Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Kamu koma berpuluh tahun


__ADS_3

Cahaya membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan. Sinar lampu membuat matanya serasa silau, hingga membuat wanita itu menutup kembali matanya untuk sejenak.


Setelah dirasa sudah mulai bisa beradaptasi, Cahaya membuka matanya kembali. Wanita itu mengerjap-erjapkan matanya sembari berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.


"Mas Gilang!" pekik wanita itu sambil duduk, ketika bayangan tentang kejadian yang menimpanya berkelebat di kepalanya.


"Cahaya, kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Jelita sembari menghambur menghampiri ranjang Cahaya. Ternyata dari tadi wanita itu duduk di sofa bersama dengan Melinda dan Grizelle.


"Ma, Mas Gilang di mana? Mas Gilang tidak apa-apa kan? Mas Gilang baik-baik saja kan? tanya cahaya dengan beruntun. Wajah wanita itu terlihat sangat khawatir.


"Kamu tenang dulu, Cahaya! Gilang baik-baik saja. Hanya belum siuman saja," Melinda buka suara.


"Aku mau melihat mas Gilang, Oma." Cahaya hendak turun dari atas ranjang.


"Dia berbaring di sana Cahaya. Jadi kamu tidak perlu terburu-buru," Melinda menunjuk ke arah ranjang yang tertutup oleh tubuh Jelita dan Grizelle.


Tampak tubuh Gilang yang terbaring lemah di atas ranjang. Mata pria itu terlihat masih terpejam,pertanda pria itu masih berada di alam bawah sadarnya. Dalam keadaan lemah seperti itu, bagi Cahaya suaminya itu masih tetap terlihat gagah.


Cahaya beranjak turun dari atas ranjang dengan perlahan dan menghampiri ranjang Gilang.


"Mas, ayo buka matamu. Lihatlah karena kamu aku dan ... anakku!" pekik Cahaya tiba-tiba sembari menyentuh perutnya yang masih rata.


Cahaya sontak melihat ke arah tiga Jelita dan Melinda dengan tatapan penuh tanya. "Ma, Oma, bagaimana dengan anakku? apa anakku masih ada?" tanyanya dengan panik.


Jelita tersenyum dan mengelus lembut kepala menantunya itu. "Cucu mama, baik-baik saja. Dia kuat sama seperti mama dan papanya," Cahaya seketika mengembuskan napas lega, mendengar ucapan mertuanya.


"Kamu dengar, Mas. Anak kita baik-baik saja. Mas cepat bangun dong, biar aku tenang. Mas sudah berjanji kan sama papa dan mamaku untuk menjaga dan membahagiakanku?" ucap Cahaya sembari membelai lembut wajah pucat Gilang.


Suara pintu yang terbuka tiba-tiba membuat ke empat wanita yang ada di ruangan itu sontak menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Aya, kamu sudah sadar!" pekik Reyna sembari menghambur, memeluk Cahaya.


"Terima kasih ya kak Reyna! Kakak sudah berkali-kali menolongku," ucap Cahaya sembari membalas pelukan Reyna.

__ADS_1


"Sekarang, sebaiknya kamu ikut aku ke ruangan praktekku. Kita perlu melakukan pemeriksaan pada janin kamu lewat USG." ucap Reyna setelah dia melerai pelukannya.


"Apa tidak sebaiknya kalau kita menunggu mas Gilang sadar dulu, supaya dia bisa ikut melihat anaknya," ucap Cahaya penuh harap.


Reyna menyelipkan seulas senyuman manis di bibirnya. "Tapi kita harus segera melakukan pemeriksaan janin kamu Cahaya. Cuma memastikan aja kok. Lagian kita tidak tahu kapan Gilang akan bangun. Bukannya kalau kita tahu kondisi janinmu dengan cepat, akan lebih bagus ya?" tutur Reyna dengan lembut.


"Baiklah, Kak!" pungkas Cahaya, menyetujui.


"Mama mau ikut melihat cucu mama," celetuk Cahaya dengan antusias.


"Oma juga!"Melinda tidak mau ketinggalan.


"Aku juga!" Demikian juga dengan Grizelle.


"Kalau semuanya ikut, siapa yang akan menjaga Gilang?" Reyna menautkan alisnya.


"Bayu sebentar lagi akan datang. Lagian di depan pintu, ada bodyguard yang menjaga," sahut Jelita.


"Kak Bayu sudah mau datang ya, Ma? kalau begitu, aku di sini saja menunggu Kak Bayu." ucap Grizelle yang bersiap-siap hendak kembali duduk ke sofa. Namun tangan Jelita bergerak dengan cepat menarik kuping putrinya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kelopak mata Gilang bergerak-gerak demikian juga dengan jari-jarinya. Itu menandakan kalau sebentar lagi pria itu akan bangun dari alam bawah sadarnya, dan kembali ke dunia nyata.


Benar saja, kelopak mata pria itu sedikit demi sedikit terbuka perlahan dan mengerjab-erjab untuk sepersekian detik untuk menyesuaikan cahaya sinar lampu yang masuk ke dalam matanya.


"Astaga, siapa kamu!" pekik Gilang melihat sosok pria tua yang ada di sampingnya. Rambut pria itu tampak sudah putih semuanya,wajah pria itu juga sudah penuh dengan keriput, bahkan di tangan kanan pria itu tampak sebuah tongkat yang selalu digunakan untuk membantu dirinya saat berjalan.


"Kamu tidak mengenalku?" tanya pria itu dengan suara khas seorang pria yang sudah sangat tua.


"Aku sama sekali tidak mengenalmu. Lagian di mana aku sekarang? Cahaya, di mana Cahaya!" pria itu sontak ingin duduk tapi ditahan oleh pria tua itu.


"Kamu masih lemah, Gilang. Kamu baring dulu ya! Kamu itu baru saja bangun dari komamu yang sudah berpuluh tahun lamanya. Bahkan aku mengira kalau kamu tidak akan bangun lagi. Ini benar-benar sebuah keajaiban kalau kamu masih bisa bangun," ucap pria tua itu yang terasa ambigu di telinga Gilang.

__ADS_1


"A-apa maksudmu? a-aku koma berpuluh tahun? tidak mungkin! siapa kamu sebenarnya?" Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya, sulit untuk percaya.


"Coba kamu perhatikan siapa aku. Aku ini Bayu sahabatmu. Aku sudah tua, ya karena kamu memang koma selama berpuluh tahun," ucap pria tua yang ternyata Bayu itu.


"Ti-tidak mungkin! kamu pasti bohong kan? aku pasti masih belum bangun, aku pasti masih bermimpi," ucap Gilang sama sekali tidak percaya.


"Aku tidak bohong Gilang. Waktu memang sudah berlalu selama berpuluh tahun. Kalau tidak salah kamu sudah koma selama 50 tahun. Makanya ini termasuk kejadian langka, yang kamu masih bisa bangun. Padahal tadinya aku sudah merasa lelah dan ingin mengatakan pada dokter agar mempercepat kematianmu," jelas Bayu meyakinkan.


"Bayu, jangan bercanda! ini sama sekali tidak lucu!" bentak Gilang yang masih saja tetap tidak percaya.


"Apa kamu melihat kalau aku sedang bercanda?" tanya Bayu. "Lihatlah, aku sudah sangat tua sekarang!" Bayu tetap berusaha meyakinkan Gilang sahabatnya itu.


Gilang bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang dia melihat kalau Bayu benar-benar sudah tua.


"Cahaya! bagaimana dengan Cahaya? di mana dia?Seru Gilang, mengingat Cahaya dengan tiba-tiba. Ada rasa takut yang muncul, kalau-kalau Cahaya sudah meninggal dunia.


"Cahaya ada di rumah. Saat itu istrimu sedang hamil. Karena kamu koma sudah cukup lama, akhirnya om Gavin memintaku untuk menikahinya. Jadi sekarang aku ini aku bingung siapa yang akan jadi suami Cahaya," ucap Bayu.


"Apa? kamu menikahinya? Brengsek kamu!" umpat Gilang hendak memukul Bayu, namun tertahan karena sakit di punggungnya.


"Eits, eits tenang dulu! bukan keinginanku untuk menikahinya, tapi ini permintaan om Gavin dan Tante Jelita. Ya,mau tidak mau aku jadi mau deh. Di samping Cahaya juga cantik dan Om Gavin menganggap aku anaknya, siapa yang mau nolak coba?"


"BAYUU! BERANI-BERANINYA KAMU!" teriak Gilang, yang kali ini benar-benar tidak peduli lagi dengan rasa sakit di punggungnya. Pria itu beranjak turun dari atas ranjang dan hendak melayangkan pukulannya ke wajah Bayu.


"Mas Gilang, kamu sudah sadar?" tiba-tiba pintu terbuka dan Cahaya berdiri di ambang pintu dengan wajah yang berbinar.


"Cahaya? kenapa kamu masih muda? tapi kata Bayu ...." Gilang menoleh ke arah Bayu yang sekarang sudah tertawa keras.


"Bayu, apa yang sudah kamu lakukan? kenapa penampilanmu seperti itu?" tanya Jelita dengan kening yang berkerut.


"Maaf, Tante! aku tadi hanya iseng mau ngerjain Gilang dengan berpura-pura kalau dia sudah koma berpuluh tahun," sahut Bayu di sela-sela tawanya.


Ya, begitu mendengar perkataan dokter yang mengatakan kalau Gilang akan bangun sekitar dua jam-an lagi, Bayu langsung keluar dan ke salon hanya untuk meminta agar wajahnya didandani sebagai pria tua.

__ADS_1


"BAYU, KURANG AJAR KAMU! BRENGSEK!" umpat Gilang yang membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa terbahak-bahak.


Tbc


__ADS_2