Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Surat untuk papa


__ADS_3

Ibu Sukma keluar dari dalam kamar, dengan membawa sesuatu di tangannya, yaitu setumpuk amplop yang katanya berisi surat.


"Ini surat-surat Cahaya yang dikirimkannya ke almarhum papanya waktu kecil," ujar Ibu Sukma sembari memberikan tumpukan surat itu ke tangan Jelita.


"Kenapa dia bisa mengirimkan surat ini, sedangkan pak Surya sudah meninggal? dan bagaimana surat ini justru ada di tangan, Ibu Sukma?" Jelita mengreyitkan keningnya bingung.


"Itu karena dulu, Cahaya belum tahu kalau papanya telah meninggal. Agar Cahaya tidak sedih, almarhum mamanya mengatakan kalau papanya itu sedang bekerja jauh, dan akan kembali kalau Cahaya jadi anak yang baik dan pintar. Jadi, kenapa semua surat itu padaku, itu karena aku yang mengatakan akan mengirimkan surat itu pada papa Cahaya. Setelah aku baca, aku juga menuliskan balasan pada Cahaya." sahut ibu Sukma dengan air mata yang menetes mengingat masa kecil Cahaya.


Flash back on


Cahaya kecil yang berusia 6 tahun, dan sudah setahun tinggal di panti, datang menghampiri Sukma dengan membawa sebuah amplop di tangannya. Gadis kecil itu terlihat sangat bingung, hingga menimbulkan keryitan di kening Sukma.


"Ada apa, Cahaya? kenapa kamu terlihat bingung, Sayang?" tanya Sukma dengan nada yang sangat lembut.


"Ibu, aku mau mengirim surat sama papaku, tapi aku nggak tahu bagaimana caranya. Apa ibu bisa membantuku?" tanya Cahaya dengan polosnya.


Sukma terhenyak tidak tahu mau bilang apa. Karena dia tahu kalau papanya Cahaya, sudah meninggal lebih dulu dari mamanya.


"Aduh, apa yang harus aku katakan pada anak ini? bagaimana caranya aku mengirimkan surat itu pada papanya? tapi kalau aku berterus terang, dia pasti sangat sedih," batin Sukma dilema.


"Ibu, kenapa Ibu diam? apa Ibu tidak bisa membantuku?" ucap Cahaya dengan mata yang mengerjap-erjap menahan tangis.


"Hmm, suratnya kasihkan ke ibu aja. Nanti biar ibu yang mengirimkannya pada papamu," ucap Sukma, akhirnya.


"Benarkah, Ibu? terima kasih, Bu!" wajah Cahaya berbinar seketika.


"Apa ibu boleh tahu apa isi suratnya?" tanya Sukma sembari menyelipkan senyuman di bibirnya dan mengelus lembut kepala gadis kecil itu.


"Aku cuma mau kasih tahu papa kalau mama sudah pergi ke surga. Aku juga bertanya kapan papa pulang, Bu. Kata mama, Papaku seorang pemadam kebakaran, dan sedang bekerja jauh. Mama bilang, kalau papa akan pulang jika Aya, jadi anak yang pintar dan baik. Aya kan pintar dan nggak pernah nakal, tapi kenapa papaku belum pulang juga ya, Bu?" tanya Cahaya dengan wajah malaikatnya.


Sukma terdiam, membeku. Wanita itu, melihat ke atas berusaha untuk menahan agar air matanya tidak keluar di depan gadis kecil dan polos itu.


"Emm, nanti aku kirimkan surat kamu ya. Kita tunggu aja balasan papa kamu, kenapa dia belum pulang juga. Jadi, kamu sabar ya!" ucap Sukma dengan suara yang sedikit bergetar.

__ADS_1


"Iya, Bu. Terima kasih ya, Bu!" Cahaya kecil benar-benar terlihat bahagia sekarang.


Sukma tidak kuat lagi. Wanita itu, langsung memeluk cahaya dengan erat dan mencium puncak kepala gadis kecil itu.


"Oh ya, Bu, Aya tidak punya banyak uang. Ini uang Aya hasil nabung. Selama ini, Aya tidak pernah jajan, Bu. Jadi, Ibu pakai uang ini untuk mengirim surat itu," Cahaya memberikan kantong plastik gula yang berisi uang receh pada Sukma.


"Emm, simpan aja uangnya ya. Biar nanti untuk mengirim surat ini pakai uang ibu aja," tolak Sukma memberikan kembali uang dalam kantong plastik itu ke tangan Cahaya.


"Sungguh, Bu?" Sukma tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, apa uang ini bisa aku beli jajan?" lagi-lagi, Sukma menganggukkan kepalanya.


"Horee! terima kasih banyak, Ibu. Ibu memang yang terbaik," Cahaya menghambur memeluk Sukma kembali.


"Ya udah, sekarang kamu pergi jajan ya, ibu mau mengirimkan surat ini," ujar Sukma dengan lembut. Cahaya menganggukkan kepalanya dan langsung berlalu dari hadapan Sukma.


Sepeninggal Cahaya, Sukma langsung membuka amplop dan mengeluarkan surat dari dalamnya. Kemudian wanita itu, membaca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh gadis itu.


Tanpa terasa, air mata Sukma mengalir deras membasahi pipinya, begitu membaca isi surat gadis kecil yang memang selalu bersikap baik itu. Bagaimana tidak menangis, Cahaya menuliskan semua kerinduannya pada sang papa, dan seperti yang dikatakannya tadi, dia bertanya kapan papanya itu pulang dan mengatakan kalau mamanya sudah pergi jauh, tidak akan pulang lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari kemudian, Sukma datang menghampiri Cahaya yang sedang belajar. Di tangannya, dia membawa sebuah amplop yang berisi surat balasan untuk surat Cahaya pada sang papa, yang ditulisnya sendiri.


"Aya, coba lihat ibu bawa apa?" ucap Sukma sembari menunjukkan surat di tangannya.


"Itu surat, Bu," sahut Cahaya dengan mata yang mengerjap-erjap.


"Betul! apa kamu tahu, ini surat dari siapa?"


"Surat dari siapa, Bu?" Cahaya memiringkan sedikit kepalanya, penasaran.


"Ini, surat balasan dari papa kamu," ucap Sukma dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Benarkah, Bu?" wajah Cahaya benar-benar bersinar seperti namanya.


"Iya dong. Gak mungkin ibu bohong. Nih, buat kamu," Cahaya dengan gembira langsung menerima surat itu dan mendekapnya ke dada.


"Boleh Aya baca sekarang, Bu?" tanya Cahaya meminta izin.


"Tentu saja boleh, Sayang," Sukma mengelus lembut kepala gadis kecil itu.


"Sini, Bu kita baca sama-sama!". Cahaya dengan gembira menarik tangan Sukma, meminta wanita itu untuk duduk di sampingnya.


Dengan sedikit tidak sabar, Cahaya langsung membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Dengan tidak sabar juga, Cahaya langsung membuka lipatan surat itu.


Dear, Cahaya anak papa yang cantik.


Aya, bagaimana kabarnya? pasti baik dan tentunya makin cantik kan? iya dong, siapa dulu, anak papa Surya dan mama Citra, pastilah cantik.


Nak, papa di sini baik-baik saja, dan papa juga sangat kangen sama kamu. Aya tenang saja, papa akan pulang kalau Aya jadi anak yang pintar dan baik. Aya rajin belajar dan jangan nakal pada siapapun itu. Satu hal lagi, Aya harus tetap tersenyum supaya semakin cantik. Aya jangan sedih dengan kepergian mama ya! Sakit mama kamu sudah sembuh,nak dan sekarang mama kamu sudah bahagia. Aya doa kan mama saja, supaya tetap selalu bahagia di surga.


Nak, walaupun papa tidak ada di dekatmu, percayalah kalau Aya akan selalu berada di dalam hati papa.


Peluk dan cium dari papa.


"Jadi, papa Aya belum pasti kapan pulangnya ya, Bu?" tanya Cahaya dengan raut wajah sedih.


"Tapi, nggak pa-pa deh. Yang penting Aya sudah tahu, kalau papa Aya baik-baik saja di sana. Sekarang, Aya akan rajin belajar supaya pintar. Aya juga akan selalu jadi anak yang baik, biar papa bangga sama Aya," ucap Cahaya dengan semangat.


"Nah, harus gitu dong!" ucap Sukma tersenyum.


"Bu, aku mau membalas surat papa lagi, Ibu masih mau kan membantuku untuk mengirimkannya?" tanya Cahaya dengan tatapan penuh harap.


Sukma tidak menjawab, tapi wanita itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mulai dari hari itu, Cahaya kecil akan selalu menulis surat pada papanya, dan Sukma akan selalu menulis balasan surat Cahaya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2