
Selamat pagi!
seandainya mentari bisa bicara, mungkin itulah kata pertama yang dia ucapkan untuk mengawali hari. Cahaya sudah bangun dari tadi dan bahkan sudah selesai membantu Rini menyiapkan sarapan pagi.
Wanita itu masuk ke dalam kamar dan melihat kalau ranjang juga sudah kosong pertanda Gilang juga sudah bangun.
Seperti biasa, Cahaya langsung menyiapkan pakaian kerja buat Gilang, sebelum pria itu keluar dari dalam kamar mandi.
Baru saja Cahaya meletakkan pakaian Gilang, di atas ranjang, pria itu sudah tampak keluar dari dalam kamar mandi. Seperti sebelum-sebelumnya juga Cahaya langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain, merasa malu melihat tubuh Gilang.
"Aya, kamu sudah mandi?" tanya Gilang sembari meraih pakaiannya.
"Belum, Mas. Emangnya kenapa?" Cahaya mengrenyitkan keningnya, karena tumben Gilang menanyakan hal itu.
"Kamu sebaiknya mandi sekarang, aku akan meminta mbak Rini untuk memasukkan sarapan kita ke dalam kotak makanan saja. Kita akan sarapan di mobil," ucap Gilang, sembari mengenakan kemeja ke tubuhnya.
"Kenapa harus sarapan di mobil, Mas?"
"Aku tahu kamu pasti tahu jawabannya. Aku tidak mau bertemu dengan Dania. Aku yakin kalau dia pasti akan datang ke sini lagi. Aku bingung, bisa-bisanya dia pagi sekali sudah datang ke sini," Gilang berdecak, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu masih bengong? ayo mandi dan siap-siap! aku akan mengantarkanmu ke kampus lebih dulu," tegur Gilang karena melihat Cahaya yang masih belum bergerak dari tempat dia berdiri.
"Sepertinya tidak perlu, Mas. Aku bisa berangkat sendiri. Takutnya ngerepotin," tolak Cahaya,dengan sopan.
"Kalau aku sudah mengatakan akan mengantarkanmu, berarti tidak ada yang merasa direpotkan. Sekarang sebaiknya kamu mandi saja, atau kamu mau lihat aku memakai celana?" ucap Gilang, nada yang sedikit menggoda.
"Ti-tidak mau! iya aku mandi sekarang!" Cahaya sontak berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang memerah. Hal itu tentu saja membuat Gilang tersenyum tipis.
Baru saja Cahaya masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba wanita itu kembali keluar.
"Arghhhh!" teriaknya sembari menutup mata dengan menggunakan telapak tangannya. Bagaimana tidak, wanita itu melihat Gilang yang sudah menanggalkan handuk dari pinggangnya, sehingga perkakas pria itu terlihat.
Mendengar teriakan Cahaya, Gilang tersentak kaget dan langsung buru-buru meraih handuknya kembali dan menutupi perkakasnya itu.
"Kenapa kamu keluar lagi? dan kenapa gak bilang-bilang?" tanya Gilang dengan nada yang kesal.
"Aku lupa, kalau aku tidak bawa baju ganti ke dalam. Aku tadinya mau ambil, Mas," jawab Cahaya dengan mata yang masih tertutup.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu harus bawa baju ganti ke kamar mandi? kalau begitu apa gunanya walk in closet itu?" Gilang masih terlihat kesal. Bukan hanya kesal tapi juga cukup malu. Dia berharap, Cahaya tadi tidak sempat melihat miliknya.
"Hmm, aku lebih nyaman ganti di kamar mandi, Mas." jawab Cahaya.
"Ya udah ambil sana!" Cahaya berjalan menuju walk in closet dengan tatapan ke samping. Sementara itu Gilang duduk di atas ranjang dan menunggu sampai Cahaya keluar dari walk in closet dan masuk lagi ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar tidak mau kejadian yang cukup memalukan itu terjadi lagi. Sembari menunggu Cahaya keluar, dia menelepon ke bawah untuk meminta Rini menyiapkan 3 kotak makanan. Untuknya, Cahaya dan satu lagi untuk Bayu.
Tidak beberapa lama, Cahaya keluar dari walk in closet dengan wajah yang masih memerah. Wanita itu benar-benar tidak berani melihat wajah Gilang.
"Aya, tunggu dulu!" panggil Gilang tiba-tiba.
"Iya, Mas?" sahut Cahaya tanpa menoleh ke belakang.
"Emm ... emm tadi kamu tidak melihat apa-apa kan?" tanya Gilang berharap Cahaya menjawab 'tidak'.
Gilang menarik napas lega, begitu melihat Cahaya yang menggelengkan kepala.
"Syukurlah!" gumam Gilang.
"Ternyata kalau sudah dewasa, bentuknya seperti itu. Kok jadi coklat mengarah ke hitam ya?" gumam Cahaya tanpa sadar dan tentu saja masih bisa didengar oleh telinga Gilang yang tajam.
"Astaga, dia mendengarnya!" Cahaya sontak berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Brakk
Saking paniknya, Cahaya menutup pintu dengan sangat keras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang dan Cahaya kini sudah berada di dalam mobil. Kondisi awkward terjadi di antara mereka berdua, mengingat kejadian di dalam kamar tadi. Cahaya bahkan tidak berani melihat ke arah Gilang yang berusaha untuk tetap bersikap biasa, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kalian berdua diam saja? apa kalian sedang musuhan?" celetuk Bayu dari balik kemudi, sembari melirik ke belakang melalui kaca spion.
"Kami diam karena tidak ada yang mau dibicarakan," sahut Gilang, ketus.
"Kenapa tidak ada? seharusnya kan ada. Emang kamu nggak mau kasih __"
"Oh iya, yang aku minta tolong kamu tadi malam ya? mana? ada kan?" Gilang langsung teringat dengan perintahnya tadi malam.
__ADS_1
"Kamu tidak minta tolong, tapi memerintah," sahut Bayu dengan kesal.
"Nih, barangnya." Bayu memberikan kotak yabg berisi handphone ke tangan Gilang, tanpa melihat ke belakang.
"Terima kasih!" ucap Gilang.
"Kamu tahu,aku terpaksa menelepon pemilik toko, dan harus bayar dua kali lipat. Kamu benar-benar tidak kira-kira. Kalau menyuruh sesuatu tidak bisa menunggu, harus langsung dilakukan," Bayu menggerutu kesal.
Sementara itu, Cahaya menggerakkan ekor matanya melirik ke arah benda yang ada di tangan Gilang.
"Nggak usah lirik-lirik! nih buat kamu," Gilang meletakkan kotak itu ke atas paha Cahaya.
"Apa ini?" Cahaya mengrenyitkan keningnya.
"Masa kamu tidak tahu? dari kotaknya kan itu ada gambar Handphone, ya berarti itu handphone lah," jawab Gilang.
"Kenapa,Mas membelikannya untukku? aku kan masih punya handphone yang bisa digunakan,"
"Handphone kamu itu benar-benar sudah tidak layak pakai lagi. Sudah seharusnya diganti. Dengan memakai ini, kamu bisa internetan dan main game."
"Handphoneku itu juga ada gamenya, Mas. Game ular-ular. Permainannya benar-benar asik," ucap Cahaya, masih saja memuji handphone bututnya.
"Iya, iya aku tahu. Sekarang kamu buka kotak ini dan keluarkan handphonenya dari dalam. Setelah itu, kamu kasih handphone bututmu agar aku bisa memindahkan nomor kamu ke dalam handphone baru ini,"
Cahaya melakukan yang diminta oleh Gilang. Matanya langsung membesar dengan mulut yang sedikit terbuka,kagum melihat handphone barunya.
"Ayo, mana ponsel lamamu? kasihkan ke aku!"
Cahaya merogoh tasnya dan mengeluarkan handphone butut itu dari dalamnya.
"Jangan tertawa! kalau kamu tertawa aku potong gajimu!" celetuk Gilang, yang bisa lihat kalau Bayu ingin menertawai handphone Cahaya.
Bayu yang memang ingin tertawa, langsung terbatuk-batuk karena tiba-tiba menahan tawa.
"Sialan! umpat Bayu kembali fokus melihat jalan di depannya.
Tbc
__ADS_1