
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, walaupun memang masih terkesan malu-malu. Sinarnya membias masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Gilang dan Cahaya, melalui celah-celah tirai tipis berwarna putih.
Kelopak mata Cahaya terlihat bergerak-gerak pertanda kalau wanita itu akan bangun dari tidurnya. Benar saja, Cahaya membuka mata dan perlahan dan seperti biasa, yang pertama tertangkap oleh matanya adalah wajah tampan Gilang sang suami.
Cahaya menatap wajah itulah dengan cukup lama, karena dia merasa pada saat seperti inilah dia puas menatap wajah yang tampan itu.
"Ragamu memang jadi milikku tapi hatimu milik orang lain," batin Cahaya yang tiba-tiba merasa sedih.
Cahaya kemudian duduk dan menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Wanita itu beranjak turun dari atas ranjang. Ketika wanita itu hendak berdiri, tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing. Seandainya dia tidak langsung berpegangan pada tepi ranjang, kemungkinan jatuh ke lantai tidak akan terelakkan lagi.
"Kamu kenapa, Cahaya?" karena pergerakan Cahaya yang tiba-tiba membuat Gilang bangun dan langsung turun dari atas ranjang. Wajah pria itu terlihat khawatir.
"Tidak apa-apa, Mas! Tadi, aku hanya merasa sedikit pusing saja, tapi sekarang tidak lagi kok," sahut Cahaya dengan menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
"Kamu mau ke kamar mandi ya? kalau iya mari aku antarkan kamu ke sana," Gilang masih belum terlalu yakin kalau Cahaya tidak apa-apa, karena melihat wajah istrinya itu yang masih pucat.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Mas. Aku bisa ke kamar mandi sendiri," tolak Cahaya dengan lembut.
"Tidak! aku harus mengantarkanmu ke kamar mandi, Gilang bersikukuh tetap mengantarkan Cahaya ke kamar mandi.
Cahaya menghela napas berat, dan akhirnya tidak menolak lagi, karena dia tahu kalau ditolak pun, suaminya itu tidak akan mengindahkan permintaannya.
"Mas jam berapa kamu masuk ke dalam kamar tadi malam? Kok aku nggak dengar kamu masuk?" tanya Cahaya setelah mereka keluar dari kamar mandi.
"Kalau tidak salah, jam 11. Aku masuk, kamu sudah tidur nyenyak," jawab Gilang sembari duduk di samping Cahaya.
"Emm, apa kamu mengantar kak Reyna pulang tadi malam?" Cahaya kembali bertanya dengan sangat hati-hati setelah dia berusaha mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal itu.
"Tidak!" singkat padat dan jelas .
"Tidak? jadi kak Reyna pulang sendiri? kenapa kamu biarkan kak Reyna pulang sendiri? Mas kok tega sih sama perempuan?" tanya Cahaya dengan beruntun, berbanding terbalik dengan perasaannya. Padahal tadinya dia was-was.
"Kamu tenang saja, ada Randi yang mengantarkannya pulang," jawab Gilang dengan wajah datar.
"Oh, Pak Randi." gumam Cahaya sembari menatap wajah Gilang dengan tatapan menyelidik, mencoba membaca raut wajah suaminya itu.
"Apa dia cemburu, pada Pak Randi?" bisik Cahaya pada dirinya sendiri, karena takut menanyakan hal itu pada Gilang.
"Emm, kamu baring lagi aja ya. Sepertinya kamu kurang sehat. Aku mau mandi dulu," Gilang meraih tubuh Cahaya dan membantu wanita itu untuk berbaring.
Gilang baru saja hendak melangkah, tapi tiba-tiba ditahan oleh tangan Cahaya.
"Mas, ke kantor ya hari ini?" tanya Cahaya sembari menggigit bibir bawahnya.
"Tidak! tidak mungkin aku langsung ke kantor. Aku akan menemani kamu di rumah hari ini sampai hari Minggu. Hari Senin aku baru ke kantor," jawab pria itu yang membuat Cahaya tersenyum mendengarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Suasana sarapan pagi hari ini terasa sangat berbeda, karena kursi yang biasa ditempati oleh Ganendra sudah kosong. Bukan hanya kursi itu, tapi juga kursi Oma Melinda dan Cahaya.
"Gilang, bukannya kamu nggak suka makanan yang terlalu pedas? tapi mama lihat dari tadi kamu menuangkan saos sambal itu ke piringmu," tanya Jelita dengan kening yang berkerut.
"Hmm, itu dulu, Ma. Sekarang aku suka makan pedas. Ini aja, menurutku saosnya kurang pedas," sahut Gilang sembari meletakkan botol saus ke tempat semula.
"Oh, begitu? yang penting nanti kamu jangan sakit perut aja," pungkas Jelita sembari kembali fokus ke sarapannya.
"Selamat pagi semua!" sapa sebuah suara ceria yang tidak lain adalah Reyna.
"Pagi Reyna! tumben pagi-pagi sudah datang ke sini,Nak?" Jelita membalas sapaan Reyna.
"Aku mau ketemu sama Cahaya, Tan. Dimana dia? kok tidak ikut sarapan?" jawab Reyna.
"Dia lagi kurang enak badan. Katanya dia suka pusing. Aku ajak ke dokter, dia nggak mau." Gilang buka suara, menjawab.
"Oh begitu ya? kalau Oma? kenapa beliau tidak ada juga di sini?"
"Aku ada di sini, Reyna," belum sempat ada yang menjawab, Melinda sudah berdiri di ambang pintu.
"Eh, Oma apa kabar hari ini?" sapa Reyna sembari menyelipkan senyum manisnya.
"Seperti yang kamu lihat, Oma baik-baik saja," Melinda membalas senyum Reyna. Kemudian wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Gilang.
"Lang, bisa tidak kamu mengantarkan Oma ke makam opamu pagi ini?" Masib terlihat jelas kesedihan di mata wanita tua itu.
"Iya, Oma. Tapi, aku izin dulu pada Cahaya ya?"
"Ya udah, kamu pamit dulu sekarang," pinta wanita tua.
"Lang, bisa aku ikut ke kamar kalian berdua? soalnya aku mau bertemu dengan Cahaya," tanya Reyna dengan cepat sebelum pria itu melangkah.
"Boleh! ayo, kita sama aja ke sana," Gilang melangkah lebih dulu dan Reyna menyusul dari belakang.
Gilang membuka pintu, dan melihat istrinya itu yang masih terbaring, bahkan sarapan pagi yang diantarkan oleh mbak Rini tadi masih utuh belum tersentuh.
"Cahaya, kenapa kamu belum makan?" tanya Gilang, sembari duduk di atas ranjang dan mengelus lembut rambut Istrinya itu.
"Emm, tadi belum lapar, Mas. Tapi sekarang aku akan makan karena aku sudah lapar," Cahaya bangun dari tidurnya dan duduk.
"Kak Reyna?" desis wanita itu, kaget melihat keberadaan Reyna di kamarnya dan Gilang.
"Hai, Cahaya," Reyna tersenyum sembari melambaikan tangannya ke arah Cahaya.
"Hai, Kak!" sahut Cahaya dengan raut wajah bingung, bertanya-tanya dalam hati kenapa ada Reyna di ruangan itu.
"Aya, Oma memintaku mengantarkannya ke makam opa, dan aku sudah mengiyakan karena nggak tega menolak, bolehkan?" Gilang buka suara.
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh, Mas? nggak pa-pa kok," sahut Cahaya berusaha untuk tersenyum.
"Terima kasih ya! kalau begitu aku pergi dulu. Kamu istirahat aja, nanti setelah kembali dari makam aku akan langsung menemuimu," Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Gilang berdiri dan menoleh ke arah Reyna.
"Reyna, aku pamit dulu ya," Gilang melangkah keluar setelah melihat Reyna menganggukkan kepalanya.
"Apa yang kamu rasakan pagi ini, Cahaya?" tanya Reyna basa-basi.
"Aku hanya merasa pusing aja, Kak," jawab Cahaya, lemas.
"Apa kamu sudah telat datang bulan?"
Cahaya tidak langsung menjawab, raut wajah wanita itu terlihat bingung, berusaha mencerna arah pertanyaan Reyna. Tiba-tiba mata wanita itu membesar begitu mengingat kalau seharusnya dia sudah datang bulan dua minggu lalu.
"Kak,aku sudah telat. Apa itu berarti aku ...."
"Sepertinya iya. Makanya aku datang ke sini pagi-pagi karena aku sudah curiga. Aku sengaja membeli alat test kehamilan ini tadi malam. Sekarang kamu coba test ya!" Reyna memberikan test pack yang dia beli ke tangan Cahaya.
"Tapi, bukannya lebih bagus kalau kita melakukan test pas bangun tidur atau air seni pertama?"
"Memang iya. Tapi kalau kadar HCG mu tinggi, bisa kok melakukan test kapan saja. Ayo sekarang kamu coba dulu,"
Cahaya menganggukkan kepala dan berjalan ke arah kamar mandi.
Tidak perlu menunggu waktu lama, Cahaya keluar dari kamar mandi dengan air muka yang sulit untuk dibaca.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Reyna penasaran.
"Hasilnya ... hasilnya ini, Kak." Cahaya memberikan testpack ke tangan Reyna. Tampak jelas di sana ada dua garis merah yang menandakan kalau Cahaya benar-benar positif hamil.
"Wah, kamu benaran hamil, Aya, selamat ya!" Reyna bersorak dan memeluk Cahaya.
"Terima kasih Kak! aku nggak nyangka kalau aku bisa secepat ini diberikan keturunan," mata Cahaya terlihat berkaca-kaca.
"Gilang pasti sangat bahagia nanti. Bukan hanya Gilang, semuanya pasti bahagia. Kabar bahagia ini, sekaligus bisa mengobati rasa sedih Oma karena kehilangan opa," ucap Reyna yang benar-benar tulus bahagia.
"Iya, nanti kalau mas Gilang pulang, aku akan kasih kejutan buat dia," wajah Cahaya berbinar bahagia.
"Ok, kalau begitu, aku pulang ya. Hari ini aku ada janji dengan pasien,"
"Iya kak. Sekali lagi terima kasih ya!" Reyna menganggukkan kepalanya dab berlalu pergi.
Baru saja Reyna menutup pintu kamar, ponsel Cahaya berbunyi pertanda ada telepon masuk. Cahaya mengrenyitkan keningnya karena yang menghubunginya adalah Dania.
"Kak Dania? kenapa dia meneleponku?" gumam Cahaya sembari menekan tombol jawab.
__ADS_1
Tbc