
"Brengsek!" umpat Gilang begitu masuk ke dalam ruangannya.
"Mas,udah dong marah-marahnya! dari tadi kamu marah-marah. Apa energi kamu tidak habis?" tegur Cahaya yang sudah merasa jengah mendengar Gilang menggerutu dari tadi.
"Apa selama ini di kampus dia selalu mendekatimu?" tukas Gilang yang tidak mengindahkan teguran Cahaya.
Cahaya tidak menjawab sama sekali, takut kalau jawabannya semakin memperkeruh suasana.
"Kenapa kamu diam, Cahaya? apa dia sering mendekatimu?" Gilang kembali mengulangi pertanyaannya.
"Emm, pak Randi memang selalu mengajak aku untuk bicara, tapi tidak pernah membicarakan hal yang berlebihan," jawab Cahaya akhirnya.
"Maksudmu tidak berlebihan kalau sampai mengajak makan siang wanita yang sudah bersuami?" Gilang terlihat geram.
"Kan dia tidak tahu,Mas kalau aku sudah bersuami." Cahaya melakukan pembelaan diri.
"Karena apa dia tidak tahu? itu karena kamu yang tidak mengindahkan permintaanku, yang meminta kamu untuk pakai cincin nikah,"
"Mas,aku bukannya tidak mau. Bukannya kamu sendiri yang mengatakan kalau pernikahan kita harus dirahasiakan? lagian kalau aku pakai, pasti pak Randi akan bertanya dengan siapa aku menikah demikian juga yang lainnya." ucap Cahaya yang membuat Gilang terdiam. "Please jangan marah-marah lagi!" sambungnya kembali.
"Bagaimana aku tidak marah, berani-beraninya dia menghina orang, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Gilang yang masih belum bisa meredam amarahnya.
"Pak Randi tidak sepenuhnya salah, Mas. Wajar dia berkata seperti itu. Bukan hanya pak Randi, bahkan orang-orang pun mungkin akan berpikiran seperti dia, karena yang mereka tahu kalau kamu itu sudah bertunangan, tapi tiba-tiba menikah denganku yang mereka tahu kalau aku ini, yatim piatu, mantan pembantu di rumahmu. Orang-orang pasti banyak yang menganggap kalau itu tidak wajar bukan?"
Gilang seketika bungkam mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Cahaya.
"Mas tadi tidak lihat ya, bagaimana pandangan karyawan-karyawanmu, karena kamu membawaku ke sini? mereka sekarang pasti berspekulasi negatif tentangku. Dan aku sama sekali tidak menyalahkan mereka," sambung Cahaya kembali.
Tok tok tok
__ADS_1
Terdengar pintu diketuk oleh seseorang dari luar.
"Masuk!" titah Gilang.
Pintu dengan perlahan dibuka oleh seseorang yang mengetuk pintu itu, dan siapa lagi dia kalau bukan Bayu. Di tangannya dia menenteng tiga kotak makanan dan langsung meletakkannya di atas meja.
"Tuh,aku belikan makan siang untuk kita. Aku tahu kalau kalian berdua pasti lapar, apalagi energimu pasti habis karena marah-marah," ucap Bayu dengan menyelipkan sebuah sindiran di dalam ucapannya itu.
"Terima kasih ya, Kak Bay! aku kebetulan memang sudah sangat lapar," Cahaya meraih makanan yang dibawa oleh Bayu. Wanita itu kemudian, memberikan satu kotak pada Gilang, dan satu buat dirinya. Ketika dia hendak memberikan satu kotak pada Bayu, tangannya langsung ditahan oleh suaminya.
"Biarkan dia ambil sendiri, bagiannya. Dia kan punya tangan sendiri," larang Gilang, yang membuat Bayu mendengus.
"Dasar tidak tahu terima kasih!" celetuk Bayu, dengan raut wajah kesal.
"Mas, nggak boleh begitu! apa salahnya aku kasih ke kak Bayu? kalau dia nggak bawa makanan ini, kita kemungkinan akan kelaparan seharian," protes Cahaya. "Ini, Kak Bayu makananmu," ucap Cahaya tidak mengindahkan larangan Gilang.
"Emm,aku keluar sebentar ya!" Bayu tiba-tiba berdiri dan langsung beranjak keluar, karena ada yang menghubungi Handphonenya. Lima menit kemudian, Bayu kembali masuk dan langsung duduk kembali untuk menikmati makan siangnya.
"Tidak pa- pa. Aku hanya tidak ingin mengganggu makan siang kalian berdua," jawab Bayu.
"Sejak kapan telepon bisa menggangu makan siang? biasanya juga kamu selalu mengangkat telepon di depanku, walaupun aku sedang makan, Gilang terlihat belum puas dengan alasan yang diberikan oleh Bayu.
"Mas sudahlah! semua orang butuh privasi. Mungkin apa yang ingin dibicarakan oleh kak Bayu juga tidak ingin ada orang yang mendengar apa yang dibicarakannya dengan orang yang menelepon tadi," tegur Cahaya, membuat Gilang terdiam.
"Akhirnya, Gilang ketemu dengan pawangnya. Tumben dia diam nggak mau membantah lagi," batin Bayu, sembari berusaha menahan senyumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meja kini sudah terlihat bersih karena ketiga orang itu sudah selesai makan siang. Tiba-tiba dari arah pintu terdengar seseorang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Masuk!" titah Gilang dengan suara yang agak kencang.
Suara decitan pintu yang dibuka oleh seseorang, membuat mata ketiga orang itu langsung mengarah ke pintu untuk melihat siapa yang datang.
Mata Gilang seketika memerah, rahangnya mengeras melihat sosok yang baru saja datang, yaitu sosok pria yang membuatnya sangat marah hari ini. Siapa lagi dia kalau bukan Randi. Ya, tadi yang menghubungi Bayu adalah Randi, yang ingin menanyakan di mana keberadaan Gilang dan Cahaya, karena pria itu ingin meminta maaf.
"Mau apa kamu kemari? mau menghina Cahaya lagi ya?" ucap Gilang dengan nada dingin dan raut wajah sinis.
"Tenang dulu, Pak Gilang. Aku datang ke sini justru ingin minta maaf pada kalian berdua, khususnya pada Cahaya. Memang tidak sepantasnya aku langsung menjudge seseorang itu negatif, padahal aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Maaf ya!" ucap Randi dengan serius.
Gilang tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap Randi, curiga sembari menyipitkan matanya.
"Apa kata-katamu bisa dipercaya?" tanya Gilang ragu.
"Apa kamu meragukanku?"Randi balik bertanya.
"Tentu saja aku tidak akan mudah percaya padamu. Karena menurutku sikap kamu yang terlalu cepat merasa bersalah dan minta maaf, sangat mencurigakan. Aku seperti merasa kalau kamu punya maksud lain, dengan berpura-pura menyesal," ucap Gilang dengan sinis.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku sudah minta maaf, dan aku tidak merasa punya beban lagi," jawab Randi santai.
Gilang mendengus dan memilih kembali fokus pada pekerjaannya.
"Lang, buka Hp kamu sekarang dan lihat apa yang sudah terjadi!" Bayu tiba-tiba berdiri dengan wajah panik.
"Emangnya apa yang sudah terjadi?" tanya Gilang sembari mengrenyitkan keningnya.
"Kamu buka aja dulu HPmu dan lihat sendiri!"
Gilang sontak meraih ponselnya dan langsung melakukan apa yang diminta oleh Bayu. Matanya seketika membesar dan matanya kembali memerah melihat sebuah rekaman video di layar ponselnya. Dimana video itu ada Dania yang merekam videonya sendiri, sambil menangis terisak-isak. Di video itu,Dia mengatakan kalau dia sudah dizolimi oleh keluarga Maheswara, yang tega mempermainkannya dengan menikahkan Gilang dengan wanita lain, tanpa sepengetahuannya. Dania juga menuduh Cahaya seorang wanita yang gila harta, yang suka menggoda pria-pria ber-uang. Di dalam video itu,juga Dania menunjukkan sebuah photo Cahaya dengan Randi, yang sedang berbicara berduaan di depan kampus.
__ADS_1
Tbc