
"Papa!" Dania terkesiap kaget.
"Ya, ini papa. Papa yang sudah melaporkanmu," sahut Denis lugas sembari berusaha menahan rasa sesak di dadanya. "Pak, tolong bawa dia!$ lanjutnya kembali pada polisi.
Ketiga polisi itu menghampiri Dania dan langsung mencengkram tangan wanita itu. Namun Dania berusaha melepaskan diri dan menghambur ke arah papanya.
"Kenapa papa tega melaporkanku? aku ini masih anakmu kan?" Dania benar tidak menyangka kalau pria yang selama ini selalu jadi tameng untuknya justru berubah menjadi orang yang sangat tega.
"Tentu saja kamu masih anakku. Karena kamu anakku lah makanya aku melakukan ini. Ini semua aku lakukan demi kebaikanmu," jawab Denis dengan sembari mengalihkan tatapannya ke arah lain. Dia benar-benar tidak ingin melihat wajah putrinya itu. Bukan karena benci, melainkan karena tidak tega.
"Tidak! Papa sama sekali sudah tidak menyayangiku lagi. Kalau Papa menyayangiku, papa tidak mungkin melaporkanku ke polisi." pekik Dania sembari mengguncang-guncang tubuh Denis.
"Papa menyayangimu, Dania. Papa melakukan ini agar kamu tidak semakin jauh terkurung di dalam sikap egoismu. Kali ini perbuatanmu benar-benar sudah di luar batas dan harus segera diantisipasi," tutur Denis.
"Pa, tapi kenapa mesti papa yang melaporkanku? kalau tadi Om Gavin yang melapor, aku masih bisa terima, tapi kenapa harus papa?" pekik Dania sembari kembali mengguncang-guncang tubuh Denis.
__ADS_1
"Ini karena perbuatanmu merupakan kesalahanku. Papa tidak mau lagi membela hal salah yang kamu lakukan, seperti dulu. Papa ingin kamu bisa benar-benar berubah dan bertobat. Papa hanya bisa berharap di penjara nanti kamu benar-benar bisa fokus untuk instrospeksi diri, Dania, " suara Denis terdengar bergetar karena pria setengah baya itu benar-benar berusaha menahan rasa sesak di dadanya. Di satu sisi dia memang merasa menjadi seorang ayah yang tega tapi di satu sisi dia merasa kalau ini adalah jalan satu-satunya untuk memberi pelajaran buat putrinya itu.
"Papa jahat! papa tidak sayang padaku lagi!" Dania mulai berteriak-teriak.
"DANIA!" bentak Denis, membuat Dania diam seketika.
"Asal kamu tahu, tangan inilah yang pertama kali menggendongmu. Ketika matamu terbuka untuk pertama kalinya, aku lah yang pertama kamu lihat. Akulah yang selalu tidak sabar untuk melihat pertumbuhanmu. Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau aku tidak menyayangimu? Apa kamu kira papa tidak terluka melihat kamu seperti ini? Papa sangat terluka, Nak. Tapi, kali ini papa memang harus tega karena papa tahu, kamu bisa seperti ini karena cara papa untuk mengimplementasikan kasih sayang papa salah. Untuk itu, sekarang papa mau menebus kesalahan papa yang dulu. Papa akan memberikan kamu ruang untuk instrospeksi diri dan papa yakin penjaralah tempat yang tepat untuk itu." tutur Denis dengan panjang lebar. Jangan lupakan Gavin dan Reynaldi yang hanya jadi pendengar setia, karena mereka tahu kalau ini adalah masalah antara papa dan anak.
"Tapi, Pa __"
"Nak, tolong jangan buat papa semakin merasa bersalah. Kamu benar-benar harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, karena memang yang kamu lakukan kali ini sudah masuk kategori kriminal, Dania," sela Denis sebelum Dania kembali memprotes
Ketiga polisi itu langsung meraih tangan Dania dan membawa paksa wanita itu untuk ikut ke kantor polisi.
"Pa, tolong aku,Pa! Om Gavin, Om Rey, tolong Dania!" teriak Dania memohon, sembari berusaha melepaskan diri, tapi ketiga pria itu sama sekali tetap berdiri di tempat.
__ADS_1
"Denis,apa kamu serius melakukan hal ini?" Reynaldi buka suara begitu Dania dan ketiga polisi serta dua orang bodyguard Gavin, sudah tidak terlihat lagi.
"Aku sangat yakin, Rey. Aku sekarang menyadari kalau caraku menyayanginya selama ini benar-benar salah," sahut Denis sembari menundukkan kepalanya.
Gavin dan Reynaldi saling silang pandang dan mengembuskan napas lega. Kemudian, Reynaldi tersenyum tipis dan menepuk -nepuk pundak Denis, untuk menenangkan sahabatnya itu.
Denis mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Reynaldi yang juga kini tengah menatapnya.
"Aku tahu, kamu pasti dari dulu berusaha menahan kekesalan padaku kan? setiap kali Dania menginginkan mainan Reyna, aku bukannya menasehati Dania, tapi justru selalu meminta pada Reyna untuk mengalah agar Dania berhenti menangis. Aku juga tidak belajar darimu yang meminta pada Reyna untuk selalu bersabar. Aku selama ini menganggap hal itu hal biasa. Ternyata itu merupakan cara kamu untuk mendidik Reyna agar tumbuh menjadi pribadi yang tidak egois dan rendah hati. Aku benar-benar malu padamu, Sobat. Sekarang, aku benar-benar ingin minta maaf pada kalian berdua. Kalian berdua pasti merasa jengah bersahabat denganku kan?" ucap Denis dengan raut wajah sendu.
"Hei, hei kamu jangan berpikir seperti itu! bagaimanapun kamu itu tetap sahabat kami. Jadikan masa lalu itu sebagai pembelajaran. Aku juga minta maaf, karena aku tidak konsisten dengan keputusanku untuk menikahkan Gilang dan Dania. Secara tidak langsung,aku juga punya andil dalam masalah ini," Gavin buka suara.
"Tidak,Sob! kamu tidak bersalah sama sekali karena memang cinta itu tidak bisa dipaksakan. Seandainya mereka berdua menikahpun, tidak ada jaminan kalau mereka akan bahagia," jawab Denis, menolak pernyataan Gavin.
"Kalian tahu, kenapa aku begitu memanjakannya? itu karena aku mengingat penyebab dia hadir di dunia ini,karena kesalahan yang aku buat pada Bella dulu. Aku tidak sanggup membayangkan seandainya Bella tidak mau menerimaku dulu, kemungkinan Dania juga tidak akan ada di dunia ini, atau seandainya Bella mempertahankannya, mungkin bukan aku pria yang pertama kali dia panggil papa. Karena memikirkan hal itulah, membuat aku terlalu memanjakannya," ungkap Denis berusaha menahan air matanya.
__ADS_1
Gavin dan Reynaldi tercenung, dan seketika merasa iba. Mereka berdua tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang bisa mereka lakukan adalah merangkul sahabatnya itu, sebagai isyarat kalau mereka berdua akan selalu menjadi sahabat bagi Denis.
Tbc