Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Nasi Rames


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Gilang dan Cahaya kini sudah benar-benar pulih dan bisa kembali ke rumah.


Raut wajah Cahaya berbinar bahagia begitu membuka pintu kamar yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.


"Akhirnya, aku bisa berbaring di ranjang ini lagi," ucap Cahaya sembari merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Gilang tersenyum tipis dan ikut berbaring di samping istrinya itu. Kemudian pria itu, memiringkan tubuhnya menghadap ke arah wanita yang dia cintai itu.


"Aku juga senang, Sayang. Yang paling membuatku senang dan merasa tenang, si pengacau itu sudah ada di penjara," ucap Gilang tanpa menanggalkan senyum di bibirnya.


"Mas, tidak boleh seperti itu! kamu kan sudah berjanji akan memaafkan dia," tutur Cahaya mengingatkan.


"Iya, iya deh. istriku ini memang paling baik," Gilang mencubit gemas hidung Cahaya.


"Mas, kamu capek nggak?" tanya Cahaya dengan was-was.


"Emm, tidak terlalu sih. Kamu mau sesuatu ya? bilang saja kamu mau apa? mau secapek apa pun selagi masih hal wajar akan aku lakukan," jawab Gilang.


"Emangnya ada permintaan yang tidak wajar?" Cahaya mengerenyitkan keningnya.


"Ada lah! kalau kamu minta ku buat ngecat langit, nyikat bulu singa, ngitung jumlah rambutmu, itu kan hal yang tidak wajar." sahut Gilang dengan santai.


"Kalau itu mah bukan permintaannya saja yang gak wajar, yang membuat permintaan juga kurang waras," Cahaya mengerucutkan bibirnya yang tentu saja langsung disambar dengan lembut oleh bibir Gilang.


"Ya udah, sekarang kamu bilang aja,kamu mau apa?" tanya Gilang dengan lembut sembari membelai pipi sang istri.


"Aku lapar, dan aku mau makan nasi rames, mas bisa nggak belikan buatku?" ucap Cahaya sembari menelan ludahnya sendiri, karena dengan menyebutkan namanya saja, wanita itu sudah membayangkan kelezatan nasi rames atau nasi campur itu, dan yang ada di bayangannya sekarang adalah nasi rames Padang.


"Nasi remes? apaan tuh? ada ya makanan seperti itu? dan kenapa harus dibeli?" batin Gilang dengan alis yang bertaut. Namun,dia tidak mengungkapkan kebingungannya pada Cahaya, karena tidak mau Istrinya itu kecewa.


"Daripada aku capek-capek pergi keluar belinya dan aku juga tidak tahu mau beli kemana, lebih baik aku buat saja deh," lagi-lagi Gilang berbicara pada dirinya sendiri.


"Ya udah, aku keluar dulu ya! kamu tunggu di sini. Aku janji nasi yang kamu inginkan itu akan datang segera," ucap Gilang dengan sangat yakin karena menurutnya sangat mudah membuat nasi yang sangat diinginkan oleh isteri itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Cahaya dari tadi terlihat membolak-balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Wanita itu terlihat gelisah karena perutnya sudah semakin terasa lapar.


"Mas Gilang kok lama ya beli nasi ramesnya? kan dekat-dekat sini ada rumah makan Padang," batin Cahaya sembari melihat ke arah pintu, berharap sang suami muncul. Namun, lagi-lagi dia kecewa karena tanda-tanda Gilang sudah datang tidak ada.


"Apa aku telepon dulu ya?" Cahaya meraih ponselnya dan langsung menghubungi nomor suaminya itu. Namun ternyata Gilang sama sekali tidak membawa ponselnya.


"Ah, aku udah sangat lapar, sebaiknya aku cari makanan di dapur dulu, untuk ngeganjel, menunggu mas Gilang pulang," Cahaya turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.


Begitu sampai di ambang pintu dapur, wanita itu mengrenyitkan keningnya melihat Gilang yang sudah duduk di kursi membelakanginya.


"Mas, kamu sudah pulang ternyata. Kenapa kamu tidak panggil aku?" tanya Cahaya sembari berjalan menghampiri Gilang.


Gilang tersentak kaget dan langsung berdiri dari tempat dia duduk kemudian menoleh ke arah Cahaya.


"Kenapa kamu turun? nasi remesnya sebentar lagi juga siap kok," ucap Gilang dengan polosnya sembari menunjukkan piring yang berisi nasi di atas meja.


"Astaga,Mas! kamu apakan nasinya?" pekik Cahaya melihat nasi yang bentuknya sudah terlihat aneh, tidak terlihat seperti butiran nasi lagi.


"Kan kamu minta nasi remes, ya nasinya aku remas-remas lah. Cape lho Sayang. Kamu hargai dong usahaku. Aku remasnya satu-satu, karena kalau bersamaan susah. Bentuknya masih tetap seperti butiran nasi," jawab Gilang dengan raut wajah memelas.


"Orang kan kadang ngomong remas itu remes, aku nggak salah kan?" raut wajah Gilang terlihat seperti orang bodoh.


"Aku gak tahu lagi, Mas mau ngapain. Aku bingung mau nangis atau mau tertawa sekarang. Mas tahu nggak sih nasi rames itu apa?"


"Nggak!" singkat padat dan jelas.


Cahaya mengembuskan napas, sembari mengelus dadanya berusaha untuk sabar, mendengar jawaban sang suami.


"Kalau nasi kucing bagaimana?Mas tahu?"


"Buat apa kamu makan nasi kucing? kamu jangan aneh-aneh deh. Aku nggak akan izinkan kamu makan nasi kucing." bukannya menjawab pertanyaan Cahaya, Gilang justru marah.


"Mas, jawabannya bukan itu. Aku tanya Mas tahu nggak nasi kucing?" Cahaya kembali bertanya.


"Nggaklah!" jawab Gilang, jujur.

__ADS_1


"Kalau seandainya aku minta nasi kucing, kamu akan kasih aku apa?" tanya Cahaya lagi.


"Ya,aku akan bawa nasinya, beserta kucingnya sekalian. Tapi, kamu harus ingat, kamu makan harus terpisah dengan kucingnya, jangan satu piring!"


Cahaya menggaruk-garuk kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung mau menjelaskan pada suaminya itu.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Jelita sudah berdiri di ambang pintu bersama dengan Melinda dan Grizelle.


"Ma, aku bingung. Gilang tidak pernah makan nasi rames ya? lihat tuh apa yang dilakukan sama Gilang!" Cahaya menunjuk ke arah piring di atas meja.


"Hah,apaan itu?" Jelita mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Cahaya minta makan nasi rames, Ma.Aku dengarnya remes, ya aku kira dia mau nasi yang diremas-remas, tahunya nggak," jawab Gilang.


Tawa Melinda dan Jelita seketika pecah. Hanya Grizelle yang terlihat bingung.


"Emangnya nasi rames itu apa? kan benar yang kak Gilang bilang," celetuk Grizelle yang membuat suara tawa kembali pecah, dan kali ini Cahaya ikut tertawa.


"Gilang, Grizelle,nasi rames itu, nasi campur. Nasi yang terdiri dari 3 atau lebih lauk pauknya. Kalau nasi rames Padang, biasanya ada rendang, gulai, tongkol balado, kuah sayur, sambal. Dan ada juga nasi rames yang dipakein mi dan lauk yang lainnya. Tergantung kamu maunya apa. Bukan nasinya yang diremas-remas,"jelas Jelita di sela-sela tawanya.


"Tapi sepertinya kamu sudah ahli ya *******-*****, Lang. Terlihat jelas dari bentuk nasi itu kalau tanganmu sudah terlatih dalam hal remas meremas. Tiap malam atau setiap ada kesempatan kamu pasti melakukannya kan?" ucap Jelita dengan menyelipkan godaan, hingga membuat semburat merah muncul di pipi Cahaya.


"Sudah pastilah!" Melinda menimpali ucapan Jelita menantunya. Lagi-lagi hanya Grizelle yang terlihat tidak mengerti dengan maksud perkataan mamanya.


"Emangnya, Kak Gilang meremas apa tiap malam? apa kegiatan meremas itu menyenangkan sampai harus dilakukan setiap hari?" tanya Grizelle dengan wajah polosnya.


"Kamu akan tahu sendiri maksud Mama setelah kamu menikah nantinya," ucap Jelita, membuat bibir Grizelle mengerucut.


"Ya udah,Lang, di dekat sini ada rumah makan Padang,kamu belikan yang Cahaya mau, sekalian buat kamu dan Grizelle. Kalau boleh belikan juga buat mama dan Oma," titah Jelita tidak peduli dengan wajah masam Grizelle.


"Aku minta Bayu membelikannya aja deh ya, Ma," ucap Gilang hendak beranjak pergi.


"Kelamaan! istrimu sudah lapar. Sana kamu beli sendiri. Mulai sekarang usahakan kamu jangan ketergantungan pada Bayu lagi. Yang ada di perut Cahaya itu anakmu bukan anak Bayu," pungkas Jelita sembari beranjak pergi.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2