
"Dia tidak bisa pergi jalan denganmu, karena dia sudah ada janji denganku!" celetuk Bayu yang sudah kembali berdiri di samping Grizelle.
Grizelle sontak menoleh ke arah Bayu dengan kening yang berkerut.
"Kak Bayu, sejak kapan kita ...."
"Apa kamu lupa, kemarin kita sudah berencana akan jalan besok?" Bayu mengerlingkan matanya, hingga membuat Grizelle tersipu malu.
Sementara itu, Darell merasakan hatinya seperti tertusuk pisau melihat pemandangan di depannya. Namun, pria itu masih berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Oh, seperti itu ya? baiklah kalau begitu. Oh ya, aku pergi ke sana dulu ya!" Darell menunjuk ke arah kumpulan para pemuda seumurannya.
"Silakan, Rell! oh ya, sekali lagi maaf ya, kalau aku tidak bisa memenuhi ajakanmu," ucap Grizelle dengan raut wajah merasa tidak enak.
Darell memaksakan bibirnya untuk tersenyum, menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Tidak masalah, Zell. Santai aja! Aku ke sana ya, mari!" Darell beranjak pergi dengan langkah gontai meninggalkan Grizelle dan Bayu.
Sepeninggal Darell, kecanggungan seketika tercipta di antara Grizelle dan Bayu.
"Haish, kenapa sih aku tadi sok-sokan kembali lagi ke sini? aku mau bilang apa coba?" Bayu merutuki sikapnya yang dia anggap bodoh.
"Kenapa Kak Bayu diam saja? Apa benar-benar mau ngajak aku jalan besok?" batin Grizelle, menunggu Bayu buka suara.
"Emm, aku ke Gilang dulu ya! aku mau makan dulu," ucap Bayu, sembari memutar tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menghindari Grizelle.
"Kak,jadi besok kita mau jalan kemana?" Grizelle memberanikan diri untuk langsung bertanya sebelum pria yang dia cintai itu, benar-benar menjauh.
Mendengar pertanyaan Grizelle, membuat Bayu menghentikan langkahnya dan mengembuskan napasnya dengan sangat hentakan. Kemudian pria itu berputar kembali dan meletakkan piring yang ada di tangannya ke atas meja.
"Zell, maaf ya, tadi aku tidak sungguh-sungguh! aku hanya membantumu menolak ajakan Darell, karena aku lihat kamu seperti kesulitan untuk menentukan pilihan, bersedia atau menolak ajakannya," ucap Bayu dengan sangat hati-hati.
Sementara itu, Grizelle seketika langsung terdiam. Kebahagiaan yang sempat singgah ke hatinya terhempas seketika dengan kenyataan yang baru saja dia dengar dari mulut Bayu. Mata gadis itu, seketika berembun menahan air mata.
"Oh, seperti itu ya? sebenarnya aku tidak butuh pertolongan, Kakak. Tapi, aku sangat berterima kasih atas inisiatif kakak tadi, walaupun akhirnya menyakitkan. Lebih baik, Kakak tidak usah berinisiatif tadi, karena kejujuran kakak barusan, lebih menyakitkan dari penolakan kakak sebelumnya. Kakak kasih aku harapan yang tinggi lebih dulu,habis itu kakak hempaskan begitu saja. Rasanya sangat sakit, Kak," tutur Grizelle panjang lebar. Butiran cairan bening yang dari tadi berusaha dia tahan akhirnya berhasil meloloskan diri, hingga membasahi pipi putihnya.
__ADS_1
Sementara itu, Bayu hanya terdiam tidak tahu mau berkata apa-apa lagi. Ingin rasanya dia menarik tubuh adik perempuan dari sahabatnya itu, ke dalam pelukannya, guna menenangkan gadis itu. Namun, entah kenapa tangannya terasa kaku dan dia tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya.
Grizelle terlihat memaksakan diri tersenyum sembari menyeka air matanya. "Kak, aku yakin dari sikapku, Kakak mungkin tahu, kalau aku menyukaimu, bahkan mungkin lebih dari suka. Mungkin karena hal itu, Kakak merasa jengah dan tidak suka. Maafkan aku, kalau aku lancang menyukai bahkan terkesan seperti murahan mengejar-ngejar Kakak. Tapi, apa yang terjadi malam ini, benar-benar membuka mataku, agar aku bisa mencintai diriku sendiri. Kakak tenang saja, mulai sekarang, aku akan berhenti mengejar Kakak, dan akan mulai membuka hati pada pria yang jelas-jelas mencintaiku," Grizelle kembali bertutur dengan panjang lebar. Tapi,kali ini wanita muda itu terlihat lebih tegar saat menuturkan kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.
"Zell, bu-bukan seperti itu maksudku. Aku tidak pernah beranggapan kalau kamu murahan. Hanya saja aku ...." Bayu menggantung ucapannya karena bingung bagaimana menjelaskan di tempat banyak orang seperti ini.
"Hanya saja, Kakak tidak mencintaiku. Itu kan?" tukas Grizelle dengan cepat. "seperti yang sudah aku katakan tadi, aku tidak akan pernah berharap Kakak bisa membalas cintaku lagi, jadi Kakak tenang saja," Grizelle kembali tersenyum dan beranjak pergi, keluar dari ruangan itu menuju taman belakang. Wanita itu ingin rasanya menenangkan diri.
Bayu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara. Pria itu menatap ke arah piring yang berisi makanan yang belum sempat dia makan tadi. Pria itu seketika mengelus perutnya yang sudah berteriak-teriak minta diisi.
"Maaf ya, sepertinya kamu harus bersabar dulu. Sekarang, ada yang lebih penting dari mengisimu. Aku harus membujuk princess kesayangan keluarga Maheswara. Aku harap kamu mau diajak kerja sama," Bayu, mengajak perutnya untuk berbicara. Kemudian tanpa pertimbangan lagi,pria itu langsung beranjak menyusul Grizelle. Tanpa Bayu sadari, sepasang mata Gavin dari tadi menatap ke arah dirinya dan Grizelle.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa sih enaknya di sini?" Bayu mendaratkan tubuhnya duduk di samping Grizelle yang sedang asik melamun.
Grizelle sontak terjengkit kaget karena kedatangan Bayu yang tiba-tiba.
"Kak Bayu, kenapa kamu ke sini? sebaiknya Kakak di dalam saja," ucap Grizelle di sela-sela rasa kagetnya.
"Aku merasa hampa di dalam sana karena ada seorang gadis yang ingin berhenti mencintaiku. Aku benar-benar tidak rela dia berhenti mencintaiku," ucap Bayu, sembari menatap dalam mata Grizelle.
"Kenapa Kakak mesti tidak rela? seharusnya Kakak bahagia, karena tidak akan ada lagi yang akan mengacaukan hidup Kakak,"
"Tapi,aku senang hidupku dikacaukan olehmu," Bayu menimpali ucapan Grizelle.
Grizell menghela napasnya dan menoleh ke arah Bayu yang masih setia dengan tatapannya.
"Kak, tolong jangan seperti ini. Jangan buat aku berharap lagi. Aku capek Kak," ucap Grizelle memelas.
"Zell, kalau boleh jujur,aku sebenarnya sudah menyukaimu,tapi aku berusaha menepis perasaan yang aku punya karena sebuah alasan. Aku hanya merasa tidak pantas untuk gadis seperti kamu yang sudah memiliki kehidupan mewah sejak kecil. Asal kamu tahu, bersahabat dengan kakakmu dulu,sudah banyak bisik-bisik yang mengatakan kalau aku bersahabat dengan kakakmu hanya karena kekayaannya. Aku tidak tahu lagi, kata-kata apa yang akan aku dengarkan seandainya aku menjalin hubungan denganmu. Karena itulah,aku berusaha untuk memantaskan diri lebih dulu, sebelum aku mendekatimu. Namun, mendengar ucapanmu tadi, yang ingin berhenti mencintaiku, membuatku takut kehilanganmu sebelum aku benar-benar pantas untukmu. Aku tahu, Darell menyukaimu dan dia lebih pantas dariku, tapi, hatiku tidak terima membayangkan kamu dengannya, Zell. tutur Bayu panjang lebar tanpa jeda, mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.
"Bagaimana, kamu bisa berpikir seperti itu,Kak? aku tulus mencintaimu. Buat apa Kakak memikirkan apa kata orang? kita yang menciptakan kebahagiaan kita sendiri bukan orang lain,"
"Aku tahu itu. Sangat gampang mengucapkan tapi pada prakteknya susah, Zell. Aku seorang laki-laki yang berkeinginan dipandang sebagai seorang laki-laki yang sanggup menanggung jawabi semua kebutuhan istriku nantinya, tanpa ketergantungan pada kekayaan yang dimiliki orang tuanya. Aku takut kamu tidak akan membutuhkanku, untuk memenuhi kebutuhanmu, karena aku tahu, kamu sudah mendapatkanya dari om Gavin," ucap Bayu sembari menghela napasnya dengan berat.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tiba-tiba Gavin muncul bersama dengan Gilang dan Randi serta Sandi.
"Om Gavin," Bayu sontak berdiri menyambut kedatangan pria setengah baya itu.
"Semua pencapaian yang kamu dapat sampai sekarang adalah usaha kerasmu. Abaikan semua kata-kata yang memojokkanmu. Yang terpenting sekarang kami tidak pernah beranggapan kalau kamu memanfaatkan kami," lanjut Gavin kembali sembari menepuk pundak pria yang sebenarnya sudah dia anggap seperti anak sendiri,. semenjak pemuda itu kehilangan orang tuanya.
"Tapi Om __"
"Tidak ada tapi-tapi. Aku sudah mendengar semua yang kamu ucapkan tadi, dan aku bisa menangkap kalau kamu tulus mencintai putriku.Itu sudah cukup bagiku, dan membuatku tenang, karena putriku ada di tangan orang yang tepat," Gavin menyela ucapan Bayu, sebelum pria itu selesai bicara.
"Terima kasih, Om. Sudah percaya padaku! Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan tetap berusaha untuk selalu mencintai dan membuat Grizelle bahagia," ucap Bayu dengan tegas dan mantap.
"Bagus! aku pegang kata-katamu! sekarang, Om mau masuk dulu. Rey dan Denis menungguku di dalam," Gavin melangkah masuk setelah semua yang ada di tempat itu mengiyakan.
"Bay, mulai sekarang kamu panggil aku kakak. Jangan panggil nama lagi!" celetuk Gilang dengan santai.
"Kenapa?" Bayu mengrenyitkan keningnya.
"Karena kamu sebentar lagi akan jadi adik iparku. Jadi,mau tidak mau dan memang harus mau, kamu harus panggil aku kakak,"
Bayu mendengus mendengar ucapan Gilang, tapi pria itu tidak ada niat untuk membantah.
"Lang,aku apamu? please angkat juga aku jadi adikmu," celetuk Randi tiba-tiba.
"Ogah!" jawab Gilang singkat padat dan jelas sembari beranjak pergi.
"Kenapa? kamu akan rugi tidak mau punya adik sepertiku," cecar Randi sembari mengikuti langkah Gilang.
"Cih,aku justru rugi punya adik sepertimu. Yang ada darahku akan naik setiap hari," cetus Gilang, tetap melangkah.
Sementara itu, Sandi dan Bayu terkekeh dan melangkah menyusul Gilang dan Randi.
"Kak Bayu, aku kenapa ditinggal?" teriak Grizelle yang merasa terabaikan dari tadi.
Bayu sontak berhenti dan memutar kembali tubuhnya. Pria itu seketika menepuk jidatnya dan berlari kembali menghampiri Grizelle yang sudah memasang muka masam.
__ADS_1
"Maaf, aku lupa. Aku sangat lapar, jadi yang ada di kepalaku sekarang bayangan makanan lezat yang ada di dalam," ucap Bayu jujur.
Tbc