
Cahaya belum merasa ngantuk sama sekali, wanita itu memutuskan untuk menonton drama Korea yang sedang tenar sekarang. Sementara itu, Gilang masih berada di dalam kamar mandi.
"Kamu sedang apa? kenapa belum tidur?" tegur Gilang yang ternyata sudah keluar dari dalam kamar mandi dan melangkah menghampiri Cahaya.
"Aku belum ngantuk, Mas. Jadi aku mau menonton sebentar, menunggu ngantuk," sahut Cahaya sembari melihat layar di ponselnya.
"Kenapa kamu menonton di handphone? gunanya TV itu apa?" Gilang menunjuk ke arah TV besar di depan ranjang mereka.
"Ya, di handphone aku bisa pakai earphone, kalau TV kan nggak. Nanti kalau kamu tidur bisa terganggu karena suara TV," jawab Cahaya, lugas.
"Gak pa-pa, aku juga bel ngantuk soalnya. Kita nonton sama-sama aja," ucap Gilang sembari meraih remote TV dan menyalakannya.
"Tapi,Mas. Bukannya kamu nggak suka nonton drama Korea ya?" ucap Cahaya merasa tidak enak.
"Gak Pa-pa sekali-sekali. Sekarang kamu kasih tahu, Chanel yang kamu tonton," Cahaya menyebutkan sebuah Chanel yang banyak menyajikan drama-drama romantis, baik itu dari Korea, China dan Thailand.
Gilang naik ke atas ranjang dan duduk menyender di samping Cahaya. Raut wajah pria itu terlihat serius saat menonton seakan dia juga suka.
Tidak beberapa lama, raut wajah Gilang dan Cahaya tiba-tiba memerah melihat adegan romantis di layar yang mana si pria mencium pemeran wanita dengan sedikit ganas.
"Haish,kenapa harus sekarang sih adegan ini ditayangkan? bagaimana ini?" batin Cahaya, sembari menggigit bibirnya bawahnya.
"Sial! ini sama aja memancingku," Gilang juga ikut bermonolog di dalam hatinya. Namun pria itu bersikap seakan-akan dia tidak terpengaruh dengan adegan ciuman di depannya.
"Kenapa adegannya lama? please tolong ganti situasi dong," Cahaya memohon dalam hati.
Cahaya menghela napas lega, begitupun Gilang begitu adegannya sudah berganti. Namun ganti adegan justru membuat wajah Gilang pucat dan seperti menggigil. Bagaimana tidak, adegan yang dilihatnya adalah di mana ada terjadi kebakaran hebat dan terdengar bunyi sirene pemadam kebakaran. Hal itu tentu saja membuat dia mengingat kejadian dulu, yang membuat dirinya trauma sampai sekarang.
Sementara itu, Cahaya sama sekali belum menyadari perubahan Gilang. Wanita itu justru sangat menyukai situasi yang sedang dia tonton sekarang, karena dengan begitu dia langsung bisa membayangkan bagaimana kehebatan papanya dulu.
"Mas, Gilang kamu kenapa?"tanya. Cahaya begitu menyadari perubahan Gilang.
Gilang tidak menjawab, justru pria itu semakin terlihat pucat.
"Mas, kamu kenapa sih?" Cahaya semakin panik.
Gilang menunjuk ke arah TV dengan tangan yang bergetar dan Cahaya mengerenyitkan keningnya, bingung.
__ADS_1
"Ada apa di TV? apa kamu melihat ada hantu yang berdiri di sana?" tanya Cahaya dengan raut wajah yang berubah ketakutan juga.
"Bu-bukan! tapi kebakarannya," sahut Gilang sembari menutup matanya.
Cahaya sontak mematikan televisi dan meraih kepala Gilang ke dadanya. Wanita itu mengelus-elus kepala Gilang, bermaksud untuk menenangkan suaminya itu.
"Tenang ya,Mas. Nggak perlu takut, itu kan hanya di TV, nggak nyata," ucap Cahaya dengan lembut.
"Mas, kenapa takut sama kebakaran? apa, kamu pernah mengalaminya?" tanya Cahaya lagi.
Gilang tidak menjawab sama sekali, karena justru sekarang dia sedang menahan napas karena wajahnya tepat di dua benda kenyal yang menggantung di dada Cahaya.
"Haish, kenapa wajahku harus mendarat di tempat ini sih? ini sama aja membunuhku." Gilang menggerutu di dalam hati. Bayangan kejadian siang tadi ketika dia melihat Cahaya mengganti pakaian, seketika berkelebat kembali di kepalanya sehingga membuat sesuatu di bawah sana mulai bangun.
"Mampus! mana si Otong udah mulai bangun lagi," Gilang merutuki nasibnya.
"Mas, kenapa kamu diam? kamu masih ketakutan ya?" Cahaya makin menekan wajah Gilang ke dadanya.
"Makin mampus aku," teriak Gilang di dalam hati.
"Apa ini yang keras?" batin Cahaya karena tiba-tiba merasa ada benda keras yan menyentuh pahanya.
"Ahh! Mas apa itu?" teriak Cahaya sembari menutup matanya dan menunjuk ke arah celana pendek Gilang yang sudah menggembung.
"Dia bangun, dan yang membangunkannya kamu," ucap Gilang sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Membangunkan? aku kan mau menenangkan kamu,"jawab Cahaya dengan tangan yang masih menutup matanya.
"Iya, yang atas tenang,tapi yang bawah malah bangun. Siapa suruh buat mukaku,ke dadamu. Sudah wajar sebagai pria normal, itunya bangun," ujar Gilang, tidak mau disalahkan.
"Kalau begitu, tolong Mas tidurkan lagi," ucap Cahaya dengan pipi yang memerah.
"Kamu kira gampang menidurkannya? jalan satu-satunya supaya dia tidur ya,kamu yang harus menidurkannya," ucap Gilang ambigu.
"A-aku? bagaimana caranya? apa aku harus elus-elus seperti menidurkan anak kecil?" tanya Cahaya dengan polos.
Gilang berdecak, melihat wajah Cahaya. Dia bingung istrinya itu memang polos atau pura-pura polos. Masa sudah dewasa begini saja tidak tahu.
__ADS_1
"Kalau caramu seperti itu, dia dipastikan tidak akan tidur,tapi malah semakin bangun," ucap Gilang yang semakin terasa ambigu di telinga Cahaya. Karena yang dia tahu dan emang selalu dia lakukan di panti dulu, selalu mengelus-elus kepala adik-adiknya ketika dia menidurkan mereka.
"Jadi bagaimana caranya,Mas?" tanya Cahaya yang akhirnya membuat Gilang merasa yakin kalau sang istri memang polos.
"Ya, kita harus melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan pasangan suami istri,baru nanti dia akan tidur sendiri," ucap Gilang dengan sangat hati-hati.
"Me-melakukan hal itu?" gumam Cahaya gugup karena dia tahu ke arah mana pembicaraan suaminya itu.
"Iya. Apa kamu belum siap melakukannya denganku?" tanya Gilang.
Cahaya tidak menjawab. Jantung wanita itu seketika berdetak kencang,dua kali lipat dari detak jantung normal. Wanita itu bingung mau menjawab apa.
"Ya udah, kalau kamu belum mau, aku tidak akan memaksa," pungkas Gilang, karena melihat Cahaya yang diam saja.
"Ya udah kalau gitu aku mau ke kamar mandi dulu," Gilang hampir saja beranjak dari atas tempat tidur, tapi berhenti ketika tangan Cahaya menahannya.
"Emm, emang Mas Gilang sudah siap?" tanya Cahaya dengan suara yang sangat pelan.
Gilang tersenyum tipis, karena merasa Cahaya sudah mulai memberikan sinyal, bakal bersedia.
Pria itu, berbalik dan menatap ke arah Cahaya yang menunduk sembari menggigit bibirnya.
"Kenapa kamu bertanya balik? seharusnya kamu sudah tahu jawabannya. Aku bertanya seperti itu, pertanda kalau aku sudah siap," ucap Gilang dengan lembut.
"Tapi,kita berdua ...."Cahaya menggantung ucapannya.
"Kita berdua apa?" Gilang mengerenyitkan keningnya.
"Tidak apa-apa,Mas." ucap Cahaya, memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya. Padahal awalnya dia mau mengatakan mereka berdua belum saling mencintai. Dia sangat ingin melakukan hubungan suami istri karena cinta bukan karena naf*su.
Gilang menghela napasnya karena melihat wajah Cahaya yang sepertinya masih enggan untuk melakukan hal itu dengannya.
"Kamu tidurlah! nanti aku akan menyusulmu," Gilang kembali bergerak ingin turun dari atas ranjang. Namun,lagi-lagi Cahaya menahan tubuh suaminya itu.
"Baiklah, Mas aku bersedia." ucap Cahaya dengan nada suara yang sangat pelan, karena kalau dipikir-pikir bagaimanapun mereka berdua sudah menjadi suami istri.
Tbc
__ADS_1