Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Dania sah menjadi istri Sandi


__ADS_3

Pegawai dari kantor catatan sipil kini sudah ada di ruangan Dania. Berkas-berkas Dania dan Sandi juga kini sudah lengkap. Bahkan saksi dari pihak pria sudah hadir, tinggal menunggu saksi dari pihak Dania.


Denis berkali-kali melirik jam di tangannya dan menoleh ke arah pintu. Terlihat jelas dari raut wajahnya menampakkan kalau pria itu sedang was-was, khawatir kalau orang yang dia minta untuk jadi saksi tidak datang.


"Kenapa belum datang sih? apa dia berubah pikiran dan tidak mau datang?" batin Denis sembari mengembuskan napasnya.


Baru saja pria itu hendak melangkah untuk keluar, tiba-tiba orang yang dia tunggu sudah berdiri di ambang pintu.


"Akhirnya kamu datang juga! aku kira kamu bakal berubah pikiran," ucap Denis sembari menghela napas lega.


"Nggaklah! aku pasti datang. Tadi jalanan macet, makanya aku agak telat,maaf ya!" ucap pria itu sembari menyelipkan seulas senyum di bibirnya. Pria itu tidak datang sendiri karena ada sosok pria lagi yang berdiri di belakangnya.


Sementara itu, mata Dania terlihat membesar melihat siapa sosok yang diminta papanya untuk jadi saksi. Siapa lagi yang bisa membuat Dania sekaget itu kalau bukan Gavin dan Reynaldi. Ya, yang diminta oleh Denis untuk menjadi saksi adalah Gavin, pria yang awalnya dia harapkan menjadi mertuanya.


"Udah, kamu tidak perlu bingung Dania. Sekarang kita mulai saja pernikahan mereka," ucap Gavin menghentikan kebingungan Dania.


Dania bergeming.Kakinya seperti terpaku di tempat dia berdiri dan mulutnya terasa kelu, bahkan hanya untuk sekedar menyapa kedua pria bijaksana yang baru saja datang itu.


Setelah Dania tersadar, wanita itu tiba-tiba menghambur ke arah Gavin dab bersimpuh di bawah kaki Gavin.


"Om, aku sudah banyak berbuat kesalahan, bahkan hampir melenyapkan menantu Om. Aku benar-benar minta maaf, Om. Aku benar-benar malu untuk bertemu dengan Om," ucap Dania yang dibarengi dengan isak tangis.

__ADS_1


"Dania, berdirilah, Nak!" Gavin mencengkram bahu Dania dengan pelan dan membantu wanita itu untuk berdiri. "Om,memang sempat kecewa dan marah padamu, tapi setelah dipikir-pikir, tidak baik terlalu lama menyimpan amarah. Yang paling utama sekarang, Om lihat kamu sudah berubah lebih baik dan Om harap agar kamu, selamanya seperti ini," lanjut Gavin lagi sembari menyeka air mata Dania.


"Benar kata Om Gavin,Dania. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran dan berusaha untuk menata masa depan yang lebih baik," Reynaldi menimpali ucapan Gavin


Tidak lama kemudian, pengesahan Sandi dan Dania menjadi pasangan suami istri langsung dilakukan dengan Gavin menjadi saksi utama dari pihak pengantin perempuan dan rekan kerja Sandi sebagai saksi dari pengantin laki-laki.


"Sekarang kalian berdua sudah sah, menjadi suami istri. Selamat ya!" ucap petugas catatan sipil itu sembari menjabat tangan Sandi dan Dania bergantian.


"Terima kasih, Pak!"sahut Sandi. Tampak raut wajah yang bahagia tergambar jelas di wajahnya.


Setelah petugas catatan sipil itu, beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, semua yang ada di tempat itu juga melakukan hal yang sama yaitu mengucapkan selamat dan harapan-harapan yang terbaik buat keduanya.


Lain Sandi, lain juga dengan Dania. Walaupun wanita itu bahagia karena sudah menjadi seorang istri dari seorang pria yang mencintainya dengan tulus, tapi jauh di lubuk hatinya, wanita itu sedih karena untuk beberapa tahun dia tidak bisa menjadi seorang istri yang baik pada Sandi, karena dia masih harus menjalani hukumannya.


"Apa tidak bisa besok saja kamu kembali ke sana?" ucap Sandi dengan lirih.


"Tidak boleh,Mas! aku harus tetap kembali ke penjara," sahut Dania tidak kalah sedih dari Sandi.


"Kamu tidak perlu lagi kembali ke penjara, karena aku sudah menarik tuntutan dan sudah menjamini kamu," celetuk Gavin yang membuat orang-orang di dalam ruangan itu kecuali Reynaldi terkesiap kaget.


"O-Om, kenapa harus seperti ini? bagaimanapun aku harus mempertanggungjawabkan perbuatanku," ucap Danis dengan bibir yang bergetar.

__ADS_1


"Gavin, aku memintamu untuk menjadi saksi saja, bukan membebaskan putriku dari tuntutan. Kenapa kamu melakukan hal itu. Menurutku itu terlalu berlebihan," Denis buka suara, dengan alis yang bertaut, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh Gavin.


"Den, sudahlah! aku tidak sepenuhnya membebaskan Dania. Hanya saja statusnya berganti menjadi tahanan kota. Dia tetap diwajibkan untuk melapor setiap hari ke kantor polisi. Sebenarnya selama ini, aku tidak diam saja. Dengan diam-diam aku selalu memantau perubahan Dania dan yang aku lihat dia sudah banyak berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dia juga sudah banyak belajar dari pengalamannya. Jadi, setelah aku mendengar kalau dia akan menikah dengan psikiater yang menangani dia selama ini, aku sudah tidak ragu lagi untuk pergi ke kantor polisi dan menarik semua tuntutanku," jelas Gavin dengan lugas dan diplomatis.


"Jadi, sebenarnya alasan kamu lama datang karena alasan ini?" tebak Denis dan Gavin menganggukkan kepalanya, membenarkan.


"Dan kalian tenang saja. Aku tidak bertindak atas keinginan sendiri. Aku juga sudah mendiskusikan hal ini pada Jelita, mama, Gilang dan Cahaya. Mereka sudah setuju dengan keputusan yang aku ambil," lanjut Gavin lagi menjelaskan.


"Om,ini benar-benar berlebihan. Aku tidak apa-apa harus kembali ke penjara. Kalau sudah begini, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas budi kalian semua. Aku terlalu hina untuk mendapatkan kebaikan kalian!" ucap Dania dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.


"Tidak ada yang berlebihan dan kamu tidak terlalu hina. Anggap saja, ini hadiah pernikahan kalian berdua dari keluarga Maheswara,"


Tangis Dania semakin pecah dan langsung memeluk Gavin. "Terima kasih, Om! terima kasih banyak!" ucap Dania dengan tulus.


Gavin tersenyum dan menepuk -nepuk punggung Dania dengan lembut. " Kamu tidak perlu membalas budi. Dengan kamu menunjukkan perubahan yang semakin baik, dan menjadi istri serta ibu yang baik buat anak-anak kalian berdua tanpa membeda-bedakan yang anak kandung ataupun tiri, itu sudah merupakan suatu balas budi bagi kami. Intinya, jangan membuat Om menyesal dengan keputusan yang om ambil ini," Gavin kembali memberikan nasehat.


"Om Gavin, terima kasih atas hadiah pernikahan ini! Ini lebih berharga dari emas berlian yang paling mahal sekalipun," Sandi tidak mau tinggal diam.


"Sama-sama, Dokter Sandi. Aku mau,kamu jaga Dania baik-baik. Walaupun dia tidak jadi menantuku, tapi dia adalah putriku juga. Putri dari sahabat-sahabatku, berarti putriku juga," ucap Gavin yang membuat tangis Dania semakin pecah dan rasa bersalah atas apa yang dia lakukan, semakin besar.


"Wah, kalau putriku juga putrimu, berarti Reyna akan tetap mendapatkan pembagian warisan dong," celetuk Reynaldi yang membuat suasana yang tadinya melow, berubah menjadi tawa.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2