
Mobil yang dikemudikan oleh Randi berjalan menyusuri sepinya jalan malam ini. Pria itu sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan Reyna pulang, setelah melayat dari kediaman keluarga Maheswara.
"Rand, nanti kalau ada apotik, kita singgah sebentar ya. Kamu nggak keberatan kan?" Reyna buka suara, memecah keheningan yang sempat tercipta.
"Buat apa? kamu sakit?" Randi menoleh sekilas ke arah Reyna dan kembali menatap ke depan.
"Bukan! aku mau beli alat test kehamilan sebentar,"
Ckitttt ...
Randi menghentikan laju mobilnya dengan mendadak, karena kaget mendengar jawaban Reyna.
"Randi! kamu apaan sih? kenapa berhenti mendadak? kamu mau aku mati?" Reyna mengomel sembari mengelus-elus dadanya.
"Kamu hamil?" bukannya menjawab pertanyaan Reyna,pria itu justru balik bertanya dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Enak aja bilang aku hamil!" protes Reyna, menatap tajam ke arah Randi.
"Tuh, tadi kamu bilang kalau kamu mau beli alat test kehamilan. Buat apa kamu membelinya kalau bukan untuk __"
"Aku mau beli buat Cahaya, bukan buatku," sela Reyna, dengan bibir yang mengerucut.
"Oh, buat Cahaya," Randi mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti sembari kembali melajukan mobilnya.
"Jadi Cahaya lagi hamil ya?" sambung pria itu kembali.
"Tadi aku minta kamu berhenti di apotik buat apa?" tanya Reyna,ambigu
"Ya, buat beli alat test kehamilan kan?" alis Randi,bertaut.
"Nah, tujuan dari membeli alat itu untuk mengetahui hamil atau tidaknya, jadi berarti aku belum bisa memastikan Cahaya sudah hamil atau tidak," jawab Reyna ketus.
"Eh iya ya!" Randi nyengir kuda sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Aku hanya curiga saja, melihat Cahaya yang katanya gampang merasa lelah. Jadi besok aku mau ke sana lagi, mau minta dia melakukan test," Reyna menjelaskan tanpa diminta.
"Wah kalau benar, Gilang hebat juga ya, bisa langsung menghasilkan. Aku kapan ya?" ucap Randi.
"Kamu nikah dulu, baru bisa tanya hal seperti itu," jawab Reyna, sembari berdecak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu mau menikah denganku?" tanya Randi tiba-tiba.
Reyna sontak menoleh ke arah Randi dengan mata yang membesar, karena terkesiap kaget.
Randi tersenyum dan menoleh sekilas ke arah Reyna.
"Aduh, jangan tatap aku seperti itu! aku hanya bercanda!" ucap Randi.
"Candaan kamu nggak lucu. Hal seperti itu jangan dijadikan candaan," cetus Reyna sembari kembali melihat ke jalanan dari kaca jendela mobilnya dengan mata yang sudah berembun menahan tangis. Terselip kekecewaan di dalam ucapan wanita itu. Entah kenapa ada perasaan sakit yang sangat terasa di dalam hatinya begitu mendengar perkataan pria di sampingnya yang mengatakan hanya bercanda.
"Iya,maaf deh! lain kali aku nggak akan begitu." ucap Randi merasa tidak enak hati.
"Sebenarnya aku tidak bercanda, hanya aji mumpung. Kalau kamu tadi menjawab 'iya', aku pasti senang dan bersyukur. Tadi aku hanya bersembunyi di balik kata bercanda agar sakitnya penolakan tidak terlalu menyakitkan. Karena aku tahu kalau di hati kamu masih ada nama Gilang," ucap Randi yang sayangnya hanya berani terucap dalam hati saja.
"Tuh, ada apotik, berhenti sebentar!" seru Reyna sembari menunjuk ke arah apotik yang buka 24 jam.
Randi tidak menjawab, tapi dia tetap menepikan mobilnya di depan apotik itu.
"Kamu tunggu di sini ya, aku hanya sebentar saja," Reyna keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam apotik itu.
Randi tidak mengindahkan ucapan Reyna. Pria itu membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam, kemudian menyusul Reyna.
"Apa yang kamu lakukan di sini? ada apa di dalam kaca itu?" tanya Reyna yang sontak membuat Randi terjengkit kaget.
"Eh, kamu kok udah keluar?" bukannya menjawab, Randi malah balik bertanya.
"Ngapain juga aku lama-lama di dalam? bukannya aku sudah bilang kalau aku hanya sebentar saja?"
"Iya, ya. Kalau begitu ayo ke mobil lagi!" Randi melangkah mendahului Reyna.
"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang kamu lihat di dalam kaca itu?" Reyna mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkah Randi.
"Aku melihat diriku sendiri yang ternyata tidak kalah tampan dari Gilang," jawab Randi santai.
"Heh? kenapa dia harus membandingkan dirinya dengan Gilang? kepalanya tidak kejedot kan tadi?" gumam Reyna dengan kening berkerut.
Walaupun Reyna bergumam dengan sangat pelan, tapi telinga Randi yang tajam masih bisa mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh wanita di sampingnya itu. Pria itu sontak berhenti dan menatap Reyna.
"Aku hanya ingin mencari tahu kenapa wanita lebih tertarik pada Gilang. Kalau karena dia tampan katanya, aku juga tampan. Kalau karena kaya, aku juga kaya. Menurutmu apa kekuranganku dibandingkan dengan dia? coba lihat wajahku, aku tidak kalah tampan kan?" Randi mencondongkan wajahnya tepat ke wajah Reyna, hingga membuat Reyna refleks memundurkan kepalanya dengan mata yang mengerjap-erjap dan jantung yang berdetak dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak menjawab? aku tidak kalah tampan kan?" tanya Randi kembali, hingga bau mint dari mulut pria itu bisa tercium oleh Reyna.
"I-iya, kamu tampan!" jawab Reyna gelagapan.
Randi menjauhkan kembali wajahnya dari wajah Reyna, yang membuat wanita itu mengembuskan napas lega.
"Terima kasih! tapi kenapa aku kalah dari Gilang?" Randi bertanya sembari kembali melanjutkan langkahnya.
"Sepertinya dia masih belum sepenuhnya bisa menerima kalau Cahaya menikah dengan Gilang," batin Reyna dengan hati yang sedikit tercubit.
"Ah, bukan seperti itu, Randi. Kamu hanya terlambat saja hadirnya. Coba kamu bertemu Cahaya lebih dulu, pasti dia jatuh cinta denganmu bukan dengan Gilang," Reyna mencoba menghibur pria yang kini sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Bagaimana dengan kamu? apa kalau kamu lebih dulu bertemu aku, kamu juga bisa jatuh cinta padaku?" tanya Randi sembari memasukkan kepalanya ke dalam, hingga wajah pria itu sangat dekat wajah Reyna.
Tenggorokan Reyna seperti tercekat hingga membuat gadis itu sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa kamu tidak jawab?" Randi kembali buka suara.
Bibir Reyna terasa kelu, hingga membuat wanita itu merasa sulit untuk mengeluarkan suara.
"Kamu sepertinya tidak bisa jawab. Sudahlah mukamu gak usah tegang begitu. Kamu nggak jawab juga, aku sudah tahu jawabannya,"ucap Randi sembari mengeluarkan kepalanya. Kemudian pria itu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu mobil untuknya.
"Pasang sabuk pengamanmu!" titah Randi sembari menghidupkan mesin mobilnya.
Reyna sontak menarik sabuk pengamannya dan hendak memasang ke tubuhnya. Namun karena tangan yang gemetar, disebabkan masih merasa gugup, wanita itu merasa sangat sulit untuk memasang sabuk pengaman itu. Hal itu membuat Randi menghela napas dan melepas sabuk pengamannya sendiri agar bisa membantu wanita Reyna.
Reyna memundurkan tubuhnya, seraya menahan napas, ketika tubuh Randi melewati tubuhnya. Jantung Reyna serasa sedang berdisko di dalam sana.
"Sudah!" ucap Randi, seraya kembali duduk dengan sempurna dan memasang sabuk pengamannya.
"Tadi, aku mendengar bunyi jedug-jedug di dadamu, apa jantungmu sedang berdisko di dalam?" celetuk Randi sembari menjalankan mobilnya.
"Randiii! Rese banget sih kamu!" pekik Reyna dengan wajah yang memerah, hingga membuat tawa Randi pecah.
"Aku jadi meragukan ucapan tante Meta. Katanya kamu itu sulit bicara kalau tidak penting. Cih,susah dilihat dari mana? buktinya kamu cerewet dan menyebalkan seperti ini," Reyna mengerucutkan mobilnya.
"Itu berarti,kamu termasuk orang yang beruntung bisa tahu sisi lainku," jawab Randi santai.
Tbc
__ADS_1