
Sementara itu Gilang yang baru sampai di kediamannya langsung disambut oleh Cahaya.
Cahaya tidak menanyakan sesuatu, kenapa suaminya itu pulang lama. Entah kenapa Cahaya masih saja merasa segan pada pria itu.
"Kamu tidak menanya kenapa aku bisa pulang lama?" Gilang seperti merasa tidak suka dengan sikap Cahaya yang acuh.
"Emm, kenapa, Mas?" tanya Cahaya sembari memasang wajah polosnya.
"Tidak jadi! aku mau langsung ke kamar aja." Gilang langsung berlalu pergi dengan wajah kesalnya.
"Kenapa dengan dia? apa dia kesambet sesuatu di luar tadi?" Cahaya mengrenyitkan keningnya.
"Sial! sia-sia aku lama-lamakan, di jalan tadi. Tahu gini nggak ditanya sama sekali,lebih baik aku langsung pulang tadi," Gilang menggerutu tidak jelas. Apalagi begitu mengingat betapa susahnya dia mencari alasan, ketika Bayu terus-terusan bertanya kenapa mereka harus berdiam lama di dalam mobil. Bahkan pria itu sampai rela menahan rasa laparnya.
Gilang melepaskan dasinya, dan membuka kemeja yang membalut tubuhnya. Wajah pria itu masih terlihat gelap seperti tertutup oleh awan hitam. Bahkan ketika mendengar Cahaya masuk ke dalam kamar, Gilang tidak menoleh sama sekali.
"Mas,apa kamu sudah makan malam?" tanya Cahaya.
"Belum!" jawab Gilang, singkat.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Aku panaskan dulu ya,Mas."
"Hmm," sahut Gilang masih tetap acuh.
Cahaya menghela napasnya, benar-benar tidak mengerti dengan sikap Gilang.
"Mungkin dia sedang capek, makanya sikapnya seperti itu," batin Cahaya sembari memutar tubuhnya dan melangkah keluar kamar.
"Tunggu dulu!" Cahaya yang nyaris mencapai pintu, langsung mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik begitu mendengar Gilang memanggilnya kembali.
"Iya, Mas? apa ada yang mas inginkan lagi?" tanya Cahaya dengan lembut.
"Kalau suami itu pulang lama, harusnya kamu tanya alasannya kenapa bisa lama. Jangan didiamkan begitu saja. Apa kamu mengerti?" Gilang sudah tidak bisa menahan diri untuk mengungkapkan apa yang membuat dirinya kesal.
"Heh?" Cahaya mengrenyitkan keningnya, benar-benar merasa bingung.
"Kenapa kamu tidak menjawab? apa kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan barusan?" Gilang benar-benar kesal melihat Cahaya yang tidak memberikan respon sama sekali.
"Dengar, Mas." Jawab Cahaya, masih dengan ekspresi bingungnya.
"Kalau kamu dengar, kenapa tidak menjawab?" desak Gilang dengan raut wajah dingin.
__ADS_1
"Iya, Mas. Lain kali aku akan tanya," pungkas Cahaya akhirnya.
"Bagus! tadi aku banyak kerjaan dan jalanan macet makanya bisa lama," terang Gilang, padahal Cahaya tidak bertanya sama sekali.
"Emangnya aku ada tanya ya?"ucap Cahaya yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Aku hanya menjelaskan saja, sebelum kamu tanya," Cahaya tersentak kaget, mendengar ucapan Gilang. Pria itu seperti bisa mendengar isi hatinya.
"Astaga, kok dia bisa tahu ya apa yang aku pikirkan?" Cahaya bertanya-tanya dalam hati.
"Oh, seperti itu,Mas? kalau begitu aku ke dapur dulu ya, Mas. Aku akan memanaskan makan malammu,"." ucap Cahaya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah, pergilah! aku mau mandi dulu!" ucap Gilang sembari melangkah menuju kamar mandi.
"Apa, Mas mau makanannya dibawa ke kamar atau Mas yang turun nanti?" tanya Cahaya lagi, sebelum tubuh Gilang, hilang di balik pintu kamar mandi.
"Tidak perlu! biar aku saja yang turun nanti," sahut Gilang seraya menutup pintu kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang dan Cahaya kini sudah kembali ke kamar, setelah Gilang menghabiskan makan malamnya.
Mereka berdua tidak ada yang bersuara, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Gilang dengan game di handphonenya,dan Cahaya dengan kebingungannya menggunakan handphone yang diberikan Gilang tadi pagi untuknya.
"Kenapa kamu dari tadi curi- curi pandang? apa kamu ingin menanyakan sesuatu?" celetuk Gilang tiba-tiba, yang membuat Cahaya tersentak kaget.
"Astaga, dari mana dia tahu kalau aku dari tadi meliriknya? bukannya matanya fokus ke handphone ya?" batin Cahaya, bingung.
"Kenapa kamu masih diam? sekarang tanyakan apa yang mau kamu tanya," titah Gilang tanpa menoleh sedikitpun ke arah Cahaya.
"Eh, I- iya, Mas. Tapi lebih baik aku tanyakan besok saja." Ujar Cahaya sembari melihat Gilang yang sepertinya masih fokus pada apa yang dilihatnya di handphone. Cahaya berpikir kalau Gilang sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga.
"Kenapa harus menunggu besok? emangnya kenapa kalau kamu menanyakannya sekarang?" Gilang akhirnya mengalihkan tatapannya dari Handphonenya dan menatap Cahaya dengan tatapan penuh tanya.
"Karena malam ini, Kamu terlihat capek dan seperti sedang ada pekerjaan, Mas."
"Aku tidak bisa memiliki pekerjaan penting mal ini. Jadi kamu tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan," Gilang meletakkan handphonenya dia atas nakas.
"Emm, aku cuma mau tanya bagaimana cara memakai handphone ini? aku benar-benar tidak mengerti, Mas." Cahaya menunjukkan handphone barunya.
Gilang berusaha menarik tawanya.
__ADS_1
"Emangnya masih ada Zaman sekarang yang ty tahu bagaimana caranya memakai handphone pintar seperti itu?" ucap Gilang meledek.
"Ada! aku orangnya, Mas. Makanya aku tanya kamu," Cahaya mengerucutkan bibirnya.
Gilang mengembuskan napasnya dan meraih handphone dari tangan Cahaya.
"Sini kamu duduk di sampingku. Aku akan kasih tau kamu cara penggunaannya," Gilang menepuk tempat kosong di sampingnya.
Cahaya dengan sangat hati-hati dan jantung yang berdetak kencang menghampiri Gilang. Sedangkan Gilang, begitu Cahaya sudah duduk di sampingnya langsung menjelaskan dengan detail cara menggunakan handphone Cahaya.
"Apa kamu sudah paham?" Cahaya menganggukkan kepalanya, karena memang wanita itu sudah sangat paham
"Ya udah, nih aku kembalikan handphone kamu," Gilang meletakkan ponsel ke tangan Cahaya.
"Terima kasih, Mas!"ucap Cahaya dengan tulus dan wajah berbinar.
"Hmm," sahut Gilang singkat.
Keheningan kembali tercipta di antara mereka berdua. Cahaya terlihat sangat fokus pada Handphonenya.
"Bagaimana hari pertamamu di kampus tadi?" Gilang buka suara untuk menghentikan keheningan yang sempat tercipta.
"Emm, semuanya berjalan lancar, Mas." jawab Cahaya.
"Baguslah kalau seperti itu. Sepertinya kamu senang karena sudah menjadi pusat perhatian ya tadi pagi?"
Cahaya mengrenyitkan keningnya dan langsung mengalihkan tatapannya dari handphone ke arah Gilang.
"Pusat perhatian? aku tidak merasa jadi pusat perhatian, Mas,"
Gilang tersenyum smirk, merasa kalau Cahaya sedang berpura-pura tidak tahu.
"Mulai besok, kamu harus menggunakan cincin kawinmu ke kampus. Biar mereka tahu kalau kamu itu sudah menikah," pungkas Gilang sembari merebahkan tubuhnya.
Sementara itu Cahaya semakin terlihat bingung dengan sikap Gilang.
"Ada apa sih dengan dia? kenapa tingkahnya aneh dari pulang kerja tadi?" bisik Cahaya pada dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku memakai cincin kawin? kan dia sendiri yang bilang kalau pernikahan ini harus dirahasiakan dulu sampai tiba saatnya nanti, agar tidak timbul huru hara?"
Cahaya kembali membatin.
__ADS_1
Tbc