
"Halo, Den?" sapa Reynaldi.
"Rey, kata Dania tadi Reyna diam-diam menemui Gilang, dan mereka berdua bahkan berpelukan. Aku mau kamu nasehati Reyna agar jangan seperti itu lagi. Dania sekarang jadi menangis dan uring-uringan," tanpa membalas sapaan Reynaldi, Denis langsung meluapkan amarahnya.
"Maksud kamu apa? kenapa harus aku yang menasehati anakku? bagaimana dengan kamu, apakah kamu juga sudah menasehati anakmu?" sahut Reynaldi dengan nada sinis. Sumpah pria yang terkenal sabar itu mulai terpancing amarahnya.
"Kenapa kamu malah membalikkannya ke aku? yang bersalah di sini kan Reyna. Dia sudah tahu kalau Dania sudah bertunangan dengan Gilang, kenapa dia masih menemui Gilang diam-diam?" Denis terdengar mulai kesal.
"Denis, aku sudah cukup bersabar selama ini. Apa kamu kira aku tidak tahu kalau Reyna dan Gilang saling mencintai? tapi karena ingin Dania bahagia dan tidak bertindak nekad, anakku merelakannya pada Gilang. Aku cukup bersabar melihat anakku bersedih. Dan setiap pagi, anakmu muncul mengajak Reyna ke rumah Gilang, maksudnya apa coba? kalau masalah marah, seharusnya aku yang marah,tapi aku tidak melakukannya karena apa? karena aku tahu kalau Dania putrimu, putri sahabatku. Tapi dengan sikapmu yang tidak bijaksana kali ini, maaf saja aku sudah tidak bisa menahan marah lagi." tutur Reynaldi panjang lebar tanpa jeda.
Tidak terdengar sahutan dari Denis. Sepertinya pria itu tidak bisa membantah ucapan Reynaldi.
"Seharusnya kamu tidak perlu menghubungiku dan memintaku untuk menasehati putriku,. karena tanpa kamu minta pun, aku juga akan tetap menasehati putriku. Yang jadi pertanyaan sekarang, apa kamu melakukan hal yang sama? apa kamu juga menasehati Dania? seharusnya kamu menasehatinya lebih dulu dan mengajakku bicara baik-baik, bukan dengan cara marah-marah seperti ini. Dimana Denis yang dulu? yang sekarang benar-benar bukan seperti kamu, " sambung Reynaldi kembali dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari Denis.
"Asal kamu tahu, apa yang kamu lakukan sekarang ini bukan membuat masalah selesai, justru akan semakin memperbesar masalah." lanjut Reynaldi lagi. " Den,kamu seorang papa yang menginginkan kebahagiaan putrimu, apa menurutmu aku juga tidak demikian? aku juga menginginkan kebahagiaan Reyna, tapi bukan dengan cara memaksakan kehendak. Kalau aku mau, bisa aja demi Reyna aku meminta pada keluarga Maheswara untuk membatalkan pertunangan Dania dan Gilang, karena Gilang tidak pernah mencintai putrimu, tapi dia mencintai putriku. Tapi, aku bukan kamu. selain pikiran, aku juga menggunakan hati untuk melakukan tindakan apapun. Maaf kalau aku berkata kasar dan menyakitkan, ingat pertunangan Dania dan Gilang adalah sumbangan dari Reyna!" Reynaldi memutuskan panggilan dengan sepihak karena sudah sangat kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di lain tempat, tepatnya di sebuah kamar besar yang tidak lain kamarnya Gilang dan Cahaya, tampak wajah Gilang yang sepertinya sedangkan memikirkan sesuatu.
Benar, pria itu sedang memikirkan sikap Reyna pagi tadi yang benar-benar di luar prediksinya.
"Hmm, bagaimana kondisinya sekarang? apa masih sedih seperti tadi pagi?" batin Gilang sembari meraih ponselnya. Pria itu mencari nomor kontak Reyna, dan berniat hendak menghubungi wanita itu, tapi kemudian dia urungkan dan meletakkan kembali handphonenya ke tempat semula.
Gilang masih saja merasa khawatir, lagi-lagi dia meraih ponselnya tapi lagi-lagi dia urungkan.
"Ah, sudahlah! lebih baik aku jangan menghubunginya dulu, biar dia bisa lebih tenang," bisik Gilang pada dirinya sendiri. Kemudian pria itu merebahkan tubuhnya Deny terlentang sembari menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Drtt Drttt
__ADS_1
tiba-tiba terdengar suara getaran yang berasal dari Handphone Gilang. Pria itu sontak duduk dan meraih ponselnya.
Gilang mengrenyitkan keningnya begitu melihat nama orang yang menghubunginya adalah wanita yang sedang dia pikirkan.
"Hallo, Reyna!" sapa Gilang dengan suara yang lembut.
Tidak terdengar sahutan dari Reyna.
"Reyna? halo!" Gilang kembali menyapa.
"Hallo, Gilang. Apa Cahaya ada di situ?" akhirnya Reyna buka suara.
"Tidak! dia ada di bawah. Sepertinya menyiapkan makan malam. Kamu apa kabar? apa kamu sudah merasa tenang?" Gilang akhirnya menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
"Aku baik-baik saja. Aku justru menghubungimu, ingin meminta maaf atas sikapku tadi pagi. Aku sudah bersikap egois tadi. Maaf ya, Lang!" suara Reyna terdengar sangat lirih.
Seulas senyuman akhirnya timbul di bibir Gilang. Ada perasaan lega di dalam hatinya, karena sepertinya Reyna sudah kembali ke Reyna yang dulu.
"Tidak! kamu tidak menyakiti hatiku. Aku saja yang tidak sadar diri kalau kamu sudah menjadi suami Cahaya. Mulai sekarang aku harus berusaha membiasakan diri untuk tidak merasa sakit hati melihat kalian berdua," ucap Reyna yang terdengar tulus.
"Oh ya,apa kamu dan Cahaya sudah melakukan itu?" Reyna mulai mencairkan suasana dengan berusaha mengajak Gilang untuk bercanda.
"Belum! karena baik aku maupun dia belum sepenuhnya siap,"
"Kenapa harus ditunda? tidak baik menunda hal baik, lho. Kamu normal kan?" ledek Reyna.
"Kamu meragukanku? aku benar-benar normal,"
Tawa Reyna seketika pecah, mendengar ucapan Gilang yang terlihat kesal padanya.
__ADS_1
" Takutnya kamu nggak normal. Masa tidur sekamar dengan perempuan yang sudah sah jadi istri tidak ngapa-ngapain. Jadi pantas kalau aku mempertanyakan kenormalanmu," Reyna masib saja meledek
"Ada saatnya untuk itu. Aku tidak mau memaksa Cahaya untuk melakukan kewajibannya," sahut Gilang, serius.
"Iya, iya. Aku mengerti. Udah dulu ya, Lang aku mau makan malam dulu, bye!
"Iya, bye!" sahut Gilang.
"Mas, makan malam sudah siap." Gilang tersentak kaget karena ternyata Cahaya sudah berdiri di sampingnya
"Ka-kamu, sejak kapan kamu berdiri di situ?" Gilang terlihat gugup.
"Baru saja,Mas. Emangnya kenapa?" Cahaya mengrenyitkan keningnya.
"Oh, baru saja ya? tidak ada apa-apa," Gilang menghembuskan napas, lega.
"Kalau baru saja, berarti dia tidak tahu kan kalau aku baru teleponan dengan Reyna? mudah-mudahan dia tidak tahu," bisik Gilang pada hatinya sendiri.
"Oh iya, kamu tadi bilang apa?"
sikap Gilang sudah kembali seperti semula.
"Makan malam sudah siap, dan semuanya sudah menunggu di bawah," Cahaya mengulangi ucapannya.
"Oh, ok. Kamu duluan saja ke bawah. Aku ke kamar mandi dulu sebentar. Nanti aku akan menyusul," Cahaya menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.
"Apa-apaan aku ini? kenapa aku bisa takut dia salah paham kalau aku teleponan dengan Reyna? aku kan tidak bicara yang aneh-aneh dengan Reyna. Apa aku terlihat seperti seorang suami yang ketakutan karena ketahuan sedang selingkuh ya? tidak kan?" Gilang mengusap wajahnya dengan kasar.
Sementara itu, Cahaya berjalan dengan kening yang berkerut, mengingat perubahan wajah Gilang tadi.
__ADS_1
"Kenapa dengan mas Gilang? kenapa dia gugup tadi? benar-benar aneh dia." Cahaya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tbc