Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Mangga lengkap dengan tangkai dan daunnya


__ADS_3

Waktu sudah berlalu sebulan lamanya, dan kandungan Reyna sudah berusia dua bulan. Semenjak wanita itu mengandung, Randi meminta Reyna untuk berhenti bekerja dan di rumah saja. Reyna sebenarnya ingin menolak, tapi melihat kondisinya yang sedikit lemah di kehamilannya, mau tidak mau wanita itu terpaksa memenuhi keinginan Randi.


Setiap hari ada aja yang sesuatu yang diinginkan oleh Reyna untuk dimakan dan sela saja terjadi di tengah malam. Walaupun kadang merasa kesal, tapi Randi selalu berusaha untuk memenuhinya.


"Sayang, kamu sudah tidur ya?" Reyna menusuk-nusuk dada Randi dengan jari telunjuknya berusaha untuk membangunkan suaminya itu.


Randi yang sebenarnya masih terjaga, pura-pura sudah tertidur lelap, karena pria itu sudah hapal bila istrinya itu membangunkannya pasti ada sesuatu yang diinginkan oleh wanita itu.


"Sayang, bangun dong!" rengek Reyna yang sudah mulai ingin menangis. Semenjak kehamilannya ini, Reyna memang sangat mudah menangis.


"Haish apa yang harus aku lakukan sekarang? kalau aku buka mata, pasti ada yang dia inginkan, tapi kalau aku tetap berpura-pura,dia pasti akan menangis," batin Randi dilema.


"Tapi, kasihan dia kalau aku tetap berpura-pura. Lagian ini bukan salahnya, ini semua karena anakku," pungkas Randi yang akhirnya membuka matanya secara perlahan.


"Ada apa, Sayang? kenapa kamu menangis?" tanya Randi, seolah-olah dia baru saja bangun.


"Kamu kenapa sih susah dibangunin? aku dari tadi sudah berkali-kali membangunkanmu. Mungkin sudah ada sampai seratus kali," ucap Reyna sengaja melebih-lebihkan.


"Seratus kali dari mana? gimana sih cara dia ngehitungnya.Baru juga 3 kali membangunkanku, tapi sudah berani bilang 100 kali," rutuk Randi yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Maaf, Sayang. Tadi aku sangat ngantuk. Ada apa, Sayang?" tanya Randi dengan lembut.


"Aku sepertinya ingin makan makan mangga muda, Sayang. Tapi mangganya masih ada tangkainya dan ada ada daunnya,"


"Tuh kan, mintanya yang aneh-aneh," lagi-lagi Randi menggerutu dalam hati.


"Emm, iya Sayang. Besok aku akan bawakan buat kamu mangganya,"


"Tapi aku maunya sekarang,Sayang. Besok lain cerita," ucap Reyna dengan nada raut wajah memelas.


"Hah, sekarang? ini sudah larut malam Sayang. Mau cari di mana mangga muda malam-malam begini? besok aja ya!" wajah Randi terlihat frustasi.


"Aku maunya sekarang, Sayang. Kalau kamu nggak mau bawa mangganya, bilang aja, gak usah alasan udah malam segala," Reyna terlihat hampir menangis.

__ADS_1


"Bukan begitu Sayang. Ini kan emang udah malam,"


"Kamu kira ini maunya aku? ini maunya anak kamu. Makanya kalau belum siap jadi ayah, nggak usah sok-sokan mau punya anak," air mata Reyna sudah mulai menetes.


Randi mengusap wajahnya dengan kasar dan wajah yang meringis seperti ingin menangis.


"Iya, iya, Sayang. Aku pergi cari mangganya ya! aku ganti pakaian dulu," pungkas Randi akhirnya mengalah.


"Benaran, Sayang? terima kasih ya!" tangis Reyna seketika rem mendadak berganti dengan senyum lebar dan wajah yang berbinar.


Randi hanya bisa mengembuskan napas dan berlalu untuk mengganti pakaiannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu gila ya, ngajak- ngajak aku malam-malam begini buat cari mangga? kurang kerjaan emang kamu," Gilang menggerutu dengan mata ngantuknya.


"Ini bukan mauku tapi maunya Reyna. Dia bilang dia mau makan mangga muda tapi kamu yang nyarikan untuknya. Jadi, aku bisa apa coba? mau nggak mau, aku terpaksa minta kamu untuk nyari tuh mangga. Karena aku baik hati, makanya aku nggak membiarkanmu nyari sendiri, karena bagaimanapun anak yang ada di kandungan Reyna itu anakku bukan anakmu," ucap Randi, memberikan alasan yang seratus persen hasil karangan dia saja.


"Ah, aku nggak percaya. Kalau Reyna memang memintaku untuk mencari mangga muda untuknya, kenapa dia tidak minta sendiri padaku? ini akal-akalan kamu aja kan?" ujar Gilang, menatap Randi curiga.


"Aku tidak bohong, Lang," ucap Randi berusaha meyakinkan Gilang.


"Tapi, kenapa kenapa harus aku yang cari mangganya? aku kan bukan papanya anak yang dikandung Reyna,"


"Ya, mungkin saja kan, anakku itu tahu kalau kamu itu calon mertuanya. Jadi, sebelum kamu menyusahkan dia, mumpung ada kesempatan sekarang, ya dia lebih dulu menyusahkanmu," jawab Randi asal.


"Gila kamu! emangnya siapa yang mau besanan sama kamu? dari kandungan aja udah mau menyusahkanku, ogah punya menantu kaya anakmu," jawab Gilang tidak kalah asal.


"Udahlah, nggak usah banyak bicara! sekarang kamu mau carikan mangganya atau tidak?" Randi melirik jam tangannya, mulai tidak sabar.


" Ya udah, aku cari. Ayo pergi! nanti aku kirimkan pesan aja pada Cahaya, biar dia nggak kecarian!" Gilang akhirnya mengalah. Setelah masuk ke dalam mobil, Gilang langsung mengirimkan pesan pada sang istri. Kemudian, pria itu menghubungi Bayu, entah kenapa dia tidak rela sahabat sekaligus calon adik iparnya itu bisa tidur tenang sementara dia lagi kesusahan di luar.


"Halo, Lang!" terdengar suara Bayu dengan nada malas dari ujung sana.

__ADS_1


"Kamu siap-siap, aku sama Randi akan menjemputmu sekarang juga. Kita cari mangga muda buat Reyna! tidak ada penolakan titik!" Gilang memutuskan panggilan secara sepihak sebelum Bayu menolak. Bisa dipastikan kalau Bayu pasti sedang memaki-maki Gilang sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga orang pria tampak frustasi karena belum mendapatkan mangga seperti yang diinginkan oleh Reyna. Mau beli pun tidak mungkin karena tidak ada toko buah yang buka. Seandainya dibeli pun, tidak ada mangga yang masih ada tangkainya berikut dengan daunnya sesuai dengan yang diminta oleh Reyna.


"Anakmu masih di dalam kandungan sudah meresahkan dan menyusahkan ya!" cetus Gilang, sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya,mana aku tahu kenapa anakku bisa seperti itu!" sahut Randi sembari mengembuskan napasnya dengan keras.


Di saat bersamaan sebuah mobil yang sangat mereka kenali berhenti di dekat mereka. Siapa lagi pemilik mobil itu kalau bukan Sandi suaminya Dania.


Tampak Sandi keluar dari mobil diikuti oleh Darell. Wajah kedua pria itu juga tampak kusut seperti pakaian yang belum disetrika.


"Lho, Sandi, Darell, kalian dari mana? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gilang antusias.


"Kami diminta Dania untuk cari mangga muda. Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak ketemu juga," sahut Sandi lemas.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Sandi, semua yang ada di tempat itu kecuali Darell tertawa keras karena bernasib sama.


"Tunggu dulu!" Randi tersadar akan sesuatu. "cari mangga muda? apa kamu mau bilang kalau Dania juga sedang hamil?" lanjutnya.


Sandi tersenyum tipis dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Wah, selamat ya!" Gilang dan yang lainnya mengucapkan selamat bergantian.


"Sekarang, mari kita selesaikan misi kita untuk mencari mangga. Kita masuk saja ke komplek perumahan. Biasanya ada tuh yang menanam mangga di depan rumahnya," ucap Darell.


"Grizelle belum hamil bahkan menikah saja belum, tapi aku sudah ikut kesusahan memenuhi ngidam istri kalian. Awas saja nanti kalau Grizelle hamil, kalian menghilang kalau aku minta tolong," celetuk Bayu yang disambut tawa oleh yang lainnya.


Tbc


ata

__ADS_1


__ADS_2