Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Gio dan Gendhis


__ADS_3

Reyna membuka matanya secara perlahan dan memijat kepalanya yang masih terasa pusing. Wanita itu berusaha untuk mengingat apa yang sudah terjadi.


"Bukannya tadi aku menolong persalinan Cahaya, tapi kenapa aku bisa ada di ruangan ini?" batin Reyna, bingung.


Di saat yang bersamaan, Randi tampak keluar dari dalam kamar mandi. Senyum di bibir pria itu seketika merekah melihat Reyna yang sudah siuman.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Randi sembari mengelus rambut Reyna dengan lembut.


"Kenapa aku bisa ada di sini, Sayang?" tanya Reyna dengan alis yang bertaut.


"Tadi kamu pingsan setelah menolong persalinan Cahaya. Kamu kenapa sih memaksakan diri untuk menolong persalinan Cahaya padahal kepalamu sedang pusing? untung saja anak kita nggak pa-pa. Harusnya tadi, kamu meminta dokter lain menolong persalinan Cahaya," cerocos Randi yang tiba-tiba merasa kesal.


"S-Sayang tunggu dulu! tadi kamu bilang apa? anak kita? anak yang mana kamu maksud?" Reyna mengrenyitkan keningnya.


"Ya anak kita lah. Masa kamu yang dokter kandungan nggak tahu kalau sedang hamil?" Randi masih terlihat sangat kesal.


"H-hamil? aku hamil, Sayang? kamu tidak bercanda kan?" Reyna masih kurang percaya.


"Kamu coba periksa sendiri, untuk tahu aku bercanda atau tidak," sahut Randi.


"Kamu kenapa sih marah seperti itu? aku menolong Cahaya karena aku tidak tahu kalau aku sedang hamil. Lagian, aku baik-baik saja kan? jadi kenapa kamu harus sesewot itu?" Reyna mulai kesal dengan sikap Randi.


Randi terdiam dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan diri agar tidak marah lagi. Karena bagaimanapun memang tidak seharusnya dia marah.


"Emm, maaf Sayang! aku hanya tidak habis pikir saja, bagaimana seorang dokter kandungan bisa tidak tahu, kalau dirinya sedang hamil," ucap Randi,.


"Walaupun aku seorang dokter kandungan, tapi aku juga seorang manusia yang memang yang tentu saja bisa salah,". Reyna masih setia mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya maaf Sayang. Udah ya kamu jangan cemberut lagi. Yang jelas sebentar lagi kita akan jadi orang tua," pungkas Randi sembari memeluk istrinya itu.


"Apa? jadi sebentar lagi kami akan jadi kakek dan nenek?"tiba-tiba Reynaldi dan Nayla muncul dan sudah berdiri di ambang pintu. Wajah pasangan setengah baya itu tampak berbinar bahagia.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ruangan perawatan Cahaya sudah ramai diisi dengan kehadiran keluarga besar Maheswara dan orang-orang dekat keluarga itu. Mereka terlihat sangat antusias menunggu perawat datang membawa calon penerus dinasti dari perusahaan the sky group.


suara gelak tawa seketika berhenti begitu pintu terbuka dan dua orang wanita memakai seragam perawat masuk sambil membawa bayi di tangan masing-masing.


"Ini bayinya Tuan," ucap salah satu dari perawat itu sembari memberikan bayi yang terbungkus bedong berwarna biru, pada Gilang.


"Terima kasih, Sus!" ucap Gilang, terharu melihat wajah putranya. Pria itu menggendong putra pertamanya dengan gamang. Lalu dia menghampiri ranjang tempat Cahaya yang sudah menggendong bayi dengan bedong berwarna pink.


Gilang lalu mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. " Terima kasih ya, Sayang, sudah mau mengandung dan melahirkan anak-anak setampan dan secantik mereka, dengan penuh perjuangan," ucap Gilang dengan lembut. Cahaya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Gilang menoleh ke arah Jelita mamanya. " Terimakasih ya,Ma, atas perjuanganmu dulu untuk melahirkanku. Maaf, kalau selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik buat Mama," ucap Gilang dengan mata yang berkaca-kaca. "Tadi, suasana di dalam sana sangat mengerikan, Ma. Aku tidak menyangka, kalau aku bisa sanggup melihat perjuangan Cahaya melahirkan kedua anak-anakku sampai akhir," lanjut Gilang kembali.


Gavin berdeham dan berdiri,lalu beranjak menghampiri Gilang, " Nak, kalau kamu tahu perjuangan istrimu,saat melahirkan anak-anakmu, jangan pernah sakiti istrimu. Cintai dan sayangi dia sepenuh hatimu!" ujar Gavin, sembari memberikan tepukan lembut di bahu Gilang.


"Iya, Pa, aku tidak akan menyakiti istriku." sahut Gilang, tegas dan mantap.


"Pa, ini anakku! aku yang mencetaknya, gak mungkin mirip Papa, Pastinya mirip aku lah!" cetus Gilang tidak terima.


"Emm, kamu ini anak siapa?" tanya Gavin ambigu.


"Anak Papa dan Mama lah. Kok nanyanya begitu sih? lupa ya sama anak sendiri?" jawab Gilang dengan nada kesal.


"Kamu mirip siapa?" tanya Gavin lagi.


"Kata orang sih mirip Papa." sahut Gilang, pelan.


"Nah itu dia ...! anakmu mirip kamu, sedangkan kamu, mirip Papa, itu berarti anakmu juga mirip papa dong!" ujar Gavin sembari tertawa, melihat wajah Gilang yang kusut seperti kain belum disetrika.


"Sayang, kamu bisa tidak berhenti tertawa? nanti cucu-cucu kamu bangun!" celetuk Jelita pelan dan lembut,tapi disertai dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


Suara tawa Gavin seketika mereda, mendengar ucapan Jelita, yang walaupun diucapkan dengan lembut, tapi mengandung aura yang berbahaya baginya.


Kemudian Jelita menoleh ke arah Gilang yang berusaha menahan tawanya melihat ekspresi papanya.


"Lang, kamu mau kasih nama siapa mereka Sayang?" tanya Jelita.


"Untuk putraku, aku mau kasih nama Giovano Tristan Maheswara. Giovano artinya Anugrah Tuhan yang indah. Tristan artinya gagah berani. Aku mau dia menjadi seorang laki-laki yang bijaksana dan gagah berani." tutur Gilang dengan senyum yang mengembang. Lalu dia menghampiri Cahaya, dan menatap putri kecilnya itu, yang terlihat menggeliat di pangkuan bundanya.


"Untuk putriku, aku kasih nama Gendhis Corinna Maheswara. Gendhis artinya gula yang berarti manis. Corinna artinya gadis.Jadi aku mau dia nanti jadi gadis yang manis seperti gula. Gimana sayang,apa kamu setuju?" tanya Gilang pada Cahaya.


"Hmm,namanya bagus Mas. Aku suka!"ucap Cahaya dengan seulas senyuman yang tersemat di bibirnya.


"Hai, Gio ... hai, Gendhis, welcome to the world!" seru Cahaya sembari menoel-noel hidung putra dan putrinya itu.


"Nama yang bagus Sayang! selamat ya, sekarang sudah jadi seorang ayah." ucap Jelita dengan seulas senyum juga di bibirnya.


"Oh ya, Mas. Bagaimana kabar Kak Reyna? apa sudah ada kabar dari Kak Randi?" celetuk Cahaya yang disambut antusias oleh yang lainnya. Karena mereka memang juga ingin tahu apa yang sudah terjadi pada wanita itu.


"Reyna tidak apa-apa, dia pingsan karena pusing diakibatkan oleh hormonnya yang sedang hamil muda," bukan Gilang yang menjawab, melainkan Randi yang sudah muncul bersama dengan Reyna, kedua orangtua dan mertuanya.


"Wah, serius?" Cahaya terlihat begitu antusias mendengar kabar itu.


"Iya, serius!" jawab Randi tegas.


"Selamat ya!" semua yang ada di dalam ruangan itu, bergantian mengucapkan selamat tak terkecuali Dania yang sebenarnya langsung merasa sedih, karena dirinya belum juga mendapat tanda-tanda kehamilan di dirinya.


"Selamat ya, Reyna! semoga menular juga padaku," ucap Dania sembari mengelus perut Reyna dan berpindah mengelus perutnya.


Tbc


Kalau memungkinkan, novel ini akan tamat satu atau dua episode lagi ya Guys. Kalau berkenan silahkan mampir di karyaku yang baru, yang berjudul 'Kan Kukejar Mimpi'. Sudah ada 8 episode. Terima kasih 🙏🏻😍

__ADS_1



__ADS_2