Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Apa aku bermimpi?


__ADS_3

"Terus saja kamu manjakan dia! tanpa kamu sadari kamu sendiri yang menjerumuskannya ke dalam jurang kesedihan," celetuk Bella yang tiba-tiba sudah muncul kembali.


"Apa maksud kamu mengatakan seperti itu? aku hanya ingin melihat anakku bahagia, apa itu salah?" tanya Denis dengan raut wajah tidak suka.


"Keinginan kamu untuk melihat Dania bahagia, sama sekali tidak salah, karena semua orang tua pasti menginginkan hal itu, tapi yang salah itu adalah cara kamu. Asal kamu tahu, selama ini aku merasa kalau aku sudah gagal menjadi seorang ibu dalam mendidik Dania, dan itu semua gara-gara kamu," tutur Bella dengan panjang lebar.


Denis mengrenyitkan keningnya, berusaha mencerna ucapan sang istri yang belakangan ini sering berselisih paham dengannya hanya karena Dania.


"Gara-gara aku? apa maksud kamu?"


"Apa kamu tidak sadar kalau yang kamu lakukan itu, sudah membuat Dania tumbuh menjadi seorang gadis yang egois? kamu selalu saja memenuhi apa yang dia mau, sekalipun apa yang dia mau itu tidak baik. Dari kecil, ketika aku menolak permintaannya untuk dibelikan ini itu, aku bukannya tidak sanggup untuk beli, tapi aku hanya ingin menanamkan padanya Kalau semua hal itu tidak selamanya harus kita miliki. Tapi apa? kamu datang seperti seorang pahlawan yang langsung memenuhi permintaannya itu. Secara tidak sadar, akhirnya dia tumbuh menjadi pribadi yang sangat egois, yang apapun dia mau harus dia dapatkan." ucap Bella, panjang lebar mengeluarkan segala uneg-unegnya.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku. Apa itu salah?"


"Tidak salah sama sekali! tapi, apa kamu yakin kalau itu sudah jadi yang terbaik? sebagai orang tua, kira juga harus bijaksana dalam melihat apakah keinginan anak itu sudah terbaik untuknya atau tidak." jawab Bella dengan bijak. "Sekarang aku mau bertanya padamu, apa menurutmu keinginan Dania untuk menikah dengan Gilang, sudah jadi yang terbaik untuk Dania?"


"Dania bahagia dengan itu, jadi menurutku itu sudah yang terbaik. Dan memang aku sudah mengenal Gilang, aku yakin kalau dia pria yang terbaik buat Dania,"


"Tapi, Dania bukan yang terbaik buat Gilang," sambar Bella dengan cepat.


Denis sontak menatap Bella dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? apa kamu menganggap putri kamu sendiri, orang yang buruk sehingga dia tidak terbaik buat Gilang? ibu seperti apa kamu yang bisa-bisanya berpikir seperti itu?" nada suara Denis sudah mulai terdengar sinis.


"Jadi aku mau tanya balik, apa menurutmu Dania terbaik buat Gilang? apa kamu pernah melihat sekali saja, kalau Gilang menganggap Dania tunangannya? tidak kan? Gilang tidak pernah mencintai Dania, Mas. Dia mau bertunangan dengan Dania hanya karena permintaan kamu, bukan karena keinginannya."


Denis bergeming, tidak membantah ucapan Istrinya. Karena selama ini dia sama sekali tidak pernah melihat Gilang datang mencari Dania.

__ADS_1


"Asal, Mas tahu, kalau putri yang selalu kamu manjakan itu sudah tumbuh menjadi pribadi yang egois dan mau menangnya sendiri. Dan asal, Mas tahu juga, kalau sebenarnya yang dicintai oleh Gilang itu Reyna demikian juga sebaliknya. Dania mengancam akan bunuh diri kalau Reyna masih tetap bersama dengan Gilang, apa menurutmu itu tidak egois? aku tidak bisa bayangkan kalau seandainya Reynaldi dan Nayla tahu, kalau kebahagiaan anaknya sudah direbut oleh Dania anakmu," sambung Bella kembali.


"Gilang dengan Reyna? darimana kamu tahu kalau mereka ada hubungan sebelumnya?" Denis mengrenyitkan keningnya.


"Karena aku bukan orang bodoh. Aku sudah bisa menebak, ketika kamu memohon pada Gilang saat itu. Saat itu Gilang menolak, tapi ketika Reyna mengajak dia bicara, tiba-tiba Gilang setuju." jawab Bella. " Oh iya, bagaimana kamu mau bisa mengerti ya, hatimu kan sudah tertutup hanya karena memikirkan kebahagiaan putrimu sendiri, sehingga kamu tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarmu. Aku malu,Mas benar-benar sangat malu dengan sikap Dania," sambung Bella kembali.


Denis benar-benar terdiam tidak tahu mau mengatakan apa lagi. Dia berusaha mencerna semua yang dikatakan oleh Bella, menelisik diri sendiri, apakah caranya untuk menyayangi Dania selama ini salah atau tidak.


"Kamu pikirkan baik-baik, yang aku katakan tadi, Mas. Dengan kamu menikahkan Dania dengan Gilang pun tidak akan bisa menjamin kalau Dania akan bahagia. Yang ada dia akan selalu makan hati dengan sikap Gilang yang selalu apatis padanya," Bella kembali bersuara melihat suaminya yang sepertinya sudah mulai terpengaruh dengan ucapannya.


"Tapi, menurutku Gilang tidak bisa mencintai Dania, karena mereka belum hidup bersama. Kalau mereka sudah hidup di bawah atap yang sama, aku yakin secara perlahan Gilang akan bisa mencintai Dania. Sama halnya seperti Gavin dan Jelita dulu,"


Bella mengembuskan napasnya dengan berat. Dia merasa sangat susah untuk membuat suaminya itu bisa berpikir rasional karena rasa sayangnya yang terlalu besar pada Dania putrinya.


"Mas, Jelita dan Dania dua pribadi yang berbeda. Jelita wanita yang mandiri, kuat dan polos, sehingga mudah membuat pria jatuh cinta padanya, seperti kamu yang juga sempat jatuh cinta padanya," sindir Bella.


"Jangan mulai lagi deh! itu kan hanya masa lalu," jawab Denis protes.


Denis kembali terdiam karena sebenarnya pria setengah baya itu pun kurang yakin juga.


"Ah, sudahlah! sekarang tolong kamu tinggalkan aku dulu, karena aku pusing memikirkan semua ini," pungkas Denis, menghentikan pembicaraan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di kediaman Gilang, Cahaya akhirnya sudah mengambil keputusannya. Wanita itu melangkah ke sebuah ruangan yang dia tahu merupakan ruang kerja Gilang.


Sebelum mengetuk pintu, Cahaya menarik napas terlebih dulu, dan mengembuskannya kembali. Setelah itu, dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

__ADS_1


"Masuk!" titah suara yang tegas dari dalam sana, yang sudah dipastikan kalau itu adalah suara Gilang.


Cahaya, membuka pintu secara perlahan dan masuk dengan jantung yang berdetak kencang.


"Oh, kamu Cahaya. Apa kamu sudah menentukan keputusan yang akan kamu ambil?" tanya Gilang to the point, dan menatap Cahaya dengan tatapan yang menuntut.


"Iya, Tuan. Setelah aku pikir-pikir aku memutuskan untuk mau menikah dengan Tuan,"


"Bagus! kamu mengambil keputusan yang tepat!" ucap Gilang, sembari tersenyum lega.


"Aku tahu kalau aku salah telah membuat perasaan non Dania hancur, tapi aku melakukan ini semua demi anak-anak panti, makam dan rumah kedua orang tuaku. Aku ingin rumah itu kembali padaku," ucap Cahaya dengan tegas.


"Kamu tenang saja, kamu sama sekali tidak bersalah pada Dania. Aku yang bersalah. Untuk masalah panti, makam dan rumah kedua orang tuamu, aku tidak akan ingkar janji. Sekarang kamu boleh keluar, mama dan papa akan mengurus semua urusan pernikahan kita,"


"Apa ibu dan Tuan Gavin sudah tahu masalah ini?" Cahaya mengrenyitkan keningnya.


"Sebelum aku mengutarakan niatku padamu, aku sudah lebih dulu membicarakannya dengan mama dan papa dan mereka tidak keberatan, karena mereka tahu kalau ini adalah yang terbaik," sahut Gilang, lugas.


"Kalau begitu,boleh aku bertanya sekali lagi Tuan?" tanya Cahaya dengan sangat hati-hati.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Emm, apa pernikahan kita ini termasuk pernikahan kontrak? kalau iya, sampai berapa lama? dan apakah ada jaminan Tuan tidak akan menyentuhku nanti?" Cahaya akhirnya memberanikan diri mengungkapkan apa yang mengganjal di pikirannya.


Gilang tersenyum tipis,"Pertama, pernikahan kita bukan kontrak yang berarti tidak ada jangka waktunya. Aku sama sekali tidak akan menceraikanmu, karena aku tidak ada niat untuk mempermainkan pernikahan. Untuk masalah hubungan suami-istri, aku tidak akan melakukannya selagi aku dan kamu tidak siap. Jadi,kamu tenang saja," jawab Gavin dengan tegas.


"Tidak diceraikan? berarti aku benar-benar jadi istrinya selamanya? apa ini sungguhan? atau hanya mimpi?" batin Cahaya sembari mencubit sendiri tangannya.

__ADS_1


"Sakit! berarti aku tidak sedang bermimpi," bisiknya kembali pada hatinya sendiri.


Tbc


__ADS_2