Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Merasa puas


__ADS_3

Randi juga sama seperti Gilang. Pria itu kaget melihat Dania membawa-bawa dirinya untuk bisa menjatuhkan Cahaya.


"Sialan! berarti sebelum dia pergi hari itu, dia masih sempat mengambil gambar ini," umpat Randi dengan kesal.


Gilang menatap tajam ke arah Randi. Pria itu masih terlihat curiga pada Randi.


"Ini bukan konspirasi kalian berdua kan? kami datang berpura-pura, seakan kamu tidak ikut terlibat," tukas Gilang dengan alis yang bertaut.


"Apa kamu masih mencurigaiku? sumpah demi apapun, aku tidak pernah melakukan konspirasi dengan manusia licik yang bernama Dania itu. Aku berani jamin itu," sahut Randi dengan tegas.


Gilang menatap intens ke mata Randi untuk melihat apakah ada kejujuran di dalam mata pria yang dia anggap rival itu atau tidak. Ternyata, Gilang dapat melihat kalau Randi jujur dengan kata-katanya.


Kemudian Gilang kembali melihat ke layar handphonenya dan kembali menggeram begitu melihat banyak yang berkomentar negatif pada Cahaya, bahkan tidak jarang ada orang yang menyumpahi Istrinya itu tidak akan pernah bahagia karena sudah merampas kebahagiaan wanita lain.


Sementara itu, Bayu terlihat sibuk berganti-ganti menerima telepon yang dapat dipastikan kalau orang-orang yang meneleponnya adalah orang-orang penting yang bekerja sama dengan the sky group. Tujuan mereka cuma satu, yaitu ingin menanyakan kebenaran kabar itu.


Karena video Dania sudah gempar, membuat citra the sky group langsung turun drastis, sehingga membuat banyak perusahaan yang memilih untuk membatalkan kerja sama, dengan alasan tidak mau, bekerja sama dengan perusahaan yang sudah buruk di mata kebanyakan orang.


"Lang, harga saham perusahaan the sky group benar-benar turun sekarang. Bahkan banyak yang menarik saham mereka di perusahaan ini, dan membatalkan kerja sama," ucap Bayu yang membuat wajah Gilang seketika terlihat frustasi. Pria itu, sekarang memijat-mijat kepalanya karena tiba-tiba merasa pusing.


"Ini semua salahku. Lebih baik kita pisah saja,Mas. Kamu bisa kembali ke Dania, demi perusahaan. Aku tidak mau perusahaan yang sudah dibangun secara turun temurun ini, hancur gara-gara aku," Cahaya yang dari tadi jadi pendengar saja, akhirnya buka suara.


Gilang sontak menoleh ke arah Cahaya dengan tatapan yang tidak suka, karena mendengar ucapan wanita itu. "Ini sama sekali bukan salah kamu. Karena dari awal aku sudah memprediksikan kalau hal ini pasti terjadi, walaupun aku tidak menikah denganmu. Jadi, kamu jangan menyalahkan diri sendiri!"


"Tapi,Mas ... aku benar-benar merasa __"


"Aku sudah bilang jangan menyalahkan diri sendiri. Kamu tenang saja, aku akan berusaha menyelesaikan masalah ini," ucap Gilang dengan tegas.


"Dan aku akan membantu. Bagaimanapun aku sudah dibawa-bawa wanita itu dalam masalah ini," Randi menimpali ucapan Gilang.


Handphone Gilang tiba-tiba berbunyi dan melihat kalau Gavin papanya menghubunginya. Sepertinya papanya itu sudah melihat kekacauan yang disebabkan oleh video Dania.


"Iya, Pa?" jawab Gilang dengan nada tidak bersemangat.


"Kamu di mana? apa kamu di kantor? dan apa kamu sudah lihat video Dania?" tanya Gavin dengan beruntun.


"Aku di kantor, Pah dan aku sudah lihat video itu. Sekarang perusahaan kita mulai diambang kehancuran, Pa dan itu semua gara-gara aku," ucap Gilang, yang seketika merasa menjadi manusia yang tidak berguna sama sekali.


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu? Kita sama-sama mencari solusinya. Tadi, Om Reynaldi juga sudah menghubungi papa, dan mengatakan akan siap membantu. Jadi kamu tidak boleh menyerah!" Gavin dengan bijaksana berusaha untuk menenangkan putranya itu. "Justru papa mau nanya, apa Cahaya ada bersamamu sekarang?" lanjut Gavin lagi.

__ADS_1


"Iya. Cahaya ada bersamaku sekarang,"


"Kalau begitu kamu berikan handphonemu padanya. Soalnya mamamu mau bicara," ucap Gavin.


"Mau bilang apa, Pa? tolong jangan__"


"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu berikan handphonenya sekarang!" titah Gavin dengan tegas.


Gilang yang merasa penasaran dan takut kalau orang tuanya bakal mulai menyalahkan Cahaya, tidak memberikan handphone ke Cahaya sama sekali. Justru pria itu lebih memilih untuk menekan tombol speaker agar dia bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orangtuanya.


"Halo,Ma!" sapa Cahaya dengan jantung yang berdetak kencang.


"Cahaya,kamu baik-baik saja, Nak? mama sangat khawatir padamu," terdengar suara Jelita yang panik di ujung sana, benar-benar jauh dari dugaan Gilang dan Cahaya.


"Aku baik-baik saja,Ma." jawab Cahaya dengan sopan.


"Syukurlah! kalau begitu kamu minta Gilang untuk mengantarkanmu pulang sekarang. Mama benar-benar tidak akan tenang kalau kamu belum di rumah," ucap Jelita yang membuat air mata Cahaya menetes. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari keluarga besar suaminya.


"Iya, Ma!" jawab Cahaya dengan suara bergetar.


"Aya,apa kamu menangis?"


"Ya, sudah. Kalau begitu teleponnya mama matikan ya, mama tunggu kamu di rumah!" ucap Jelita sebelum akhirnya panggilan terputus.


"Ternyata keluarga Gilang benar-benar menyayangi Cahaya," batin Randi yang seketika ikut merasa lega.


Di saat bersamaan, kini gantian handphone Randi yang berbunyi dan itu dari Reno papanya.


"Iya, Pa?" sapa Randi.


"Randi, apa benar yang ada di video tunangan Gilang itu? apa itu benar-benar kamu?" suara Reno terlihat murka di ujung sana.


"Iya, itu aku, Pa. Tapi apa yang dikatakan wanita itu tidak benar sama sekali," ucap Randi dengan tegas.


"Tidak benar bagaimana? itu jelas-jelas terlihat kalau kamu menatap wanita dengan tatapan mengagumi. Apa dia wanita yang kamu sebut bidadari itu? bagaimana kamu bisa menyebut wanita seperti itu bidadari?" Reno benar-benar murka dan tidak percaya dengan pembelaan Randi.


"Pa, tolong jangan langsung menyimpulkan! nanti aku akan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


"Tidak ada yang perlu dijelaskan! yang jelas papa tidak mau kamu mendekati wanita ular seperti itu. Kamu jangan tertipu dengan wajah cantiknya. Dan satu lagi, kamu harus batalkan kerja sama dengan the sky Group. Keluarga yang suka mempermainkan wanita tidak layak diajak kerjasama," tegas Reno yang sepertinya sudan termakan dengan video Dania.

__ADS_1


"Pa, bukannya aku tadi sudah bilang, agar tidak langsung menyimpulkan sendiri? dimana papaku yang bijaksana itu, yang selalu mencari kebenaran lebih dulu, sebelum menyimpulkan?"


Tidak terdengar sahutan dari Reno untuk beberapa saat. Detik berikutnya terdengar embusan napas yang cukup panjang dari pria itu.


"Baiklah, kamu pulang sekarang dan jelaskan ke papa!" pungkas Reno, mengakhiri pembicaraan.


Sementara itu, di lain tempat tepatnya di sebuah rumah sakit, tampak Reyna yang menggeram melihat video rekaman yang disebarkan oleh Dania.


"Terbuat dari apa sih hatimu, Dania? kenapa kamu bisa setega ini? apa dia tidak berpikir jauh sebelum melakukan hal ini?" Reyna menggerutu di dalam hati.


Brak ...


pintu ruangan poly Reyna terbuka tiba-tiba, memunculkan sosok Nayla yang panik.


"Reyna,apa kamu sudah melihat video Dania?" tanya Nayla tanpa basa-basi.


"Sudah,Mah." sahut Reyna, lirih.


"Dia ya ... benar-benar tidak tahu diuntung. Apa dia tidak berpikir kalau hal yang dibuatnya itu bukan hanya merugikan keluarga Gilang tapi ribuan orang. Jika perusahaan bangkrut, otomatis akan membuat banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan. Bahkan mama tadi dihubungi sama tante Jelita kalau dua toko kuenya diobrak-abrik orang tidak di kenal, karena dia selaku pemiliknya dianggap tidak becus jadi seorang ibu."tutur Nayla panjang lebar, tanpa jeda.


"Apa? sampai segitunya,Ma?" Reyna terkesiap kaget. "Sepertinya aku harus melakukan sesuatu, Ma!" sambung Reyna kembali.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Nayla menatap penuh tanya pada putrinya itu.


"Nanti aku akan kasih tahu ke mama. Soalnya 5 menit lagi, pasien yang sudah melakukan janji untuk periksa sebentar lagi akan datang," sahut Reyna yang tetap berusaha untuk profesional.


"Baiklah! kalau begitu mama keluar dulu!" Nayla


beranjak keluar setelah Reyna menganggukkan kepalanya.


Satu-satunya yang sedang berbahagia saat ini adalah Dania. Wanita itu tersenyum sinis dan puas melihat semua komentar-komentar yang bersimpati padanya dan mengecam keluarga Maheswara, khususnya Cahaya yang dianggap wanita tidak tahu diri.


"Inilah akibat kalau berani mempermainkanku. Kalau aku sudah bertindak, aku bisa membuat kalian semua hancur dalam sekejap," ucap Dania dengan sudut bibir yang terangkat ke atas, tersenyum puas.


Brak ....


"DANIA!" di depan pintu terlihat sosok Bella dan Denis berdiri dengan wajah penuh amarah.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2