
Hari ini adalah hari kedua Cahaya kuliah. Wanita itu melangkah menyuruh lorong menuju kelasnya. Wajah wanita itu terlihat ditekuk karena teringat dengan perdebatannya dengan Gilang ketika di dalam mobil. Apalagi perdebatan mereka kalau tidak karena Cahaya tidak memakai cincin pernikahan.
Sementara itu, Randi yang sudah datang dari tadi, seketika tersenyum lebar melihat bidadarinya.
"Pagi Cahaya matahari!" sapa Randi dengan semangat.
"Pagi juga, Pak Randi! please jangan panggil aku Cahaya matahari, Pak. Cukup Cahaya aja," sahut Cahaya masih tetap memasang wajah masamnya.
"Lho kenapa? namamu kan Cahaya Adhisti. Adhisti itu artinya kan matahari, jadi tidak salah dong kalau aku memanggil kamu Cahaya matahari," ucap Randi masih tetap memasang senyum termanisnya.
"Terserah, Bapak deh. Aku pamit mau masuk ke kelas dulu, Pak. Mari! " pungkas Cahaya sembari mempercepat langkahnya.
"Eh, tunggu dulu! kelas akan mulai setengah jam lagi, jadi tidak salah kan kalau kita ngobrol sebentar," Randi berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Cahaya.
"Pak, aku tahu kalau jadwal kelas masih setengah jam lagi, tapi kalau kita bicara berdua, sama sekali tidak enak kalau dilihat oleh mahasiswa/mahasiswi lain," tolak Cahaya, dengan santun.
"Hmm, aku rasa tidak ada salahnya kalau seorang dosen berbicara dengan mahasiswanya. Kamu tidak perlu merasa malu. Sekarang kita duduk di sana dulu!"
Cahaya menghela napasnya, tidak enak menolak keinginan Randi lagi.
"Ayo duduk!" Randi mendaratkan tubuhnya duduk di sebuah kursi besi diikuti oleh Cahaya.
"Bapak mau bicara apa?" tanya Cahaya tanpa basa-basi.
"Aduh, sabar dong! baru saja kita duduk, kamu jangan terburu-buru gitu," sahut Randi, santai.
Cahaya mengembuskan napas, memilih untuk diam.
"Kamu datang ke kampus sendiri atau ada i mengantarkan?" Randi memulai pendekatannya.
"Aku diantar, Pak." sahut Cahaya singkat.
"Sama supir atau sama siapa?" tanya Randi lagi dengan hati was-was. Dia merasa takut kalau Cahaya menjawab diantar oleh pacar atau yang lebih mengerikan diantar oleh suami. Betapa mirisnya kisah percintaannya kalau begitu. Belum berjuang sudah kalah duluan.
"Aku diantar sama ...." Cahaya tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba teringat kalau dia harus merahasiakan pernikahannya.
"Sama siapa?" tanya Randi lagi.
"Sama majikan saya, Pak," ucap Cahaya akhirnya.
__ADS_1
"Majikan? maksudnya?" Randi mengrenyitkan keningnya.
"Aku ini asisten rumah tangga, Pak. Aku kebetulan punya majikan yang baik, mengizinkanku untuk kuliah," jelas Cahaya.
"Oh, seperti itu? apa majikan yang mengantarkan kamu tadi, laki-laki dan masih muda?" hati Randi kembali was-was, mengingat banyaknya majikan yang jatuh cinta pada pembantunya.
"Iya, Pak! dia masih sangat muda mungkin seusia, Bapak."
"Baik sekali majikanmu mau mengantarkan kamu ke kampus," ujar Randi yang tiba-tiba merasa sedikit cemburu.
"Kebetulan saja searah, Pak."
"Oh, begitu?" Randi mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lagian kenapa Bapak menanyaiku tentang itu? aku kira tadi yang mau Bapak bicarakan tentang pelajaran," ucap Cahaya yang mulai menunjukkan rasa tidak senangnya.
"Tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja. Aku salut padamu, walaupun kamu itu asisten rumah tangga, kamu tetap ingin melanjutkan pendidikanmu," puji Randi tulus. Entah kenapa, bukannya merasa ilfeel, justru pria itu semakin kagum dengan Cahaya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu aku mau masuk ke kelas dulu," Cahaya berdiri dan membungkukkan badannya sedikit.
Mata Randi memicing, begitu melihat tas yang dipakai oleh Cahaya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reyna berdiri dengan mata yang mengedar seperti mencari seseorang, di depan sebuah universitas ternama. Siapa lagi yang dia cari kalau bukan Randi, pria yang dia tahu sudah menyelamatkannya tadi malam.
Tadi pagi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Reyna singgah di sebuah rumah sesuai alamat yang diberikan oleh papanya. Benar saja, rumah itu adalah rumah Randi, pria yang sedang ingin dia temui. Namun Reyna kecewa, karena ternyata Randi sudah berani ke tempat dia memberikan kuliah. Makanya sebelum jam makan siang, Reyna langsung izin keluar bahkan izin untuk bekerja setengah hari saja, supaya dia bisa menemui Randi di kampus.
"Dia dimana ya? kata tante Meta tadi, dia biasanya keluar dari kampus jam 12 siang. Ini kan sudah jam 12,tapi kenapa dia belum kelihatan juga?" batin Reyna sembari melihat photo Randi yang sempat diberikan oleh Meta tadi pagi.
"Sebaiknya aku masuk saja dan tanya ke ruangan para dosen. Mudah-mudahan dia belum pulang," Reyna memutuskan untuk melangkah menuju ruangan para dosen. Namun baru saja melangkah beberapa langkah, Reyna melihat pria yang sama persis dengan photo yang ada di tangannya.
Reyna sontak menghampiri pria yang dia yakini adalah Randi itu dengan sedikit berlari.
"Pak Randi!" panggil Reyna dengan sopan
"Iya?" pria yang memang Randi itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Mata pria itu seketika memicing, mengingat wajah wanita yang sekarang sudah berdiri di depannya.
"Emm, bukannya dia wanita yang aku tolong tadi malam?" batin Randi setelah mengingat wajah Reyna.
__ADS_1
"Anda masih ingat aku kan?" tanya Reyna sembari menyelipkan seulas senyuman manis di bibirnya.
"Tentu saja aku ingat. Kamu ini wanita yang hampir saja dijahati oleh pria brengsek itu," sahut Randi. "Ada apa menemuiku?" lanjut Randi kembali.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Kalau bukan karena kamu, mungkin aku sudah frustasi sekarang," ucap Reyna dengan tulus.
"Oh, Tidak masalah! sudah menjadi kewajiban kita kan menolong orang yang ada dalam bahaya?".
"Tapi, zaman sekarang banyak orang yang bersikap apatis karena tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti itu. Karena itulah aku sangat berhutang Budi padamu," ucap Reyna.
"Hmm, kamu tidak perlu berlebihan. Santai aja!" Randi tersenyum sangat tipis.
"Oh ya, kenalkan namaku Reyna! mungkin kamu sudah tahu tadi malam, tapi alangkah baiknya kalau aku memperkenalkan diri secara langsung," Reyna mengulurkan tangannya dan Randi pun menyambutnya.
Di saat Reyna menarik kembali tangannya, matanya tidak sengaja melihat orang yang sepertinya dia kenal.
"Bukannya itu Cahaya?" gumam Reyna sembari memicingkan matanya, memastikan apa wanita yang dilihatnya itu Cahaya atau tidak.
"Fix, itu Cahaya! tidak salah lagi," batin Reyna, yakin.
"Cahaya!" panggil Reyna dan benar saja wanita yang dipanggil Cahaya itu langsung menoleh ke arahnya.
"Kamu mengenal dia?" tanya Randi dengan alis yang bertaut.
"Tentu saja, dia itu __"
"Hai, Non Reyna! kenapa bisa ada di sini?" sapa Cahaya, sebelum Reyna selesai dengan ucapannya.
"Aku tadi ada urusan sebentar. Kamu ngapain di sini? kamu kuliah lagi?" tanya Reyna antusias.
"Iya, Non!"
"Ihh, jangan panggil aku Non dong! panggil saja Reyna!"
"Ternyata dia baik. Dia tidak memandang rendah Cahaya walaupun dia tahu kalau Cahaya hanya seorang pembantu," puji Randi yang sayangnya berani dia ucapkan dalam hati saja.
"Apa aku harus mendekatinya supaya aku bisa dekat dengan Cahaya?" tapi kalau aku melakukan hal itu bukannya aku sama aja seperti pecundang?"
Tbc
__ADS_1