Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Ending


__ADS_3

POV Author


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sudah 5 tahun berlalu. Itu berarti anak kembar Gilang dan Cahaya, yaitu Gio dan Gendish kini sudah berusia 5 tahun. Mereka berdua tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan menggemaskan



Karena melihat beratnya perjuangan Cahaya dan betapa kacaunya keadaannya, ketika istrinya itu melahirkan si kembar, Gilang akhirnya memutuskan untuk tidak menambah anak lagi.


"Mamaaaa! Ka Gio, nakal!" teriak Gendish. Cahaya yakin kalau putrinya itu pasti sedang diusili oleh Gio.


"Ada apa teriak-teriak, Sayang?" tanya Cahaya dengan nada yang sangat lembut.


"Lihat nih, Ma, boneka barbieku dirusak sama dia." Hampir setiap hari hal ini selalu terjadi, dimana Gio selalu berbuat usil pada adiknya,. karena menurutnya dia senang melihat wajah Gendish yang cemberut.


"Gio, kamu nggak boleh begitu, Sayang? kasihan adik kamu, digangguin terus," Cahaya mengelus rambut Gio dengan lembut.


"Sebenarnya, Gendish duluan yang mulai, Ma! coba lihat Lego yang Gio susun dia hancurkan. Kan Gio udah capek, Ma nyusunnya" Gio justru balik mengadukan adiknya.


"Sekarang siapa yang harus Mama dengarkan? Gio apa Gendish?"


"Gio!"


"Gendish!"


Kedua anak itu tidak ada yang mau mengalah.


Cahaya menarik nafas dalam-dalam,lalu mengembuskan kembali ke udara. Wanita itu melakukannya berulang-ulang, untuk bisa mengontrol emosinya. Wanita itu tidak mau menunjukkan emosional di depan kedua anaknya.


"Ok, mama tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar di antara kalian berdua dan mama tidak mau membela dan menyalahkan salah satu dari kalian berdua, tapi mama mau kalian berdua, saling memafkan. Karena apa? karena kalian itu saudara. Dulu kalian bahkan, bisa berbagi tempat di dalam perut mama, masa sekarang kalian harus berantem dan tidak bisa akur, tutur Cahaya sembari membelai kepala kedua anak kembarnya itu.


"Mama ... sebenarnya Gendish yang terlebih dulu menghancurkan susunan Lego kak Gio. Tapi,itu karena Kak Gio nggak mau bermain boneka sama Gendish. Jadi, Gendish marah dan menghancurkan mainan kak Gio," Gendish akhirnya mengakui kesalahannya sembari menundukkan kepala, tidak berani menatap Cahaya.

__ADS_1


Senyum Cahaya sontak terbit mendengar pengakuan anak perempuannya itu.


"Dish, kalau Ka Gio, memaksa, Gendhis main mobilan, apa Gendish mau?" Gendish dengan cepat menggelengkan kepalanya,.


"Kalau Gendish, tidak suka dipaksa, jadi Gendish pun tidak boleh memaksa,orang lain untuk bermain yang kamu suka, ya. Dan, kamu Gio, walaupun kamu tidak mau, bermain boneka dengan adikmu, kamu tetap tidak boleh menjadikan alasan itu,untuk merusak mainan adik kamu. Kalian paham sekarang, Sayang?"


"Paham, Ma. Maafin Gio (Gendhis) ya, Ma!" ucap kedua anak itu hampir bersamaan.


"Jangan minta maaf sama Mama. Kalian berdualah yang seharusnya saling meminta maaf." Cahaya tersenyum ke arah keduanya lalu memeluk serta mengecup puncak kepala mereka. Detik berikutnya, sepasang kembar itu pun saling meminta maaf dan berbaikan kembali.


"Ada apa Sayang?" Tiba-tiba Gilang sudah berdiri di ambang pintu. Sepertinya pria itu, baru saja pulang dari kantor.


"Biasalah!" sahut Cahaya sembari mengambil alih tas kerja dan jas dari tangan Gilang.


"Haloo, anak-anak, papa! apa tidak ada yang mau peluk papa?" sorak Gilang, pada kedua anaknya yang sudah asik kembali bermain.


"Papaaaa!" Gio dan Gendish,.berdiri lalu menghambur memeluk papahnya itu.


"Ah,Gak seru! kalau cuma Rendra yang datang tidak apa-apa, tapi kalau si cengeng itu ikut, aku malas , Pah. Celetuk Gio yang ditujukan pad anak perempuan yang bernama Ruhi Adin dari Rendra yang merupakan anak dari Reyna dan Randi.


Ya, Randi dan Reyna juga sudah memiliki dua orang anak yaitu Rendra dan Ruhi. Rendra berusia empat tahun dan Ruhi dua tahun.


Bagaimana dengan Dania? Dania juga sudah memiliki seorang putra dari hasil pernikahannya dengan Sandi yang diberi nama Doni.


Jangan lupakan Bayu. Pria yang merupakan sahabat dan asisten pribadi Gilang itu setelah menikah dengan Grizelle adik perempuan Gilanng itu juga sudah memiliki seorang putra berusia 3 tahun, yang dikasih nama Banyu Giandra.


"Gio, tidak boleh seperti itu! Ruhi kan masih sangat kecil, Sayang," tegur Cahaya deng tatapan mengingatkan.


"Baik, Ma!" sahut Gio sembari menundukkan kepalanya.


"Pa, yang datang cuma Rendra dan Ruhi ya? Doni sama Banyu bagaimana?" Gendish buka suara.

__ADS_1


"Tentu saja mereka juga akan datang. Banyu kan juga mau ketemu sama Opa dan Oma," sahut Gilang. Opa dan Oma yang Gilang maksud adalah Gavin dan Jelita orang tuanya.


Oh ya, bagaimana dengan Melinda neneknya Gilang? wanita yang sudah tua itu, sudah menyusul Ganendra suaminya 3 tahun yang lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halaman belakang mansion keluarga Maheswara, sore ini sangat ramai, dimana ada 4 papah muda dengan istri masing-masing beserta dengan anak-anak mereka tengah berkumpul mengadakan acara temu ramah yang rutin mereka lakukan sekali seminggu kalau tidak ada halangan.


Suara riuh anak-anak yang berlari ke sana kemari terdengar memenuhi taman belakang itu. Bukan hanya suara anak-anak yang terdengar riuh, suara 4 orang wanita yang merupakan mama dari anak-anak itu juga tidak kalah riuhnya, karena dari tadi tidak pernah berhenti berteriak untuk mengingatkan anak masing-masing.


"Ma, Tante, kalian semua bisa kembali duduk. Biar aku yang menangani mereka semua!" ucap seorang anak perempuan bernama Sinta yang sudah berusia 9 tahun dan merupakan anak Sandi dari istrinya terdahulu sebelum Dania. Gadis kecil itu, maju ke depan menawarkan diri untuk memperhatikan ke enam anak-anak yang berbeda karakter itu.


"Apa kamu yakin bisa, Nak?" tanya Dania dengan lembut. Ya, wanita yang dulunya egois dan licik itu benar-benar berubah dan menyayangi Sinta seperti anak sendiri. Dia tidak pernah membedakannya dengan Doni putranya.


"Yakin, Ma. Mama tenang saja!" Sinta memasang senyum manisnya.


"Baiklah,Mama percaya sama kamu.Tapi, kalau kamu sudah tidak kuat, segera lambaikan bendera putih ya!" ucap Dania lagi dan Sinta menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya, Nak Sinta!" ucap Cahaya yang disusul oleh Reyna dan Grizelle.


Ke empat ibu muda itu akhirnya memutuskan bergabung dengan suami mereka dan mempercayakan para balita itu pada Sinta yang mereka tahu memang sangat menyukai anak kecil.


Begitulah kehidupan mereka seterusnya. Gilang dan Cahaya berhasil melalui hidup yang penuh dengan kerikil tajam. Mereka berdua berhasil meruntuhkan tembok kebencian dan dendam dengan ikhlas memaafkan. Semua ini tidak lepas dari kelembutan dan kebaikan Cahaya yang selalu berusaha untuk mengingatkan Gilang untuk tidak pernah menyimpan yang namanya dendam. Semakin hari, Gilang semakin mencintai Cahaya istrinya.


Bukan hanya Cahaya, Reyna juga menunjukkan sikap seorang wanita mencintai seseorang dengan tulus dan ikhlas dengan berbahagia melihat orang yang dicintai hidup bahagia walaupun bukan dengan dirinya. Dalam hidup, kadang kamu harus menerima bahwa tak semua harapan jadi kenyataan. Dan yang kamu butuhkan adalah keberanian untuk merelakan.


Tamat


Yes, akhirnya karya 'Aku Mencintai Cahaya' bisa selesai juga. Aku sendiri tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Aku merasa kalau memang karya ini sudah pantas ditamatkan karena mereka semua sudah menemukan kebahagiaan masing-masing.


Terima kasih, aku ucapkan buat readers yang selalu setia buat dukung karya Author dengan memberikan like,komentar, Vote dan bahkan memberikan hadiah. Maaf bila ada yang kurang berkenan dan kurang memuaskan. Jujur aku tidak pintar untuk menyenangkan para readers. Sekali lagi maaf dan terima kasih semuanya. Peluk dan cium online buat kalian semua dan semoga selalu sehat dan bahagia selalu. 😍😍😍

__ADS_1


Oh ya, bagi yang belum mampir ke karya baruku yang berjudul Kak Kukejar Mimpi,aku tunggu kalian di sana, ya 🙏🏻🙏🏻


__ADS_2