seharusnya papa membantuku untuk menyelidiki kecurigaanku," protes Dania.
"Kali ini papa sudah menyerah. Papa tidak mau menanggung malu lagi, dengan mendesak om Gavin untuk secepatnya menikahkan kamu dan Gilang, karena Gilang juga tidak pernah berusaha untuk mencintaimu. Jadi, papa minta tolong agar kamu menyudahinya dan mencoba membuka hati untuk pria yang mencintaimu dengan tulus,"
Dania benar-benar semakin kaget melihat perubahan sikap papanya. "Tidak mau! pria yang aku inginkan untuk menjadi suamiku hanya Gilang, tidak ada namanya pria lain. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkannya, walaupun aku harus kehilangan harga diri di depannya," ucap Dania dengan tegas dan napas yang memburu.
"Dania, tolong hentikan! kamu jangan egois!" Bella kembali buka suara.
"Bukannya aku bilang, kalau aku tidak akan berhenti,Ma? jadi simpan saja kata-katamu itu dalam hati , karena aku sama sekali tidak akan mau peduli. Gilang itu hanya milikku, dan aku akan melawan siapapun yang menghalangiku, walaupun itu mama dan papaku sendiri," mata Dania berkilat-kilat, pertanda kalau dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Dania! kenapa kamu makin ke sini maki tidak sopan sama mama kamu, Hah! Dia itu mama kamu,mama yang sudah rela berkorban untuk membawa kamu lahir ke dunia ini walaupun nyawa taruhannya, " Denis sudah terlihat mulai hilang kesabaran.
"Bagaimana aku bisa sopan,Pa? dia memang yang melahirkanku, tapi dia sama sekali tidak pernah mendukung apa yang aku mau, jadi dia tidak layak untuk menjadi seorang mama yang baik. Bahkan sekarang, mama sudah berhasil mempengaruhi papa untuk tidak mendukungku, apa aku harus sopan pada orang seperti itu?" ucap Dania dengan sengit tidak takut pada tatapan Denis.
"DANIA!" suara Denis benar tinggi dan mengelegar, hingga membuat Dania tersentak kaget dan seketika berlari naik mebuju kamarnya.
Sebelum sampai ke atas,Dania kembali menoleh. "Sekali lagi aku tekankan, aku tidak akan pernah berhenti berusaha untuk mendapatkan Gilang, kecuali aku mati!"
Tbc
__ADS_1
Haish, benar-benar cari mati si Dania. Hati-hati Dania, kamu tidak akan pernah mendapatkan Gilang, karena banyak pembaca yang menyumpahimu, bahkan author sendiri menyumpahimu. Mari Guys kita timpuk rame-rame si Dania.😁😁😁