Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Kamu pakai ilmu pelet apa?


__ADS_3

Reyna menepikan mobilnya di depan sebuah restoran, untuk membeli makan siang. Setelah dihubungi kembali tadi oleh Cahaya, Gilang ternyata belum makan siang, demikian juga dengan Bayu.


"Ayo kita masuk!" ajak Reyna pada Cahaya setelah mereka keluar dari dalam mobil.


Sesampainya di dalam, Reyna dan Cahaya duduk dan langsung memanggil pelayan.


Cahaya melihat buku menu dan terlihat bingung memilih makanan untuk Gilang. Wanita itu juga cukup kaget melihat harga makanan yang menurutnya bisa dia masak sendiri seperti ayam mentega, capcay dan menu lainnya.


"Bagaimana, kamu mau pesan apa, Cahaya?" Reyna buka suara.


"Emm, aku pesan yang ini aja, Kak buat Kak Gilang," Cahaya menunjukkan salah satu menu makanan yang tidak lain adalah ayam mentega yang menurutnya selalu dimakan habis oleh Gilang.


"Emm, Gilang memang tidak pemilih dalam hal makanan, tapi dari pada ayam mentega, dia lebih suka seafood terutama udang asam manis dan cumi pedas kemangi," ucap Reyna yang tanpa sadar menunjukkan Kalau dirinya lebih mengenal Gilang dibandingkan Cahaya.


"Oh, seperti itu ya, Kak?" sahut Cahaya dengan lirih. Seketika dirinya merasa kurang pantas menjadi istri Gilang, karena sama sekali tidak tahu kesukaan suaminya.


"Tapi, kenapa ayam mentega yang aku masak selalu dia habiskan ya? apa karena dia menghargai masakanku saja?" batin Cahaya yang seketika merasa tidak percaya diri.


Melihat ekspresi wajah Cahaya, membuat Reyna seketika tersadar dan merasa tidak enak hati.


"Aduh,maaf Cahaya! aku tidak bermaksud menunjukkan kalau aku lebih mengenal Gilang daripada kamu," ucapnya dengan nada yang penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Kak. Emang kenyataan kan kalau Kakak lebih mengenal mas Gilang daripada aku. Nanti aku akan tanya-tanya lagi pada Kakak, apa yang dia suka dan tidak suka,". Cahaya tersenyum lebar ke arah Reyna.


Akhirnya Cahaya memesan makanan untuknya dan Gilang, sesuai dengan yang Reyna katakan tadi, demikian juga dengan Reyna memesan menu yang sama untuknya dan Bayu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reyna dan Cahaya turun dari dalam mobil dan langsung berjalan menuju lobby kantornya Gilang. Mereka berdua terlihat tertawa karena sedang menceritakan hal yang lucu. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dari dalam mobil. Siapa lagi pemilik mata itu kalau bukan Dania.


"Reyna dan Cahaya? kenapa mereka bisa terlihat seakrab itu?" Dania memicingkan matanya,merasa curiga.

__ADS_1


Dania semakin merasa heran begitu melihat penampilan Cahaya yang terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Berpakaian rumahan saja sudah membuat Dania belingsatan, apalagi dengan melihat penampilan yang sekarang, tentu saja semakin membuat Dania ketar-ketir dan ketakutan.


"Brengsek!" umpat wanita itu sembari mencengkram kencang kemudi mobilnya dan wajah yang bengis,menatap penuh kebencian dan amarah pada kedua wanita di depannya, khususnya pada Cahaya yang benar-benar dia anggap sebagai ancaman berat baginya sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cahaya mengetuk pintu ruangan Gilang.


"Masuk!" titah Gilang dari dalam sana.


Cahaya membuka pintu dengan perlahan dan langsung masuk bersama dengan Reyna.


"Mas, aku sudah datang!" ucap Cahaya.


"Ya, kamu duduk aja dulu! nanti aku akan menyusulmu," ucap Gilang yang sama sekali tidak menatap ke arah Cahaya, sehingga dia tidak menyadari kalau ada Reyna yang ikut serta.


"Kamu dari dulu tidak berubah ya? kalau sudah kerja di depan komputer semuanya diacuhkan. kalau istri datang itu ya disambut, bukan diacuhkan seperti ini," protes Reyna, hingga membuat Gilang seketika tersentak kaget begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu.


"Aku tadi bertemu dengan Cahaya di restoran. Aku menawarkan diri untuk mengantarkannya,dan dia juga kebetulan memintaku untuk ikut," sahut Reyna dengan santai sambil mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


Wajah Gilang seketika merasa tidak nyaman.


"Aduh, bagaimana ini? padahal aku ingin berusaha untuk semakin dekat dengan Cahaya, kalau ada Reyna,kan jadi canggung," batin Gilang sembari menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa wajahmu terlihat masam? kamu tidak suka ya aku ada di sini?" celetuk Reyna dengan mata yang melotot.


"Oh, tentu saja tidak!" jawab Gilang dengan cepat, tidak mau kalau Reyna salah paham.


"Sekarang kamu tinggalkan dulu pekerjaanmu, karena Cahaya sudah lapar dari tadi,"


Cahaya sontak kaget, menoleh ke arah Reyna yang membawa-bawa namanya, padahal yang mengeluh lapar dari tadi Reyna sendiri. Sementara itu, Reyna tersenyum dan mengerlingkan matanya ke arah Cahaya.

__ADS_1


"Oh iya kah? kalau begitu ayo kita makan. Tunggu, aku panggilkan Bayu dulu," ucap Gilang sembari menghubungkan wireless interkom ke ruangan Bayu.


"Bay, ke ruanganku sekarang! kita makan siang sama-sama!"


Tidak perlu menunggu lama, Bayu pun muncul dan langsung duduk di dekat Reyna.


"Wah, enak nih!" ucap Bayu sembari meraih kotak makanan untuknya.


Brakk


Baru saja makan satu suap, tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang. Siapa lagi dia kalau bukan Dania.


Hei, wanita murahan! berani sekali kamu datang ke kantor Gilang!" bentak Dania sembari menunjuk ke arah Cahaya. Amarahnya semakin naik ke ubun-ubun begitu melihat Cahaya yang duduk tepat di samping Gilang.


"Dan kamu Reyna, kenapa kamu bisa bersama dengan dia?" Dania menatap tajam ke arah Reyna. Reyna sama sekali tidak menjawab. Wanita itu justru tetap melanjutkan makannya sembari berusaha menahan amarahnya mengingat kejadian yang hampir merenggut kehormatannya tadi malam.


"Diam! apa kamu tidak punya sopan santun, masuk ke ruangan orang tanpa mengetuk pintu?" Gilang berdiri dan membentak Dania.


"Kenapa kamu jadi membentakku? aku ini tunangan kamu, jadi aku berhak masuk ke sini. Justru yang tidak berhak itu, dia!" jari telunjuk Dania mengarah tepat ke wajah Cahaya.


"Kamu memang tunanganku, tapi itu bukan berarti kamu bisa masuk dengan sembarangan. Sekarang kamu keluar dari sini karena aku sama sekali tidak ingin melihat kamu di sini?" ucap Gilang, dengan nada yang sangat sinis.


"Kenapa sih kamu selalu bersikap seperti itu padaku? kenapa kamu membela wanita miskin dan murahan itu! harusnya kamu berterima kasih padaku karena menjauhkanmu dari wanita yang manipulatif seperti dia. Harusnya kamu buka mata kamu lebar-lebar dan melihat kenyataan. Lihatlah, dia berpakaian seperti itu, dan berani duduk di sampingmu, apalagi coba kalau bukan punya niat untuk menggodamu. Sadar Gilang, sadar!" ucap Dania dengan berapi-api.


Kemudian Dania menoleh ke arah Cahaya dan menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat tajam.


"Hei, wanita murahan! kamu pakai ilmu hitam ya, sehingga bisa membuat Gilang membelamu? apa kamu pikir kalau kamu akan berhasil?"


"Stop bilang dia murahan!" suara Gilang semakin tinggi dan napasnya sudah memburu. bahkan tangan pria itu sudah terkepal dengan kencang.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2