
"Hah, anak? maksud kamu?" tanya Gilang, pura-pura tidak tahu.
Cahaya tersenyum manis sembari mengelus perutnya. "Iya, Mas di dalam sini ada anakmu," ujarnya tanpa menanggalkan senyumannya.
"Serius? kamu tidak bercanda kan?" Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Gilang sontak menarik kembali tubuh Cahaya ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala istrinya itu berkali-kali.
"Aku akan jadi seorang ayah. Terima kasih Tuhan!"Gilang melerai pelukannya dan mendaratkan bibirnya di perut Cahaya.
"Tumbuh baik-baik ya, Nak di dalam sana. Jangan nakal!" ucap Gilang sembari mengelus perut Istrinya itu.
"Mas, aku benar-benar lapar, tapi aku malas keluar dengan mata bengkak begini," Cahaya mulai merajuk.
"Emm ... aduh aku lupa!" seru Gilang tiba-tiba sembari memukul jidatnya.
"Lupa apa, Mas?"
"Aku lupa ngabarin Reyna dan Gilang kalau aku sudah menemukanmu. Tadi, mereka bilang kalau kamu sudah ketemu harus kasih kabar ke mereka. Mama, papa, Oma dan Grizelle juga harus segera dikasih kabar. Semuanya khawatir karena kamu pergi tiba-tiba," ucap Gilang sembari merogoh sakunya untuk mengambil handphone.
Gilang tidak perlu menelepon satu persatu anggota keluarganya. Pria itu cukup mengirimkan pesan ke satu orang dan meminta orang itu untuk mengabari yang lain.
"Sayang, Reyna dan Randi mau ke sini. Bagaimana kalau aku meminta mereka saja untuk membelikan makanan?" tanya Gilang.
"Emm, kelamaan, Mas. Aku sudah sangat lapar," tolak Cahaya dengan wajah yang memelas.
"Kalau begitu, kita pesan online aja," Gilang kemudian meraih ponselnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Gilang kembali dan Cahaya segera menyebutkan apa yang dia mau.
"Ok, sudah! kita tinggal tunggu aja!" setelah selesai memesan makanan, Gilang kemudian mengetik pesan lagi ke Reyna untuk memberikan alamat sekaligus mengingatkan agar wanita itu tidak keceplosan untuk mengatakan kalau dia tadi sempat memberitahukan tentang kehamilan Cahaya.
"Mas, sebelum makanannya datang, di ujung jalan sana ada yang jualan rujak. Mas bisa beliin nggak?"
"Boleh! aku beli sekarang ya! kamu di sini saja!" Cahaya menganggukkan kepalanya. Kemudian Gilang berdiri dan melangkah keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu, tampak sebuah mobil yang terparkir lumayan jauh dari rumah orang tua Cahaya. Siapa lagi pemilik mobil itu kalau bukan Dania.
"Sepertinya itu rumahnya? tunggu dulu! bukannya itu mobilnya Gilang? Sial! ternyata Gilang sudah lebih dulu ke sini," umpat Dania kesal. Ya, setelah Reyna dan Randi pergi, Dania juga tidak mau tinggal diam. Wanita itu berencana untuk ikut mencari Cahaya, tapi tentu saja dengan tujuan yang tidak baik. Dania mencoba menghubungi nomor Cahaya, tapi tidak aktif. Jalan satu-satunya wanita itu pergi ke panti asuhan tempat Cahaya dibesarkan. Bermodal dengan kepura-puraanya yang sudah berubah baik, Dania bertanya pada Ibu Sukma, selain panti, dimana lagi tempat yang berpotensi akan didatangi Cahaya jika sedang dalam masalah. Wanita licik itu, membuat kebohongan dengan mengatakan kalau Cahaya sedang ada masalah dengan Gilang, jadi dia mencari Cahaya untuk menghibur wanita itu. Dengan polosnya, ibu Sukma percaya dan langsung memberi tahukan tentang rumah mendiang kedua orang tua Cahaya.
"Tunggu dulu! itu Gilang mau kemana?" Dania mengerenyitkan keningnya melihat Gilang masuk ke dalam mobilnya, sementara Cahaya berdiri di ambang pintu.
"Kenapa Cahaya tidak ikut? apa dia mengusir Gilang? tapi dari sikapnya sepertinya tidak. Sepertinya mereka sudah baik-baik saja," bisik Dania pada dirinya sendiri.
"Aku harus cari tahu sendiri," Dania kembali menjalankan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah orang tua Cahaya setelah mobil yang dikendarai oleh Gilang pergi.
Tok tok tok
Dania mengetuk pintu dengan sedikit keras.
"Apa ada yang ketinggalan, Ma-s." mata Cahaya membesar dengan sempurna melihat kehadiran Dania di depannya.
Cahaya mencoba untuk menutup pintu, tapi sudah terlambat karena Dania sudah bergerak dengan cepat menahan pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Mau apa Kakak ke sini?" Cahaya mencoba untuk menunjukkan keberaniannya.
"Tentu saja mau menemuimu, Cahaya! sepertinya kamu dan Gilang sudah baik-baik saja. Dan itu benar-benar membuatku murka," jawab Dania dengan sinis.
"Oh ya? tapi aku sama sekali tidak akan pernah bisa puas sebelum melihat kehancuran kalian berdua. Aku sepertinya harus melenyapkanmu sekarang, karena kamu adalah penyebab aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan," Dania tersenyum licik. Senyum wanita ular itu benar-benar seperti seorang psikopat.
"Kamu tidak akan bisa melenyapkanku, karena sebentar lagi Mas Gilang akan kembali," ucap Cahaya dengan bibir yang bergetar.
"Hahahaha, kamu takut ya? ayo tunjukkan rasa takutmu, ayo! karena melihat ketakutanmu membuatku bahagia. Setelah melihat ketakutanmu, aku akan jauh lebih bahagia bila aku melihat kematianmu," wajah Dania sekarang benar-benar sudah seperti iblis pencabut nyawa.
"Mas Gilang, cepat kembali,mas!" mohon Cahaya dalam hati. Seandainya kondisinya tidak sedang hamil dan lemah seperti ini, dia pasti akan melakukan perlawanan.
Dania tersenyum smirk dan berbalik. Wanita itu melangkah ke arah pintu dan mencabut kunci rumah. Cahaya mengira kalau Dania akan mengunci rumah dan mencelakainya. Namun ternyata dugaannya salah. Dania justru keluar dan mengunci Cahaya dari luar, hingga membuat Cahaya mengrenyitkan kening, bingung.
Dania melangkah ke mobilnya dan membuka pintu bagasi. Wanita itu mengeluarkan beberapa jeriken berisi bensin. Ternyata wanita itu akan membakar rumah dengan Cahaya di dalamnya.
Dania pun mulai melakukan aksinya, dia menyiramkan bensin ke sekeliling rumah dengan cepat, sebelum Gilang datang kembali.
"Kak Dania, please jangan lakukan itu! Cahaya mulai berteriak-teriak dari dalam, karena dia melihat semua yang dilakukan oleh Dania dari jendela.
__ADS_1
Dania sama sekali tidak mengindahkan teriakan Cahaya. Wanita itu kemudian menyalakan korek api dan melemparkannya ke arah rumah yang sudah penuh dengan bensin. Secepat kilat, api seketika berkobar membakar rumah dimana ada Cahaya di dalamnya.
"Rasakan itu! selamat tinggal Cahaya! pergilah kamu ke neraka sana!"
Dania kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan melesat pergi dengan tertawa puas.
Di saat yang bersamaan, mobil yang dikemudikan oleh Randi tiba dan disusul mobil Gilang. Mereka melihat jelas, mobil Dania yang melesat pergi.
"Astaga, apa yang sudah Dania lakukan! kenapa rumah ini bisa terbakar," teriak Reyna.
"Tolong! tolong kak Reyna, pak Randi! Mas Gilang!" Teriak Cahaya dai dalam.
"Api, Api! tolong!" Reyna seketika berteriak sekencang mungkin, sehingga orang-orang mulai berbondong-bondong datang untuk membantu memadamkan api.Randi mencoba ingin menerobos, tapi api sudah mulai membesar.
Sementara itu, peluh sudah membasahi pelipis Gilang. Bayangan tentang kejadian dulu kembali berputar-putar di kepalanya. Namun, mengingat kalau di dalam sana ada wanita yang dia cintai serta calon anaknya, Gilang akhirnya memberanikan diri melawan rasa traumanya.
Pria itu maju ke depan dan berusaha untuk menerobos kobaran api.
"Tuan, tolong menjauh dari api! berbahaya!" teriak orang-orang sembari menahan Gilang.
"Istri saya ada di dalam. Aku harus menyelamatkannya!" Dengan sekuat tenaga, Gilang berusaha melepaskan diri dari pegangan orang-orang dan berlari masuk ke dalam kobaran api.
Gilang bersama dengan Randi berusaha mendobrak pintu dengan mengerahkan seluruh tenaga mereka. Syukurnya pintu berhasil terbuka dan Gilang langsung masuk ke dalam.
"Cahaya!" teriak Gilang memanggil wanitanya itu.
"M-mas!" terdengar suara Cahaya yang sudah lemas, karena menghirup banyak asap.
"Sayang, yang kuat ya, aku akan menyelamatkanmu!" ucap Gilang sembari mengangkat tubuh Cahaya dengan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya.
"Mas, tolong anak kita!" rintih Cahaya lagi.
"Ya, kamu tenang saja, kalian pasti akan selamat!" Gilang berusaha meyakinkan Cahaya.
Begitu sampai di depan pintu, tiba-tiba sebilah kayu jatuh dan menimpa punggung Gilang. Cahaya hampir saja terjatuh, beruntung ada Randi yang langsung menangkap tubuh Cahaya yang sudah pingsan.
"Tolong, selamatkan istriku!" mohon Gilang, sebelum akhirnya pria itupun terkulai lemas dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Tbc
Mari kita tegang lagi, guys. Please jangan timpuk saya. Maaf! Tenang saja, semua akan berakhir .......