
Sementara itu Reyna terlihat gelisah dan berulang kali melihat ke arah jam tangannya. Raut waja wanita itu juga terlihat kesal, dikarenakan Dania mengatakan tidak bisa datang di saat dirinya sudah sampai di hotel. Hal yang membuat wanita itu tambah kesal karena dirinya bertemu dengan Danar, pria yang sejak awal selalu mencari perhatian padanya. Sebenarnya saat Danar mengajaknya untuk makan malam bersamanya, Reyna ingin menolak, apalagi ketika harus makan di ruang VIP yang mana hanya ada mereka berdua, tapi karena merasa tidak enak akhirnya wanita itu bersedia.
"Dimana sih dia? lama sekali dari toiletnya?" sungut Reyna dalam hati.
"Apa aku tinggal aja ya? tapi kok kesannya jadi nggak sopan ya?" batin Reyna lagi.
"Eh, maaf ya aku lama di toiletnya." Tiba-tiba Danar sudah muncul dan langsung duduk di dekat Reyna, hingga membuat Reyna tersentak kaget. "Tadi aku ketemu dengan teman lama, jadi ngobrol sebentar. Kalau tidak diladeni takutnya aku dicap sombong," lanjut Danae kembali menjelaskan.
"Oh, tidak apa-apa!" sahut Reyna sembari menyelipkan senyum terpaksanya.
Danar tersenyum tipis dan menatap Reyna dengan tatapan yang misterius.
"Danar, makan malamnya ditunda aja ya. Aku sepertinya harus pulang sekarang. Kita makan malam kalau ada Dania saja," ucap Reyna, dengan sangat hati-hati.
"Kenapa kamu tidak mau makan malam denganku? apa aku terlihat menjijikkan?" ucap Danar yang masih berusaha untuk menahan kekesalannya.
"Bukan seperti itu, aku hanya __"
"Lagian, makanan sudah dipesan dan sebentar lagi akan datang. Apa kamu tega membiarkan aku makan makanan sebanyak itu? " Danar langsung menyela ucapan Reyna.
"Emm,baik deh kalau begitu!" sahut Reyna, akhirnya pasrah.
Benar kata Danar, tidak menunggu lama, dua orang pelayan langsung datang dengan membawa nampan berisi makanan di atasnya.
"Silakan dinikmati makanannya,Nona, Tuan!" ucap salah satu pelayan itu setelah selesai menyajikan yang dibawanya di atas meja.
"Terima kasih, Mbak!" ucap Reyna sembari tersenyum ke arah pelayan.
"Ayo dimakan, Reyna! semuanya ini aku yang traktir," ucap Danar setelah dua pelayan itu pergi.
"Terima kasih!" ucap Reyna dengan sopan
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Reyna pun menyantap makanan di depannya. Dia ingin sekali menghabiskan makanan itu secepatnya. Bukan karena sangat lapar, tapi lebih ke ingin cepat pulang saja.
Reyna meraih minumnya dan meminumnya lewat sedotan. Sementara itu, Danar tersenyum licik saat melihat Reyna meminum minumannya. Tiba-tiba tidak berselang lama, Reyna mulai terlihat menguap dan matanya mulai mengecil. Sepertinya wanita itu terlihat menahan kantuk.
"Aku kok tiba-tiba merasa ngantuk ya?"ucap Reyna dengan lirih.
"Lho kok bisa?" jawab Danar, pura-pura tidak tahu.
"Yes, berhasil!" sorak Danar dalam hati.
"I-iya, aku ngantuk sekali," Reyna memejamkan matanya dan kepalanya hampir terjatuh ke meja. Untungnya Danar langsung menahan kepala Reyna sehingga terhindar dari terkenanya kepala wanita itu ke piring yang masih berisi makanan.
Danar kemudian tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Reyna ala bridal style.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Berhenti! mau kamu bawa kemana wanita itu?" tiba-tiba seorang pria berdiri tepat di depan Danar.
"Benar dia istrimu? kenapa aku merasa ragu ya?" pria yang ternyata Randi itu sama sekali tidak mengindahkan perintah Danar.
"Mau kamu percaya atau tidak, aku tidak peduli. Sekarang kamu minggir dan berhenti mencampuri urusan orang lain!" Danar terlihat mulai terpancing emosinya.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Randi dengan tersenyum sinis.
Wajah Danar memerah, dan rahangnya mulai mengeras.
"Dengar, aku masih memberikan kesempatan buat kamu untuk minggir dan segera pergi dari sini. Kalau tidak, jangan menyesal Kalau aku akan memanggil pegawai hotel dan menyeret kamu keluar karena membuat aku tidak nyaman," ancam Danar dengan tatapan yang sangat tajam.
"Oh ya? emangnya kamu pemilik hotel ini, sampai-sampai kamu punya hak untuk memerintahkan pegawainya untuk mengusirku? Kamu dengar sekali lagi, aku sama sekali tidak peduli dengan ancamanmu. Kamu taruh wanita itu ke bawah dan tinggalkan tempat ini!" Randi menatap Danar dengan tatapan yang tidak kalah tajam dari Danar.
"Berani sekali kamu memerintahku! dia ini istriku dan aku ingin membaringkannya di kamar, kamu kenapa nggak ngerti juga sih?"
__ADS_1
"Dia itu bukan istrimu! apa kamu mengira kalau aku tidak mendengar pembicaraan kamu dengan pegawai hotel di dekat toilet tadi? jadi sebelum aku marah, kamu letakkan dia dan pergi dari sini!"
Wajah Danar seketika berubah pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali. Pria itu pun menurunkan tubuh Reyna dengan perlahan, menyenderkan ke tembok.
"Lihat, aku sudah menurunkannya. Sekarang biarkan aku pergi!" Danar mengayunkan kakinya, hendak pergi. Namun tiba-tiba pria itu berbalik dengan cepat.
"Brengsek, sialan! pergi lah kau ke neraka" umpat Danar sembari melayangkan kakinya hendak menendang dada Randi. Beruntungnya Randi yang sudah bisa membaca pergerakan Danar sebelumnya, langsung menangkap kaki Danar dan balik memberikan tendangan ke dada Danar, hingga membuat pria itu terpental jatuh ke lantai.
Randi mendekat dan menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Danar.
"Kamu mau pergi dari sini, atau aku buat wajahmu ini tidak berbentuk lagi?" ancam Randi dengan sorot mata yang tajam seperti siap untuk menelan Danar hidup-hidup.
"Ba-baik aku pergi sekarang!" ucap Danar sembari meringis kesakitan.
"Ingat jangan lakukan hal ini lagi! kalau kamu tidak punya adik perempuan, setidaknya suatu saat kamu punya anak perempuan, kalau kamu melakukan hal seperti ini, tidak tertutup kemungkinan kalau suatu saat seorang pria juga akan melakukan hal yang sama pada putrimu. Paham kamu!"
Randi melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Danar. "PERGI!" gertaknya sekali lagi, hingga membuat Danar beranjak dengan raut wajah ketakutan disertai dengan jalan yang terseok-seok sembari memegang dadanya.
Randi kemudian berbalik dan melangkah mendekati Reyna. Pria itu berjongkok dan memperhatikan wanita yang sepertinya tidur sangat pulas itu.
"Pantas saja, pria tadi ingin memilikinya. Ternyata dia cantik," batin Randi, memuji wajah Reyna.
"Hmm, Apa yang harus aku lakukan sekarang? kalau aku bawa ke dalam kamar hotel, pasti akan timbul fitnah, lagian sepertinya pria tadi mengenal anak pemilik hotel ini. Takutnya dia meminta akses untuk masuk ke kamar wanita ini nanti," Alis Randi bertaut berusaha memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan.
"Sebaiknya aku bawa saja dia ke rumahku. Di sana ada mama dan papa. Kalau dia sudah bangun nanti, baru aku akan mengantarkannya pulang," bisik Randi pada dirinya sendiri sembari mengangkat tubuh Reyna dan membawanya keluar.
"Astaga, kenapa sih aku harus melibatkan diri dalam urusan ini? kurang kerjaan banget aku," Randi merutuki dirinya sendiri.
"Tapi aku benar-benar tidak tega, membiarkan hal jahat terjadi di depan mataku. Pria itu benar-benar menjatuhkan harga diri seorang pria. Sialan!" umpatnya sembari tetap berjalan menuju parkiran.
Tbc
__ADS_1