Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Pantas saja aku seperti mengenalnya


__ADS_3

"Astaga, siapa yang kamu bawa ini, Nak?" pekik seorang wanita setengah baya, kaget melihat putra satu-satunya, Randi membawa seorang perempuan yang tertidur.


"Aku nggak tahu, Ma," ucap Randi sembari membaringkan tubuh Reyna di atas sofa.


"Kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan padanya?" Mata wanita yang dipanggil mama itu memicing, menyelidik.


"Apaan sih, Ma? tentu saja tidak!" jawab Randi tegas.


"Jadi, kamu menemukannya di mana?" seorang pria buka suara dan dapat dipastikan kalau pria itu adalah papanya Randi.


"Dia tadi hampir menjadi korban seorang pria bejat. Di minumannya dibubuhi obat tidur, makanya sekarang dia tertidur pulas seperti itu," tutur Randi menjelaskan.


"Kasihan dia! untung dia masih bisa diselamatkan," ucap mamanya Randi sembari menatap iba wajah Reyna.


"Kenapa kamu membawanya ke sini? kenapa kamu tidak menghubungi keluarganya?" tanya papanya Randi lagi.


"Astaga,iya ya? kok aku nggak kepikiran sampai ke sana ya?" Randi menggaruk-garuk kepalanya. "Padahal dia bawa tas, dan aku yakin di dalam tasnya pasti ada handphone atau kartu identitasnya." sambung Randi lagi.


"Ternyata orang cerdas seperti kamu bisa jadi bodoh juga ya?" celetuk mama Randi, meledek.


"Apa dia bidadari yang kamu katakan, hingga membuat kamu bisa tidak berpikir ke arah sana?" papa Randi kembali buka suara.


"Tidak, Pa." jawab Randi, singkat padat dan jelas.


"Tapi, dia juga cantik," mamanya Randi tersenyum sembari menatap wajah Reyna dengan intens. "Emm, kenapa wajahnya seperti tidak asing ya, Sayang. Aku seperti pernah melihat wajahnya." mamanya Randi menoleh dan bertanya pada suaminya.


"Masa sih? itu hanya perasaan kamu aja kali," sahut papanya Randi sembari ikut melihat ke arah wajah Reyna.


"Iya juga ya? aku juga seperti pernah melihat wajahnya," pria setengah baya itu, menimpali ucapan sang istri.


Wanita setengah baya itu kembali menatap wajah Reyna dengan intens, berusaha mengingat wajah wanita di depannya.


"Ah, sudahlah! mungkin hanya perasaanku saja. Kan banyak orang yang mirip," celetuk wanita itu putus asa karena tidak berhasil mengingat siapa pemilik wajah yang mirip dengan wanita muda di depannya.


"Randi, sebaiknya kamu bawa dia ke dalam kamar dulu. Setelah itu kamu ambil kembali tasnya dan hubungi keluarganya. Mungkin keluarganya sekarang sedang khawatir memikirkan dia," titah papanya Randi.


"Baik, Pa!" Randi kembali mengangkat tubuh Reyna dan membawa wanita itu masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Randi membuka pintu mobilnya dan meraih tas Reyna keluar. Di saat dia hendak meraih tas itu, di saat itu pula handphone wanita itu berbunyi.


Randi melihat kalau papa wanita itu sedang menghubungi. Pria itupun seketika langsung menekan tombol jawab.


"Halo!" sapa Randi dengan sopan.


"Siapa kamu? kenapa kamu yang mengangkat handphone anakku? Dimana Reyna?" tanya Reynaldi papanya Reyna beruntun. Sangat terdengar jelas kalau pria itu sangat panik.


"Oh, ternyata nama wanita itu Reyna," batin Randi


"Hei, kenapa kamu tidak menjawab! di mana anak saya?" bentak Reynaldi, tidak sabar.


"Eh, maaf, Om. Anak om sekarang ada di rumah saya. Karena dia sekarang dia masih di bawah pengaruh obat tidur,"


"APA! obat tidur? bagaimana bisa?" Randi menjauhkan handphone dari telinganya karena suara Reynaldi yang sangat menggelegar dari ujung sana.


Akhirnya Randi pun menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Reyna tanpa menambahi atau mengurangi sedikitpun.


"Kurang ajar! beraninya dia!" Randi menyadari kalau pria yang merupakan papa Reyna, sangat marah sekarang. Randi bisa membayangkan kalau wajah pria itu pasti memerah sekarang.


"Tapi kenapa kamu malah membawanya ke rumahmu? kenapa tidak langsung membawa pulang ke rumah kami?"


"Tapi anak saya benar-benar tidak apa-apa kan?" Reynaldi masih belum sepenuhnya tenang.


"Dia baik-baik saja, Om. Sekarang lagi ditemani sama mama,"


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih, ya. Aku tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada kamu," dari nada suara Reynaldi, Randi tahu kalau pria itu sudah mulai tenang.


"Nak, kamu kirimkan alamat kamu, biar aku dan aku istriku menjemput Reyna."


"Tidak perlu, Om! biar aku saja yang mengantarkannya pulang," Randi menawarkan diri.


"Tidak,Nak. Kami tidak mau menyusahkan kamu lagi. Nanti kamu akan sangat capek. Jadi lebih baik kamu kirimkan alamat kamu saja," tolak Reynaldi.


"Baiklah kalau begitu, Om." pungkas Randi akhirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reynaldi dan Nayla keluar dari dalam mobil di depan sebuah rumah mewah. Mereka langsung berjalan dengan cepat, karena sudah tidak sabar ingin melihat kondisi Reyna.

__ADS_1


Reynaldi menekan bel dan menunggu ada yang membukakan pintu untuk mereka.


Tidak perlu menunggu lama, pintu yang terbuat dari material mahal dan berkualitas itu terbuka dan memunculkan sosok pria yang tampan.


"Selamat malam! apa kamu Randi?" tanya Reynaldi dengan nada tidak sabar.


"Benar, Om. Apa Om dan Tante ini orang tua Reyna?" tanya Randi memastikan.


"Iya, kami orang tuanya. Apa kami boleh masuk untuk melihatnya?" kali ini Nayla yang buka suara.


"Tentu saja boleh, Tante. Silakan masuk!" Randi langsung memberikan jalan pada Reynaldi dan Nayla.


"Dimana anak saya?" tanya Reynaldi Deny mata yang mengedar mencari keberadaan Reyna.


"Oh, dia ada di dalam kamar yang itu, Om. Di dalam sana ada mama dan papa," Randi menunjuk ke arah ruangan yang tertutup.


"Mari ikut aku ke sana,Om!" Randi berjalan lebih dulu, disusul oleh Reynaldi dan Nayla.


Randi membuka pintu dengan perlahan. "Ma, Pa, orang tua gadis itu sudah di sini," ujar Randi.


"Oh, suruh saja mereka masuk!" sahut papanya Randi.


"Om, Tante silahkan masuk!"


Reynaldi dan Nayla menganggukkan kepala dan langsung masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Reyna.


Kedua orang tua Randi langsung berdiri untuk menyambut Reynaldi dan Nayla. Mata Mamanya Randi seketika membesar ketika mengenali wajah orang tua gadis yang ditolong oleh anaknya itu.


"Reynaldi,Nayla! kalian berdua ...." namanya Randi menggantung ucapannya dan langsung menghambur memeluk Nayla.


"Meta! akhirnya kita bisa bertemu lagi," ucap Nayla dengan wajah yang berbinar. Ya, mamanya Randi adalah Meta, rekan sejawat Nayla dulu di rumah sakit sekaligus mantan pacar Reynaldi. Meta berhenti kerja karena mengalami pendarahan setelah melahirkan Randi dulu.


"Hai, Ren apa kabar?" Reynaldi melakukan tos dengan Reno papanya Randi. Sementara itu Randi berdiri dengan raut wajah kebingungan melihat interaksi orangtuanya yang ternyata mengenal orang tua gadis yang ditolongnya.


"Pantas saja aku seperti pernah melihat wajah gadis itu. Ternyata dia putri kalian berdua," ujar Meta sembari tertawa kecil.


"Iya lah. Tidak mungkin kamu tidak mengingat. Soalnya wajahnya sangat mirip dengan Reynaldi kan?" ledek Nayla yang membuat tawa pecah di ruangan itu, kecuali Randi yang masih terlihat seperti orang bodoh.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2