
Begitu kembali dari makam, Gilang langsung berlari menuju kamar untuk melihat kondisi Cahaya. Jujur walaupun raganya ada bersama omanya di makam, tapi pikiran pria itu hanya tertuju pada istrinya.
"Cahaya, aku sudah pulang!" ucap Gilang begitu telapak kakinya menapak di lantai kamarnya.
Pria itu mengrenyitkan keningnya, karena tidak melihat istrinya ada di dalam kamar. Pria itu kemudian mencari ke dalam kamar mandi, tapi tetap tidak menemukan wanita itu. Ke segala sudut ruangan sampai balkon, Gilang sudah cari tapi tetap saja dia tidak menemukan Istrinya itu.
"Emm, mungkin dia sudah keluar dari kamar dan ada di bawah," Gilang kembali berlari keluar kamar dan turun ke bawah. Entah kenapa tiba-tiba ada perasaan yang tidak enak menyapa hatinya.
"Mbak Rini, Cahaya di mana? apa Mbak melihatnya?" tanya Gilang, dengan raut wajah panik.
"Lho bukannya dia ada di kamar Tuan? Cahaya dari tadi tidak turun dari kamar," jawab Mbak Rini, bingung.
"Dia tidak ada di kamar, Mbak! semua sudut sudah aku cari bahkan aku sudah memanggilnya berkali-kali. Haish, dia kemana sih? mana dia kurang enak badan lagi," ujar Gilang dengan raut wajah yang benar-benar panik.
"Ada apa Gilang?" tanya Gavin yang ternyata sedang duduk di sofa.
"Pa,Ma, apa kalian ada melihat Cahaya? dia tidak ada di dalam kamar,"
"Mama tidak melihatnya," sahut Jelita.
"Papa juga tidak. Apa kamu benar-benar sudah mencoba mencarinya ke semua sudut ruangan di kamarmu?" tanya Gavin.
"Sudah,Pah. Bahkan aku sudah berulangkali berteriak memanggilnya, tapi dia benar-benar tidak ada,"
"Kamu jangan terlalu panik begitu! sekarang coba kamu hubungi ponselnya,kali aja dia keluar sebentar untuk cari angin," Gavin mencoba menenangkan putranya itu.
Gilang kemudian merogoh sakunya dan mencoba menghubungi Cahaya, tapi tidak terhubung sama sekali. Gilang mencoba sekali lagi, hasilnya juga nihil.
"Tidak terhubung, Pa!" Gilang terlihat semakin panik.
"Tuan, maaf! bisa aku bicara?" Rini tiba-tiba buka suara.
"Silakan, Mbak!"
"Tadi, aku mau ke kamar Tuan untuk melihat kondisi Non Cahaya. Tidak sengaja aku dengar non Cahaya lagi berbicara dengan non Dania di telepon. Non Dania sepertinya sudah tahu alasan Tuan menikahi non Cahaya karena balas budi, dan sepertinya non Dania memberitahukannya pada non Cahaya. Aku rasa gara-gara itu, non Cahaya kecewa dan memutuskan untuk pergi," jelas Rini dengan panjang lebar tanpa jeda.
"Kenapa Mbak dari tadi tidak memberitahukannya padaku?" suara Gilang meninggi.
"Maaf,Tuan! aku kira non Cahaya tidak akan terpengaruh, karena aku sempat dengar juga kalau non Cahaya bilang begitu," Rini menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Gilang yang berkilat-kilat menahan marah.
"Sudah, sudah! sekarang bukan saatnya marah-marah. Yang penting sekarang kamu pergi Cahaya dan bawa pulang!" Gavin buka suara, mencoba menahan amarah Gilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mata Reyna memerah seperti api, begitu mendengar kabar dari Gilang kalau Dania sudah berusaha memprovokasi Cahaya, dengan memberitahukan kebenaran tentang alasan pernikahan Gilang dan Cahaya.
"Hei, kamu kemana?" cegat Randi yang awalnya datang ke rumah sakit hendak mengajak wanita itu untuk makan siang.
"Aku mau menemui Dania si brengsek itu!" sahut Reyna sembari tetap melangkah.
__ADS_1
Randi mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Ada apa dengan dia? kenapa kamu terlihat sangat marah?" Randi berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Reyna yang cepat.
Reyna akhirnya menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Dania yang kembali mencoba untuk menghancurkan hubungan Gilang dan Cahaya.
"Brengsek!" gantian Randi yang mengumpat kesal.
"Kita naik mobilku saja! aku ikut kamu menemui wanita ular itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Dania! Dania! dimana kamu!" teriak Reyna begitu dia menginjakkan kakinya di rumah Dania.
"Aku di sini. Kenapa kamu teriak-teriak di rumah orang? apa kamu pikir ini hutan?" Dania ternyata sudah berdiri di anak tangga dan menatap Reyna dengan tatapan tajam dan sinis.
Reyna menghambur naik ke tangga dan menarik tangan Dania dengan kencang turun ke bawah.
"Sekarang jelaskan, apa yang sudah kamu katakan pada Cahaya? kamu berniat menghancurkan pernikahan Gilang dengan Cahaya lagi ya?" tukas Reyna dengan suara tinggi.
"Apa yang sudah aku katakan? aku hanya memberitahukan dia kebenarannya, emang salah ya?"sahut Dania dengan santai seakan tak bersalah.
"Salah, Dania! asal kamu tahu, gara-gara kamu, Cahaya pergi dari rumah!"
"Hah, dia sudah pergi ya? aduh kok bisa ya? padahal aku tidak bermaksud membuat dia pergi," Dania berpura-pura memasang wajah sedih.
"Stop Dania! berhenti berpura-pura! sebenarnya ini yang kamu inginkan kan?" tuntut Reyna.
"Iya! aku hanya berpura-pura supaya aku bisa dekat dengan kalian lagi. Tujuannya apa? itu semua agar aku bisa mencari celah, untuk bisa menghancurkan kebahagiaan mereka berdua. Enak aja, mereka bisa bahagia di atas penderitaanku," Sambung sembari Dania menyeringai sinis.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Dania! Kamu benar-benar seperti tidak manusia! asal kamu tahu, bagaimanapun caranya kamu menyingkirkan Cahaya, Gilang juga tidak akan mau meninggalkan denganmu. Jadi, stop melakukan hal yang hasilnya pasti sia-sia ini!' ucap Reyna dengan napas yang memburu.
Dania berdecih dan kembali menyeringai sinis.
"Kamu kira aku masih mengharapkan Gilang? tidak sama sekali. Aku hanya menginginkan kehancurannya. Dengan tersingkirnya Cahaya, dia pasti akan terpuruk. Keterpurukannya adalah impian terbesarku sekarang," ujar Dania dengan mimik tidak bersalah.
"Kamu ya __"
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara! satu hal lagi, aku juga sekarang puas, Cahaya pergi, berarti dia akan kembali hidup melarat di luaran sana. Aku benci dengan wanita itu, karena dia sudah merebut semuanya dariku. Tunanganku dan bahkan kamu sahabatku. Dia mengambil semuanya! aku benci, benar-benar benci! kalau bisa, secepatnya dia mati aku akan lebih bahagia!" Dania berucap dengan meledak-ledak dan mata yang memerah penuh kebencian.
"Kamu benar-benar, bukan manusia, Dania! asal kamu tahu, Cahaya sekarang sedang hamil, kalau terjadi apa-apa dengan kandungannya bagaimana?"
"Hah, hamil? kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang?" ucap Dania dengan mimik wajah yang sukar diartikan.
"Iya, dia hamil! kenapa kamu menyesalkan?"
"Iya, aku sangat menyesal," Dania memang wajah sendu. " Hahaha, kamu pasti berharap kalau aku akan berkata seperti itu dan sedih kan? tidak sama sekali! aku memang menyesal, tapi penyesalanku kenapa aku tidak tahu dari awal. Kalau aku tahu kan,aku bisa mendatanginya dan menghancurkan bayi itu sekalian, supaya Gilang semakin terpuruk. Kamu memang sahabat terpayah, Reyna. Kasih kabar kok telat," sambung Dania kembali dengan raut wajah yang mirip seperti seorang psikopat.
"APA! CAHAYA LAGI HAMIL!" suara yang mengelegar seketika terdengar dari arah pintu. Siapa lagi dia kalau bukan Gilang.
__ADS_1
"Iya, dia lagi hamil, Lang. Tadinya Cahaya mau memberitahukan kabar gembira itu setelah kamu pulang dari makam, tapi wanita ular ini sudah membuat kacau semuanya," Reyna mengangkat jari telunjuknya ke arah Dania.
Mata Gilang sekarang terlihat gelap, rahangnya mengeras dan langsung mencengkram dagu Dania dengan sangat kencang, hingga membuat Dania meringis kesakitan. Pria itu bahkan mendorong tubuh Dania hingga membentur tembok.
"Ingat, kalau sampai ada sesuatu yang terjadi pada istri dan calon anakku, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawamu!" ancam Gilang dengan mata yang berkilat-kilat marah, hingga membuat Dania merinding takut. Kemudian, Gilang melepaskan tangannya dari dagu Dania dengan hentakan yang sangat kencang, membuat wanita itu kembali meringis kesakitan.
"Kenapa kamu harus semarah itu? bukannya kamu tidak mencintainya? kamu masih mencintai Reyna kan? secara tidak langsung aku membantu menyatukan kalian berdua, harusnya kalian berterima kasih padaku," ucap Dania sembari mengelus-elus dagunya yang terlihat membiru.
"DIAM! aku mencintai Cahaya! Sekali lagi aku katakan, aku mencintai Cahaya. Dia istriku dan calon ibu dari anak-anakku. Dulu aku dan Reyna memang saling mencintai, tapi sekarang aku hatiku sudah seutuhnya milik Cahaya, paham kamu!" suara Gilang kembali menggelegar.
"Pokoknya, sekali lagi aku pertegas, kalau sempat istri dan anakku kenapa-napa, nyawamu taruhannya!" Gilang berbalik dan melangkah keluar untuk mencari keberadaan Cahaya.
"Gilang! kalau kamu sudah bertemu dengan Cahaya, segera ungkapkan perasaanmu, karena selama ini dia pasti masih meragukanmu!" seru Reyna sebelum Gilang benar-benar berlalu pergi.
"Kenapa kamu mendukungnya? harusnya kamu mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan Gilang kembali. Sekarang aku lebih ikhlas kalau kamu kembali ke Gilang daripada Cahaya." ucap Dania setelah tubuh Gilang menghilang dari pandangan.
"Apa kamu tidak kasihan pada dirimu sendiri?" lanjut Dania kembali.
"Kenapa dia harus kasihan?" Randi buka suara, menatap sinis ke arah Dania.
"Kasihanlah! sampai sekarang masih tetap sendiri hanya karena tidak bisa melupakan Gilang," sahut Dania dengan ketus.
"Siapa bilang dia tidak bisa melupakan Gilang dan siapa bilang dia masih sendiri? asal kamu tahu, kalau aku adalah kekasih Reyna sekarang," tegas Randi tiba-tiba yang membuat Reyna sontak menoleh ke arah Randi dengan mata yang membesar.
"Cih, kamu kira aku percaya," cetus Dania sembari menyeringai sinis.
"Kamu mau bukti? nih buktinya!" Randi menarik Reyna ke dalam pelukannya dan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu. Mata Reyna membesar dengan sempurna, karena kaget dengan tindakan Randi. Ingin rasanya wanita itu mendorong tubuh Randi, tapi hatinya berkata lain. Tubuh wanita itu seakan menerima apa yang dilakukan oleh Gilang padanya.
Sementara itu,Dania mengepalkan tangannya,merasa geram melihat pemandangan di depan matanya.
"Brengsek! kenapa Cahaya dan Reyna bisa mendapatkan cinta yang tulus dari pria-pria tampan dan kaya? kenapa aku tidak bisa?" umpat Dania dalam hati dengan napas yang memburu.
" Bagaimana? apa kamu percaya sekarang? asal kamu tahu, sebentar lagi kami juga akan menikah, dan aku pastikan nama kamu sudah masuk daftar hitam dilarang datang ke acara pernikahan kami," pungkas Randi sembari menarik tangan Reyna untuk berlalu dari depan Dania.
"Randi, bercanda boleh, tapi kenapa kamu seharusnya tidak menciumku," protes Reyna setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
"Siapa yang bercanda? aku sama sekali tidak bercanda. Ingat sekarang kamu itu calon istriku!" ucap Randi dengan tegas.
"Jangan mengada-ada! sejak kapan aku setuju?"
"Sejak kamu tidak menolak ciumanku. Aku menganggap kamu sudah menerimanya," sahut Randi dengan santai.
"Tidak boleh begitu! itu sama aja dengan__"
"Sekarang, aku mau tanya, kamu mau atau tidak?" Randi mendekatkan wajahnya ke wajah Reyna, hingga membuat wanita itu tidak melanjutkan ucapannya.
"I-iya, aku mau!" jawab Reyna dengan bibir bergetar.
"Bagus!" Randi tersenyum sembari mengacak-acak rambut Reyna.
__ADS_1
"Sekarang kita harus membantu Gilang mencari keberadaan Cahaya," lanjut Randi kembali sembari melajukan mobilnya.
Tbc