
Mentari pagi kini sudah mulai memancarkan sinarnya dari ufuk timur, walaupun masih terkesan malu-malu. Kelopak mata Cahaya mulai bergerak-gerak pertanda kalau wanita itu akan bangun dari tidurnya.
Benar saja bola mata wanita itu terbuka, dan beberapa saat dia terlebih dulu mengerjap-erjap agar matanya bisa beradaptasi dengan sinar yang baru tertangkap oleh matanya.
Setelah merasa matanya sudah bisa beradaptasi, wanita itu seketika kaget melihat posisi dirinya yang sudah sangat dekat dengan Gilang, bahkan tangan dan kakinya ada di atas tubuh pria itu, seakan dirinya sedang memeluk guling.
"Ahhh, apa yang Tuan lakukan? mau cari kesempatan ya?" tukas Cahaya sembari melompat menjauh dari tubuh Gilang.
"Apaan sih? siapa yang mengambil kesempatan? justru kamu yang mengambil kesempatan," sahut Gilang dengan raut wajah yang masih terlihat sangat mengantuk.
"Aku tidak ada mengambil kesempatan, Tuan yang mau mengambil kesempatan padaku," ucap Cahaya masih yakin dengan tuduhannya.
Gilang menghela napasnya dengan mata yang masih terpejam. Kemudian, pria itu membuka matanya dengan perlahan, duduk dan menatap Cahaya.
"Coba kamu lihat tempat kamu tidur, kosong dan lapang begitu. Itu berarti kamu yang mendekat ke arahku, dan coba kamu ingat, siapa yang memeluk siapa. Apa aku ada memelukmu? yang ada kamu yang memelukku," ucap Gilang, yang membuat Cahaya langsung terdiam.
Wajah wanita itu seketika berubah merah menahan malu, begitu mengingat kalau dia yang memeluk Gilang.
"Kamu benar-benar tidak bisa diam saat tidur. Kamu tahu nggak, gara-gara kamu aku sulit tidur tadi malam," sambung Gilang, sembari merebahkan tubuhnya kembali.
"Ma-Maaf, Tuan!" desis Cahaya, lirih menahan malu.
"Hmm," sahut Gilang, singkat sembari memejamkan matanya.
Mata Cahaya tiba-tiba melihat jam yang terletak di atas nakas dekat Gilang tidur. Seketika wanita itu melompat dari tempat tidur melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul setengah tujuh.
"Kamu kenapa?" Gilang membuka matanya kembali karena kaget dengan gerakan Cahaya yang tiba-tiba.
"Aku kesiangan, Tuan! aku belum menyiapkan sarapan," jawab Cahaya panik.
__ADS_1
"Bagaimana tidak kesiangan,kamu terlalu enak tidurnya karena memelukku," ledek Gilang masih dengan wajah datarnya.
"Te-tentu saja bukan karena itu, tapi karena__"
"Ah, sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Lagian kenapa kamu sepanik itu? tidak akan ada yang memarahimu, jadi santai aja," ucap Gilang seraya kembali memejamkan matanya.
"Tidak akan ada yang memarahi, tapi aku malu," gumam Cahaya dengan sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Gilang, hingga membuat pria itu tersenyum tipis.
Cahaya berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan sedikit bersih-bersih pada tubuhnya dan mengganti piyamanya ke pakaian rumahan. Setelah selesai, wanita itu kemudian kembali melangkah ke luar dan melihat Gilang yang sepertinya sudah kembali terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya menuruni anak tangga dan langsung menuju ke dapur. Wanita muda itu melihat ada Jelita dan seorang pembantu lain di dalam dapur. Dengan perasaan yang tidak enak, Cahaya melangkah mendekati Jelita dan mantan rekan kerjanya itu.
"Ma-Maaf, Bu aku telat bangun," ucap Cahaya dengan nada yang sangat pelan.
"Eh, tidak apa-apa, Cahaya. Santa saja," sahut Jelita sembari menyelipkan senyuman di bibirnya. "Oh, ya kamu jangan panggil ibu lagi dong, panggil aku mama dan papanya Gilang papa. Kamu kan sudah jadi menantu di rumah ini," sambung Jelita kembali.
"Oh, iya apa yang harus aku bantu, Ma?" tanya Cahaya kembali untuk menghilangkannya rasa canggungnya.
"Sepertinya tidak ada, Sayang. Kamu kembali aja ke kamar," sahut Jelita sembari memotong-motong bawang.
"Nggak, Ma. Mama aja yang kembali ke kamar. Biar aku dan Mbak Rini yang menyiapkan sarapan," Cahaya mengambil alih pisau dari tangan Jelita.
"Seperti itu ya? apa kamu nggak merasa lelah?" tanya Jelita, walaupun sebenarnya dia tahu kalau Gilang dan Cahaya tidak mungkin sudah melakukan hal yang biasa dilakukan oleh pengantin baru, mengingat belum ada cinta di antara putra dan menantunya itu.
"Tidak kok,Ma. Tidurku cukup," sahut Cahaya sembari melakukan hal yang dilakukan oleh mama mertuanya itu.
"Ya udah, kalau begitu mama kembali ke kamar dulu ya. Sepertinya papamu sudah bangun," Jelita beranjak pergi, setelah Cahaya dan wanita yang dipanggil mbak Rini itu mengiyakan.
__ADS_1
"Mbak Rini, maaf ya aku kesiangan," ucap Cahaya yang seketika merasa segan pada Rini.
"Eh, kenapa kamu harus minta maaf. Tidak apa-apa lagi,Aya." Rini tersenyum tulus. Jujur wanita itu tidak memikirkan perasaan iri pada Cahaya, karena dia menganggap setiap orang itu punya jalan rejeki masing-masing. Dengan bisa bekerja di keluarga Maheswara saja sudah membuat wanita itu sangat bersyukur, sehingga bisa memberikan kehidupan yang layak pada dua anaknya yang dia titipkan pada mamanya semenjak bercerai dengan suaminya.
"Soalnya,aku jadi tidak enak pada Mbak Rini. Harusnya memasak kan pekerjaanku," ucap Cahaya.
"Tidak apa-apa! Oh ya, bagaimana tadi malam? apa kamu dan Tuan Gilang sudah ...." Rini mengerucutkan kedua tangannya dan membuat gerakan ciuman.
"Mbak, sekarang biarkan aku yang memasak semua ini. Mbak Rini bisa melakukan pekerjaan, Mbak biar cepat selesainya,". bukannya menjawab pertanyaan Rini, Cahaya malah sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Idih, sengaja ya mengalihkan pembicaraan. Pelit amat sih," Rini, berpura-pura memasang wajah masam dengan cara mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Cahaya terkekeh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya sudah selesai dengan memasak. Wanita itu segera kembali ke kamar dan melihat ranjang yang sudah kosong. Suara gemericik air dari arah kamar mandi, menandakan kalau Gilang sedang mandi.
Cahaya sontak merapikan tempat tidur, kemudian mengambilkan pakaian kerja buat Gilang. Saat melihat pakaian dalam pria itu, Cahaya menggaruk-garuk kepalanya, dilema antara mau menyentuh pakaian dalam itu, atau tidak.
"Sepertinya tidak apa-apa,aku menyentuhnya. Kan sudah biasa juga menyentuh Ce*lana dalam," batin Cahaya sembari meraih benda yang berbentuk segitiga itu.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" Cahaya tersentak kaget, karena ternyata Gilang sudah berdiri di belakangnya. Bahkan benda berbentuk segitiga itu, terlempar dan mendarat mulus di wajah Gilang.
Wanita itu sontak mengerjap-erjapkan matanya, melihat tubuh Gilang yang shirtless, hanya berbalut seutas handuk yang melilit di pinggangnya.
"Kamu lihat apa? kamu belum pernah melihat tubuh pria di manapun ya?" Gilang kembali buka suara, menyadarkan Cahaya dari rasa kagumnya.
"Tu-Tuan, A-aku hanya ingin menyiapkan pakaian anda. Aku tidak bermaksud mau mencuri atau apapun itu. Aku juga tidak melihat apa-apa," tutur Cahaya dengan suara yang gemetar saking gugupnya, bahkan wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Sudut bibir Gilang tertarik sedikit membentuk senyuman yang sangat tipis. Saking tipisnya, harus dilihat dengan teliti baru ketahuan kalau dia sedang tersenyum.
__ADS_1
Tbc